
Sarah terkejut bukan main saat melihat kesebuah toko yang di tunjuk Zia, di sana ia melihat suaminya tengah berdiri di samping wanita yang pernah ia lihat direstoran tempo hari lalu.
"Ini gak bisa dibiarkan!"
Sarah melihat Zia yang mulai menghentakkan kaki hendak masuk kedalam toko tersebut. Namun, Sarah segera menahan tangan iparnya itu, ia takut, suaminya akan memarahinya nanti. "Kak Zia, kita pulang saja yuk, Sarah gak apa-apa kok," Sarah menahan tangan Zia yang hendak masuk kedalam toko tersebut.
"What! Kamu bilang gak apa-apa?" Zia membelalakkan mata, tak percaya dengan perkataan Sarah yang mengajaknya pulang, jelas-jelas sekarang mereka memergoki Zio bersama wanita lain. Tapi kenapa istri saudaranya itu mengajaknya pulang, sementara dia yang menyaksikan begitu geram saat ini.
Sarah mengangguk lemah, kemudian menunduk.
Zia menghembuskan nafas kasar. "Jangan bilang selama ini kamu mengetahui wanita yang bersama Bang Zio sekarang!"
"Kak, ayo kita pulang saja, nanti Sarah ceritakan," Sarah berusaha menarik tangan Zia yang hendak masuk kedalam toko.
"No, Sarah! Aku harus memberi pelajaran pada wanita itu," Zia menyantakkan tangannya yang di pegang Sarah, lalu melangkah cepat masuk kedalam toko.
Sarah pun mengejar langkah kaki iparnya yang telah berjalan cepat di depannya. "Kak Zia, tunggu!" teriaknya sambil berlari kecil mengejar Zia.
Tanpa berkata sepatah kata pun, Zia lansung menyentak rambut wanita yang berdiri di samping Zio dari belakang, membuat wajah wanita itu mendongak kaatas.
"Aduuh!" Carla mengaduh kesakitan merasakan sakit dikepalanya yang di tarik seseorang tiba-tiba.
Zio kaget melihat kehadiran saudaranya. "Adek! Apa-apan sih!" Zio lansung melerai tangan saudaranya yang begitu brutal menjambak rambut Carla.
"Abang yang apa-apaan!" Zia melotot kan mata pada Zio.
"Abang, tolong, sakit," rintih Carla menahan sakit di kepalanya.
Sarah yang juga berada di sana, turut serta membantu melerai amukan Zia.
Setelah berhasil melepaskan tangan Zia dari rambut Carla, Zio berdiri di tengah-tengah mereka, sedangkan Carla yang ketakutan, memegang pinggang Zio dari belakang, begitupun Sarah menahan tubuh Zia yang terus berontak minta di lepaskan.
"Oo, jadi Abang mau melindungi wanita pelakor ini!" sentak Zia berusaha melepaskan tubuhnya yang di peluk Sarah dari belakang.
Zio tak bisa berkata apa-apa, dia begitu kebingungan saat ini. Ia juga tak ingin menjelaskan siapa dirinya di depan Carla, takut jika adik angkatnya itu menjadi sedih.
__ADS_1
"Carla telepon lah Muklis nanti, Abang harus pergi," ucap Zio kemudian.
"Gak mau, Adek takut," Carla semakin mengeratkan tangannya memegang pinggang Zio.
Tanpa memperdulikan rengekan Carla, Zio lansung berjalan menarik tangan saudara kembarnya, mau tak mau Carla melepaskan tangannya yang memegang pinggang Zio.
"Abang," rengek Carla di belakangnya.
Zia yang berajalan di belakang Zio menoleh sambil menunjukkan kepalan tangannya. "Apa kau Pelakor! Mau kucabut semua rambut kau itu,"
Carla yang masih ketakutan menggeleng cepat lalu berlari menjauh.
"Abang, lepas! Adek mau hajar wanita pelakor itu!" Zia masih mencoba melepaskan tangannya yang di pegang Zio.
Namun Zio tidak memperdulikan, dia terus melangkah menyeret tangan saudara kembarnya itu keluar dari toko.
Sarah setengah berlari mengejar langkah mereka di belakang.
Sesampai di perkiran, barulah Zio melepaskan tangan Zia, lalu beralih menatap Sarah yang masih berjalan di belakangnya.
