
Keluar dari kamar mandi, Zio melihat Sarah masih berbaring di ranjangnya. Penasaran, Zio mendekatinya, mencondongkan tubuh, melihat istri nya itu apa benar sedang tidur. Seketika ia bergelinjang kaget melihat mata Sarah yang terbuka lebar.
Sebenarnya sejak masuk kamar, Sarah tidak lah tidur. Ia hanya menangis sesugukan setelah mendengar suara wanita yang menjawab sambungan telepon nya pagi tadi.
"Abang kenapa?" tanya Sarah yang telah duduk di tepi ranjang. Bola matanya masih terlihat berkilat-kilat menatap Zio.
Zio malah berbalik badan menghadap ke meja kerjanya.
"Abang dari mana tadi?" tanya nya lagi. Lalu berdiri di belakang Zio.
"Ada perlu sama kawan," jawab Zio datar, masih dalam posisi berdiri memunggungi Sarah.
"Kawan?" Sarah tertawa lirih, tentu ia tau suami nya saat ini berbohong. Karna tadi dia lah yang menelpon ke nomor ponsel Zio menggunakan ponsel mertuanya. Itu ia lakukan sebab Zio memblokir nomor ponselnya.
Zio berbalik badan menghadap Sarah, menatap mata Sarah yang berkilat-kilat. Lalu, ia melangkah menuju meja kerja nya.
"Siapa wanita yang bersama Abang tadi?" ulang Sarah bertanya.
Langkah Zio seketika terhenti mendengar pertanyaan Sarah.
"Apa maksud mu?" tanya Zio dengan mata yang menyipit.
"Abang Jawab saja, siapa wanita yang bersama Abang tadi?" ulang Sarah bertanya.
"Sarah! Kamu jangan asal menuduh! Nanti di dengar orang di kira semua itu benar," sentak Zio menekan suaranya, sembari melihat ke arah pintu, takut pembicaraan mereka ada yang mendengar.
"Ooo, Abang masih mau mengelak? Baiklah, biar Sarah bilang saja sekalian ke Bunda," Sarah menggertak, lalu berjalan hendak keluar kamar.
"Sarah, Sarah! Kamu mau kemana?" Zio menyusul langkah Sarah dan menahan tangan nya.
Sarah berbalik badan, menatap Zio. "Sekarang Abang jelaskan siapa wanita yang bersama Abang tadi? Atau..?"
"Atau apa? Kamu mengancam ku!" sentak Zio memotong ucapan Sarah.
"Nggak, Sarah nggak mengancam Abang. Sarah hanya ingin tau siapa wanita yang bersama Abang seharian tadi? Apa salah Sarah menanyakan hal itu sebagai istri Abang?" ucap Sarah dengan mata yang berkaca.
"Wanita siapa yang kamu maksud, Sarah?" tanya Zio yang melunak.
"Wanita yang bersama Abang seharian tadi?"
__ADS_1
Zio menghela nafas besar, menatap Sarah dalam, lalu berbalik badan berjalan ke meja kerja nya.
"Abang, jawab dulu. Siapa wanita yang bersama Abang tadi?"
Zio tak menggubris ia memilih duduk di depan meja kerja sembari menghidupkan komputer.
"Abang, jawab dulu? Siapa yang bersama Abang tadi." Sarah menghentakkan langkah nya mendekati Zio.
"Cukup Sarah! Jangan mentang-mentang kamu istriku, kamu merasa berhak mengetahui semua tentang ku!" sentak Zio di sertai tatapan tajamnya.
Bibir Sarah gemetar, mata nya semakin berkilat-kilat menahan tangis. Beginikah rasa nya mencintai orang yang tak pernah bisa mencintai kita? Harus kah bertahan meski menyakitka? Dada Sarah terasa sesak, lalu berlari ke kamar mandi menumpahkan tangis yang tak dapat lagi ia bendung.
* * *
Malam harinya, selesai makan malam. Keluarga Zidan berkumpul di ruang utama. Kecuali Maria dan Rita yang sudah kembali ke kamar mereka. Zio tadi nya hendak ke kamar juga, namun di cegah oleh Salsa karna dia ingin menikmati moments berkumpul bersama suami dan anak-anak serta menantu barunya. Lagian ini adalah hari pertama Sarah berada di rumah ini sebagai menantu.
"Jadi kapan Abang akan pergi Honeymoon?" tanya Salsa di sela obrolan mereka.
