
"Halo, Rain,"
Zio terperangah, menatap lelaki yang menyapa nya diatas tangga.
"Sedang apa kau disini, Ong?" Tatapan Zio begitu tajam pada asisten kepercayaan nya.
"I-ini rumah Om ku! Ke-kenapa kamu bisa ada di sini, Rain?" Ong sedikit tergagap, lalu ia melangkah menuruni anak tangga.
Mata Zio menyipit, menatap orang yang begitu di percayai nya. Setau nya, Ong hanya hidup sebatang kara.
"Ong, mobil yang ada di luar itu milik siapa?" tanya Zio penuh rasa curiga.
"Ooo, I...Itu... I.. I...Itu mobil Om ku. Ya itu mobil Om ku? Memang nya ke-kenapa Rain?" jawab Ong terbata-bata.
Zio mengernyitkan dahi. Banyak pertanyaan dalam kepala nya saat ini. Siapa Om yang di maksud Ong? Apa mungkin orang yang di sebut Ong sebagai Om nya itu yang membunuh Zakir serta menculik Carla?
"Rain, kamu, oke?" tanya Ong sembari melangkah mendekati sebuah lemari yang ada di ruangan itu, lalu membuka laci nya.
"Aku baik-baik saja, Ong,"
"Ong, seperti nya aku harus pulang sekarang. Maaf karna telah mengganggu," lanjut Zio. Kemudian dirinya berbalik badan, mengajak Muklis yang sejak tadi hanya diam saja. "Muklis ayo kita pulang,"
"Tunggu, Zio!"
Langkah Zio yang baru sampai diambang pintu terhenti. Sedikit kaget dengan panggilan Ong pada dirinya. Sebelumnya, Ong tak pernah memanggil nya Zio.
Perlahan Zio berbalik badan.
"Ha ha ha." Ong tertawa besar dengan senjata di tangan nya, senjata yang ia bidik kan tepat ke arah Zio. Reflek Zio mengangkat kedua tangan nya.
"A-apa maksud semua ini, Ong?" Zio sejak tadi memang sudah menaruh curiga pada Ong. Tapi, dia masih menyangkal dugaan itu, karna selama ini Ong sudah di anggapnya sebagai Abang angkat nya sendiri. Dan, dirinya juga meyakini Ong tidak akan berkhianat padanya.
"Zio..... Zio........ Ternyata kau itu tidak sepintar yang ku pikirkan," Ong bicara sambil terkekeh.
"Ong, apa maksud semua ini?" Dengan lantang Zio mengulangi pertanyaan yang sama.
"Ha ha ha. Kau itu ternyata sangat bodoh sekali, Zio! Kau masih belum menyadari siapa orang yang selama ini kau cari!" Senyum sinis tersungging di bibir Ong.
"Ja-jadi kau pelakunya?" tanya Sio meyakin kan.
__ADS_1
"Ha ha ha. Dasar bodoh! Masih juga kau bertanya. Ha ha ha,"
"Tapi kenapa Ong? Kenapa kau melakukan semua ini? Apa yang kau ingin kan dariku?"
Wajah Ong seketika berubah, memancarkan amarah yang begitu hebat.
"Karna aku ingin membunuh kau! Aku ingin keluarga kau merasakan apa yang kurasakan selama ini. Terutama aku ingin membuat Ibu kau merasakan penyesalan!"
"Tutup mulut kau itu, Ong! Jangan pernah kau hina keluarga ku. Apalagi membawa Bunda ku dalam masalah kau!" sentak Zio motong ucapan Ong. Sungguh, dirinya tak mengerti apa maksud Ong, melibat kan keluarga nya dalam masalah yang ia sendiri belum tau.
"Ha ha ha. Memang Ibu kau itu seorang wanita brengsek! Gara-gara dia Abang ku menderita. Sekarang kau bersiap lah menjemput ajal. Biar wanita keparat itu menangis darah kehilangan kau," Perlahan Ong mulai menarik pelatuk senjata nya.
Dor!
Tembakan Ong meleset, karna Zio dengan cepat berjongkok menghindari peluru. Detik berikutnya Zio lansung mengambil senjata nya yang terselip dipinggang, membidikan tepat ke kepala Ong.
