Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
Ketiduran


__ADS_3

"Bunda, acaranya sudah selesai kan? Abang pamit duluan ya," bisik Zio yang duduk di sebelah Salsa.


"Abang mau kemana?" tanya Salsa setengah berbisik.


"Abang ada perlu Bun, Abang pergi ya," setelah itu Zio bangkit dari duduk nya.


Sarah yang melihat nya pun mengejar Zio yang sudah meninggalkan meja makan.


"Bang Zio... Abang tunggu," panggil Sarah sambil berlari mengejar Zio yang terus melangkah.


Di teras rumah Sarah berhasil mengejar langkah Zio.


"Abang mau kemana? Acara nya kan belum selesai. Aku sengaja memasak makanan kesukaan Abang. Paling tidak Abang makan lah sedikit," ucap Sarah memohon.


"Aku ada urusan penting, kamu masuk lah," ucap Zio dingin, kembali melanjutkan langkahnya setelah menepiskan tangan Sarah.


"Abang..... " panggil Sarah yang tidak di pedulikan Zio.


Zio terus melangkah ke mobil nya tanpa menoleh lagi ke belakang.


Diteras rumah itu Sarah masih berdiri, menatap mobil Zio yang sudah melaju meninggalkan kediaman nya.


Salsa yang bersembunyi di balik pintu, berjalan mendekati Sarah.


"Sayang, ayo kita masuk," Salsa merangkuh pundak Sarah yang masih berdiri.


"Bun," Sarah menyandarkan kepalanya di bahu Salsa.


"Sayang, Zio itu memang lagi sibuk sibuk nya sekarang mengurusi perusahanaan Daddy nya. Belum lagi mengurusi bisnis nya yang lain. Sarah harus mengerti itu," ucap Salsa sambil mengusap puncak kepala Sarah.


"Tapi Bun-"


"Sudah, jangan berpikir macam-macam, kan Sarah dan Zio sekarang sudah resmi bertunangan. Itu artinya kalian harus saling percaya," sela Salsa menepiskan pikiran buruk Sarah.


.


.


.


***


Zio kini sudah berada di rumah sakit. Berjalan dengan langkah lebar sambil menenteng makanan di dalam kantong kresek.


Sebelum masuk ke ruang inap Zakir, Zio menyerahkan 1 kantong kresek yang berisi 2 bungkus nasi goreng pada kedua orang anak buah nya yang berjaga.


Setelah itu barulah Zio membuka pintu ruang inap, di lihatnya Carla yang duduk di samping ranjang Zakir menoleh padanya.


"Abang kok lama sih datang nya?" tanya Carla setengah berbisik.


"Tadi Abang ada pekerjaan penting Dek, mangkanya agak lama kesini. Ini Abang bawa makanan untuk Adek," ucap Zio sambil meletakkan makanan yang di bawa nya di atas meja.


Carla mendekati Zio yang sudah duduk di sofa.


"Tadi Om Zakir nanyain Abang, tapi sekarang dia sudah tidur. Abang sih kelamaan datang nya," sungut Carla lalu duduk di sebelah Zio.


"Kok makanan nya hanya satu bungkus?" tanya Carla.


"Abang sudah makan tadi, Adek makan lah," jawab Zio sambil membuka pesan yang baru masuk di ponsel nya.


Setelah membaca pesan itu, Zio lansung melakukan panggilan suara, seraya berdiri dari duduk nya hendak keluar.


"Abang mau kemana lagi?" tanya Carla.


"Zio menghentikan langkahnya, menoleh pada Carla.


"Keluar sebentar menelpon teman," jawab Zio, sambil mendekatkan ponsel ke telinganya.


"Hallo Muklis," sapa Zio setelah sambungan telepon nya terhubung, lalu melangkah keluar.


"Ya, Rain. Itu pesan yang ku kirim tadi adalah data data yang kamu minta," jawab Muklis.

__ADS_1


"Jadi wanita itu pernah menjalani operasi wajah dan mengganti nama dengan Diana," tanya Zio meyakin kan.


"Benar sekali Rain, dia menghilang 20 tahun yang lalu. Dan menurut kabar, dia di buru keluarga Alvero karna dalang penculikan bayi mereka." terang Muklis.


"Apa sekarang kau sudah menemukan keberadaan nya?" tanya Zio.


"Belum Rain, tapi saya sudah mengutus 2 orang detektif handal mencari nya," jawab Muklis.


"Temukan dia secepatnya," ucap Zio dingin.


"Baik Rain,"


"Dan satu lagi, carikan aku rumah yang nyaman di daerah Setia Budi, tidak usah yang mewah, yang penting nyaman." titah Zio.


"Baik Rain,"


.


.


.


Setelah memutuskan sambungan telepon nya. Zio pun kembali masuk ke dalam kamar inap. Di lihat nya Carla masih duduk di sofa, dengan bungkus makanan di depan nya yang belum ia buka.


"Lho, kok Adek belum juga makan? Apa adek nggak suka makanan nya?" tanya Zio sambil berjalan mendekati Carla.


