Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
Calon menantu


__ADS_3

"Adek, ayo kita pulang. Kasihan Abang menunggu terlalu lama dalam mobil," Salsa lalu bangkit dari duduk nya memanggil Zia yang terlihat masih asyik bermain dengan Sarah.


"Saka, Bunda pulang dulu ya,"


"Iya, Bun," sahut Santi menirukan suara bayi.


"Sarah, Kakak pulang dulu ya," Zia meletak kan mainan di tangan nya.


"Kak Zia punya Abang?" tanya Sarah heran.


"Iya, Kakak punya Abang, dan kami berdua kembar," jawab Zia dengan bangganya. "Sini, Kakak kenalin sama Abang Zio," Zia mengajak Sarah menemui Zio di dalam mobil yang terparkir di halaman rumah.


"Itu Abang Zio," Zia menunjuk Zio yang duduk di kabin belakang mobil. "Abang, kenalin, ini Sarah teman Adek," ucap Zia.


Namun, Zio hanya melirik mereka sekilas, kemudian mengalihkan pandangan nya ke arah lain.


Melihat rupa Zio yang begitu tampan. Sarah pun lansung masuk kedalam mobil dan tanpa permisi gadis kecil itu duduk di sebalah Zio, serta memeluk lengan bocah laki-laki dingin itu.


"Hei! Kau siapa?!" bentak Zio, menepis kan tangan gadis yang memeluk lengan nya.


"Aku Sarah," gadis itu mengulurkan tangan nya sambil tersenyum.


Namun, Zio memalingkan wajah nya ke arah lain, membiarkan tangan Sarah menggantung begitu saja.


.


.


"Sarah mau ikut Bunda pulang," tanya Salsa yang hendak masuk kedalam mobil.


"Iya Bun, Sarah boleh ikut kan," jawab Sarah dari dalam mobil.


Salsa menoleh ke belakang.


"San, ini Sarah mau ikut aku pulang, apa boleh?" tanya Salsa.


Santi mendekat, lalu mendongak kan kepalanya masuk ke dalam mobil.


"Sarah, cepat turun. Bunda mu mau pulang,"


"Nggak mau, aku mau ikut Bunda," rengek Sarah.


"Tumben sekali kamu, mau ikut Bunda. Biasa nya kalau diajak nggak pernah mau," sungut Santi merasa heran. "Ya udah Sa, bawa saja, nanti aku suruh Bang Raka menjemputnya,"


"Oke deh, aku pulang dulu ya," kemudian mereka cupika-cupiki.


"Mama Santi, Zia pulang dulu ya," ucap Zia berpamitan lalu mencium punggung tangan Santi.


"Iya sayang, sering-sering main kesini ya," Santi membungkukan tubuh nya, kemudian mencium kedua pipi Zia.


Setelah itu Zia masuk kedalam mobil.


"Itu putra mu?" tanya Santi yang sejak tadi terus memperhatikan Zio yang duduk membelakangi mereka.


"Iya," jawab Salsa sembari tersenyum.


"Abang, sini dulu sayang, pamit dulu sama Mama Santi," ucap Salsa.

__ADS_1


Zio menoleh, lalu bangkit dari duduk nya, ia melangkah mendekati Salsa, tanpa menoleh sedikitpun pada Sarah yang tersenyum manja padanya.


"Ini sahabat Bunda, nama nya Santi. Zio bisa memanggil nya Mama Santi." ucap Salsa sambil mengusap puncak kepala putranya.


"Halo Zio," Santi berjongkok di depannya.


"Sering-sering main kesini ya," Santi mengulurkan tangan memegang pipi bocah laki-laki di depannya.


"Ganteng sekali calon menantu ku ini," imbuh Santi merasa gemas sendiri.


****


Di tempat lain.


Zakir mengemudikan mobil nya menuju kota B. Ia juga membawa Carla kembali ke kota kelahirannya.


Sambil terus mengemudi, sesekali ia melihat Carla yang duduk di samping nya. Gadis kecil itu hanya menatap kosong ke depan. Tak terlihat kecerian di wajah nya.


"Carla, apa kamu lapar? Nak," Zakir mencoba bertanya. Namun, gadis di samping nya itu hanya menoleh sekilas lalu menggeleng lemah.


"Ayo lah Nak, jangan begini. Abang mu pasti kembali," entah sudah berapa kali kalimat itu Zakir ucap kan. Namun tak merubah apa pun.


