Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
IUTMK (69)


__ADS_3

"Abang siang tadi kemana?" tanya Sarah setelah menelan makanan di mulutnya.


"Ehm, itu, Abang..." Zio tergagap, menghentikan gerakan tangannya yang hendak menyuapi istrinya lagi.


Sarah mengernyit memperhatikan wajah suaminya yang membuang muka. "Abang..." Sarah memanggilnya.


Zio menoleh sesaat, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Abang tadi dari rumah sakit," jawabnya tanpa melihat Sarah yang terus memperhatikannya.


"Siapa yang sakit?" tanya Sarah lagi.


Zio menatap Sarah dengan raut wajah merasa bersalah. "Ehm, Sayang, kamu jangan marah ya..."


Kening Sarah semakin berkerut kuat.


"Tadi Abang ke rumah sakit menjenguk Carla," lanjut Zio, pelan.


Sesaat Sarah diam. "Kenapa Abang gak beri tahu Sarah tadi?" tanyanya kemudian.


"Abang tidak ingin kamu marah," jawab Zio tanpa melihat istrinya.


Sarah mengulas senyum. "Kalau Abang jujur, Sarah gak akan marah,"


Zio kembali menatapnya. "Benar kamu tidak marah?"


Sarah mengangguk pelan dengan bibir yang masih melengkungkan senyuman.


Zio bernafas lega, tadinya ia mengira istrinya akan marah karna ia menemui Carla tadi siang.


Sesaat mata mereka saling tatap, menyelami pikiran masing-masing, di sertai bibir yang menyunggingkan senyum penuh arti.


Zio mengalihkan pandangan ke sop yang ada di tangannya. "Sayang, makan lagi," Zio kembali menyuapkan sop ke mulut istrinya.


Sarah menggeleng sambil menutup mulutnya.


"Kenapa?" tanya Zio.


"Sarah sudah kenyang, Abang saja yang habiskan,"


Kemudian Zio meletakkan sendok ke mangkok. "Kalau kamu tidak habiskan, Abang akan bawa kamu kerumah sakit sekarang,"


"Iya iya, Abang bawel,"


Zio tersenyum lalu menyuapkan lagi sop yang masih tersisa ke mulut Sarah.


"Sayang, laki-laki bajingan tadi ngapain datang kerumah?" tanya Zio ketika teringat kedatangan Andri tadi sore.


"Abang, namanya Andri,"


"Siapa pun namanya buat apa dia tadi kesini?" Zio mendengus kesal, karna Sarah seolah membela laki-laki yang begitu dia benci.


"Abang cemburu ya?"


Wajah Zio sedikit merah. "Kalau Abang cemburu apa salahnya? Kamu kan istri Abang!" jawabnya masih dengan nada ketus, lalu mengalihkan wajah dari Sarah.


"Abang, coba menghadap sini," pinta Sarah.


Zio masih memalingkan pandangannya ke arah lain.


"Abang," panggil Sarah sekali lagi.

__ADS_1


"Ck, sudahlah. Habiskan makanan ini cepat!" Zio menyuapkan lagi sop di tangannya. "Besok kalau kamu masih sakit, Abang akan panggil dokter datang kesini untuk memeriksamu," lanjutnya masih bernada ketus.


Sarah mengulas senyum, meski di sudut hatinya, merasa sedih teringat perkataan Andri tentang penyakitnya.


Malamnya, entah pukul berapa, Sarah tersentak karna merasakan getar ponsel. Ia lalu duduk di ranjang dan menggapai ponsel suaminya yang bergetar. Di sana tertulis Nama Carla, Sarah menggeser tanda merah di sana hingga ponsel itu berhenti bergetar. Tapi itu hanya sesaat, setelahnya ponsel itu kembali bergetar.


Sarah menghela nafas, lalu memberanikan diri menjawab panggilan telepon itu.


"Abang, Abang sekarang dimana? Tadi Abang bilang mau menemankan Adek di rumah sakit," Rengekan manja Carla terdengar di ujung sana.


"Abang Zio sudah tidur," sahut Sarah pelan.


"Kau itu gak ada sopan santun ya! Menjawab telepon orang lain sesuka hati kau!" balas Carla sengit, membuat Sarah tersulut emosi.


"Kau yang gak punya malu? Merengek-rengek tengah malam sama suami orang!"


"Eh, kau itu yang gak tau malu! Siapa yang lebih dulu kenal dengan Bang Zio? Aku atau kau? Dasar wanita murahan!"


Sarah menghembuskan nafas kasar. "Harusnya kau itu sadar diri, aku ini istrinya!"


"Aku gak peduli! Dan aku juga gak akan membiarkan kau hidup tenang, dasar wanita ******!"


Tak ingin berdebat lagi, lalu Sarah memutuskan sambungan telepon itu dan merubah pengaturan mode pesawat di ponsel suaminya.