"Kan Adek sudah bilang tadi, Adek mau makan sama Abang," ucap Carla.


Zio menggeleng sambil tersenyum, lalu mengambil piring dan sendok yang ada di ruangan itu, kemudian meletakkan bungkus makanan diatas piring setelah membuka nya.


"Sekarang Adek makan lah," ucap Zio meletakkan piring itu di hadapan Carla.


Carla mengambil sendok diatas piring yang berisi makanan itu.


"Abang, juga harus makan," Carla menyuapkan makanan itu ke mulut Zio.


Setelah berpikir sejenak Zio kemudian membuka mulut nya.


Zio segera mengambil minum, untuk memudahkan nya menelan makanan yang masih ada di dalam mulut.


"Adek, Abang sudah kenyang. Adek saja yang makan," ucap Zio.


"Makanan ini terlalu banyak, Adek nggak bisa habis kan sendiri," balas Carla sambil memainkan sendok di tangan nya.


"Ya bagus lah, biar Adek bisa gemuk. Lihat nih tangan," Zio memegang tangan Carla.


"Nggak ada daging," sindir Zio.


Carla mencabik kan bibir nya.


"Sudah, makan cepat." ucap Zio lalu mengeluarkan ponsel nya


"Abang, nanti buat kan Adek akun Facebook ya," pinta Carla.


"Mana ponsel Adek, biar Abang buatkan sekarang,"


"Tuh, di sana," Carla menunjuk meja di samping ranjang Zakir.


Zio mengambil ponsel Carla, setelah itu kembali duduk di sebelah nya.


"Apa dokter sudah memeriksa Om Zakir?" tanya Zio sambil memainkan ponsel Carla.


"Sudah, kata dokter tadi, Om Zakir bisa kembali berjalan jika ia rajin berlatih. Tapi ia nggak bisa lagi bicara, karna pita suaranya sudah rusak," jawab Carla menjelaskan.


"Bagus lah, kalau begitu Adek bantu Om Zakir ya. Buat dia kembali bisa berjalan," ucap Zio.


"Iya Bang,"


.


.

__ADS_1


.


Satu jam kemudian.


Zio sudah berdiri dari duduk nya hendak kembali ke mension. Tentu nya sang Bunda akan mengkhawatirkan nya jika ia tidak pulang malam ini.


"Abang mau kemana?" tanya Carla.


"I-itu, Abang mau pergi dulu. Besok Abang kesini lagi," jawab Zio sedikit terbata.


"Masa Abang mau tinggalin Adek lagi,"


"Jangan bicara seperti itu. Abang nggak akan ninggalin Adek. Adek tau itu kan? Abang hanya pergi sebentar, besok pagi Abang kesini lagi," ucap Zio.


"Nggak mau, Abang nggak boleh pergi," cegah Carla seraya melangkah ke pintu, ia menyandarkan punggung nya di sana.


"Ya sudah, Abang nggak jadi pergi," ucap Zio kembali duduk di sofa.


"Benaran ya Abang nggak akan pergi,"


"Iya," Zio tertawa kecil melihat tingkah Carla.


"Udah sini, ngapain berdiri di sana," Zio menepuk sofa di sebelah nya.


Carla perlahan mendekati Zio lalu duduk di sebelah nya.


"Abang janji kan nggak akan pergi," lirih Carla.


"Iya," balas Zio seraya meremas bibir Carla yang mengerucut, membuatnya gemas sendiri.


.


.


***


Keesokan paginya.


Zio yang baru saja tersentak, gegas bangkit dari sofa yang di dudukinya. Tadi malam ia berencana hanya menunggu Carla sampai tertidur baru ia akan pulang ke mension. Tidak tau nya ia malah ketiduran.


"Abang mau kemana?" tanya Carla yang baru saja masuk ke ruangan itu sambil menenteng makanan yang baru di belinya di luar.


"Kenapa Adek nggak bangunin Abang sih," kesal Zio.


"Tadi udah Adek bangunin, Abang saja yang nggak mau bangun," ucap Carla santai.


"Ya, sudah Abang pergi dulu," ucap Zio melangkah pergi.


"Abang, tunggu.....! Sarapanlah dulu,"


"Nanti saja dek, Abang sudah telat," teriak Zio yang sudah berada di luar.


.


.


Selama perjalanan pulang ke mension Zio tak henti memikirkan jawaban yang akan ia berikan nanti pada sang Bunda.


"Pasti aku akan di marahi habis-habisan sama Bunda nanti,"


"****!" Zio memukul stir mobil nya seraya mengusap wajah nya kasar.


.


.


30 menit berselang Zio sudah tiba di mension. Setelah turun dari mobil ia berlari masuk kedalam mension.


"Abang!" panggil Salsa yang sejak tadi memang menunggunya di ruang utama, di sana juga ada Maria dan Rita.


Zio menghentikan langkah nya, berjalan pelan mendekati sang Bunda dengan wajah mengiba.

__ADS_1


"Maafkan Abang Bun,"


__ADS_2