Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
Kesedihan Zio.


__ADS_3

"Apa aku boleh mengajak seseorang tinggal di sini?" tanya Zio sebelum melangkah.


Salsa berbalik badan, menatap binar netra putranya. Ia bisa melihat ada kerinduan terpancar di mata indah itu.


Tapi merindukan siapa? Siapa yang di rindukan putranya itu?


"Tentu saja boleh, sayang," jawab Salsa lembut, serta seulas senyum ketulusan terpancar di wajahnya.


"Benarkah?" tanya Zio lagi memastikan.


Salsa mengangguk dengan masih memancar kan senyumnya.


Zio tersenyum senang.


"Ya sudah, sekarang Zio mandi dulu ya. Nanti kita jemput teman Zio itu,"


Zio mengangguk cepat, lalu melangkah kekamar mandi.


Lagi, mata Salsa berkaca. Ia begitu bahagia melihat senyum yang terpancar di wajah putra nya.


Sementara menunggu Zio selesai mandi, Salsa pergi kekamar nya. Ia ingin meminta izin pada suaminya, akan membawa teman Zio tinggal di sini.


Baru saja keluar dari kamar Zio. Salsa melihat Zia yang sudah rapi dengan seragam sekolah nya.


"Bunda...... " panggil Zia seraya berlari mendekati Salsa, di ikuti pengasuh nya yang juga ikut berlari kecil.


Salsa berjongkok mensejajarkan tinggi tubuh nya dengan sang anak.


"Bunda, hari ini Abang juga sekolah, kan."


"Belum sayang, Bunda perlu mempersiapkan semua nya dulu," jawab Salsa, kemudian mencium kedua pipi putrinya.


"Lho, kok belum sih Bund, kan Adek-"


"Sekarang Adek tunggu Bunda di bawah dulu ya, nanti Bunda dan Abang menyusul," potong Salsa lalu ia menyuruh Surti, pengasuh Zia agar membawa putrinya kebawah.


Wanita dua anak itu kemudian melangkah ke kamar menemui suami nya.


Di dalam kamar Salsa melihat Zidan yang berdiri di depan cermin, sambil memasang dasi. Salsa mendekat, lalu membantu nya memasang dasi itu.


"Mas, boleh nggak, kalau teman Zio juga tinggal disini," pinta Salsa menyampaikan keinginan putra nya.


Sesaat Zidan diam, seperti memikirkan sesuatu. Ia teringat, kala mengizinkan Diana bekerja dulu.


"Mas, please. Aku nggak mau melihat Zio murung terus," pinta Salsa memohon.


"Baik lah," balas Zidan yang memang tak bisa menolak ke inginan istrinya.


"Terimakasih Sayang," ucap Salsa, lalu mengecup pipi suami nya.


Zidan mengernyitkan dahinya, pasal nya, tak pernah-pernah istrinya itu memangggil nya dengan kata sayang, apalagi sampai mencium nya.


Sedangkan Salsa, setelah mendarat kan bibir nya di pipi Zidan ia melenggang pergi ke kamar Zio.


Di dalam kamar Zio. Salsa melihat putranya itu masih menggunakan pakaian yang sama sewaktu bangun tidur tadi


"Zio, kenapa belum juga mandi?" Salsa berjalan mendekati putranya yang berdiri di depan jendela kamar.


"Aku sudah mandi," jawab Zio datar.


Kedua alis Salsa bertaut. Di lihat nya rambut anak itu memang terlihat basah, bahkan baju yang di gunakan nya pun juga ikut basah.


Seolah mengerti, Salsa lalu melangkah mendekati tiga lemari besar yang berjejer di dalam kamar itu.

__ADS_1


Dari dulu, Salsa memang selalu membeli pakaian couple. Satu untuk putri nya dan satu lagi akan ia simpan di dalam lemari besar ini.


Zio sempat takjub, melihat pakaian-pakaian bagus di dalam lemari itu. Namun ia masih berdiri diam di tempatnya.


"Sayang, kemarilah," panggil Salsa.


Zio menurut, perlahan kaki kecil nya melangkah pelan mendekati Salsa.


Salsa berjongkok mensejajarkan tinggi nya dengan sang anak.


"Sayang, semua ini adalah pakaian mu, dan juga sepatu dan sandal itu," Salsa menunjuk rak sepatu.


"Pokok nya, semua yang ada di dalam kamar ini adalah milik Zio. Jadi Bunda harap, Zio jangan merasa asing di rumah ini," pinta Salsa sambil memegang kedua pipi putranya.


Zio tidak bergeming, ia masih berdiri diam dengan kepala tertunduk. Tak terihat raut wajah bahagia terpancar di wajah nya.


Salsa kemudian mengambil satu steal  pakaian lalu memberikan pada putranya. Ia juga membantu melepas kan baju yang di gunakan Zio. Tapi, dengan cepat Zio menepis kan tangan nya.


"Aku bisa sendiri," ucap Zio dingin.


Salsa menghela nafas panjang.


"Baiklah, Bunda tunggu di luar," Salsa lalu melangkah keluar kamar.


Zidan yang baru keluar dari kamar. Mendekati Salsa yang berdiri di depan pintu kamar Zio.


