Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
Rencana


__ADS_3

"Maafkan Abang Bun," sesal Zio menyadari kesalahan nya. ia memang takut jika berhadapan dengan Bundanya. Bukan takut untuk di pukul atau di omeli. Tapi, ia takut mengecewakan sang Bunda apa lagi jika sampai membuat nya bersedih.


"Abang, dari mana?" tanya Salsa menatap nya penuh selidik.


"Abang ketiduran di rumah teman, Bun," jawab Zio terpaksa berbohong.


"Ketiduran? Siapa teman Abang? Kenapa ponsel Abang tidak aktif?" rentetan pertanyaan sang Bunda membuat Zio harus berpikir keras untuk menjawab nya.


"Abang, kenapa diam?"


Salsa lalu bangkit dari duduk nya, melangkah mendekati Zio. Trauma pernah kehilangan, membuat ia berlebihan mengkhawatirkan putranya.


Maria dan Rita hanya duduk diam menyaksikan. Tak ingin ikut campur, karna ini termasuk cara Salsa mendidik anak nya.


"Abang tidur di rumah Ong, Bunda. Ponsel Abang habis batrai, setelah itu Abang ketiduran, sampai lupa memberitahukan Bunda. Maaf kan Abang Bunda," jawab Zio.


"Abang tau, dari tadi malam Bunda nggak bisa tidur karna mencemaskan Abang," kedua mata Salsa mulai berkaca. Itu lah yang tidak di inginkan Zio.


"Maaf Bun," lirih Zio dengan wajah tertunduk.


Salsa menghela nafas besar, memang ini kali pertama putranya itu tidak pulang kerumah, tanpa memberi kan kabar padanya. Hingga membuat dirinya begitu khawatir.


"Apa Abang tidak suka bertunangan dengan Sarah? mangkanya Abang pergi, sampai nggak mau pulang kerumah, begitu kah?" Salsa mencoba menerka.


"Nggak Bun?" jawab Zio di sertai gelengan kepalanya.


"Jika Abang nggak suka dengan pertunangan itu, katakan! Jangan malah bersikap seperti ini. Atau Abang sudah punya calon istri sendiri?"


"Nggak ada Bun," jawab Zio cepat.


Salsa menghembuskan nafas kasar.


"Ya sudah, Abang istrahat lah. Hari ini nggak usah ke kantor," perintah Salsa.


"Tapi Bun, di kantor banyak pekerjaan yang harus Abang selesaikan," protes Zio.


"Daddy akan menyelesaikan semuanya. Sekarang Abang istrahat lah ke kamar, Bunda akan bawakan sarapan nanti,"


Setelah itu Salsa pergi ke ruang makan menyiapkan sarapan untuk putranya.


Sedang kan Zio hanya menurut patuh masuk kedalam kamar nya.


.


.


Hingga siang hari Zio masih tidur di dalam kamar nya. Ia memang butuh istrahat karna semenjak kepergian nya ke kota B, waktu istrahat nya sangat berkurang, di karenakan tidur hanya beberapa jam saja di rumah sakit.


Dreeet..... Dreeet........ Dreeet......


Beberapa kali ponsel yang ia letak kan di meja nakas bergetar.


Zio meraba-raba meraih ponsel nya. Setelah mendapatkan nya, Zio lansung menggeser panah hijau di layar, tanpa melihat nama pemanggil terlebih dulu.


"Hooem, ya Hallo," ucap Zio sambil menguap, tanpa tau siapa yang menelpon nya.


"Hallo, Abang. Abang lagi dimana?"


Zio tersentak saat mendengar suara manja di ponsel nya. Ia melihat kembali nama pemanggil di layar ponsel. "Carla." Batin Zio.


"Halo, Abang....." ulang Carla memanggilnya.

__ADS_1


"Eh, iya Dek," sahut Zio sambil mengucek mata nya.


"Abang, kata dokter tadi, Om Zakir sudah boleh di bawa pulang. Abang jemput kami sekarang ya," ucap Carla dari sambungan telepon.


"Iya, nanti kalau sudah pulang kerja Abang jemput,"


"Memang nya Abang pulang jam berapa?" tanya Carla.


"Hem, belum tau. Pokok nya nanti Abang usahakan pulang cepat," jawab Zio berbohong.


"Ya sudah Abang hati-hati,"


"Iya,"


Setelah sambungan telepon terputus, Zio lansung menghubungi Muklis.


"Muklis, apa kau sudah mendapatkan rumah yang ku minta?" tanya Zio setelah sambungan telepon nya terhubung.


