Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
IUTMK (68)


__ADS_3

Jarum jam sudah berada tepat di angka 5. Hati Sarah mulai di landa resah, pasalnya suaminya belum juga pulang.


Selesai memasak tadi, ia juga sudah berkali-kali menghubungi nomor suaminya, namun tetap tak ada jawaban.


Lantas, Sarah berjalan keluar ingin menunggu kepulangan suaminya di teras rumah. Sambil melihat lalulalang kendaraan yang melintas di kompleks perumahannya, berharap ia melihat mobil suaminya.


Sarah melihat sebuah sepeda motor yang melintas, lalu berbalik arah dan berhenti tepat di depan rumahnya. Ia heran melihat pengendara yang masih menggunakan helm fullface itu turun dari motornya.


Sarah bangkit lalu mendekati pengendara motor itu yang berdiri di luar pagar rumahnya. "Cari siapa ya?" tanyanya.


Pengendara motor itu kemudian membuka helmnya.


"Andri! Ngapain kesini? Sebaiknya kamu segera pergi karna sebentar lagi suamiku akan pulang,"


Pria yang pernah membantu mengantarkannya kerumah sakit dulu mendengus, lalu meletakkan helmnya diatas jok motor. "Dia gak akan pulang,"


Sarah mengernyit mendengar ucapan pria di depannya barusan. "Maksudmu apa?"


"Sudah lah, lupakan saja! Sebenarnya aku ingin menyampaikan sesuatu yang penting padamu, Sar, dari kemarin aku sudah bolak-balik lewat sini, tapi pintu rumahmu tertutup, jadinya pas lihat kamu duduk diluar aku sengaja mampir,"


"Apa boleh aku masuk?"


"Gak boleh! Suamiku gak ada di rumah, kalau ada yang ingin kamu sampaikan katakan saja," ucap Sarah ketus.


Andri kembali mendengus lalu mengambil seseuatu dari dalam  tasnya. "Ini, hasil pemeriksaan kesehatanmu kemarin," Andri mengulurkan sebuah amplop coklat dari sela jeruji pagar besi.


Sarah mengambil amplop tersebut. "Ya sudah kamu pergi sana!" ucapnya ketus.


"Kamu lihat dulu, kalau gak ngerti nanti aku jelasin," ucap Andri sedikit kesal.


"Iya, nanti juga akan aku lihat," jawab Sarah masih dengan nada ketus.


"Kamu buka dan lihat dulu isinya, setelah itu baru aku pergi,"


Sarah mendelik, memutar bola matanya malas. Lalu membuka dan melihat kertas putih dalam amplop coklat yang di berikan Andri tadi.


"Puas!" jawabnya setelah membuka amplop itu tanpa memperhatikan apa yang tertulis di sana.


Andri menghela nafas panjang. "Sarah, sakit kepala yang kamu alami, itu bukanlah sakit kepala biasa!" Andri menjeda kalimatnya, menghela kembali nafas dalam-dalam.


"Maksud kamu?" tanya Sarah tanpa melihat kertas putih yang di pegangnya.


"Kamu mengidap kanker otak stadium akhir,"


Sarah menggeleng. "Gak, gak mungkin,"


Beberapa saat tubuhnya berdiri terpaku di tempat, sebelum kakinya melangkah mundur hingga menyentuh tembok samping pintu rumah.

__ADS_1


"Sarah, Sarah," Andri yang kepanikan melihat respon Sarah demikian, mencoba membuka pintu pagar.


"Gak, itu gak mungkin," Sarah terus mengucapkan kata itu sambil tangannya meremas kuat kertas dipegangnya.


Andri yang telah berhasil membuka pagar, segera menghampiri Sarah. "Sarah, tenanglah ini tak seperti yang kamu bayangkan, kamu masih bisa sembuh," Andri menyemangati, meski ia tahu dalam dunia medis, sangat kecil sekali penderita yang mengidap kanker otak stadium akhir bisa sembuh jika tak ada keajaiban.


Tadinya, Andri ingin menyampaikan apa yang di alami Sarah pada Raka, namun melihat respon Raka demikian ia pun mengurungkan niatnya.


Tin! Tin! Tin!


Sarah dan Andri serempak menoleh, melihat kedatangan mobil di luar.


Sarah buru-buru menghapus jejak air mata di sudut netranya. "Andri, tolong jangan beritahukan ini pada siapa pun," ucapnya pelan sebelum Andri melangkah keluar.


"Woi!" Zio turun dari mobil dengan dada yang naik turun. Tanpa berkata apa-apa lansung melayangkan pukulan ke perut dan wajah Andri secara membabi buta.


