Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
IUTMK (75)


__ADS_3

Pagi harinya.


Zio yang masih berada di dalam ruang perawatan menoleh, ketika mendengar pintu di buka dari luar. Ia pun segera berdiri menyapa kedua mertuanya yang baru datang.


Santi tak menanggapi, ia melongoskan pandangan lalu mendekati ranjang pasien yang bersebrangan dengan Zio berdiri, tepat di samping putrinya.


Raka yang melihat pemandangan itu menghembuskan nafas pendek sambil menggeleng pelan. "Zio, pulanglah dulu, biar Mama yang menjaga Sarah. Zio pasti belum istrahat dari tadi malam kan?"


Benar apa yang di katakan Raka, dari tadi malam menantunya itu memang belum tidur sama sekali.


"Tidak apa-apa, Pa. Zio mau di sini,"


"Sudah, kamu pulang saja sana, biar saya yang menjaga Sarah," ujar Santi ketus, memasang wajah juteknya.


"Tapi Ma-"


"Sudah pulang sana! Gak usah sok peduli kamu dengan Sarah," potong Santi masih dengan nada ketus.


"Ma...." tegur Raka.


"Permisi Tuan," seorang pramusaji masuk ke dalam ruangan membawa sarapan pagi, lalu meletakkan di atas meja.


"Ma, Zio mau di sini menunggu istri Zio," kekehnya.


Santi tak menanggapi, hanya mulutnya saja yang bergerak-gerak. Semenjak tadi malam, ia memang tidak bisa berkata lembut lagi dengan menantunya itu. Ia hilang respect ketika tahu perlakuan Zio pada putrinya selama ini. Dulu, ia begitu sayang sekali dengan Zio, sekarang melihat pun ia seperti enggan.


Kemudian, Santi keluar dari ruangan.


"Loh, Ma, mau kemana?" tanya Raka.


Santi menghentikan langkahnya, menoleh pada suaminya. "Mau menunggu di luar saja, di sini gerah!" Sekilas, Santi melirik Zio, melihatnya dengan menaikkan bola mata, lalu kembali melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan.


Raka menggeleng pelan. "Zio, jangan dimasukin hati perkataan Mamamu. Dia memang begitu kalau lagi kesal. Nanti juga akan baik sendiri,"


"Iya Pa, tidak apa-apa kok, Zio tau selama ini Zio memang salah pada Sarah,"


Raka mengulas senyum, kemudian mendekat ke ranjang pasien, menatap putrinya yang masih tertidur.


"Sekarang ini kita hanya bisa sama-sama berdoa semoga ada keajaiban untuk kesembuhan Sarah,"


"Pa, jangan bicara seperti itu, Sarah pasti akan sembuh!"


Raka melihat Zio sejenak, lalu memalingkan wajah sembari menyeka sudut matanya yang mulai basah. "Papa mau kekantor dulu, jika Zio lelah, mintalah Mama menggantikan," pesanya sebelum meninggalkan ruangan itu.


Zio terperangah, menjatuhkan kembali dirinya di kursi. Ia mengambil tangan Sarah, menggenggamnya erat. "Bangun Sayang, Abang kangen kita bercanda lagi. Abang tidak akan pernah lagi meninggalkan Sayang," lirihnya menangis sesugukan.


.


.


.

__ADS_1


.


Jam setengah 9 pagi, dokter masuk ke dalam ruang perawatan, hendak memeriksa keadaan Sarah.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Zio usai dokter memeriksa keadaan Sarah.


Dokter menyunggingkan senyum tipis, melihat wajah Zio yang begitu khawatir. "Usahakanlah jangan membebankan pikirannya. Jika tubuh pasien mulai membaik, mungkin 2 atau 3 hari lagi, kita bisa melakukan tindakan operasi untuk pengangkatan tumor ganas yang bersarang di kepalanya, dan akan di lanjutkan dengan kemoterapi. Sama-sama kita doakan, semoga proses ini berhasil,"


Penuturan dokter membuat Zio terperangah, karna dokter tersebut tidak memberitahukannya berapa parsen Sarah bisa sembuh setelah menjalankan proses operasi.


Zio terduduk lemah diatas kursi, faktor kurang istrahat dan belum makan sejak tadi malam, membuat kepalanya terasa sakit, di tambah rasa mual yang juga menderanya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu Tuan," Dokter yang di iringi perawat pun pergi meninggalkan ruangan.