"Sudah Rain. Apa kamu ingin membelinya," tanya Muklis.


"Ya, aku akan membelinya," jawab Zio.


"Baiklah, akan saya urus semuanya," sahut Muklis.


"Satu lagi, kau jemput nanti Adik ku di rumah sakit, bawa kerumah itu. Dan jika dia menanyakan aku, kau bilang saja aku sedang keluar kota," ucap Zio.


"Jam berapa saya harus menjemputnya?" tanya Muklis.


"Sore saja," jawab Zio.


"Baiklah,"


"Belum ada Rain," jawab Muklis.


"Apa mereka sudah menyelidiki Markas bandar narkoba itu?" tanya Zio lagi.


"Markas itu di jaga ketat, mereka susah untuk mesuk ke dalam." jawab Muklis.


"Kau bilang mereka detektif handal. Handal dari mana? Amatiran!" decak Zio kesal.


"Maaf Rain, nanti saya akan mencari detektif yang lebih baik."


"Tidak perlu. Kau ikut dengan ku malam ini. Persiapkan beberapa senjata dan satu orang yang ahli menembak," ucap Zio.


"Baiklah Rain," balas Muklis patuh.


.


.


.


Sore hari nya, sesuai perintah Zio, Muklis datang kerumah sakit menjemput Carla dan Zakir.


Setelah membuka pintu kamar inap, Muklis memperkenalkan dirinya serta menyampaikan maksud kedatangan nya.


Awal nya Carla tidak mau ikut dengan Muklis tapi setelah ia menelpon Zio, baru lah ia mau menurut.


.


.

__ADS_1


.


Sementara itu di mension.


Zio masih berada di kamar nya, sejak tadi ia mencari informasi tentang Rusdi dengan computer canggih nya yang ada di kamar. Kini ia sudah mengantongi lokasi markas Rusdi yang ada di kota B. Ia juga mempelajari denah lokasi tersebut sebelum menjalankan misi nya malam ini.


Tok


Tok


Tok


"Abang, Bunda boleh masuk nggak?" mendengar suara sang Bunda dari balik pintu, Zio bergegas mematikan perangkat Computer nya, lalu berbaring di ranjang pura-pura tidur.


"Abang, Bunda masuk ya," Setelah itu Zio mendengar suara pintu kamarnya terbuka desertai suara langkah Salsa yang semakin mendekat.


"Abang, ini sudah sore, kenapa belum bangun juga," Salsa menggoyang kan bahu Zio, membangunkan nya.


"Hoooem...." Zio merentangkan kedua tangan nya keatas, percis seperti orang yang baru bangun tidur.


"Abang... Bangun..... Segeralah mandi, setelah itu jemput Sarah," ucap Salsa yang sudah duduk di pinggir ranjang.


"Iya Bun," tanpa banyak berkata Zio bangkit dari ranjang menuju kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Zio menyeringai saat sebuah ide melintas di pikiran nya.


Seperti nya aku harus menikahi Sarah, agar Bunda tidak mencemaskan ku lagi. batin Zio.


.


.


.


Selesai mandi, Zio keluar dari kamarnya, ketika hendak menuruni tangga, ia di panggil Zidan.


"Boy, ikut Daddy sebentar," ucap Zidan lalu membawa Zio ke ruang kerja nya.


"Ada apa Dadd?" tanya Zio yang sudah berada di ruang kerja Zidan.


"Waktu itu Abang menanyakan Niken. Apa Abang bertemu dengan nya?" Zidan menatap Zio penuh selidik.


"Enggak ada, Abang nggak kenal sama Niken, apa lagi bertemu," jawab Zio dengan gaya polos nya.


"Lalu, untuk apa Abang menanyakan nya waktu itu?"


Ceklek


Pintu di buka Salsa, membuat Zio bernafas lega, karna tidak perlu lagi memikirkan jawaban atas pertanyaan Zidan.


"Huff, kirain Bunda Abang kemana? tau nya ada di sini. Abang sudah siap kan?"


"Sudah Bun," jawab Zio.


"Mas, lagi ngomongin apa dengan Zio. Sepertinya serius sekali?"


"Tidak ada Sayang, hanya membicarakan masalah pekerjaan saja. Iya kan Boy," jawab Zidan, di sertai anggukan kepala Zio.


"Oo... Ya sudah, sekarang Abang jemput Sarah, ya. Karna nanti kita akan makan malam bersama,"


"Iya Bun," jawab Zio lalu melangkah pergi.

__ADS_1


__ADS_2