"Kenapa berdiri di luar sayang? Mana Zio?"


"Ada, di dalam kamar. Dia lagi mengganti pakaian nya," jawab Salsa.


"Oo," ucap Zidan sambil mengangguk.


Tidak lama, Zio keluar dengan pakaian yang di berikan Salsa tadi padanya.


Zio melirik sekilas, kemudian mengalihkan pandangan nya ke arah lain.


"Sudah siap sayang. ayo, sekarang kita kebawah sarapan," ucap Salsa mulai melangkah sambil memegang pergelangan tangan putranya.


"Sayang, kenapa hanya Zio yang di ajak," ucap Zidan, masih berdiri diam di depan pintu kamar Zio.


Salsa menghentikan langkah nya. menoleh kebelakang, kemudian menggeleng pelan.


***


Selesai sarapan dan mengantarkan Zia kesekolah. Salsa meminta Jefri mengantarkan kerumah teman Zio. Namun, saat Jefri menanyakan alamat nya dimana, Zio terdiam. Ia tidak tau. Bahkan jalan yang pernah ia lalui pun ia tidak ingat lagi.


Tapi Salsa tetap menyuruh Jefri berputar-putar mengelilingi kota. Setidaknya, biar Zio tidak kecewa.


"Sayang, kemana lagi kita harus cari teman mu?" tanya Salsa setelah lebih 2 jam mereka berkeliling.


Zio hanya diam, memandang sisi kiri jalan dari balik kaca mobil.


Mata nya kembali berkaca, bibir nya gematar, hatinya terus merintih memanggil nama Clara, hingga ia tak mampu berkata lagi.


Ingin sekali rasa nya ia pergi mencari Clara sendiri. Namun ia juga tak ingin membuat Bunda nya bersedih.


"Kita kemana lagi Nyonya?" tanya Jefri.


"Terus saja jalan bang," jawab Salsa, lalu  mengusap bahu putranya.


"Baik Nyonya," balas Jefri.


Salsa tau putra nya saat ini lagi bersedih. Ia bisa lihat itu, dari pantulan kaca mobil. Wajah Zio yang begitu menyedihkan.

__ADS_1


Sudah ber jam-jam mobil yang di kemudikan Jefri melaju tak tentu arah. Hingga pengawal yang menjaga Zia di sekolah menelpon, mengatakan jika saat ini Zia sudah pulang sekolah dan masih menunggu nya di depan sekolah.


"Zio, kita jemput Adik mu kesekolah dulu ya," ucap Salsa.


Zio hanya mengangguk pelan.


"Bang Jeff, kesekolah Zia sekarang ya,"


"Baik Nyonya," sahut Jefri.


Sampai di sekolah Zia. Salsa segera turun dari mobil berjalan mendekati Zia yang masih berdiri di depan sekolah dengan bibir mengerucut.


"Bunda dari mana saja sih? Adek dari tadi nungguin Bunda," sungut Zia kesel, karna sudah 30 menit lebih ia berdiri menunggu Bunda nya.


"Maaf kan Bunda ya sayang," sesal Salsa lalu berjongkok di depan putrinya.


Gadis kecil itu merajuk. Ia membuang wajah nya ke arah lain.


"Sayang, ayo kita pulang," ajak Salsa.


"Nggak mau, Adek nggak mau pulang. Adek mau main dengan Sarah dulu,"


"Baiklah," ucap Salsa mengalah.


Kemudian mereka masuk ke dalam mobil.


"Bang Jeff, kerumah Santi dulu ya,"


"Baik Nyonya."


****


Sampai di rumah Santi. Salsa mengajak Zio turun. Namun, putra nya itu menolak ia lebih memilih duduk di dalam mobil. Sedangkan Zia sudah keluar dan masuk kerumah Santi.


"Ya sudah, kamu tunggu di sini ya, Bunda turun dulu,"


Zio mengangguk.


"Bang Jeff tolong jagain Zio ya,"


"Baik Nyonya," balas Jefri.


Salsa turun dari mobil melangkah masuk kedalam rumah Santi, setelah menyapa Edi yang masih asyik memandikan burungnya.


Didalam rumah Santi, Salsa melihat Zia yang sedang bermain dengan Sarah.


Sarah adalah anak pertama Santi usia nya terpaut 2 tahun di bawah Zia.


"Sa, sorry ya, tadi aku nggak menelpon mu, waktu jemput Sarah di sekolah. Habis nya tadi ponsel aku tertinggal. Lagian aku juga harus buru-buru pulang, karna Saka juga lagi rewel habis imunisasi kemarin," ucap Santi sambil menggendong Seorang bayi yang tengah menangis.


"Nggak pa pa kok San,"


"Owy Sa, gimana kabar putramu? Maaf ya ku belum sempat main kesana. Karna dari semalam Saka rewel terus."


"Tidak apa apa San. Dia sekarang ada di sini kok,"


"Disini, mana?" Santi melihat ke luar.


"Ada, di dalam mobil," jawab Salsa.


"Lho, kok nggak diajak masuk?"


"Mungkin dianya malu San," jawab Salsa seraya menggoda Saka, balita dalam gendongan Santi.

__ADS_1


__ADS_2