
"Ra, ini restoran mu ya?" tanya Heru menggodanya.
Carla mencabik kan bibir nya, sambil menatap bangunan berlantai tiga itu. Mata nya tertuju pada poster menu makanan yang dulu pernah ia makan bersama Zakir dan Abang nya Rain.
Rasa sedih hinggap di hatinya kala teringat masa itu. Masa dimana ia dan Rain untuk pertama kali nya memakan makanan enak.
Apa adek suka makanan ini? Nanti kalau Abang punya banyak uang, Abang akan selalu bawa Adek makan di sini.'
Ucapan itu kembali terngiang-ngiang di telinga nya.
Apa salah Adek Bang? Kenapa Abang meninggalkan Adek begitu saja.
Carla membatin sedih.
"Ra," panggil Heru. namun, gadis itu masih terpana menatap bangunan di depannya.
"Carla!" panggil nya lagi.
"Eh. I-iya Her," Carla tersentak dari lamunannya.
"Kamu mikirin apa Ra?" tanya Heru.
"Nggak, aku nggak ada mikirin apa-apa kok," elak nya.
"Oh ya udah, sebaiknya kita turunkan dulu semua karangan bunga ini, setelah itu baru kita beralih menata bucket bunga di dalam," ucap Heru memberikan saran.
"Hem, baiklah," sahut Carla setuju.
Mereka pun kemudian menurunkan semua karangan bunga dari mobil terlebih dahulu. Sebelum menatanya agar terlihat rapi.
"Hai, kanapa kalian meletakkan karangan bunga itu di sana?! " bentak seorang wanita bernama Karin.
Karin adalah menejer yang di tunjuk Ong, untuk mengelola restoran itu.
Heru dan Carla menoleh ke arah wanita yang membentak mereka.
"Jangan letakkan di sana!!! "
"Dasar bodoh!!! apa kalian buta?! karangan bunga itu bisa menghalangi para tamu yang akan masuk," hina wanita itu mempermalukan mereka di depan orang-orang.
"Kami hanya menurun kan saja Nyonya nanti kami akan menatanya," sanggah Heru dengan tangan yang mengepal.
"Lalu, Kenapa kalian masih diam?! Cepat pindahkan karangan bunga itu," herdik Karin.
Tanpa menjawab lagi perkataan si wanita berwajah garang itu, mereka mulai memindahkan satu persatu karangan bunga.
Karin mengikuti mereka, mengatur posisi letak sesuai keinginan nya.
.
.
Setengah jam kemudian Heru dan Carla sudah selesai menata semua karangan bunga. Sekarang tugas mereka hanya tinggal menurun kan bucket-bucket bunga dan menatanya di dalam restoran.
Namun, sebelum itu mereka beristirahat sejenak, sambil meneguk air putih yang sengaja mereka bawa dari rumah.
"Hei, kalian! Cepat, bawa semua bunga-bunga itu kedalam!" Pekik Karin.
Dan ingat! Jangan lewat depan." ucap wanita angkuh tadi.
__ADS_1
Carla dan heru memandang pintu depan itu yang memang sudah di pasang pita peresmian.
"Terus, kami harus lewat mana Nyonya?" tanya Heru.
"Lewat pintu samping," jawab Karin kemudian melenggang pergi.
"Dan satu lagi yang perlu kalian ingat! Saya hanya akan memberikan waktu 30 menit. Jika kalian belum selesai juga mengerjakan nya. Maka sisa pembayaran akan saya batalkan," seru Karin sebelum benar-benar pergi meninggal kan mereka.
"Huh, dasar Mak lampir. Bisa nya hanya marah-marah doang," dengus Heru setelah Wanita itu pergi.
Kemudian Heru melihat jam di pergelangan tangan nya.
"Ra, kalau kamu masih capek, biar aku saja yang melakukan nya," ucap Heru melihat Carla yang meringis sambil menyeka keringat.
"Eh, engga lah aku nggak capek kok." elak Carla.
"Kalau begitu mari kita bekerja lagi. Semangat Ra!" ujar Heru memberi semangat.
Mereka kemudian membawa bucket bunga itu ke dalam restoran dan lansung menata nya agar terlihat indah.
