Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
Lupa


__ADS_3

"Kak Sarah, cepatan mandinya! Perut Saka sakit benget nih!" Teriakan Saka diluar kamar mandi membuat jiwa Zio seperti baru kembali ke raga. Digunakan nya kedua tangan untuk menutupi area sensitifnya yang telah puas di lihat Sarah. Sesaat kemudian ia pun berbalik badan menghadap tembok.


Senyum Sarah semakin lebar melihat reaksi Zio saat ini. "Abang, buruan selesaikan mandi. Tuh Saka udah teriak-teriak di luar,"


"Sa-saya bisa sendiri,"


"Pakai malu segala, Sarah juga sudah lihat semuanya kok. Sekarang Abang menghadap sini, biar Sarah selesaikan membasuh tubuh Abang.


* * *


Selesai mandi, mereka kembali kedalam kamar. Zio masih berdiri diambang pintu dengan handuk yang melilit di pinggang.


Sementara Sarah tengah menyiapkan pakaian untuk suaminya yang sempat di bawanya pagi tadi dari rumah mertuanya.


"Abang, kenapa masih berdiri disana? Abang mau Sarah yang membantu Abang memakaikan pakaian?"


Semenjak berada di kamar mandi tadi wajah dingin Zio seperti lenyap, menyisakan wajah lugu yang terlihat begitu menggemaskan.


Seperti anak kecil yang penurut, Zio berjalan pelan mendekat ke pakaiannya yang di letakkan Sarah diatas ranjang, sambil kedua tangan menutupi sesuatu yang sejak tadi masih menunjuk kedepan.


"Mau Sarah bantuin memakaikannya nggak?" Sarah yang berdiri tepat di hadapan Zio mengambil ****** ***** suaminya, sambil menarik-narik memainkan benda itu.


"Sa-Sarah, Sa-saya bi-bisa sendiri,"


"Kenapa, Abang malu, ya?" Sarah menggigit ****** ***** yang di pegangnya dengan sangat gemas.


"Sa-Sarah, ka-kamu mau apa?"


"Mau memakaikan ini lah," Sarah menunjukkan ****** ***** yang di pegangnya.


"No, no no, Sarah. A-Abang bisa memakainya sendiri," Zio merebut pakaian dalam yang di pegang Sarah.


Sarah tersenyum mendengar Zio menyebut dirinya sendiri Abang.


"Baiklah. Abang mau Sarah sekarang nggak? Kalau Abang mau masih sempat, kok," godanya sambil meliuk-liukkan tubuh di hadapan Zio.


Jakun Zio seperti tercekat di tenggorokan. "Ma-mau a-apa?"


Sarah kini menggigit ujung kukunya. "Yang itu lah, masa Abang nggak tau?"


Zio hanya diam saja.


"Abang, mau nggak?"


"No, no," Zio menganggukkan kepalanya.


Sarah mengernyit, "Abang, kalau nggak mau seharusnya menggeleng, bukan mengangguk,"


"Ya sudah, kalau Abang nggak mau, Sarah nggak akan memaksa," Lalu. sarah menggunakan pakaiannya sarta sedikit berdandan.


"Abang, Sarah mau keluar dulu membantu Mama menyiapkan makan malam, ya. Kalau Abang butuh apa-apa panggil saja Sarah,"


"Ya," jawab Zio tanpa menoleh padanya.


* * *


Malam harinya. Selesai makan malam. Zio merasa sedikit lega, karna Raka bersikap biasa saja, tidak seperti yang ada dalam pikirannya, mertuanya itu akan menanyai tentang Carla padanya. Ataupun menanyai tentang kejadian beberapa hari yang lalu di rumah tuan Daniel. Tapi nyatanya itu hanya ketakutan dalam pikirannnya saja.


Jam sembilan malam di ruang keluarga kini hanya tersisa Santi, Wati, Sarah dan Zio. Wati yang sudah beberapa kali menguap akhirnya pergi masuk ke kamarnya. Begitupun Santi. "Sarah, jangan lupa matikan TV dan lampu nanti," pesan Santi sebelum meninggalkan mereka di ruang keluarga.


"Abang, belum mengantuk ya?"


"Belum," jawab Zio tanpa mengalihkan matanya dari layar TV.