Secepat kilat Zio meraih tangan kembarannya itu.
"Adek, sumua tidak seperti yang Adek pikirkan!" Lalu Zio menoleh pada Sarah. "Ini pasti kamu yang mengadu macam-macam kan!"
Sarah menggeleng cepat. "Gak, Sarah tadi sudah melarang kak Zia untuk kesana, tapi Kak Zia saja yang tetap kekeh mau menemui Abang," ucapnya tak terima dengan tuduhan yang di lontarkan sang suami.
Zio membuang nafas kasar.
"Abang bisa gak! Gak usah menyalahkan orang lain, atas kesalahan yang Abang lakukan!" sahut Zia menyela.
Zio menyeka rambutnya ke belakang. "Adek, dia itu Adik angkat Abang. Jadi tolong jangan salah paham,"
"Adik angkat, Adik angkat! Mana ada memperlakukan Adik angkat begitu mesra, apa lagi di depan umum. Pokoknya Bunda harus tau ini,"
"Adek, dengar dulu! Dia adalah saudara angkat Abang saat masih kecil dulu dan Ibunyalah yang telah membesarkan Abang sebelum bertemu dengan Bunda dan Daddy,"
__ADS_1
Zia mendengus. "Tapi dia tau gak, kalau Abang bukan saudara kandungnya?"
"Tidak, mangkanya dia memperlakukan Abang seperti saudara kandungnya sendiri," Zio menjawab cepat.
"Kalau begitu Abang harus memberitahukan siapa Abang sebenarnya pada dia, biar dia sadar diri! Abang pikirlah, Abang itu sudah punya istri, Abang juga harus menjaga perasaan Sarah sebagai istri Abang," Kemudian Zia mengalihkan pandangannya pada Sarah. "Kamu juga Sarah! Harusnya kamu bersikap lebih tegas, jangan terus-terusan menuruti perkataan suami. Ini malah diam saja melihat suaminya dengan wanita lain!" Zia mendengus kesal.
"Iya, nanti Abang beritahukan padanya, tapi tolong, jangan Adek ceritakan masalah ini sama Bunda ya," Zio memelas, lalu mengalihkan pandangannya pada Sarah yang sejak tadi hanya berdiri diam.
"Ah, sudah lah! Terserah kalian saja!" Zia melayangkan tangannya ke udara, kemudian berlalu pergi.
Zio segera mengejarnya, menahan tangan saudaranya yang hendak membuka pintu mobil. "Adek tolong, jangan ceritakan masalah ini pada Bunda," ucapnya dengan wajah memelas.
Zio jika memelas wajahnya begitu menyedihkan, mampu meluluhkan hati siapa saja yang melihatnya.
Zia membuang muka, tak ingin melihat wajah saudaranya yang begitu menyedihkan di matanya.
"Adek," panggil Zio lirih.
"Tapi Adek gak ingin melihat Abang seperti tadi lagi," ucapnya kemudian.
"Iya, Abang janji," jawab Zio cepat.
"Sudahlah, Adek mau pulang!" Zia menepis kan tangan Zio, lalu membuka pintu mobil dan segera masuk kedalam.
Setelah Zia pergi, Zio melayangkan tatapan tajam pada Sarah yang masih berdiri. Kemudian ia melangkah ke mobilnya yang terparkir.
"Abang, tunggu! Sarah ikut," teriaknya sambil berlari mengejar Zio.
* * *
Malam harinya, setelah makan malam, Zio segera masuk ke dalam kamar, duduk bersandar diatas ranjang dengan leptop yang ia letakkan di atas kedua pahanya, memeriksa pekerjaan kantor yang tadi siang belum ia kerjakan.
Sejak kejadian di Mall tadi siang, hingga sekarang, Zio masih tidak bicara sepatah katapun pada Sarah. Ia marah dan menyalahkan Sarah atas kejadian tadi siang karna Sarah tetap pergi ke Mall dengan Zia, padahal sebelumnya ia sudah melarang.
Sarah masuk ke dalam kamar, setelah membereskan piring kotor bekas mereka makan malam. Setelah nya ia naik keatas ranjang, melihat suaminya yang tengah sibuk dengan leptop.
__ADS_1
"Abang pasti capek, mau Sarah pijit gak?" tanpa mendengar persetujuan Zio, Sarah mendekat dan lansung memijat bahu suaminya.