Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
Susu badam


__ADS_3

Malam hari, ketika hendak turun untuk makan malam. Zio mengatakan pada Sarah agar menyampaikan keinginan mereka untuk pindah rumah pada bundanya. Zio tau jika dirinya sendiri yang menyampaikan keinginannya itu tentunya Salsa tidak akan pernah mengizinkan.


"Satu lagi, katakan juga pada Bunda jika kamu mual-mual tadi bukan karna hamil. Tapi karna pusing saja," peringat Zio.


"Ehm, iya. Ayo kita turun," Sarah merangkul sebelah lengan Zio dengan kedua tangannya.


"Sarah! Sudah berapa kali saya bilang, jangan pegang-pegang saya!" dengus Zio.


"Ya sudah, Abang saja sendiri yang bilang ke Bunda kalau mau pindah," Lalu, Sarah melepaskan lengan Zio yang di pegangnya, berjalan hendak keluar kamar.


"Sarah!" panggil Zio ketika Sarah hendak membuka pintu.


"Apa?" Sarah menoleh pada Zio yang masih berdiri.


"Ya, kamu boleh memegang saya," kata Zio lirih.


Sarah tersenyum, kemudian kembali berjalan mendekati suaminya. Memeluk lengan kekar itu serta menyandarkan juga kepalanya di sana.


"Ayo, Bang,"


"Sarah! Bagaimana saya bisa jalan kalau kamu begini?" dengus Zio berusaha menarik tangannya yang sudah di peluk erat Sarah.


Sarah menyengir, lalu sedikit melonggarkan pelukan tangannya di lengan Zio.


Zio mulai melangkah menuju ruang makan.


"Wah! Wah! Pengantin baru memang salalu mesra ya?" Salsa menggeleng-geleng melihat rangkulan erat tangan Sarah di lengan putranya.


Wajah Zio memerah, sementara Sarah hanya tersenyum saja.


"Sampai kapan mau berdiri disana? Ayo duduk," ajak Salsa.


"Jangan-jangan duduknya di pangku juga nih," celetuk Zia yang lansung mendapat plototan tajam saudaranya.


"Bun? Daddy mana?" tanya Zio karna mendapati kursi kebesaran Daddynya kosong.


"Daddy belum pulang, katanya di kantor lagi banyak pekerjaan," jawab Salsa.


"Ooo.. Oh ya Bun. Besok Abang dan Sarah ingin ke rumah Mama, sekalian kami juga mau pindah rumah. Iya kan honey?" ucap Zio meminta pendapat istrinya.


Sarah tertegun mendengar Zio memanggil nya honey.


Kemudian Zio menginjak kaki istrinya yang berada di bawah meja, membuat Sarah tersentak.


"Eh? I-ya Bunda," sahutnya kemudian.


"Loh? Kok buru-buru sih, sayang? Kamu kan lagi hamil. Nanti kalau kecapekan gimana?"


Zio melirik Sarah yang masih bingung, lalu mendekatkan wajah ke telinga istrinya. "Katakan kalau kamu tidak hamil," bisiknya.


Sarah menyeringai. "Ehm, sebenarnya Sarah kemarin hanya pusing saja, Bun. Habisnya Sarah nggak biasa naik pesawat," jawab Sarah.

__ADS_1


Salsa mengernyit menatap menantunya. "Tapi bagaimana kalau Sarah benar-benar hamil?"


Sarah tersenyum sembari menoleh pada suaminya. Lalu memegang satu tangan Zio. "Sepertinya Bunda benar-benar pengan Sarah hamil ya?"


"Jangan macam-macam kamu, Sarah!" bisik Zio di telinga istrinya, wajahnya terlihat antara tertawa dan marah.


Salsa dan semua yang ada di meja makan tertawa melihat kelakuan Zio dan Sarah yang terlihat dimata mereka begitu mesra.


"Ya sudah, kalau memang Sarah nggak hamil ya Bunda terpaksa mengizinkan," ucap Salsa.


"Bun, tapi gimana kalau Kak Sarah benar-benar hamil," Zia menyela.


"Adek, bisa diam nggak!" dengus Zio membelalakkan matanya menatap Zia.


"Sudah, sudah, nggak usah ribut! Besok, Abang bawa Sarah kerumah sakit untuk memastikan, ya," Salsa menengahi.


"Iya Bun,"


* * *


Pagi nya, Sarah dan Zio sudah bersiap pergi ke rumah Santi. Setelah berpamitan pada semua keluarganya, Zio berangkat, mengemudi sendiri tanpa di sopiri Deri. Tiga puluh menit berselang mereka sudah sampai di rumah Santi.


