
Flashback kejadian sebelumnya.
Setelah menelpon Zio, Carla memilih masuk ke kamarnya. Belum terobat rasa rindu pada sosok lelaki yang di sebutnya Abang, kini lelaki itu sudah pergi lagi meninggalkannya. Mengeluarkan ponsel, Carla menyetel lagu lalu berbaring di ranjang.
Zakir hanya menggeleng melihat Carla yang merajuk, kemudian mendorong kursi rodanya ke depan TV.
Selang beberapa menit kemudian, sebuah mobil sedan, tiba-tiba datang dan lansung parkir di halaman rumah itu.
Seseorang turun dari mobil dan bicara pada dua orang bodyguard yang berjaga di rumah itu. Seperti sudah saling mengenal orang itu membawa dua orang bodyguard itu masuk kedalam rumah mengobrol santai di dalam.
Zakir melirik sekilas pada orang itu seraya tersenyum, mungkin orang itu suruhan Rain pikirnya, karna Zakir pun pernah melihatnya bersama dengan Rain. Tanpa rasa curiga Zakir kembali melakukan aktifitas nya menonton TV.
Namun, tiba tiba dengan gerakan cepat orang itu mengeluarkan pistol yang sudah di lengkapi peredam, menembak dua orang bodyguard itu tepat di kepala mereka, hingga dua orang bodyguard itu mati seketika.
Orang itu lalu masuk kedalam kamar Carla yang memang tidak tertutup. Carla yang sudah tidur di kamar tidak menyadari kejadian menggenaskan telah terjadi di rumah nya.
Dengan menggunakan sapu tangan yang sudah di beri obat bius, orang itu membekap mulut Carla menggunakan sapu tangan itu.
Carla yang sudah pingsan di bopong orang itu keluar kamar.
Sedangkan Zakir yang melihat, mendorong kursi rodanya mendekati orang itu. Berusaha mencegah agar orang itu tidak membawa Carla. Namun, orang itu membidikan pistolnya pada Zakir.
Dua timah panas mendarat di kepala Zakir membuat nyawa nya melayang seketika.
Dengan masih membopong tubuh Carla orang itu melenggang pergi dengan santai nya.
.
.
.
***
Zio turun dari mobil, melangkah cepat memasuki rumah yang baru tadi ia datangi.
Darahnya berdesir hebat, awalnya ia masih belum percaya dengan apa yang di katakan Muklis. Namun, setelah melihat dua mayat tergeletak di lantai rumah itu, di sana lah langkah nya mulai tertatih.
Baginya semua ini seperti mimpi, baru saja tadi ia melihat wajah riang Carla menyambut nya hangat, serta mengobrol dengan Zakir di rumah ini. Tapi, kanapa sekarang semua itu lenyap seketika.
Muklis dan para anak buah nya yang ada di sana, hanya diam dengan wajah tertinduk.
"Om," netranya menangkap Zakir yang duduk di kursi roda dengan wajah bersimbah darah. Tertatih, Zio melangkah mendekati kursi roda itu.
Di depan kedua kaki Zakir, lutut nya jatuh ke lantai. Sungguh, dadanya kini semakin terasa sesak. Di tatap nya wajah Zakir yang bersimbah darah, di sana ada guratan amarah terlihat oleh nya. Mungkinkah sebelum ajal menjemput, Zakir sempat memberikan perlawanan pada orang yang membunuh nya?
"Siapa yang melakukan semua ini," suara Zio terdengar lirih, berharap Zakir akan menjawab tanya nya. Ia mengusap sudut mata nya yang mulai berembun.
Melihat buku yang tergelatak di atas kursi roda itu. Tangan nya ter ulur meraih nya. Membaca baris demi baris kata yang tertulis di sana.
[Om tidak tau, hanya saja Abang mu bilang akan kembali besok]
[Mungkin Abangmu ada keperluan lain Carla]
__ADS_1
[Dia tidak ada bercerita tentang itu]
[Labih baik kamu tanyakan sendiri padanya]
[Carla, jangan begitu, Abang mu itu sangat menyayangimu. Dia akan selalu ada untuk mu]
Memorinya berputar mengingat saat Carla menelpon nya tadi. Mata nya kini berembun, ada rasa penyesalan begitu hebat kala teringat permintaan sederhana Carla di telepon tadi.
