Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
Mencari penghianat


__ADS_3

"Eh, tunggu! Seperti nya aku berubah pikiran. Biarkan aku yang melakukan nya nanti, " ucap Zio.


"Baik Tuan," jawab Muklis.


Setelah itu panggilan mereka berakhir. Sejenak Zio terpana memikirkan sesuatu.


'Pasti ada seseorang yang berkhianat padaku. lihat lah akan ku buat kalian menyesel karna telah berani menghianati ku,' 


batin Zio dengan mengepalkan jemarinya.


Dengan ponsel yang masih di tangan Zio mengetik pesan di ponsel nya.


[Berhati-hatilah, saat ini satu diantara kalian ada yang berkhianat. Temukan siapa orang nya.] pesan itu lalu ia kirimkan pada Muklis.


.


.


Dua jam bergelut dengan pekerjaan nya. Kini Zio bersiap akan keluar untuk makan siang. Karna pagi tadi ia hanya sarapan sedikit saja. Namun, baru saja dia hendak berdiri.


Ceklek


Di lihat nya seorang gadis cantik masuk ke dalam ruang kerja nya. Gadis cantik yang sejak kecil mengagumi nya serta selalu mencari perhatian nya. Dan, hanya gadis itu juga lah yang berani menggoda nya.


"Sarah, ada perlu apa kamu kesini? Bukan nya sekolah, malah keluyuran," ucap Zio dingin.


Namun, gadis cantik itu malah tersenyum padanya. Baginya tidak ada kata menyerah untuk mendapatkan hati pangeran tampan berhati dingin yang ada di hadapan nya saat ini.


"Taraaaa......."  Sarah mengangkat rantang yang tadi ia sembunyikan di belakang tubuh nya.


Zio berdecak kesal menatap gadis itu dengan kedua alis bertaut.


"Abang pasti lapar kan?" Sarah melangkah mendekati Zio.


"Coba Abang cium makanan ini," Sarah mengangkat rantang itu tepat di depan wajah Zio.


Zio menghirup aroma di dalam rantang itu. Sejenak ia hanyut dengan aroma makanan di dalam rantang.


Namun, saat ia tersadar. Kepalanya menggeleng, menepis kan semuanya.


"Aku tidak lapar dan sekarang kamu pulang lah," ucap Zio mengusir nya.


Namun, bukan Sarah nama nya jika dia akan menyerah begitu saja.


"Nggak. Aku nggak akan pulang sebelum Abang menghabis kan makanan ini," Sarah lalu berjalan mendekati sofa yang ada di ruangan itu. Kemudian Menghidangkan makanan yang di bawa nya di atas meja.


Zio membuang nafas kasar, melihat gadis tengil di depan nya saat ini.


"Baiklah, nanti akan ku makan. Sekarang kamu pulang," ucap Zio dingin.


Sarah menoleh padanya sambil tersenyum.


"Abang, apa salah nya makan dengan ku. Aku bukan mau makan daging Abang pun. Jadi nggak usah takut." ucap Sarah.


Heis. Dia ini kenapa selalu menguji kesabaranku. 


Zio yang mulai merasa kesal sendiri mengepalkan tangan nya kuat.


"Baiklah aku makan, tapi setelah itu kamu pulang," tegas Zio.


"Oke," jawab Sarah, seraya mengangkat jari telunjuk dan jempol yang sudah ia lingkar kan.


"Hufh...... " Zio membuang nafas kasar lalu melangkah ke sofa.


.


.


Sepulang dari kantor, Zio melajukan mobil nya menuju markas. Kurang dari satu jam perjalanan mobil yang di kemudikannya pun tiba di sebuah bangunan yang di kelilingi tembok tinggi dengan kawat berduri di puncak tembok.


Zio turun dari mobil yang lansung di sambut oleh anggota nya.


"Dimana penyusup itu sekarang?" tanya Zio dingin.


"Di tempat biasa Rain," jawab Muklis.

__ADS_1


Lalu Zio mendekati Muklis. Membisikan sesuatu pada orang kepercayaan nya itu.