Tak tahan dengan rasa mualnya, Zio berjalan ke kamar mandi, sambil memijat keningnya.


Di depan wastafel, Zio mengeluarkan isi dalam perutnya yang terasa diaduk-aduk.


Setelahnya ia kembali keluar.


"Abang..."


Mendengar suara yang begitu di kenalinya memanggil, Zio segera mendekat, berdiri di samping ranjang pasien, sambil mengusap lembut kepala istrinya.


Sarah mengambil tangan Zio yang berada di kepalanya, menggenggam dengan kedua tangannya. "Abang, Sarah mau pulang, Sarah gak mau di sini merepotkan Abang,"


Rasa haru seketika menyelimuti hati Zio, hingga air mata yang berusaha ia tahan, kini menganak sudah. "Sayang, jangan bicara seperti itu, Abang tidak pernah sama sekali merasa di repotkan,"


Zio menggeleng cepat, menahan sesak di dadanya.


"Apa Abang takut Sarah akan mati?"


Dada Zio semakin membuncah, mendengar kalimat yang diucapkan istrinya. Ia mengambil tangan Sarah, lalu menciumnya. "Sayang pasti sembuh, jangan bicara seperti itu lagi,"


Sarah mengulas senyum. "Abang, bukankah kita semua akan mati? Kenapa Abang takut jika Sarah nanti mati,"


"Stop, Sarah! Berhentilah mengucapkan kalimat itu!" pungkasnya cepat sembari membalikkan badan membelakangi istrinya.


"Abang, maafkan Sarah, jika selama ini belum bisa membuat Abang bahagia,"


Tubuh Zio semakin bergetar mendengar kata-kata yang diucapkan Sarah.


.


.


.


* * *


Di mension.

__ADS_1


Zidan baru saja berangkat ke kantor. Sementara Salsa berjalan keluar mencari Joshua yang kemarin malam menjemput Zio di rumah Sarah.


"Bunda mau kemana?"


Salsa menghentikan langkah, melihat Zia berjalan mendekat. "Bunda mau kerumah wanita selingkuhan Abangmu,"


"Adek ikut ya Bunda. Rasanya Adek belum puas kemarin menghajar wanita kecentilan itu," Zia meninju telapak tangan kirinya dengan tangan kanan.


Alis Salsa bertaut, menatap putrinya. "Memangnya apa yang Adek lakukan kemarin?"


"Hehehe, cuma menjambak rambutnya saja, Bunda. Tapi Adek belum puas, karna kemarin Abang melerai. Adek heran lah, Bunda? Waktu kemarin itu, Abang gak ada merasa bersalah sama sekali sama Sarah. Sarah pun Adek lihat biasa-biasa saja, malah dia seperti orang ketakutan,"


"Maksud Adek?" tanya Salsa dengan kening yang berkerut kuat.


"Adek rasa, Abang pasti sering memarahi Sarah selama ini, mangkanya Sarah diam saja, karna takut di marahi Abang,"


"Kenapa Adek merahasiakan ini dari Bunda?"


"Ya, Bunda tau sendirilah gimana wajah Abang kalau dia lagi memohon-mohon. Ya, Adek jadi gak tegalah,"


"Tapi kan Bunda, sebenarnya Adek sudah lama tau. Karna Abang memohon-mohon agar Adek gak menyampaikan ke Bunda, akhirnya Adek tutup mulut,"


"Sejak kapan?"


"Sudah lama, sebelum Abang menikah dengan Sarah. Bunda tau gak? Dulu itu Adek juga sering melihat Abang keluar dari kamar tengah malam. Tapi Adek gak tau sih dia mau kemana,"


"Hm, ya sudah, ayo kita pergi sekarang. Eh, tapi memangnya Adek hari ini gak ke kampus?"


"Adek hanya ada kelas siang, Bun,"


Mereka pun keluar, mencari Joshua untuk mengantarkan ke tempat Carla.


.


.


.


* * *


Di rumah sakit, Zio tengah menyuapkan Sarah dengan makanan yang di antar pramusaji tadi.


"Abang, Sarah sudah kenyang,"


"Sayang, ini belum setengah yang habis, masa sudah kenyang?"


"Tapi Sarah benar-benar sudah kenyang,"


"Satu suap lagi, aaaa," Zio ikut membuka mulutnya sambil menyuap kan sendok ke mulut Sarah.


Sarah menggeleng sambil menutup mulutnya dengan tangan.

__ADS_1


__ADS_2