
Malam itu juga Zio kembali ke kota X, belum puas rasa dihati nya karna tidak menemukan Niken di sana.
Sebelum waktu Subuh tiba Zio sudah berada di kamar nya. Setelah membersih kan diri di kamar mandi Zio berbaring di ranjang, sambil bermain ponsel.
Segurat senyum tipis terpancar di wajah pemuda dingin itu kala melihat unggahan beberapa foto Carla di sosial media.
.
.
.
.
Pagi hari nya selesai sarapan, Zio bangkit dari duduk nya.
"Zio berangkat dulu Bun," Setelah pamit pada semua angota keluaga, Zio melangkah keluar.
"Selamat Pagi tuan Muda," sapa seorang pemuda yang berdiri di pintu utama.
Zio menatap pemuda itu dengan dahi yang berkerut.
"Siapa kau?!" tanya Zio menatap tajam pemuda itu.
"Abang. Nama nya Deri, mulai sekarang dia yang akan menjadi sopir pribadi Abang," ucap Salsa mendekati Zio.
"Tapi Bun, Abang kan bisa menyetir sendiri. Abang nggak butuh sopir,"
"Kali ini nggak ada tapi tapi an, Abang mau di sopiri sama Deri atau pulang pergi Abang diantar Om Jefri," ancam Salsa.
"Baiklah Bun," ucap Zio pasrah.
Salsa tersenyum seraya mengusap bahu Zio.
"Deri, ini putra tante nama nya Zio. Tante harap kamu bisa melakukan tugas mu dengan baik," ucap Salsa.
"Baik Nyonya," balas Deri patuh.
"Ya sudah Bun, Abang berangkat dulu," ucap Zio kembali mencium punggung tangan Salsa.
"Hati hati di jalan. Der jangan ngebut bawa mobil nya," pesan Salsa.
"Baik Nyonya," setelah itu Deri berlari mengikuti langkah Zio, membuka kan pintu untuk sang majikan.
.
.
.
.
Di dalam mobil Zio mengambil ponsel nya lalu menelpon Ong.
"Bagaimana keadaan kau sekarang Ong?" tanya Zio setelah sambungan telepon nya terhubung.
"Sudah mendingan Rain," jawab Ong di sebrang telepon.
"Kau istrahat saja dulu sampai sembuh," ucap Zio.
"Baik Rain, terimakasih." balas Ong.
"Hmm," setelah itu sambungan telepon ia putuskan.
.
Sejak tadi, Zio terus memperhatikan kaca spion, melihat sebuah mobil sedan hitam di belakang yang selalu mengikuti mobil nya.
Tapi, ia tetap berusaha santai.
"Ehem.... " Zio berdehem melihat Deri dari kaca spion.
"Apa tuan muda haus," tanggap Deri yang juga melihat Zio dari kaca spion.
"Tidak," ucap Zio lalu mengalihkan pandangan nya ke arah lain.
"Deri, di perempatan depan kau lurus saja," perintah Zio, tanpa melepaskan tatapan nya pada mobil sedan hitam di belakang.
"Baik tuan muda," balas Deri.
Ketika tiba di perempatan lampu merah, mobil berhenti. Bola mata Zio bergerak liar memperhatikan sekitar, mobil sedan hitam tadi tepat berhenti di belakang nya. Sedangkan di samping nya berhenti sebuah motor sport. Zio menatap lekat pada seseorang yang berbonceng diatas motor sport itu, sejak tadi tangan orang itu selalu berada didalam jaket kulit hitam yang di pakai nya. Sesekali orang itu juga menoleh ke mobil nya.
__ADS_1
"Deri, 5 detik sebelum lampu itu berubah hijau, kau harus melajukan mobil ini dengan kencang." perintah Zio.
"Ta-tapi tuan-"
"Ikuti saja perintah ku," potong Zio cepat.
"Baik tuan," balas Deri.
"Sekarang Der....." perintah Zio yang lansung di turuti deri.
Deri membenamkan gas mobil itu hingga kandas.
Benar saja dugaan Zio, mobil sedan hitam dan motor sport itu juga melaju mengikutinya.
Door
Terdengar suara tembakan. Zio melihat pengendara motor sport itu sudah berada di samping mobil mereka, sedang kan mobil sedan itu masih berusaha mengejar mereka.
"Tuan muda siapa mereka?!" tanya Deri khawatir.
"Kau kemudikan saja mobil dengan baik. Mereka biar aku yang mengurus," ucap Zio dingin.
Kemudian Zio mngambil pistol yang di sembunyikan di bawah jok yang ia duduki.
Setelah itu ia menurun kan kaca mobil di samping kanan nya.
Door
Baru saja kaca mobil itu terbuka, pengendara motor sport itu lansung menembak. Tanpa Zio menghindar peluru itu hanya melesat mengenai body mobil.