"Sarah, nanti kalau Mama meminta kita menginap, bilang saja lain kali, ya," pesan Zio sebelum mereka turun dari mobil.


"Abang saja yang bilang sendiri," elaknya, lalu membuka pintu dan turun dari mobil.


"Heis! Dia ini!" sungut Zio yang juga ikut turun dari mobil.


"Wati..... Lihat ini, siapa yang datang!" teriak Edi yang sedang memandikan burung.


"Eeeh! Kau menyumpahiku!" Edi meradang.


"Bukan menyumpahi Kek! Ya ingat umurlah, sudah tua tidak perlu teriak-teriak lagi," ujar Wati membela diri.


"Kakek, Nenek, sudah! Nggak usah ribut. Malu, kan ada Bang Zio," ujar Sarah menengahi.


Bagi Sarah, mendengar pasangan paruh baya itu adu mulut memang sudah biasa, tapi dia merasa tidak enak saja sekarang ini karna ada suaminya.


"Ayo masuk Nak Zio, tidak usah di dengerin kakekmu itu," ucap Wati sembari menarik tangan Zio membawanya masuk ke dalam rumah.


"Iih, Nenek! Kok cuma Bang Zio saja yang diajak masuk," protes Sarah.


"Memang dasar nenekmu itu! Udah bau tanah masih juga keganjenan!" dengus Edi yang belum puas hati.


"Kek, Mama kemana?" tanya Sarah.


"Mamamu ke pasar, Papamu juga sudah berangkat ke kantor, Saka juga sudah berangkat sekolah," jawab Edi lengkap.


"Ooo... Ya sudah, Sarah masuk dulu ya, Kek,"


"Ya," sahut Edi.

__ADS_1


"Bagaimana dengan bulan madu kalian? Pasti menyenangkan ya?" Baru saja masuk kedalam rumah, kata-kata itu yang Sarah dengar dari Neneknya yang sedang mengobrol dengan Zio.


"Eh? I-iya Nek," jawab Zio merasa salah tingkah.


"Sarah, buatkan minuman untuk suamimu," perintah Wati.


"Baik, Nek,"


"Abang mau minum apa?" tanya Sarah.


"Ehm, ter-terserah," jawab Zio.


"Susu mau?" Sarah menawarkan.


"Susu...!" Zio membelalakkan mata lebar.


"Lah, Abang kenapa?" tanya Sarah heran.


Wati terkekeh melihat respon suami dari cucunya yang terlihat menggemaskan. "Memangnya tadi pagi Zio belum menyusu, ya?" goda Wati.


"Eh? I-iya, belum," jawab Zio gugup.


"Kamu bagimana sih Sarah, masa pagi-pagi suami tidak di kasih susu," ujar Wati.


"Habis Bang Zio nggak pernah minta," jawab Sarah.


"Ya sudah, sekarang buatkan suamimu susu badam,"


"Su-susu badan!" tubuh Zio menegang.


"Eh, kamu ini," Wati menegur Zio sembari tertawa.


"Susu badam! Bukan susu badan. Susu badam itu susu yang di hasilkan dari kacang badam yang tidak mengandung kolesterol. Sangat bagus untuk kesehatan," terang Wati membuat Zio semakin salah tingkah.


"Sarah, buatkan Susu badam untuk suamimu," perintah Wati.


"Iya, Nek," Sarah pergi kebelakang membuat minuman untuk suaminya.


Wati menggeleng-geleng melihat wajah Zio yang memerah, terlihat jelas sekali karna Wajah Zio yang putih.


Tiba-tiba ponsel Zio bergetar, di lihatnya nama Carla yang memanggil. Ia membiarkan saja ponselnya bergetar karna merasa sungkan dengan Wati yang duduk di sebelahnya. Beberapa kali panggilan dari Carla diabaikan saja oleh Zio. Setelahnya masuk sebuah pesan.


[Abang dimana sih? Katanya mau kesini. Ini malah Adek telepon nggak diangkat] Pesan dari Carla.


Zio menoleh pada Wati sembari tersenyum, lalu mengetik balasan pesan untuk Carla.


[Abang nggak bisa datang sekarang, Dek. Kerjaan Abang belum selesai]


[Terus, kapan Abang kesini? Abang nggak kangen lagi ya sama Adek] balas Carla


[Adek, tolong mengerti. Abang sekarang benar-benar lagi sibuk] balas Zio.

__ADS_1


[Pokoknya, besok malam Abang harus datang. Kalau ngga, Adek mau pulang saja ke Bandung sama Ibu] balas Carla.


[Iya, Abang usahakan datang besok] balas Zio.


__ADS_2