Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
IUTMK (55)


__ADS_3

Zio mulai mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar tamu. Menghitung dalam hati sebelum menendang pintu itu.


Ceklek.


Tiba-tiba pintu di buka Sarah dari dalam, wajahnya terlihat basah kuyup oleh air, seperti baru mencuci muka.


Sebenarnya Sarah memang sengaja membasuh wajah sebelum membuka pintupintu, agar bisa menyamarkan air matanya. Ia tak ingin terlihat lemah di depan suaminya, apa lagi menjual kesedihan agar mendapatkan perhatian dari rasa iba suaminya.


"Sa-sarah, kamu kenapa?" tanya Zio, ada nada khawatir dari kalimat yang diucapkannya, melihat mata Sarah yang agak bengkak.


Sarah menarik sudut bibirnya keatas hingga membentuk senyuman. Senyum palsu sebagai jawaban dari pertanyaan suaminya, jawaban jika saat ini dirinya baik-baik saja.


"I-itu, tadi saya lihat ada darah di depan kamar? Apa kamu terluka?" tanya Zio lagi.


Sarah menggeleng, lagi-lagi ia harus lebih melebarkan senyumnya, agar suaminya percaya jika dirinya baik-baik saja. Ia juga tidak tau sama sekali jika darah yang keluar dari hidungnya tadi ada menetes di lantai.


"Terus, da-darah siapa itu?"


"Hmm," Sarah memutar leher kebelakang, pura-pura melihat rok panjang yang di gunakannya saat ini. "Oo, mungkin tembus, Sarah lagi datang tamu bulanan. Abang bisa tolong membelikan Sarah pembalut," kilahnya beralasan.


Sejenak Zio tertegun, mendengar suara sarak Sarah, ia tau istrinya tadi pasti menangis karna sikapnya yang keterlaluan.


"Ya, baiklah," Kemudian Zio beranjak pergi. Sepanjang jalan, ia terus saja kepikiran akan perbuatannya tadi, hingga membuat Sarah menangis. Ia sadar, tak seharusnya tadi ia emosi.


*


Di tempat lain.


Suasana hati Carla, juga sangat buruk saat ini. Sejak tadi, tangannya tak henti-henti menekan tombol remote, menggonta-ganti channel TV, membuat Maya yang duduk di sebelahnya merasa jengkel juga karna tidak dapat menonton film kesukaannya.


"Carla kamu kenapa, Nak?" tanya Maya setelah puas menahan hati.

__ADS_1


"Abang Rain, Bu!" rengeknya.


Maya mengernyit heran. Akhir-akhir ini ia memang sering melihat putrinya itu uring-uringan. "Kenapa dengan Abangmu?" tanya Maya sembari mengusap kepala Carla.


"Sekarang Abang lebih mementingkan istrinya dari pada Adek," sungutnya kesal sembari melemparkan remote TV ke lantai.


Maya terkejut, bukan karna putrinya melempar remot itu. Tapi ketika mendengar jika anak angkatnya telah menikah. Sebelumnya Carla tidak pernah memberitahukan jika anak angkat yang pernah tinggal bersamanya dulu telah menikah. "Se-sejak kapan Abangmu menikah? Bukannya kemarin kamu bilang Abangmu belum menikah?"


"Adek pun gak tau, kemarin waktu Abang mengajak Adek makan malam, Abang juga mengajak istrinya itu. Tadi waktu Adek telepon, Abang juga bilang, gak bisa sering-sering lagi ketemu Adek. Sudah pasti istrinya itu yang menghasut," Carla bersungut-sungut seperti tak terima perhatian Abangnya teralihkan darinya.


Maya tergugu. Pasalnya ia takut jika suatu hari nanti Zio tau kebenaran jika suaminyalah yang telah menculiknya dulu. Ia juga tak ingin kehilangan kemewahan yang bisa di nikmatinya sekarang ini.


"Carla, apa kamu sayang dengan Abangmu?" tanya Maya setelah sebuah ide melintas di otaknya.


"Ibu nanya apaan sih?" sungut Carla kesal, menganggap pertanyaan ibunya tadi suatu kekonyolan.


"Ma-maksud Ibu, kalau kamu sayang. Kenapa kamu tidak menjadikan Abangmu itu menjadi suamimu,"


Carla menatap ibunya yang masih duduk, ia sama sekali tidak suka dengan pernyataan yang di katakan ibunya barusan. Kemudian, ia pergi meninggalkan ruangan itu.


"Carla, tunggu dulu, Nak. Dengar penjelasan Ibu dulu," Maya ikut berdiri, mengejar Carla.