"Bagaimana dengan tugas yang ku berikan? Apa kau sudah menemukan penghianat itu?" bisik nya di telinga Muklis.


"Belum Rain, saya belum mencurigai siapa pun," jawab Muklis pelan.


"Hem. Baiklah, pokoknya semua aku serah kan pada kau Muklis. Pasang mata dan telinga kau baik-baik. Awasi setiap ada yang mencurigakan. Jika ada sesuatu yang penting cukup hanya kita berdua yang tau. Aku takut banyak diantara mereka yang berkhianat," ucap Zio setengah berbisik.


Muklis mengangguk paham.


Zio terus berjalan di ikuti Muklis di belakang nya. Dan, saat melewati salah satu anak buah nya. Langkah Zio terhenti.


"Siapa nama kau?" tanya Zio penuh selidik.


"Roni," jawab nya.


"Apa kau anggota baru?" tanya Zio lagi.


"Tidak. Saya sudah 2 tahun bergabung di sini," jawab Roni.


Zio yang tak pernah melihat anggota nya itu sebelum nya, menoleh ke arah Muklis, meminta penjelasan orang kepercayaan nya.


"Benar Rain, dia sudah lama bergabung dengan kelompok kita," jawab Muklis.


"Ooo.... Baiklah, lanjutkan pekerjaan kau," ucap Zio berlalu pergi menuju ruang tahanan.


Tiba di ruangan yang di tuju. Muklis mengambil kursi, kemudian mempersilahkan Tuannya duduk. Zio duduk di kursi itu menatap seorang laki-laki yang di salip dangan kedua tangan dan kaki di rantai.


"Muklis, kenapa dia terlihat lemas sekali, apa kau menghajarnya?" tanya Zio yang tak pernah melepaskan tatapannya pada laki-laki yang di salib.


"Iya Rain, maaf. Karna saya emosi melihat nya yang terus saja bungkam. Akhir nya saya sedikit menghajarnya," jawab Muklis.


"Sungguh biadap kau Muklis. Bagaimana bisa kau menyiksa dia seperti ini," ucap Zio seraya berdiri dari duduk nya. Kemudian ia buka jas serta menyingsingkan lengan kemeja nya.


Muklis serta anggota nya yang lain. Merasa bingung mendengar apa yang di katakan Zio.


Zio melangkah pelan mendekati tawanan nya dengan membawa segelas air.


Byuuuur..


"Brengsek. Siapa kau?!" tanya lelaki itu yang seketika tersentak.


"Kau tak perlu tau siapa aku, karna seharus nya aku lah yang perlu tau siapa kau." ucap Zio penuh penekanan.


Kemudian Zio mengambil sebuah besi runcing di samping nya.


"Sekarang aku akan bertanya baik-baik padamu. Jika kamu menjawab nya maka kamu akan ku bebaskan," ucap Zio.


"Siapa yang menyuruh mu masuk ke markas ku ini?" tanya Zio sambil menggesekkan besi runcing di wajah tawanan nya.


"Aku tak akan mengatakan apa pun. Lebih baik aku mati dari pada harus berkhianat," jawab lelaki itu.


Zio menyeringai. Ia tidak bertanya lagi. Tapi, tiba-tiba semua yang ada di ruangan itu di kagetkan dengan jerit kesakitan.


"Aaaaaaaaaarg.......... " jerit kesakitan lelaki itu.


Semua anak buah Zio yang ada di ruangan itu bergidik ngeri, ketika melihat Tuan nya mengeluarkan paksa kedua bola mata penyusup itu, dengan besi runcing.


"Lebih baik kau tidak usah melihat sekalian, agar kau tidak bisa mengenali Tuan yang kau lindungi itu," ucap Zio dengan suara yang menakutkan.


"Bunuhlah saja aku sekarang!" rintih lelaki itu.


"Kenapa? Apa kau kesakitan?"


