Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
Surat Perjanjian!


__ADS_3

"SURAT PERJANJIAN."


Sarah membaca sepenggal kertas yang di berikan Zio.


"Ya, baca baik-baik perjanjian itu dan jangan pernah kamu melanggar nya! Ingat! Saya menikahi mu hanya karna Bunda. Bukan karna cinta atau pun menginginkan mu. Jadi jangan pernah kamu lancang menyentuh saya seperti tadi." Zio berkata tegas disertai tatapan tajam nya. Kemudian, dia berdiri dan pergi ke kamar mandi, meninggalkan Sarah yang masih berdiri terpaku memegang kertas yang di berikan nya.


Pengakuan yang di lontarkan Zio begitu menyakitkan bagi Sarah. Sembari memijat dahi yang terasa sakit, Sarah beringsut mendekati ranjang dan duduk di sana. Di baca nya kertas yang di berikan Zio tadi. Ada beberapa point yang tertulis di kertas itu.


Yang pertama, disana tertulis. Sarah sebagai pihak kedua tidak boleh melakukan kontak fisik seperti memeluk dan menyentuh Zio sebagai pihak pertama kecuali bersentuhan biasa atau secara tidak sengaja dan juga dalam keadaan darurat saat ada pihak keluarga.


Yang kedua, Sarah sebagai pihak kedua tidak berhak melarang pihak pertama bergaul dengan siapa saja.


Yang ke tiga, Sarah sebagai pihak kedua tidak boleh menceritakan kepada siapa pun, apa yang di lakukan oleh pihak pertama selama masa pernikahan.


Yang ke empat, Zio sebagai pihak pertama, berhak menggugat cerai pihak kedua yaitu Sarah jika melanggar tiga point diatas.


Sarah lansung meremas dan merobek kertas perjanjian konyol itu setelah membaca nya.


"Hei! Kenapa kau merobek nya!" sentak Zio yang baru keluar dari kamar mandi.


Kemudian Zio kembali ke meja kerjanya memprint kembali perjanjian yang sudah di ketik nya tadi.


"Kau sudah membaca nya kan? Sekarang tanda tangan." Zio memberikan kertas tadi dan pena pada Sarah.


Sarah menatap Zio dengan mata yang berkilat-kilat. Sakit. Tentu hatinya begitu sakit setelah membaca perjanjian konyol yang di tulis suaminya.


"Kau boleh menanda-tangani nya setelah pulang honeymoon nanti," ucap Zio lalu meletakkan kertas itu di samping Sarah dan mengambil satu bantal serta selimut membawa nya ke sofa.


Sarah menatap suaminya yang sudah merebahkan tubuh di sofa. Dia menyemangati diri sendiri dalam keadaan hatinya yang begitu sakit.


"Oke, Sarah setuju dengan perjanjian yang Abang ajukan." ucap nya kemudian.


Zio menoleh padanya. "Bagus!" Zio menyeringai penuh kemenangan. Akhirnya rencana berjalan sempurna.


Sarah berusaha menarik sudut bibir nya untuk tersenyum.


"Nggak perlu tanda tangan, Sarah ingat semua kok. Tapi, Sarah juga punya syarat yang wajib Abang lakukan. Jika Abang nggak setuju, Sarah akan katakan pada Bunda semua perlakuan Abang selama ini ke Sarah!" ucap Sarah sembari tersenyum.


Zio melebarkan matanya menatap Sarah. Lalu bangkit dari Sofa tempatnya berbaring.


"Jangan pernah kau mengancam ku! Paham!" sentak Zio.

__ADS_1


"Sarah nggak mengancam. Tapi kalau Abang nggak mau nggak apa-apa. Kita lihat saja besok pagi reaksi Bunda, saat tau perlakuan kasar Abang selama kita menikah. Dan Sarah juga akan katakan pada Bunda, Abang siang tadi bukan ke Bandung, tapi menemui cewek lain. Kira-kira Bunda dan Daddy marah nggak ya. Secara Daddy kan orang nya setia banget sama Bunda, masa putra nya berkelakuan sebaliknya."


"Stop! Tutup mulut kau itu Sarah," Zio bangkit menunjuk Sarah dengan mata yang merah.


Sarah bukan nya takut, malah melebarkan senyum.


"Sudah lah, Sarah ngantuk mau tidur," ucap nya.


"Katakan, apa yang kau ingin kan?" tanya Zio kemudian.