Sebelum Carla masuk kamar, Maya berhasil memegang tangan putrinya itu. "Carla, kamu harus dengarkan penjelasan Ibu dulu,"


"Penjelasan apa, Bu? Ibu menyuruh Adek buat menikah dengan Abang. Itu kan?" Carla benar-benar tidak habis pikir dengan rencana Ibunya itu. Bagaimana bisa ucapan itu keluar dari mulut ibunya, bukankah ia dan abangnya saudara?


"Mangkanya kamu tenang dulu, dengar penjelasan Ibu," Maya merangkul putrinya, mengajak masuk kedalam kamar.


Setelah duduk di pinggir ranjang mulai lah Maya bicara. "Sebelumnya Ibu minta maaf padamu, Nak. Karna selama ini Ibu merahasiakan hal ini," Mengalirlah cerita Maya tentang kebenaran status putrinya dan Zio yang bukanlah saudara kandung. Namun, Maya hanya menceritakan kebenaran itu dengan versinya sendiri. Ia tidaklah menceritakan hal yang sebenarnya, jika Bobi--suaminyalah yang telah menculik Rain dulu. Maya hanya menceritakan, dulu ia menemukan Rain, lalu karna kasihan ia mengasuh dan membesarkannya.


Maya tak pernah menceritakan siapa ayah Carla sebenarnya. Baginya suaminya itu telah mati, karna di sebabkan suaminyalah ia dulu menjadi seorang pecandu. Seorang pecandu yang harus merelakan tubuhnya dinikmati laki-laki lain hanya demi mendapatkan barang haram yang telah membuat hidupnya hancur. Kenyataan pahit itu akan ia simpan sendiri, tanpa ingin ia ceritakan pada putrinya.

__ADS_1


Carla menangis setelah mendengar kenyataan pahit yang diucapkan ibunya. Ada ketakutan dalam dirinya, jika Abang yang selama ini tempatnya bermanja akan benar-benar melupakannya suatu hari nanti. Sebab ia dan abangnya tidaklah mempunyai ikatan darah.


"Carla, kamu jangan sedih. Justru dengan begini kamu bisa memiliki Abangmu seutuhnya," Sedikit-sedikit, Maya mulai menghasut putrinya.


*


Zio kembali kerumah, memborong semua merk pembalut yang ada di minimarket. Pasalnya, tadi saat di minimarket, ia di tanya karyawan mau pembalut merk apa? Zio yang tidak tau harus membeli merk apa, tanpa banyak berpikir ia pun membeli semua merk pembalut yang ada di minimarket itu.


Beberapa merk pembalut di bawanya lansung masuk kedalam rumah, sebagian ia tinggalkan di dalam mobil karna susah membawanya.


"Sarah, Sarah. Kamu dimana?" teriaknya saat baru masuk kedalam rumah. Setelah memeriksa kamar tamu yang ternyata kosong. Zio lansung menuju kamar yang ada di lantai 2. Pastinya Sarah sekarang sudah berada di sana, pikirnya.


Benar saja, di dalam kamar, ia melihat Sarah yang sudah berbaring di atas ranjang, dalam posisi badan menyamping menghadap tembok.


Zio mendekat, sengaja menjatuhkan semua bungkus-bungkus pembalut itu ke atas ranjang agar mengenai tubuh istrinya.


Sarah berbalik badan, setelah menyeka air matanya yang masih saja keluar. Semua kata-kata dan bagaimana murkanya sang suami tadi masih terekam jelas di kepalanya. Bagaimana marahnya sang suami, hanya karna dirinya memprotes wanita lain. "Kenapa Abang beli banyak sekali?"


Zio tersenyum, ia memang mengharapkan Sarah menanyakan hal itu padanya.  "Tadi Abang gak tau, kamu biasa pakai merk apa. Jadinya Abang beli semua saja,"


Tidak seperti biasa, Kata-kata Zio kali ini terdengar lebih manis dari sebelumnya.


"Ya, terimakasih Abang. Tolong Abang letakkan di sana. Sarah ngantuk mau tidur,"


Zio mengernyit, melihat Sarah yang kembali berbalik badan menghadap tembok. Respon Sarah di luar ekspetasi nya. Tadinya ia berharap Sarah akan menggodanya.


"Sarah, Abang lapar. Temani Abang makan,"


Mendengar permintaan suaminya, Sarah teringat akan ucapan Wati, sang nenek pernah berpesan padanya jika suami adalah ladang pahala bagi seorang istri. Melayani suami tentu akan berbuah pahala yang tak akan pernah di tolaknya.


Lantas, dengan menahan sakit di kepala Sarah bangkit, turun kebawah menemani suaminya makan malam.

__ADS_1


__ADS_2