
"Mas, bantuin aku mikirlah." rengek Salsa yang sejak tadi menemani Zidan di ruang kerja.
Zidan yang sedang memeriksa laporan di leptop kerja nya lantas menoleh pada sang istri yang duduk di sofa tak jauh darinya.
"Bantu mikirin apa?" tanya Zidan dengan kedua alis bertaut.
"Iiiih..! Berarti dari tadi aku hanya bicara sendiri lah," sungut Salsa dengan bibir yang mengerucut.
Zidan melangkah mendekati istrinya, kemudian duduk sana.
"Sayang, Zio itu bukan anak kecil lagi. Dia itu sudah besar. Dan sebaiknya kita tidak usah-" perkataan Zidan terhenti karna lebih dulu di potong Salsa.
"Malas aku ngomong sama Mas, ngomong nya itu mulu, itu mulu," oceh Salsa menyela ucapan Zidan.
Zidan merasa gemas sendiri melihat bibir istri nya yang sudah seperti bibir shu-neo itu.
Ya, istrinya itu memang akan terlihat dewasa jika di depan putra-putri mereka. Namun, jika berhadapan dengan nya, istrinya itu tetap lah Salsa yang dulu pernah ia kenal. Tak ada yang berubah dari sikap istrinya itu. Suka merajuk dan akan membaik jika sudah di bujuk.
"Baiklah, apa yang harus Mas lakukan?" tanya Zidan.
Salsa yang tadi nya membuang muka ke arah lain, kini memandang wajah suaminya.
"Mas bujuk Zio lah, agar dia mau menikahi Sarah," pinta Salsa.
"Itu tidak mungkin sayang. Tau sendirilah sikap putra kita itu-"
"Ya. siapa tau, jika bersama Sarah, sikap Zio bisa lebih hangat." Lagi, Salsa menyela ucapan Zidan. Membuat pria yang selalu menuruti kehendak istrinya itu hanya bisa membatin sendiri.
"Kan aku juga pengen menimang cucu Mas," imbuh nya yang membuat Zidan terkekeh.
"Iiih, kok Mas ketawa sih," sungut Salsa merasa tak suka.
"Oke..... Oke.... Mas tidak akan tertawa lagi," ucap Zidan berusaha menghentikan tawa nya sambil memegang perut.
"Emang lucu ya kalau aku pengen gendong cucu," gerutu Salsa.
Lagi, Zidan harus mengulum tawanya hingga tubuh nya gemetar dengan wajah yang memerah. Bagaimana mungkin istri nya itu begitu mendambakan cucu? Di usia nya yang bahkan masih bisa mempunyai anak lagi.
"Mas itu kenapa sih. Ngetawain aku mulu," sungut nya merasa kesal dengan kedua tangan menyilang di dada serta memasang bibir shu-neo.
Beberapa jenak Zidan mengulum tawa sebelum memberikan saran nya. Saran yang sama dengan yang pernah ia gunakan untuk mendapatkan perhatian sang istri.
Setelah menghela nafas panjang, dan menghembuskan secara perlahan Zidan baru mulai berbicara memberikan sarannya.
"Begini sayang, selama ini kan Zio selalu dekat dengan mu-"
"Ya, terus,"
"Bagaimana kalau kamu berpura-pura sakit. Lalu nanti kamu minta satu hal pada Zio. Mas yakin Zio akan menuruti kemauan mu," ucap Zidan yang membuat Salsa menatap nya penuh selidik.
"Mas ingin aku sakit, terus mati lalu Mas menikah lagi. Gitu kan," rajuk nya menanggapi.
"Bu-bukan gitu sayang, bukan begitu. Hanya pura-pura saja Sayang." gugup Zidan berusaha menjelas kan.
"Kalau begitu Mas saja yang berpura-pura sakit," decak nya merasa kesal.
"Sayang, selama ini Zio hanya dekat dengan kamu saja. Kalau Mas yang melakukan nya pasti Zio tidak peduli,"
Salsa mengangguk membenarkan. Memang benar, kenyataan putra nya itu selalu menurut dan patuh padanya. Bahkan Zio mau bekerja di kantor pun itu berkat bujukan nya. Padahal sang suami sudah berkali-kali meminta Zio bekerja di sana yang selalu di tolak mentah-mentah oleh Zio.
