Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
IUTMK (65)


__ADS_3

"Bunda, Mama! Ngapain kesini?" Zio terperangah melihat kehadiran bunda dan mertuanya diluar, tangannya masih memegang gagang pintu yang belum terbuka sempurna.


"Abang ini, seperti melihat hantu saja! Memangnya kami gak boleh datang kesini?" tanya Salsa yang masih berdiri di luar.


"Bukan begitu Bun, tapi Sarah lagi sakit, dia butuh istrahat. Bunda dan Mama lainkali saja datangnya ya. Atau nanti setelah Sarah sembuh kami akan berkunjung kesana," ucap Zio sembari melihat kedalam, takutnya jika Sarah tiba-tiba muncul.


"Abang ini kenapa? Bukannya senang kami datang berkunjung ini malah seperti gak suka saja," ucap Salsa sedikit kesal mendengar perkataan putranya yang seakan tak menyukai kehadirannya.


"Abang, siapa yang datang?" Suara Sarah terdengar semakin mendekat.


"Eh, ini ada Bunda dan Mama datang. Ayo masuk Bun, Ma," ucap Zio sembari membuka lebar pintu rumahnya kala Sarah mendekat.


"Bunda, Mama," Sarah begitu senang melihat kehadiran dua wanita itu datang berkunjung, ia lansung memeluk dan mencium tangan mereka satu persatu.


"Sayang, Bunda kangen tau," Salsa mengulangi pelukan terhadap menantunya.


"Hehe, sama Bunda, Sarah juga kangen. Ayo masuk dulu Bunda, Mama," ajaknya sembari berjalan ke ruang tamu membawa Salsa den Santi yang baru datang.


Sementara Sarah berjalan masuk kedalam rumah, Zio masih saja berdiri di depan pintu dengan raut wajah kesal. Rencananya untuk berduaan dengan Sarah sudah pasti gagal karna kedatangan bunda dan mertuanya.


.


.


.


Setelah mempersilahkan mereka duduk, Sarah berjalan kedapur membuat kan minuman untuk mama dan mertuanya.


"Eh, sayang, jalanmu kenapa?" tanya Salsa melihat dari belakang keanehan cara berjalan menantunya.


Sarah menghentikan langkah, lalu berbalik badan. "Hm, ini ada bisul di sela paha Sarah, Bun," jawabnya beralasan.


"Oh, bisul," sahut Salsa.


Sarah cengengesan lalu kembali berjalan ke belakang.


"Eh, ngomongong-ngomong, kalian kenapa ada di rumah. Dan tadi kata Zio kamu sakit, Sayang?" Salsa berkata sedikit teriak dari ruang tamu sambil mengedarkan pandangan di ruangan itu.


"Gak Bun, Sarah sehat-sehat saja, kok," sahut Sarah yang sedang membuatkan minuman.


"Oh, syukurlah. Tapi kenapa kalian pada di rumah? Abang juga kenapa gak datang ke kantor?" Salsa melihat Zio yang sudah berdiri di dekat tangga.


"Kami bangun kesiangan Bunda," sahut Sarah sembari berjalan membawa nampan, lalu menghidangkan minuman yang di buatnya di atas meja.


Kemudian Sarah duduk di tengah-tengah antara mama dan mertuanya, melingkarkan tangan di pinggang Santi.


"Kamu kenapa?" tanya Santi membalas pelukan putrinya.


"Gak kenapa-napa, hanya kangen Mama saja. Mama gak kangen Sarah ya?"


"Gak," jawab Santi menggoda putrinya.


"Iiih, Mama kan gitu," rengeknya semakin mengeratkan pelukan ke tubuh Santi.


"Gak apa-apa Sayang, ada Bunda yang selalu kangen kamu," ucap Salsa menyela.


"Tuh, Bundamu yang kangen. Kalau Mama sih kangennya sama Zio saja," Santi melihat ke arah Zio yang berdiri bersandar kedinding di samping tangga.


"Hehe, iya, Ma," sahut Zio.


"Sudahlah Santo, menantuku jangan kamu goda terus," kata Salsa.


"Santo? Santo siapa Bunda?" tanya Sarah heran.


"Hehe, itu mantan Mamamu dulu," jawab Salsa.


"Apaan sih kamu, Sa. Tuh si Rendi mantanmu dulu kemana?" Santi tak mau kalah.

__ADS_1


Zio mencoba mengingat-ingat nama yang di sebutkan mertuanya barusan.


"Ma, Santo itu siapa?" Sarah masih saja penasaran dengan nama yang di sebut mertuanya sebagai mantan Mamanya.


"Tanyain saja sama Bundamu," jawab Santi.


Salsa tertawa lepas melihat wajah cemberut sahabatnya. "Bukan siapa-siapa Sayang, itu hanya panggilan Bunda saja kalau lagi kesal sama Mamamu,"


"Oooh, Sarah kira benaran mantan Mama tadi,"


"Mantan Mamamu, itu, yang jadi Papamu sekarang," balas Salsa.


"Kalau mantan Bunda?" tanya Sarah lagi pada mertuanya.


"Ya itu, Daddynya Zio," jawab Salsa.


.


.


.


.