Lelaki beumur 45 tahun itu, tak tau harus berbuat apalagi untuk mengembalikan senyum Carla. Sungguh, ia merasa sangat merasa bersalah pada dirinya sendiri. Mungkin jika waktu itu ia tidak tertidur lelap. Ia bisa mencegah Rain agar tidak pergi.


"Awas om!!!" pekik Carla.


Sreeet!


Nyaris saja mobil yang di kemudikan nya menabrak seorang wanita, jika tangannya tidak sigap membanting stir.


"Om, Ibu itu,"


suara Carla mengembalikan kesadaran Zakir.


Gegas ia keluar mobil, untuk melihat kerban yang hampir saja tertabrak oleh nya.


"Astagfirullah...." Ia menghampiri seorang wanita yang berpakaian lusuh tergeletak di pinggir jalan.


"Syukurlah dia hanya pingsan," Lalu, Zakir membopong tubuh wanita itu masuk ke dalam mobil.


.


.


.


"Om, tante nya sudah bangun," seru Clara yang duduk di kabin belakang bersama wanita yang terserempet mobil tadi.


"Kalian siapa?" tanya wanita itu seperti ketakutan.


Zakir menepikan mobil nya, kemudian berbalik badan kebelakang.


"Saya Zakir, dan itu keponakan saya, nama nya Clara. Maaf tadi saya tidak sengaja menyerempet Mbak," ujar Zakir menjawab pertanyaan wanita itu.


Wanita itu tampak berpikir sejenak, kemudian ia berpura-pura kesakitan.


"Aduuuuuuh...... Kepalaku sakit," wanita itu memegang kepala nya.

__ADS_1


"Kalau begitu biar saya bawa Mbak kerumah sakit," ucap Zakir lalu ia berbalik badan hendak melajukan kembali mobil nya.


"Tidak usah. Biar aku pergi sendiri. Kau berikan saja aku uang untuk biaya pengobatan ku," pinta wanita itu.


"Baiklah, berapa saya harus membayarnya" tanya Zakir.


"Lima puluh juta," ucap wanita berpakaian lusuh itu.


"Apa?" Bola mata Zakir membola menatap wanita itu dari pantulan kaca spion.


"Kenapa? Apa kau kira biaya rumah sakit murah?" ucap wanita itu.


"Kalau begitu, biar saya saja yang membawa Mbak kerumah sakit." ucap Zakir.


Kedua mata wanita itu membola.


"Jangan!!!" pekik wanita itu seperti ketakutan.


"Kalau kau keberatan membayar segitu, kau bisa membayar saparuh nya," imbuh wanita itu.


"Sebaiknya saya bawa Mbak kerumah sakit saja," ucap Zakir.


"Jangan....." sanggah wanita itu cepat.


Kedua alis Zakir bertaut. ia merasa heran dari tadi wanita itu selalu saja ketakutan kala ia mengatakan akan membawa kerumah sakit.


"Aku sangat lapar sekali, bisa kau memberikan ku makanan.," ucap wanita itu.


"Baiklah," balas Zakir lalu melajukan mobil menuju sebuah restoran. Kebetulan ia dan Carla juga belum makan siang.


.


.


Tiba di restoran. Wanita itu makan begitu rakus sekali, seperti orang yang belum makan berhari-hari. Terlihat jelas dari cara nya makan yang entah sudah berapa kali meminta tambah pada pelayan restoran.


Kepala Zakir sampai menggeleng, tak percaya dengan apa yang di lihat nya.


.


Setelah membayar semua makanan. Zakir mengajak Carla pergi, melanjutkan kembali perjalanan mereka ke kota B.


"Tunggu,....." wanita itu melangkah mendekati Zakir.


"Ada apa lagi Mbak?" tanya Zakir yang sudah berbalik badan.


"Apa boleh aku ikut dengan mu. Aku tidak punya Siapa-siapa lagi di dunia ini." lirih wanita itu mengiba.


"Aku nanti bisa menjaga keponakan mu. Atau pun menjadi pembantu mu. Tidak di bayar pun juga tidak apa-apa kok," imbuh wanita itu memasang wajah memelas.


Seperti nya ucapan wanita ini ada benar nya. Aku memang butuh seseorang untuk menjaga Carla nanti. 


"Baiklah,. Mbak bisa ikut saya, karna saya juga butuh seseorang untuk menjaga keponakan saya," ucap Zakir.


Wanita itu menyeringai senang.


"Siapa nama Mbak?"

__ADS_1


__ADS_2