"Terus sekarang aku mesti gimana?" tanya Salsa yang masih belum yakin.
Zidan kemudian menjelaskan serinci mungkin rencana nya. Agar sang istri tidak salah paham.
Setelah mendengar penjelasan dari Zidan, Salsa manggut-manggut tanda paham.
"Ya sudah, telpon Zio sekarang Mas," pinta Salsa penuh semangat.
****
"Masuk lah," ucap Zidan membuka pintu kamar lebih lebar.
Tanpa bertanya lagi, Zio melangkah masuk kedalam kamar. Di lihat nya Salsa yang berbaring di ranjang dengan bibir pucat. Zio menghampirinya dan duduk di sisi ranjang. Di genggam nya tangan Salsa yang memandang nya dengan mata sayu.
__ADS_1
Sedang kan Zidan duduk di kursi samping ranjang. Sambil mengusap dahi sampai puncak kepala Salsa.
"Bunda kenapa?" tanya Zio, suara nya terdengar parau, menatap sang Bunda dengan kedua mata berkaca.
"Bunda kanapa Dadd?" tanya Zio lagi, karna tak ada jawaban dari sang Bunda.
"Daddy juga tidak tau Nak, hanya saja setelah sarapan tadi pagi, Bunda mu jadi begini," tutur Zidan yang terdengar lirih.
Sungguh, mendengar itu Zio merasa sangat bersalah jika sang Bunda sakit gara-gara dirinya.
Kemudian Zio mengenggam tangan Salsa dengan kedua tangan nya. Menatap wajah sang bunda yang terlihat pucat.
"Bunda mu akan terus begini Nak, jika keinginanan tidak terpenuhi," ucap Zidan yang masih terdengar lirih.
"Apa yang Bunda ingin kan? Abang akan lakukan apa pun itu Bun," ucap Zio bersungguh-sungguh.
"Benar, Abang akan melakukan apa pun yang Bunda ingin kan," tanya Salsa bersemangat.
Zio menatap Salsa heran, sebelum mengangguk lemah.
"Abang mau kan menikah dengan Sarah,"
"Tapi Bun-"
Zio tidak melanjutkan parkataan nya saat melihat wajah Sendu Bunda nya.
"Ya, Abang mau Bun," ucap Zio lemah.
"Benar. Zio mau menikah dengan Sarah," tanya Salsa meyakin kan.
"Iya, Abang mau menikah dengan Sarah asal Bunda jangan sakit lagi," ucap Zio pasrah.
Sungguh, keputusan nya itu bertolak belakang dengan hati kecil nya. Namun, ketika melihat senyum bahagia sang Bunda, mungkin ia harus mengabaikan hatinya untuk tetap melihat ukiran senyum indah di wajah wanita yang sudah melahirkannya itu.
-
-
Salsa terlihat begitu bersemangat menata piring-piring dimeja makan.
"Pagi semuanya," sapa Zia yang terdengar ceria. Ia lalu mencium pipi semua yang ada di sana.
"Tumben Daddy pagi-pagi sudah rapi?" tanya Zia sembari menarik satu kursi lalu duduk di sana.
"Iya, pagi ini Daddy mu akan ke kantor, menggantikan Abang mu," Salsa yang menjawab.
"Lho, emang nya Abang kemana?" tanya Zia heran.
Salsa tersenyum seraya melihat ke arah penghubung ruang utama menuju tangga.
"Malam nanti Abang mu, akan melamar Sarah. Dan Bunda meminta nya untuk istrahat di rumah dulu," jawab Salsa.
"Serius Bun!? Kok Abang mau, kan biasa nya Abang selalu menolak," tanya Zia heran.
Bukan hanya Zia, Maria dan Rita yang sejak tadi ada di sana pun juga merasa heran. Kenapa bisa cucu mereka itu tiba-tiba mau menerima Sarah.