Sudah satu jam lamanya wanita-wanita itu saling bercanda dan tertawa di ruang tamu.


Sementara Zio, setengah jam yang lalu sudah masuk ke kamar, membaringkan tubuhnya diatas ranjang sambil memikirkan cara agar bunda dan mertuanya segera pergi dari rumahnya.


Senyum melengkung di sudut bibir pria tampan itu, ketika sebuah ide melintas dalam benaknya.


Dia segera bangkit berjalan ke lemari pakaian, mengganti pakaian yang ia gunakan saat ini dengan pakaian formal. Kemudian segera turun kebawah.


Zio berdeham ketika menuruni anak tangga, membuat ketiga wanita yang tengah bercengkrama menoleh padanya.


"Lah, Abang mau kemana?" tanya Salsa melihat putranya yang telah rapi.


"Sarah, cepat ganti pakaianmu, nanti kita telat," ujarnya sambil melihat jam di pergelangan tangan.


Sarah tercengang, pasalnya Zio tidak pernah mengatakan akan mengajaknya pergi kondangan sebelumnya.


"Loh, Sarah juga ikut?" Salsa yang bertanya.


"Iya Bun," jawab Zio yakin.


"Memangnya teman Abang yang mana yang menikah?" tanya Salsa lagi.


"Ada Bun, teman lama,"


"Oh,"


"Sarah, cepatlah?" desak Zio melihat istrinya masih saja duduk.


"Hmm, iya," Sarah segera berjalan masuk kedalam kamar.


Zio berdiri memperhatikan mertua dan bundanya masih asyik mengobrol.


"Mama dan Bunda gak pulang?" tanyanya, bernada pengusiran.


"Nanti, Bunda tunggu Zia pulang kuliah di sini, gak apa-apa kan?"


"Tapi, kan Abang mau keluar sama Sarah," Zio protes.


"Ya, gak apa-apa, kalian pergi saja, kita mau di sini dulu,"


Zio menghembuskan nafas kasar. "Ya, gak apa-apa," ucapnya pasrah.


Beberapa menit berselang, Sarah keluar dari kamar, menggunakan gamis dengan make up ala kadarnya.

__ADS_1


"Abang, ayo kita pergi," Sarah lansung memeluk lengan Zio.


Zio agak tercengang melihat penampilan Sarah saat ini. Ia kira Sarah akan keluar dengan dandanan yang lebih memukau lagi dari pada saat berada di rumah. Bau parfummya pun tidak ada tercium di hidung Zio.


"Hm," sahut Zio lemah.


"Hati-hati di jalan.... " teriak Salsa dan Santi hampir bersamaan.


Zio melangkah gontai keluar dari rumahnya. Niat awalnya agar bunda dan mertuanya pergi, malah berbuntut dia sendiri yang keluar dari rumah. Pupus sudah harapannya untuk bermesraan dengan Sarah di rumah.


Di dalam mobil, Zio bingung harus pergi kemana, karna dia memang tak ada tujuan mau kemana.


'Apa aku ke hotel saja ya?'


Sebuah ide baru melintas di kepalanya.


Lansung Zio mengarahkan mobilnya menuju hotel.


"Abang, kita ngapain ke sini?" tanya Sarah ketika mobil yang di kemudikan suaminya telah berhenti di parkiran.


"Hm, Abang capek mau istrahat. Kita tidur di sini dulu ya,"


"Bukannya tadi Abang bilang mau pergi kondangan?"


"Em, itu, Abang lupa bukan hari ini acaranya tapi minggu depan," jawab Zio berkilah.


"Terus kita ngapain ke sini?"


"Tidur,"


"Tidur? Astaghfirullah, Abang? Kan kita bisa tidur di rumah,"


"Kan, ada Bunda dan Mama, Sayang,"


"Emang apa salahnya kalau ada mereka, kan Abang tidurnya di dalam kamar?"


"Sudah, ayo kita pulang,"


"Tapi Sayang, kita main setu ronde dulu disini yuk," bujuk Zio.


"Pulang sekarang!"


"Iya, iya,"


Lagi-lagi Zio menelan kekecewaan.


.


.


.


"Sayang kita ke mall dulu yu. Kamu boleh belanja sepuasnya," bujuk Zio melihat wajah Sarah yang cemberut.


"Abang, kita pulang sajalah," tolak Saran.


"Pokonya kita ke Mall dulu, Abang mau beli pakaian baru buat kamu. Masa istri Abang penampilannya seperti ini," Memang benar pakaian Sarah saat ini biasa-biasa saja. Pikir Zio mungkin istrinya itu tidak mempunyai pakaian lain untuk di pakainya keluar.


20 menit berselang, mereka telah berada di dalam sebuah Mall. Zio membawa Sarah ke toko tas branded yang ada di dalam Mall tersebut.


"Sayang, kamu bebas pilih yang mana yang kamu suka," Zio berkata dengan bangganya.


"Abang, Sarah gak butuh tas seperti ini. Mending kita pulang saja yuk,"


"Sayang ini bagus loh," Zio mengangkat sebuah tas menunjukkan pada istrinya.


Namun, Sarah memegang dahinya dengan kedua tangan, kala merasakan kepalanya bagai di hantam bongkahan batu besar.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa?"


__ADS_2