Zio melirik Sarah yang duduk di sampingnya, lalu mengenggam tangan nya sembari tersenyum. "Besok Bun. Tapi setalah kami kembali honeymoon, kami boleh kan tinggal di rumah lain, Bun? Kami ingin belajar mandiri. Iya kan Sarah?" tanya Zio meminta pendapat Sarah.
Sarah hanya tersenyum malu-malu, sembari mengangguk pelan. Meski dia tau saat ini suaminya itu hanya bersandiwara. Tetap, ada kebahagian saat Zio memegang tangan nya.
"Menurut Bunda juga begitu, sayang" ucap Salsa sependapat dengan putrinya.
"Sayang, kita juga harus menghargai keputusan mereka. Kan sekarang ini putra kita sudah menikah, itu artinya dia sudah dewasa. Tidak seharus nya lagi kita memaksakam kehendak kita padanya. Dia sudah punya tanggung jawab sendiri," Zidan menimpali.
"Terimakasih Dad," ucap Zio.
"Tapi Dad...?" Zia masih protes.
"Adek, jangan begitu. Nanti pun kalau Adek sudah menikah pasti akan pergi juga meninggalkan Bunda dan Daddy," ucap Zidan sengaja meledek nya.
"Daddy! Kok malah ngomongin Adek sih!" sungut Zia di sertai bibirnya yang mengerucut.
"Ya sudah, terserah Abang dan kak Sarah saja. Tapi tinggal nya jangan jauh-jauh dari sini! Dan juga rumah nya yang besar, biar Adek bisa numpang nginap juga," pinta Zia kemudian.
"Bunda pun ngikut saja. Tapi, Abang harus janji sama Bunda, jangan pernah menyakiti Sarah atau pun mengecewakan nya. Ingat! Abang punya saudara wanita dan Bunda juga seorang wanita. Tentu Abang tidak akan terima jika Bunda dan Zia di sakiti orang lain,"
"Tuh, dengerin apa yang di bilang Bunda," Zia menimpali.
__ADS_1
"Ingat juga janji Abang tadi siang," imbuh Zia membuat wajah Zio terlihat tegang.
"Oh ya, Abang seharian tadi dari mana? Pulang jam berapa?" tanya Salsa penuh selidik.
"Hmm, i-itu Bun. Abang mengunjungi restoran yang ada di bandung."
"Ke Bandung? Pakai motor Deri?" tanya Salsa.
"I-iya Bun, biar nggak macet," jawab Zio sembari melirik Sarah yang duduk di samping nya.
"Lain kali kalau mau pergi itu bilang dulu. Jangan main ngilang gitu aja. Apa lagi sekarang Abang sudah punya istri. Tolong lah ubah kebiasaan Abang itu. Pikirkan juga orang yang mengkhawatirkan Abang di rumah," ujar Salsa panjang lebar.
"Iya Bun," Zio menjawab cepat.
Zia yang begitu paham sifat saudara nya itu mencebikkan bibir.
Hingga pukul sepuluh malam mereka mengobrol diruang utama, setelah nya mereka kembali ke kamar masing-masing.
"Abang, kita benaran besok pergi Honeymoon?" tanya Sarah begitu senang, sewaktu diruang utama tadi dirinya banyakan diam, hanya bicara saat di tanyakan saja.
"Hhhmm.." jawab Zio yang duduk di depan meja kerjanya.
"Terimakasih Abang," ucap Sarah seraya melingkarkan tangan nya ke leher Zio dari belakang.
"Lepas Sarah! Jangan mentang-mentang Bunda bicara seperti tadi kamu seenak nya menyentuh aku!" sentak Zio berusaha melepaskan tangan Sarah yang melingkar di tubuh nya.
"Salah nya dimana? Abang kan suami Sarah. Nggak dosa juga pun, jika kita harus melakukan itu." kekeh Sarah semakin mengalungkan kuat tangan nya.
"Sarah! Lepas!" sentak Zio.
"Kalau Sarah nggak mau? Abang mau apa?" Bukan nya takut Sarah semakin menantang nya.
"Sarah, lepas dulu," suara Zio mulai melunak.
"Baiklah," Sarah pun melepaskan tangan nya.
Zio mengambil kertas yang baru saja keluar dari mesin print nya. Lalu memberikan kertas itu pada Sarah. "Baca ini!"
"Apa ini?" tanya Sarah.
__ADS_1
"Udah baca saja!" ucap Zio ketus.