"Kau tau, banyak orang yang menginginkan kau mati. Bukan hanya Tuan ku saja yang menginginkan kematian kau, banyak kelompok lain yang lebih kuat mengingin kan kau mati.. Jadi bersiaplah, kau juga akan mati di tangan mereka," lirih lelaki itu.


"Ha..... Ha..... Ha.... " Zio tertawa lepas.


"Apa kau pikir aku takut dengan mereka? Dari dulu banyak yang berusaha membunuh ku, tapi apa? Mereka lah yang mati di tangan ku,"


"Ha... Ha... Ha... " tawa Zio terdengar sangat mengerikan.


"Bawa kesini peralatan ku." titah Zio pada anak buah nya.


Muklis bergegas mengambil peti besi, lalu memberikan nya pada Zio.

__ADS_1


Zio membuka peti besi itu, mengambil sesuatu di dalam nya.


"Hari ini aku akan membunuh kau, merobek mulut kau yang sudah berani  bicara banyak di hadapan ku. Apa kau takut?"


Ha.. Ha... Ha... Aku yakin kau takut."


"Ha.. Ha... Ha..." lagi terdengar tawa Zio yang begitu menakutkan


"Tapi kau tidak perlu takut, aku tak akan melakukan nya dengan kasar. Tapi, akan ku lakukan dengan sangat lembut juga hati-hati," Zio menempelkan benda kecil tajam di pipi lelaki itu.


Sreeeet.


Pisau runcing itu merobek pipi hingga ke mulut lelaki itu. Seketika darah segar keluar di sertai jerit kesakitan lelaki itu.


"Ini karna kau tak menjawab pertanyaanku," bentak Zio.


Sreeeeet.


"Ini hadiah dari ku karna kau dengan lancang masuk ke markas ku," ucap Zio memotong daun telinga lelaki itu.


Dreeeet..... Dreeeeet...... Dreeeeet


Ponsel di saku Zio bergetar. Seketika ia menghentikan aksinya. Lalu pergi kekamar mandi membersihkan darah segar di tangan nya, sebelum mengambil ponsel yang masih bergetar.


Daddy. 


gumam nya melihat nama yang tertera di layar ponsel.


"Ya.Dadd?" ucap Zio setelah menggeser panah hijau di layar ponsel.


"Zio, pulang sekarang. Bunda mu sakit,"  balas Zidan di sambungan telepon.


"Iya Dadd, Zio pulang sekarang," ucap Zio, kemudian sambungan telepon terputus.


Dengan langkah terburu-buru Zio pergi ke sebuah ruangan, mengganti kemejanya, karna kemeja yang ia gunakan saat ini, terkena cipratan darah tawanan nya.


Setelah mengganti kemeja. Ia kembali ke ruangan tadi.


"Lemparkan dia ke kandang buaya," ucap Zio sambil memakai Jas kerja nya. Lalu pergi keluar.


.


.


Tiba di mension, Zio lansung berlari masuk ke dalam hunian mewah itu setelah keluar dari mobil.


Ketika menaiki anak tangga Zio berpapasan dengan Zia yang hendak kebawah sambil bermain ponsel.


"Adek. Bunda mana?" tanya nya cemas.


Zia mengernyitkan dahinya melihat ekspresi cemas Zio saat ini.


"Adek! Bunda di mana?" ulang nya bertanya dengan nada tinggi.


"Huh, nggak usah teriak-teriak Adek nggak tuli," ucap Zia kesal.


"Bunda ada di dalam kamar," jawab Zia lalu pergi.


Zio berbalik langkah mengejar adik nya.


"Bunda sakit apa?" tanya Zio lagi.


"Sakit? Siapa yang sakit?" jawab Zia acuh.


Zio yang bingung melanjutkan langkah nya menuju kamar sang Bunda.


Tok. Tok. Tok


Pintu kamar di ketuk Zio dari luar.


Tidak lama, Zidan membuka pintu kamar nya.


"Bunda kenapa Dadd?" tanya Zio yang masih berdiri di depan pintu kamar.


"Masuk lah," ucap Zidan membuka pintu kamar lebih lebar.

__ADS_1


__ADS_2