Zio dengan santai nya menyeringai.
"Biar ku ajarkan kalian cara menembak," gumam Zio.
Lalu tanpa membidik lama, Zio menarik pelatuk pistolnya.
Door
Satu tembakan Zio tepat mengenai si pengendara motor, hingga motor yang melaju kencang itu jatuh seketika.
Tinggal satu mobil sedan hitam di belakang nya. Zio memperhatikan mobil itu yang berusaha mengejar mobil nya. Kemudian Zio menurunkan kaca mobil sebelah kiri.
"Baik tuan,"
Sedan hitam yang mengejar pun berhasil memepet mobil mereka.
Door
Baru saja seseorang di dalam mobil sedan hitam itu mengarahkan moncong senjata ke arah nya. Zio lebih dulu menembak kepala orang itu.
Door
Satu tembakan lagi Zio arah kan tepat ke kepala pengemudi sedan hitam.
Sedan hitam itu pun oleng menabrak pembatas jalan.
Brak
Duuuuuuuar
Mobil meledak, karna keras nya tabrakan hingga percikan api mengenai bahan bakar.
"Preman kampung mau bermain main dengan ku," gumam Zio seraya menyimpan kembali senjata nya di bawah jok.
"Tu-tuan baik baik saja kan?" Deri yang sejak tadi merasa cemas akhirnya bersuara.
"Tentu aku baik baik saja. Kau sendiri bagaimana?" Zio menatap wajah pucat Deri dari kaca spion.
"Sa-saya baik tuan," balas Deri.
"Bagus. Apa pun yang terjadi dan apapun yang kau lihat dan dengar hari ini dan selanjutnya, jangan pernah kau bercerita pada siapa pun, terutama pada keluargaku. Kau paham!?" ucap Zio memperingatkan.
"I-iya tuan," balas Deri.
"Sekarang putar balik lah. Kita kekantor,"
"Baik tuan," balas deri patuh.
Zio lalu mengambil ponsel nya untuk menghubungi Muklis.
"Muklis, datang sekarang ke jalan Tamrin, cari tau siapa orang-orang yang menyerang ku barusan," ucap Zio ketika sambungan telepon nya sudah terhubung.
__ADS_1
"Apa yang terjadi Rain?" tanya Muklis di sebrang telepon.
"Ada begundal bodoh ingin bermain dengan ku. Tapi aku sudah membereskan nya. Sekarang kau cari tau siapa yang mengirimkan mereka,"
"Baik Rain. Aku akan kirimkan beberapa orang terlatih untuk menjagamu?"
"Tidak perlu, yang ada nanti aku yang menjaga mereka," jawab Rain angkuh.
"Berikan aku kabar secepat nya, suruhan siapa para begundal tadi itu."
"Baik Rain, saya kesana sekarang.
.
.
.
.
.
***
Siang harinya.
Zio masih berkutat dengan laptop dan setumpuk berkas di ruang kerjanya.
Dreeet. Dreeet. Dreeet.
Ponsel yang ia letak kan diatas meja berdering.
"Abang, kapan Abang pulang?" rengek Carla di sebrang telepon.
"Tunggu ya, hari ini Abang pulang kok," jawab Zio.
"Abang nggak bohong kan, kalau Abang nggak pulang lebih baik Adek kembali ke kota B saja,"
"Jangan ngomong gitu, Abang pasti pulang hari ini kok. Adek menginginkan sesuatu nggak?" tanya Zio.
"Nggak," jawab Carla singkat.
"Hem. Nanti Abang bawa hadiah spesial untuk Adek," ucap Zio.
"Hadiah apa emang nya?" tanya Carla.
"Rahasia," jawab Zio.
"Uuh, Nggak usah, Adek nggak mau,"
"Yakin nggak mau?" tanya Zio menggodanya.
"Nggak, Adek nggak mau apa apa. Adek mau Abang pulang itu aja," rengek Carla.
"Iya, iya.. Ya sudah tutup dulu telepon nya ya," ucap Zio.
"Hem,"
.
.
.
Tidak lama berselang ponsel Zio kembali berdering, Zio lansung menggeser panah hijau di layar setelah melihat nama muklis yang tertera.
"Apa kau sudah mengetahui kiriman siapa begundal-begundal tadi?" tanya Zio saat sambungan telepon nya sudah tersambung.
"Mereka sudah mati Rain. tapi, tubuh mereka semua mempunyai tato yang sama," jawab Muklis.
"Tato? Tato apa?" tanya Zio lagi.
"Tato kalajengking," jawab Muklis.
"Tato kalajengking?!!
"Betul Rain,"
"Kalau begitu kau selidiki, siapa pemimpin mereka." ucap Zio.
"Baik Rain,"
__ADS_1