"Sudah Abang!" Sarah menjerit histeris sambil memeluk pinggang suaminya.


"Sudah berapa kali ku peringatkan kau agar tidak mengganggu istriku lagi!" Suara Zio bergetar hebat.


"Andri, pergilah sekarang!"


Andri menyeka darah di sudut bibirnya. "Jagain istri lu bro, sebelum lu menyesal nanti-"


"Andri, sudah! Pergilah!" pekik Sarah sambil kedua tangannya memeluk pinggang Zio dengan sangat kuat. Matanya memohon agar Andri tidak mengatakan apapun tentang penyakit yang dialaminya.


"Abang, sudahl!"


Andri menyunggingkan senyum sinis sebelum pergi, membuat amarah Zio semakin meledak-ledak.


"Sekali lagi kulihat kau mendekati istriku! Maka aku tak akan segan-segan membunuh kau! Bajingan!" teriak Zio.


Zio menoleh kebelakang, melihat Sarah yang masih memeluk pinggangnya. Sorat matanya begitu tajam, mengisyaratkan kamarahan yang begitu besar.


"Apa yang di lakukannya tadi?" tanya Zio dengan suara yang bergetar.


Sarah menggeleng pelan.


"Jawab Abang Sarah! Apa yang kalian lakukan tadi!"


Teriakan Zio yang keras, bagaikan batu besar yang menghantam kepala Sarah. Dunianya seakan berputar saat ini. Tanpa berkata apa-apa Sarah melangkah gontai masuk ke dalam rumah sambil memegang kepalanya yang terasa begitu sakit.


Sejenak Zio terpaku melihat Sarah yang pergi begitu saja meninggalkannya.


"****!" Zio menyeka wajah hingga kerambutnya dengan kasar, lalu mengikuti Sarah masuk ke dalam rumah.


"Sarah! Jawab Abang! Apa yang kalian lakukan tadi!" Masih dengan emosi bersarang didada, Zio mengejar Sarah yang sudah masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Kemudian ia memutar tubuh Sarah menghadap padanya. Terlihat wajah Sarah yang berubah pucat, menahan sakit di kepalanya.


"Sarah kamu kenapa?" tanyanya yang kini berubah panik melihat wajah Sarah yang mengeluarkan keringat.


"Kita kerumah sakit sekarang!" Zio lansung membopong tubuh istrinya bagaikan kapas, lalu berjalan keluar rumah.


"Abang, turun kan Sarah. Sarah gak apa-apa, biarkan Sarah istrahat di kamar," ucapnya pelan.


"Tapi kamu sakit Sarah,"


"Sarah lapar, Sarah ingin makan dengan Abang," ucapnya membuat langkah Zio seketika terhenti.


* * *


Malam harinya.


Zio masuk ke kamar, membawa semangkuk sup yang baru diantar kurir.


Sore tadi ia tidak jadi membawa Sarah kerumah sakit karna Sarah mengatakan lapar, namun, saat ia suapi makanan Sarah bilang tidak berselera dan ingin istrahat dulu. Mangkanya ia berinisiatif membelikan sup hangat untuk istrinya.


"Sayang, bangun," ucapnya sembari mengusap lembut kepala Sarah.


Sarah menggeliat lalu membuka mata.


"Sayang makan dulu," ucap Zio sambil membantu istrinya duduk bersandar di ranjang.


"Abang, prut Sarah tiba-tiba kenyang kalau melihat Abang," candanya dengan mengulas senyum, meski wajahnya masih tampak pucat.


"Tidak usah bercanda lagi, sekarang makan atau kita pergi ke rumah sakit," Zio mengambil semangkok sop yang ia letakkan diatas nakas.


"Dari mana Abang dapat sop itu?"


"Abang buat sendiri tadi,"


Sarah menyipitkan mata. "Sarah gak percaya, menggoreng ayam saja Abang gak bisa,"


"Itu menggoreng ayam, bedalah dengan membuat sop. Sudah, jangan banyak tanya lagi, makan dan habiskan cepat!" perintah Zio tegas menyodorkan mangkok berisi sop pada istrinya.


Sarah hanya diam saja.


"Kenapa? Mau bilang gak selera lagi?" tanya Zio.


Sarah menggeleng.


"Terus?"


Sarah membuka mulutnya lebar.

__ADS_1


"Eh, manjanya," Zio tersenyum tipis, lalu mulai menyuapkan sup itu ke mulut istrinya.


__ADS_2