Sarah menguap. "Tapi, Sarah sudah ngantuk, Abang,"

__ADS_1


"Kamu tidurlah dulu, Abang masih mau di sini,"


Sarah melihat Zio yang masih fokus melihat layar TV yang sedang menayangkan film action.


"Nanti kalau filmnya sudah selesai, Abang bangunkan Sarah ya,"


"Hmm,"


Lantas Sarah menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, tak lama ia pun hanyut ke alam mimpi.


Ketika terbangun, Sarah mendapati ruangan yang gelap. TV dan lampu ruangan telah padam, Zio pun tak ada lagi di sana. Sarah yang penakut dengan hal-hal mistis segera berlari menuju kamarnya.


Di dalam kamar, Sarah melihat suaminya yang sudah tidur diatas ranjang. Rasanya ingin sekali ia berhambur ke atas tubuh suaminya itu saking kesalnya.


Padahal, sebelum tidur di ruang keluarga tadi, dia telah berpesan agar suaminya itu membangunkannya kalau ingin masuk kedalam kamar. Tidak mungkin kan, dia lupa? Atau pun tidak melihat Sarah yang tidur di sampingnya?


Melampiaskan kekesalan, Sarah mengambil guling, lalu memukulkan ke tubuh Zio.


Seketika Zio tersentak dan lansung duduk diatas ranjang.


"Kenapa Abang nggak membangunkan Sarah tadi?" tanyanya sebelum Zio bersuara.


"Lupa," jawab Zio singkat.


"Lupa? Abang bilang lupa? Sarah kan tadi tidur di sebelah Abang! Masa Abang nggak lihat!" Sungguh, saat ini Sarah begitu kesal, karna dirinya yang begitu penakut, saat terbangun tadi mendapati ruangan yang gelap membuat dirinya semakin ketakutan.


"Sudah, tidurlah! Ini sudah malam," Zio kembali membaringkan tubuhnya di ranjang tanpa rasa bersalah.


Meski masih kesal, Sarah ikut berbaring di sebelah Zio. Di tariknya selimut yang di gunakan Zio untuk membungkus tubuhnya sendiri, membiarkan suaminya tanpa menggunakan selimut.


Udara yang di hembuskan AC tentu membuat suhu ruangan begitu dingin. Mengharuskan Zio menghangatkan tubuhnya di dalam selimut. Tapi seluruh selimut itu sudah di lilitkan Sarah membungkus tubuhnya.


Zio yang tak mau kalah, menarik balik selimut yang membungkus tubuh Sarah dan menggulungkan ke tubuhnya. Begitu pun dengan Sarah, mempertahankan selimutnya agar tidak bisa di gunakan Zio.


Adegan tarik menarik selimut berlansung cukup lama. Hingga Zio yang sudah emosi akhirnya menarik kuat selimut itu, membuat tubuh Sarah berguling mengarah padanya.


Kedua bibir mereka menempel, membuat mata Zio membola sempurna. Bukan hanya bibir, tubuh mereka pun kini menempel dalam lilitan selimut.


Zio mencoba menyingkirkan tubuh Sarah. Tapi tak bisa, akhirnya dirinya lah yang keluar dari dalam selimut, berdiri di tepi ranjang sambil menyeka bibirnya.


"Kamu tidur saja sendiri di sini! Saya tidur di sofa!"


"Abang, Sarah minta maaf. Habisnya Sarah kesal karna Abang meninggalkan Sarah tadi,"


Telat, Zio sudah merebahkan tubuhnya di sofa.


Sarah ikut bangkit dari ranjang, berjalan ke sofa tempat Zio berbaring.


"Abang, ayo tidur di ranjang. Abang pakai saja selimutnya," Sarah mencoba membujuk.


Zio hanya diam.


"Abang, ayo kita tidur di ranjang," ulangnya terdengar merengek.


"Diamlah, brisik!" Zio mendengus kesal.


"Sarah nggak mau diam kalau Abang nggak tidur di ranjang,"


Zio bangkit dan segera berjalan ke ranjang, membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut tanpa menyisakan satu pun anggota tubuhnya.


Sarah mengambil satu selimut lagi di dalam lemari, lalu berbaring di sebelah Zio. Sebelum tidur dia membisikan sesuatu pada Zio.


