Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
Pergi Honeymoon


__ADS_3

Pagi itu, keadaan Sarah memang tidak lah baik-baik saja, masih ada rasa pusing yang ia rasakan. Namun, rasa senangnya yang ingin segera pergi honeymoon bersama Zio begitu besar, hingga mengalahkan rasa sakit yang di rasakannya.


Selesai sarapan, Sarah dan Zio kembali lagi ke kamar. Sarah mengemasi beberapa barang yang akan dibawanya pergi honeymoon nanti.


Beberapa potong pakaian Zio sudah dimasukkan Sarah ke dalam koper, sedangkan pakaiannya sendiri tak ada sama sekali, karna sewaktu pergi kerumah mertuanya, Sarah tidaklah membawa pakaian lain selain pakaian yang di pakainya.


"Abang, sebelum pergi, kita kerumah Mama dulu, ya. Soalnya Sarah nggak ada pakaian," ucapnya pada Zio yang masih sibuk dengan leptop kerja.


"Tidak usah, nanti beli saja," Zio berkata tanpa melihat Sarah.


"Em, baiklah," Sarah memperhatikan punggung suaminya yang terlihat sibuk dengan leptop di hadapannya. Kemudian ia mengeluarkan ponsel menelpon Santi, memberitahukan jika hari ini dia akan pergi honeymoon bersama Zio.


Selesai menelpon Santi, Sarah melihat Zio masih saja sibuk dengan leptopnya. Padahal, cukup lama tadi ia mengobrol dengan mamanya.


"Abang, masih lama ya?" tanya Sarah kemudian.


"Hmm, tunggu sebentar lagi. Tidak usah cerewet!" jawab Zio sinis tanpa mengalihkan matanya dari layar leptop.


"Kalau begitu Sarah tunggu di bawah saja," ucap Sarah lirih, tak ingin membuat Zio marah dan membentak nya lagi.


"Hmm," Zio menanggapi.


Sarah lalu keluar dari kamar menyeret koper yang berisi pakaian suaminya.


"Loh, Sarah? Zio mana?" tanya Salsa melihat menantunya berjalan menyeret koper sendiri.


"Em, Abang Zio masih di kamar," jawab Sarah apa adanya.


Salsa melihat koper yang di pegang menantunya. "Sarah, apa isi di dalam koper itu?" tanya Salsa.


"Baju Bang Zio," jawab Sarah.


Salsa menghela nafas besar. "Sayang, tunggu Bunda di sini dulu, ya," Salsa lalu berjalan menaiki tangga.


"Dasar anak itu! Kenapa malah membiarkan istrinya membawa koper sendiri, sementara dia mau enak-enakan tanpa membawa apa pun," Salsa menggerutu sendiri sambil berjalan menaiki tangga.


"Abang, lagi apa?" tanya Salsa yang sudah berada di dalam kamar putranya.


Zio segera berdiri ketika mendengar suara bundanya.


"Abang sebenarnya niat pergi nggak?" tanya Salsa lagi tak bersahabat.


"I-iya Bun, ini Abang juga sudah selesai," jawab Zio.


"Satu lagi! Bunda nggak suka kalau Abang menyuruh Sarah membawa barang-barang berat. Ingat! Abang itu laki-laki harusnya Abang lah yang melakukan hal itu,"

__ADS_1


"Maksud Bunda?" tanya Zio heran, pasalnya dirinya tidak ada menyuruh Sarah membawa apa-pun.


"Itu koper berisi pakaian Abang, kenapa malah Abang suruh Sarah yang membawa?"


"Hah! Ko-koper apa, Bun?" tanya Zio heran.


"Koper yang berisi pakaian Abang. Abang nggak usah pura-pura nggak tau!" Salsa mendengus kesal.


"Ta-tapi Bun, Abang nggak ada menyuruh Sarah membawa apa pun. Tadi Abang bilang nggak usah bawa apa-apa. Kan di sana banyak orang yang menjual pakaian, Bun,"


Salsa merasa malu sendiri karna sudah marah-marah tidak jelas pada putranya.


"Ya sudah, sekarang Abang turun lah. Sarah sudah menunggu dibawah," ucap Salsa kemudian.


"Ya, Bun,"


* * *


Selama dalam pesawat menuju ke tempat honeymoon, Zio masih merasa kesal karna tadi di tegur Salsa. Sarah pun saat ini juga diam, menahan perut nya yang terasa mual karna ini kali pertamanya naik pesawat.


"Abang, perut Sarah mual. Rasanya mau muntah," bisiknya yang sudah tak tahan lagi.