Dan seketika darah segar mengalir deras di kening Ong, di sertai tubuh nya yang lansung jatuh ke lantai.
"Rido........ !" Sepasang pria dan wanita paruh baya berteriak histeris, berlari mendekati tubuh Ong yang sudah tidak bergerak.
"Rido... Bangun Nak. Bangun....." teriak pria paruh baya itu histeris sambil memeluk kepala Ong yang sudah berlumuran darah.
"Maaf, saya hanya melindungi diri," ucap Zio santai sambil bangkit. "Muklis, periksa semua ruangan di rumah ini, temukan Carla dan aman kan rekaman CCTV di ruangan ini," perintah nya dengan santai.
Muklish segera menjalan kan perintah Zio. Berjalan menaiki tangga di rumah mewah itu.
Zio berjalan mendekati pasangan lanjut usia itu. "Maaf, saya tidak sengaja melakukan nya. Jika kalian tidak terima, kalian bisa melapor ke polisi," Zio berkata angkuh, tak ada raut kesalahan terpancar di wajah nya.
Pria paruh baya itu kemudian bangkit. Berdiri tepat di hadapan Zio. Beberapa jenak, kedua netra mereka beradu pandang. "Saya tidak akan melapor ke polisi, tapi saya akan adukan perbuatan mu ini pada Zidan Alvero,"
Seketika kedua netra Zio membola sempurna.
***
Di tempat lain.
Kedua mata Sarah belum bisa terpejam. Berguling ke kiri, berguling ke kanan. Gadis itu terlihat resah. Pasal nya laki-laki yang baru saja menjadi suami nya, belum juga masuk kamar.
Akhirnya gadis yang baru saja menyandang status sebagai seorang istri itu bangkit dari ranjang. Perlahan mengayun kan langkah, membuka pelan pintu kamar agar tidak mengeluarkan suara.
__ADS_1
Mengendap seperti seorang pencuri. Kaki nya berjinjit menuju ruang tamu. Karna sebelum masuk kamar dirinya meninggalkan laki-laki yang baru menjadi suami nya di sana.
Tiba diruang tamu, dirinya tidak menemukan Zio di sana. Berpikir sejenak, lalu sarah membuka pintu. Siapa tau suaminya berada di teras.
Namun tetap, dirinya tidak menemukan Zio, di teras rumah.
"Sarah," Tepukan di bahu membuat gadis itu bergelinjak kaget.
"Iiiih. Mama, ngagetin tau," Sarah menggerutu.
Santi sedikit terkekeh, lalu membawa putri nya itu masuk ke dalam rumah. "Kenapa belum tidur, Nak?" tanya Santi seraya mengajak putrinya duduk di ruang tamu.
Sarah hanya meremas jemarinya.
Santi tersenyum sembari mengusap puncak kepala putrinya. "Kamu mencari suami mu, kan?"
Sarah mengangguk dengan wajah menunduk.
"Suami mu tadi keluar, Mama nggak tau dia pergi kemana. Tapi tenang saja, Papa sudah mengikuti nya."
"Ma, sebenarnya Bang Zio cinta nggak sih sama Sarah?" Gadis yang sudah bersuami itu menyandarkan kepalanya di pundak Santi.
Santi mengusap puncak kepala putrinya dengan lembut. "Cinta itu akan datang dengan sendirinya, seiring waktu berjalan."
"Tapi Ma, bagimana kalau Bang Zio nggak pernah bisa menerima Sarah sebagai istrinya? Atau mungkin Bang Zio sudah mempunyai wanita lain?"
"Kenapa kamu berpikir seperti itu? Dulu kamu yang begitu menginginkan Zio. Sekarang, sudah menikah malah patah semangat,"
Sarah menegak kan kepalanya. "Nggak tau Ma, rasa nya Sarah malu, setiap hari menggoda Bang Zio mulu."
Santi terkekeh.
"Iiih, kok Mama malah ketawa sih!"
"Sudah, sudah.. Besok saja kita lanjutkan mengobrolnya. Sekarang tidurlah," ajak Santi sembari berdiri dari duduk nya.
"Tapi, Bang Zio, Ma,"
"Kamu tenang saja. Papa mu itu pasti akan melindungi suamimu,"
__ADS_1