"Abang, Sarah minta maaf, atas semua kesalahan yang Sarah lakukan hari ini,"


Zio hanya diam saja di dalam selimut.

__ADS_1


* * *


Pagi harinya, selesai sarapan. Sarah memasukkan ke dalam koper beberapa potong pakaian serta buku sekolahnya.


Menjelang siang mereka sudah meninggalkan rumah Santi, pergi menuju rumah baru yang sudah di siapkan Zio.


Sebuah rumah minimalis, memiliki dua lantai serta dua kamar tidur.


Zio hanya memarkirkan mobilnya di tepi jalan, karna ia berencana membawa Sarah membeli perabotan rumah yang kurang.


Sarah begitu bersemangat memasuki pekarangan rumah baru yang akan ia tempati beserta suaminya.


"Wah, rumah baru kita bagus sekali ya, Bang?" Sarah berkata penuh kekaguman ketika baru masuk kedalam rumah.


"Rumah siapa?" Zio mengernyit.


"Rumah kita," jawab Sarah.


Zio tersenyum sinis. "Sekarang coba kamu katakan? Berapa uangmu yang terpakai membeli rumah ini?" tanya Zio penuh keangkuhan.


"Nggak ada,"


"Lalu, kenapa kamu mengatakan ini rumah kita? Ini rumah saya, paham!" katanya penuh penekanan.


Sarah menoleh melihat wajah angkuh suaminya. "Abang, Sarah ini kan istri Abang. Meski Sarah tidak ada mengeluarkan uang untuk membeli rumah ini. Tapi, sebagai gantinya, Sarah akan mengabdi layaknya seorang istri pada Abang. Membereskan rumah agar Abang betah, juga menjaga makan minum dan melayani Abang. Itu lah bayaran yang Sarah berikan. Jadi rumah ini adalah rumah kita berdua, bukan rumah Abang sendiri,"


"Cih! Saya bukan anak kecil. Tidak perlu kamu jaga!" dengus Zio.


Sarah tersenyum sambil menggeleng melihat suaminya.


"Oh ya Bang. Kamar kita yang diatas ya. Kamar yang di bawah buat tamu saja. Sekarang Sarah mau ke atas dulu, membereskan kamar kita," Sarah berlalu pergi mengakhiri perdebatan dengan suaminya.


Zio berjalan ke sofa sambil mengeluarkan ponsel yang sejak tadi malam di silentnya. Banyak panggilan tak terjawab dari Carla serta pesan masuk di ponselnya.


Zio membuka pesan tersebut, membaca satu persatu pesan yang di kirimkan Carla.


[Kenapa Abang nggak pernah jawab telepon Adek]


[Abang, jawab telepon Adek]


[Pokoknya nanti malam Adek mau makan sama Abang, kalau nggak Adek nggak mau makan]


[Kalau Abang nggak peduli lagi sama Adek, Adek mau pergi saja ke Bandung dan Adek nggak mau menjumpai Abang lagi]


Belum selesai membaca seluruh pesan yang di kirim Carla, notif di layar ponselnya menampilkan nama Carla memanggil. Segera Zio menjawab panggilan dari Adik angkatnya tersebut.


"Hiks, hiksz. Abang kemana saja sih? Kenapa nggak pernah menjawab telepon Adek? Abang nggak sayang lagi ya sama Adek?" isak tangis Carla di ujung telepon.


"Eh, kenapa Adek menangis?" tanya Zio.


"Adek benci Abang. Abang nggak peduli lagi sama Adek. Kalau begini lebih baik Adek pulang saja ke Bandung. Biarin Adek cari kerja nanti,"


Zio tertawa kecil mendengar rengekan manja Adik angkatnya.


"Udah, jangan nangis lagi. Nanti malam kita dinner, oke," ucap Zio.


"Abang, nggak usah bohong lagi! Tadi malam Abang juga bilang mau kesini, tapi nggak datang-datang,"


"Kali ini Abang janji,"


"Benaran!"


"Iya,"


"Kalau Abang bohong Sarah nggak mau lagi ketemu Abang," rajuk Carla.

__ADS_1


"Sudah dulu ya, nanti malam kita ketemu," Sambungan telepon pun berakhir.


'Kalau tinggal disini, aku bisa bebas mau keluar kapan pun,'  gumam Zio sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


__ADS_2