.


.


.


Pagi harinya, Sarah terbangun. Di lihatnya jam yang terpaku di dinding sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.


Sarah menggapai obat yang terletak diatas meja lalu segera menelannya. Ia kembali berbaring di ranjang karna sakit di kepalanya begitu hebat.


Sementara di bawah, Zio tengah berkutat di dapur membuatkan sarapan untuk ia dan istrinya, sambil sesekali melirik video tutorial memasak di ponselnya.


DING dong! DING dong!


"Siapa sih? Pagi-pagi mengganggu orang saja!" Zio berdecak kesal, mendengar suara bell di rumahnya.


Ding dong! Ding dong!


"Iya iya, tidak sabaran banget jadi orang!" Dengan kesal Zio berjalan ke arah pintu depan setelah mematikan api kompor.


Ceklek!


Zio terkejut, wajahnya seketika berubah cemas melihat seseorang yang berdiri di depan rumahnya. "Carla, kenapa kamu bisa berada di sini! Bukankah seharusnya kamu berada di rumah sakit?" Zio melototkan mata melihat kehadiran adik angkatnya yang pagi-pagi sudah berada di depan rumahnya.


"Semalam kan Abang sudah janji menemani Adek di rumah sakit. Kenapa Abang malah pulang," Carla merengek di sertai bibir yang mengerucut.


Dulu, Zio begitu gemas melihat ekspresi adik angkatnya seperti ini. Tapi sekarang ia tak merasakan itu.


Zio mengalihkan pandangan menatap seseorang yang berada di belakang Carla. Kemudian ia melihat ke dalam rumah lalu berjalan keluar dan menutup pintu.


"Muklis! Siapa yang menyuruh kau membawa Carla kesini?"


"Adek yang memaksa Bang Muklis," Carla yang menjawab sementara Muklis hanya menunduk diam.


Zio menghela nafas dalam. "Adek, tolong, sekarang pulanglah, istri Abang juga sedang sakit saat ini," Zio berkata menahan suaranya.

__ADS_1


Carla menggeleng dengan bibir yang mengerucut. "Gak mau, Adek mau disini sama Abang,"


Zio menghela nafas lebih dalam lagi. "Pulang lah sekarang, nanti Abang akan kesana,"


Carla masih menggeleng.


"Muklis! Bawa Carla pergi dari sini!"


"Ba-baik, Rain,"


Muklis segera bergerak memegang bahu Carla membawanya pergi.


"Iya Adek pergi, tapi Abang harus janji! Nanti kita ketemu," ucap Carla.


Zio menghela nafas lebih dalam lagi. "Iya," sahutnya singkat.


.


.


.


Setelah Carla pergi, Zio kembali melanjutkan membuat sarapan. Baru beberapa menit saja, bel rumahnya kembali terdengar.


"Argh! Siapa sih mengganggu orang saja,"


Zio mengabaikan suara bell itu, ia tak ingin di ganggu saat ini. Tapi, tiba-tiba ponselnya yang sedang memutar video terhenti di gantikan dengan getaran ponsel.


Zio segera melihat nama pemanggil di layar, yang ternyata itu nomor mertuanya.


"Ya, halo Pa," sapa Zio setelah menggeser panah hijau di layar.


"Zio, ini Mama. Apa kalian ada di rumah?Sekarang kami ada di luar," sahut santi yang menggunakan ponsel suaminya.


"Oh, tunggu sebentar Ma," Zio kembali mematikan api kompor, lalu bergegas membukakan pintu.


Ceklek!


Pintu terbuka, Zio lansung mencium tangan mertuanya secara bergantian. "Ma, Pa, kok tumben pagi-pagi sudah datang?" tanyanya heran.


"Eh, masuk dulu, Ma, Pa," ucapnya kemudian, mempersilahkan Santi dan Raka masuk.


Zio membawa mertuanya menuju ruang tamu.


"Zio, perasaan Mama dari tadi malam gak enak. Entah kenapa, Mama terus saja kepikiran Sarah. Kalian baik-baik saja kan?" Suara Santi terdengar bergetar.


"Em, Sarah tadi malam memang sakit kepala, Ma-"


"Tuh kan, Pa, firasat Mama benarkan, Putri kita lagi tidak baik-baik saja," Santi menggoyangkan bahu Raka yang duduk di sebelahnya.


"Dimana Sarah sekarang Zio? Kenapa bisa kamu gak memberitahukan ini pada kami?" Santi semakin histeris.


"Ma!" Raka menegur istrinya.


"Maaf Ma, Zio tadinya memang ingin memberitahukan ini sama Mama, tapi Sarah melarang Zio,"


"Zio, bisa panggilkan Sarah," pinta Raka.


"Iya, Pa, tunggu sebentar," Zio pun segera menuju kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2