'Andai aku tadi tidak pergi, mungkin semua ini tak akan pernah terjadi. Adek, dimana sekarang,' sesak, dada nya saat ini bergemuruh hebat.
Meong
Meong
Meong
Pandangan Zio teralih, melihat kucing yang masih berada di dalam kerengkeng yang di berikan nya pada Carla tadi.
"Adek,"
Zio berlari memeriksa kedua kamar di rumah itu, mencari petunjuk yang mungkin di tinggal kan pelaku. Tapi nihil, ia tidak menemukan petunjuk apa pun.
"Aaaaarg......" Zio berteriak keras merasa diri di pecundangi.
Ia memijat pelipis nya yang berdenyut, otak nya mencoba mengingat kembali rentetan kejadian yang ia alami seharian ini.
'Apa ada yang memata-matai ku?' batin nya menerka nerka.
Dreeet
Dreeet
Dreeet
"Abang dimana? pulang sekarang," suara Salsa terdengar begitu mengkhawatirkan nya.
Zio diam, hanya menyimak tanpa ingin menjawab. Pikiran nya masih di penuhi dengan semua masalah yang menimpanya saat ini.
"Abang dengar Bunda ngga?!!!" Cemas, itu lah yang di tangkap Zio mendengar suara sang Bunda.
Zio masih diam, sebagian otak nya masih memikirkan rentetan kejadian yang menimpa nya hari ini.
"Abang, pulang sekarang. atau Bunda akan menyuruh orang untuk menjemput Abang."
"Iya Bunda," ucap Zio lirih, setelah itu sambungan telepon pun terputus.
'Ada apa ini? Kenapa Bunda begitu mengkhawatirkan ku, bukan kah beliau tau tujuan ku keluar tadi?'
Zio membatin, mengusap wajah frustasi, tidak tau harus berbuat apa. Amarah di dadanya belum sepenuh nya hilang, sekarang malah mendengar kata kata sang Bunda yang tidak bersahabat.
.
.
__ADS_1
"Muklis." panggilnya.
Muklis mendekat berdiri di depan Zio.
"Perintahkan anak buah kau untuk mengubur semua jenazah ini,"
Zio menatap lekat wajah Zakir, setelah itu ia berlalu pergi membawa kerengkeng kucing yang di berikannya pada Carla tadi.
.
.
.
.
***
Sepanjang perjalanan pulang ke mension, Zio masih menganalisa siapa dalang di balik semua ini. Ia sangat meyakini ada nya orang terdekat yang telah berkhianat padanya. Tapi siapa? Kenapa di ponsel orang yang di tembak nya tadi ada namor ponsel Raka. Apa kah Raka dalang semua ini? Atau kah dirinya yang sedang diadu domba saat ini?
"Arrrrrg," Zio memijat pelipisnya yang berdenyut hebat.
Tiba di mension. Zio di sambut dengan tatapan ke ke khawatir an Salsa dan Zidan, mereka berdiri di pintu utama, seperti memang sedang menunggu kehadirannya.
Zio memindai wajah mereka, ada gurat kecewa di wajah sang Bunda yang di tangkap nya.
Setelah menghela nafas, Zio melangkah mendekati kedua orang tuanya.
Zio sudah berdiri di hadapan mereka dengan wajah tertunduk, meski ia tidak tau salah nya apa, tapi melihat tatapan tidak bersahabat kedua orang tua nya, Zio tau ada kesalahan besar yang telah ia lakukan.
"Abang, dari mana?!" tanya Salsa penuh selidik.
Zidan yang berdiri di sampingnya, mengusap lembut bahu sang istri.
"Lebih baik kita bicarakan di ruang kerja Mas, sayang," timpal Zidan masih mengusap lembut bahu sang istri.
Salsa setuju, lalu menyuruh Zio agar mengikutinya ke ruang kerja Zidan.
Zio yang tidak mengetahui apa-apa, menurut patuh mengikuti langkah ke dua orang yang begitu ia hormati.
.
.
.
Tiba di ruang kerja Zidan. Kedua netra Salsa mulai berkaca.
"Ada apa Bun? Abang salah apa?" Zio memberanikan diri bertanya.
Salsa mengambil ponsel nya.
"Jelaskan, ini apa Abang?" Salsa memberikan ponsel nya.
__ADS_1
Zio mengambil ponsel itu, kedua matanya seketika membola.