Sarah tersenyum puas. Tadi nya ingin merebahkan tubuh di ranjang malah kembali duduk. "Yang pertama, Abang harus memanggil Sarah dengan panggilan sayang atau honey juga boleh,"


"No! Jangan gila ka...?"


"Honey, Oke!" potong Sarah cepat sebelum Zio melanjutkan kata-katanya.


Zio berjalan memdekati Sarah dengan tatapan bengis nya.


"Abang mau ngapain? Mau tidur sama Sarah ya?" tanya nya tanpa rasa takut membuat Zio harus melepaskan tinju nya ke udara.


Dada Zio naik turun begitu cepat. Sungguh, Sarah telah membuat darah nya mendidih. Jika saja dia tak ingat wanita yang telah melahirkannya. Mungkin saat ini ia sudah gelap mata.


"Fine, sekarang katakan yang ke dua?" ucap Zio kemudian.


"Katakan saja cepat....?"


Sarah mengejakan mulut nya mengucap kata Honey hingga Zio tak jadi melanjutkan kata-kata nya.


"Panggil honey dulu dong, baru Sarah katakan,"


Sepertinya Sarah benar-benar sengaja ingin membuat Zio kesal.


"Shitt! Katakan saja cepat..!"


Entah lah, mulut Zio begitu berat untuk menyebutkan kata yang di minta Sarah itu.


"Honey.. Honey... Apa susah nya sih!" Sarah mendengus kesal.


"Ya, honey," ucap Zio kemudian dengan suara pelan.


"Gitu dong, mulai dari sekarang Abang harus biasakan memanggil Sarah honey. Kalau Abang nggak mau Sarah mengadu ke Bunda."

__ADS_1


"Cepat saja katakan apa yang kedua!" sentak Zio.


"Baiklah, yang kedua. Abang harus tidur satu ranjang dengan Sarah, nggak boleh tidur di sofa atau pun tidur di kamar lain."


Lagi, Zio membulat kan mata mendengar permintaan konyol istrinya itu.


"Abang, sini," ucap Sarah seraya menepuk sisi ranjang di sebelah nya.


"Jangan gila ka..."


"Honey! Awas kalau Abang berani bilang, kau, kau, kau lagi!" Kali ini suara Sarah meninggi.


"Aaaargh!" Zio mengacak rambut nya kasar.


"Abang, sini bobok di samping Sarah," ucap Sarah yang sudah naik ke atas ranjang.


Zio menatap nya tajam. "Awas saja kau kalau berani menyentuh ku!"


"Sarah dengar lagi Abang menyebut 'kau' kesepakatan kita ini batal!" balas Sarah tak kalah sengit.


Terpaksa, Zio membawa kembali selimut dan bantal tadi, lalu membaringkan tubuh nya di ranjang. Sebuah guling diletakkan nya ditengah-tengah sebagai pembatas. "Jangan pernah melewati ini!" tekannya.


Sarah masih berusaha tersenyum, jujur hatinya begitu sakit saat ini.


* * *


Pagi hari nya.


Zio bangun dari tidur, menoleh kesamping tak ia dapati Sarah di sebelahnya. Setelah meregang kan tubuh dia bangkit dari ranjang, berjalan ke kamar mandi.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, Sarah keluar dari sana dengan wajah yang terlihat begitu pucat sembari tersenyum melihat Zio. Senyum palsu yang terlihat begitu di paksakan nya.


"Abang mau mandi?"


"Hmm, Kamu kenapa? Sakit?" Ada nada sedikit khawatir dari tanya yang di lontarkan Zio.


Sarah semakin menarik lagi sudut bibir nya, tersenyum lebih lebar lagi. "Abang bilang apa tadi? Sarah nggak dengar?" Sengaja dia mengalihkan pertanyaan Zio.


"Hmm, ya honey," ucap Zio pelan lalu berjalan ke kamar mandi.

__ADS_1


Sarah memegang kepala nya yang semakin terasa berdenyut. Dua tahun belakangan ini, kepalanya memang sering terasa seperti di tusuk puluhan paku. Namun, ia selalu menyembunyikan apa yang di rasakan nya. Karna tak ingin membuat keluarganya khawatir. Bahkan di sekolah ia pernah beberapa kali pingsan karna tak kuat menahan sakit di kepalanya. Namun, ia selalu beralasan pada guru itu terjadi karna lupa sarapan pagi.


__ADS_2