Bukan tidak suka, pasal nya cucu mereka itu memang selalu menolak untuk menikahi Sarah.
Salsa hanya tersenyum penuh arti, menanggapi pertanyaan dari putrinya.
"Emang nya Sarah sudah boleh menikah Bun? Dia kan masih SMA," tanya Zia lagi. Sontak membuat Maria dan Rita menatap Zidan dan Salsa.
Bertepatan dengan itu Zio datang dan lansung bergabung dengan mereka.
"Lho, Abang mau kemana? Kok sudah rapi?" tanya Salsa.
"Abang ada perlu ke kota B Bun, Meresmikan restoran yang akan Abang buka," jawab Zio.
"Tapi kan malam ini-"
"Bunda tenang saja, Abang pasti datang," potong Zio cepat.
"Tapi kan kesana jauh sayang, bisa menghabiskan waktu hingga 8 jam perjalanan. lagian Abang ngapain sih, buka bisnis di sana?" protes Salsa tidak suka.
__ADS_1
"Bunda tenang saja,. Abang kesana dengan helikopter." jawab Zio.
"Ya sudah Bun, Abang pamit dulu," ucap Zio lalu mencium tangan semua yang ada di sana.
"Abang, Jangan telat nanti malam," ucap Salsa sebelum Zio melangkah pergi.
Zio mengangguk lalu melangkah pergi.
.
.
****
Sementara itu di tempat lain.
Seorang gadis cantik terlihat sibuk memindahkan karangan bunga ke atas bak pick-up, di bantu seorang pemuda.
"Sudah naik semua kan Her," ucap gadis itu yang terlihat sudah lelah, sesekali ia menyeka keringat dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya.
Heru melihat kertas catatan lalu menghitung nya lagi.
"Karangan bunga nya sudah cukup. Tinggal buket bunga," ujar Heru.
"Kalau kamu capek, kamu istrahat saja dulu. Biar aku yang melakukannya." imbuh Heru.
"Nggak kok," ucap gadis itu penuh semangat.
5 buket bunga di bawa gadis itu dari dalam kios bunga. Namun kaki nya tiba-tiba terpeleset hingga terjatuh.
Bruuuuk.
Buket bunga itu berserak di lantai.
"Carla....." pekik seorang wanita yang melihat nya.
Wanita itu berjalan cepat, mendekati gadis yang terjatuh di lantai.
"Kau itu bisa bekerja nggak sih!!!" herdik wanita yang sudah berdiri di depan gadis itu.
"Ma-maaf, Tante," lirih Carla yang sudah duduk mengemasi buket bunga yang sudah rusak di lantai.
"Maaf, maaf kau kira maaf bisa mengganti kerugianku?" bentak wanita itu.
Merasa masih kesal, Wanita itu lalu mengambil satu buket bunga yang ada di lantai kemudian melemparkan nya ke wajah Carla.
"Sudah Tante, potong saja gaji ku untuk mengganti bunga yang rusak itu," ucap Heru menengahi.
Wanita itu menatap sinis Heru. Kemudian berlalu pergi
"Kamu nggak pa-pa kan Ra?" tanya Heru lalu membantu Carla berdiri.
"Terimakasih ya Her, nanti uang mu aku ganti," lirih Carla.
"Nggak usah di pikirkan Ra. Ayo sekarang kita pergi, nanti telat," ajak Heru lalu membantu Carla berjalan menuju mobil.
"Heru...... " panggil wanita tadi.
Heru dan Carla menghentikan langkahnya.
"Sehabis mengantarkan bunga-bunga ini segera pulang. Pekerjaan Carla masih banyak dirumah," ucap wanita itu menatap Carla penuh kebencian.
"Baik Tante," balas Heru melanjutkan langkahnya.
.
.
Setiba di lokasi Heru dan Carla turun dari mobil. Carla tersenyum saat melihat nama papan restoran tempat mereka mengantarkan karangan bunga itu.
CARLA RESTO.
"Ra, ini restoran mu ya?" tanya Heru menggodanya.
__ADS_1