"Selesai Ra, tinggal lantai dua dan tiga, kita masih punya waktu dua puluh menit lagi," ujar Heru penuh semangat.
"Iya Her, Semoga saja kita bisa menyelesaikan nya tepat waktu," ucap Carla.
"Semangat Ra," ujar Heru.
"Iya Her," balas Carla.
Lalu mereka pun pindah ke lantai dua, menaiki lift.
.
.
Heru berlari mendekati jendela kaca lalu mengedarkan pandangan nya kebawah.
"Sini Ra, lihat di bawah sana, ada helikopter," seru Heru antusias seraya menunjuk kebawah.
Carla melangkah mendekati Heru.
"Wah, benar itu helikopter Her," seru Carla menatap kagum helikopter yang akan segera landas di lahan kosong dibelakang restoran ini.
"Pasti orang itu sangat kaya sekali ya Her," ucap Carla.
"Iya Ra, mungkin dia orang yang mempunyai restoran ini," ujar Heru menerka.
Carla masih menatap kagum helikopter, yang ada di bawah.
Ini kali pertamanya ia melihat helikopter dari jarak sedekat ini.
'Bagas pasti sangat senang sekali melihat helikopter itu,"
batin Carla dalam hati.
"Ra, kamu tunggu di sini sebentar ya, aku mau turun kebawah mengambil bunga yang tertinggal di mobil." ucap Heru yang hendak pergi.
"Biar aku saja Her, "
"Baiklah, tapi cepat ya Ra, jangan sampai kita di marahi si nenek lampir lagi. Waktu kita hanya tersisa lima belas menit Ra," ucap Heru sambil melihat jam di pergelangan tangan nya.
__ADS_1
"Iya," ucap Carla kemudian melangkah pergi.
.
.
Sementara itu. Rain dan Ong yang baru saja tiba. Di sambut hangat oleh Karin.
"Selamat datang Tuan Rain," ucap Karin tersenyum menggoda.
Ternyata dia sangat tampan sekali. Aku harus bisa mendapatkan dia.
batin Karin seraya tersenyum sendiri.
Karin memang belum pernah berjumpa dengan Zio sebelum nya. Dan ia hari ini mengetahui kedatangan Zio dari Ong yang menghubunginya.
***
Ting
Baru saja keluar dari lift, Carla mendengar suara tepuk tangan yang begitu riuh dari orang-orang yang ada di luar restoran.
Entah kenapa kaki Carla seperti di tuntun melangkah mendekati kerumunan orang-orang yang membelakanginya.
"Restoran ini saya dirikan untuk seseorang........... "
Carla menyimak setiap untaian kata yang di sampaikan laki-laki yang membelakangi nya.
Ia terus melangkah pelan, mendorong pintu masuk restoran, membelah kerumunan orang-orang yang berdiri memunggunginya.
Hingga kini ia sudah berada tepat di belakang tubuh laki-laki yang sedang bicara menggunakan pengeras suara.
Tanpa berkata apa-apa. tanpa tau siapa laki-laki di depannya. Carla lansung melingkarkan kedua tangan nya di tubuh laki-laki itu.
"............. " Ia lalu menangis, menyandarkan kepalanya di punggung lelaki itu.
Hening. Sejenak suasana menjadi hening. Setelah itu semua mata tertuju pada nya.
"Wanita gila! Apa yang kau lakukan?!" bentak Karin lalu menepiskan tangan Carla yang memeluk tubuh lelaki itu.
Plak!
Satu tamparan di layangkan Karin di wajah Carla ketika kedua tangan gadis itu sudah terlepas dari tubuh Rain.
Kepala Carla tertunduk dengan air mata yang sudah membanjiri wajah nya.
"Seret wanita gila ini keluar!!!" titah Karin pada satpam yang berjaga.
Dua orang satpam yang berjaga di sana seketika berlari mendekati Carla.
Rain berbalik badan. Melihat gadis yang memeluk nya tadi.
"Carla," seru Rain dengan bibir yang bergetar hebat.
Carla mengangkat wajah nya dengan isak tangis yang semakin menjadi.
***
.
__ADS_1
.