"CK, tahan saja lah!" jawab Zio yang duduk sambil menyilangkan kedua tangan di dada.


Sekuat tenaga Sarah menahan rasa mualnya. Namun ia tak tahan lagi. Akhirnya memuntahkan isi perutnya.


Tiba di bandara. Sarah merasa lemas serta pusing karna hampir satu jam berada di dalam pesawat yang membuatnya kepalanya pusing.


"Abang, tolong belikan minyak angin dulu. Kepala Sarah pusing banget," ucap nya.


"Heis! Merepotkan sekali," Zio mendengus kesal.


"Tunggu di sini!" lanjutnya memberi perintah.


Sarah mengangguk, lalu duduk di bangku yang ada di belakang nya.


Tidak lama setelah Zio pergi, seorang laki-laki berjalan mendekati Sarah.


"Boleh aku duduk di sini?" tanya seorang laki-laki asing yang tidak di kenali Sarah.


"Ya, silahkan," jawab Sarah.


"Kamu dari Jakarta ya?" tanya laki-laki yang sudah duduk di sebelah Sarah.


"I-iya," jawab Sarah sedikit tersenyum.

__ADS_1


"Berarti kita sama dong! Aku juga dari jakarta,"


"Oh ya," sahut Sarah.


"Kenalkan, nama ku Andri," laki-laki itu mengulur kan tangan nya.


Sarah terlihat ragu untuk menyambut uluran tangan laki-laki yang mengajak nya berkenalan itu.


Tiba-tiba Zio yang baru datang menaik tangan Sarah berdiri.


Laki-laki bernama Andri itu pun ikut berdiri.


"Dia istriku! Kau mau apa?" ucap Zio menekan di sertai sorot tajam matanya menatap laki-laki itu.


Sarah tersenyum mendengar pengakuan yang baru saja diucapkan Zio.


"Eh, sorry lah bro. Gue kira dia sendirian tadi" ucap Andri kemudian berlalu pergi.


Sarah masih senyum-senyum sendiri melihat Zio.


"Kenapa? Senang, ada laki-laki yang mengajak berkenalan?" tanya Zio sinis.


Sarah menggeleng.


"Ini, ambil!" Zio memberikan minyak angin yang di belinya. Lalu melangkah pergi.


"Abang, tunggu," Sarah mengejar langkah Zio.


* * *


Menjelang sore, mereka sudah tiba di resort, penginapan tempat mereka akan tinggal selama honeymoon ini. Resorts ini memiliki dua lantai serta dua kamar tidur yang lansung menghadap ke laut, jarak dari laut pun hanya beberapa meter saja.


"Wah! Bagus sekali tempat ini!" Sarah terlihat begitu senang saat masuk ke dalam hunian yang memang sengaja di pesan Salsa jauh hari. Diatas ranjang yang berada di lantai dua, ada selimut yang di lipat menyerupai sepasang angsa serta taburan bunga mawar diatas nya.


"Abang, lihat itu!" Sarah menarik tangan Zio, mendekati balkon yang menghadap lansung ke laut.


"Sarah! Jangan kau sentuh aku! Kau lupa perjanjian kita?" sentak Zio menepiskan tangan Sarah.


"Abang, kita ini pergi honeymoon. Masa Sarah mau pegang saja nggak boleh," ucap Sarah tanpa memperdulikan wajah Zio yang marah.


"Kau kira aku senang pergi ketempat ini!"


"Abang, cukup! Sarah nggak mau dengar lagi Abang mengucapkan kau kau kau, lagi!" peringat Sarah tak kalah sengit.


"Kau benar-benar selalu membuat ku marah!" Zio menunjuk wajah Sarah disertai rahangnya yang mengeras.

__ADS_1


"Kenapa Abang marah? Oo, Abang pasti marah karna datang kesini bersama Sarah, iya kan?" Sarah menjeda kalimatnya, mengatur nafas nya yang terasa sesak.


"Abang, Sarah juga nggak menginginkan datang kesini. Tapi Abang yang meng-iyakan permintaan Bunda. Kalau Abang nggak suka datang kesini, harus nya Abang bilang ke Bunda! Jangan malah melampiaskan kemarahan Abang pada Sarah saja," Setalah melanjutkan kata-kata nya, Sarah berbalik badan, berjalan ke balkon. Menyembunyikan air matanya yang jatuh agar tidak terlihat oleh Zio. Sungguh, ia tak ingin menarik perhatian Zio atas dasar kasihan padanya.


__ADS_2