
Hasil pembicaraan dua keluarga malam itu di putus kan lah. Jika putra putri mereka akan menikah minggu depan. Tidak ada penolakan dari Zio kala sang Bunda meminta pendapatnya. "Bagaimana? Abang setuju nggak?" tanya Salsa.
"Terserah Bunda saja," Zio menurut, tanpa ingin memprotes apa pun keputusan yang telah di rencanakan Bundanya. Namun, dirinya meminta agar nanti tidak mengadakan resepsi apa pun, dan juga dirinya meminta agar di izinkan untuk hidup mandiri setelah menikah nanti.
Cukup lama mereka berada di meja makan. Pembicaraan rencana pernikahan telah selesai. Kini mereka hanya bersanda gurau saja, sambil menikmati hidangan penutup.
Salsa tengah asyik bercerita masa masa sekolah nya dengan Santi. Begitu pun Zidan, terlibat obrolan serius dengan Raka membicarakan masalah pekerjaan. Sedang Zia nampak mengobrol akrab dengan sarah dan Saka. Begitu pun Edi, Wati, Maria dan Rita entah apa yang mereka bicarakan.
Merasa tak ada lagi hal penting yang perlu ia dengar. Zio pun pamit ingin pergi ke kamarnya. "Bunda, Abang pamit ke kamar dulu ya. Abang ngantuk banget soalnya," bisik Zio pada Salsa yang duduk di sebelah nya.
Salsa mengangguk, pertanda mengizinkan.
"Abang mau kemana?" tanya Zia ketika saudaranya hendak bangkit dari duduk nya.
"Mau kekamar, Abang ngantuk," jawab Zio. "Mama, Om Raka, Zio tinggal ya," ucap nya tersenyum ramah pada kedua calon mertua.
Didalam kamar pemimpin black panther itu menelpon Muklis.
"Muklis. Apa kau sudah memeriksa rekaman CCTV rumah warga di sekitar lokasi kejadian?" tanya Zio ketika sambungan telepon nya terhubung.
"Sudah Rain, saya juga sudah menyalin rekaman nya. Apa kamu ingin melihat?"
"Ya, kirimkan segera padaku,"
"Baiklah Rain,"
Sambungan telepon pun berakhir. Tidak lama rekaman CCTV yang diminta Zio pun sudah masuk ke ponsel. Lansung saja Zio mengunduh nya, memperhatikan kendaraan yang berlalu-lalang keluar masuk kompleks di rekaman CCTV yang baru saja di kirimkan Muklis.
Saat mata nya melihat sebuah mobil sedan biru melintas, ia menjeda rekaman itu. Memperbesar tampilan gambar agar bisa lebih jelas lagi melihat plat nomor kendaraan.
Setelah mendapatkan nomor plat kendaraan. Zio lansung melacak nama pemilik kendaraan itu dengan komputer nya.
Namun sayang, ternyata plat nomor itu palsu, tidak ada ia temukan nama pemilik kendaraan. Kali ini dirinya memang harus berpikir lebih keras lagi agar bisa mengetahui keberadaan Carla.
Zio kemudian menelpon Muklis. menyuruh orang yang di percaya nya itu mengerahkan anak buah untuk mencari mobil yang di lihat nya dari rekaman CCTV.
.
.
.
Seminggu kemudian...
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
"Abang..... Abang......." terdengar suara Salsa dari balik pintu kamar.
Ceklek
Pintu terbuka, terlihat Zio berdiri dengan stelan jas hitam, lengkap dengan peci hitam di kepalanya.
"Wahh.... Anak Bunda terlihat tampan sekali malam ini," pujian yang diucapkan sang Bunda, memang mampu membuat pemuda itu merasa bangga. Namun rasa bangga itu selalu ia tutupi dengan sikap dan wajah dingin nya.
"Apa Abang sudah siap?" tanya Salsa.
Zio mengangguk mantap.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat." ajak sang Bunda.
Kemudian Ibu dan anak itu berjalan beriringan menuruni tangga. Jika lah mereka berjalan berdua di tempat umum, mungkin orang-orang tidak akan menyangka, mereka adalah Ibu dan anak.
.
.
.
Di kediaman sahabat Salsabila itu terlihat ramai dengan hadir nya para tetangga yang memang di undang Santi untuk menyaksikan pernikahan putrinya.
"Ayo masuk Sa," ajak Santi.
Sementara di dalam sebuah kamar, yang sudah di hiasi sedemikian rupa, duduk lah seorang gadis di depan sebuah cermin. Gadis itu terlihat cantik dengan balutan kebaya putih yang di pakai nya. Saat ini diri nya ingin sekali keluar kamar, melihat pangeran tampan nya yang sejak kecil ia kagumi. Namun, kali ini dirinya harus bersabar, sampai sang pangeran melafazkan kata kata sakral. Barulah dirinya akan keluar dari kamar.
Di luar kediaman Santi. Zio berdiri menjauh dari keluarganya. Satu tangan nya memegang ponsel yang ia dekatkan ketelinga.
"Ada apa Muklis?" tanya Zio di sambungan telepon.
"Rain, saya sudah menemukan mobil itu." jawab Muklis.
"Benarkah??? Sekarang kau kirimkan alamatnya, sekitar satu jam lagi aku akan datang kesana," jawab Zio.
"Baik Rain," ucap Muklis.
Setelah itu, sambungan telepon terputus.
"Abang......." panggil Zia.
__ADS_1
Zio menoleh.
"Iya, tunggu sebentar," sahut Zio, lalu berjalan mendekati Zia, setelah memasukkan ponsel ke saku celana.
"Abang menelpon siapa sih? Mengendap-ngendap seperti maling saja. Atau jangan-jangan Abang nelpon cewek lain ya?" tanya Zia.
"Husss..... Anak kecil diam," Zio menempelkan satu telunjuk nya di bibir.
"Dasar orang tua aneh. Awas saja kalau Abang macam-macam ya," ancam Zia.
"Apa sih Dek. Udah ayok masuk," sergah Zio berlalu pergi., di ikuti Sarah di belakang nya.
.
.
.
Di saksikan dua keluarga, serta para tetangga yang hadir, Zio menjabat tangan penghulu bibir nya dengan lancar melafazkan ijab qabul hingga terdengar kata "Sah" dari bibir semua yang menyaksikan.
Kemudian semua yang hadir disana memanjatkan doa.
Setelah itu baru lah Sarah keluar kamar, berjalan mendekati pangeran tampannya, yang masih duduk di depan penghulu. Kemudian Sarah duduk bersimpuh di depan pemuda yang baru saja merubah status nya menjadi seorang istri. Sarah mencium takzim tangan laki-laki yang sudah menjadi suami sah nya. Suami yang akan memimpin kehidupannya mulai detik itu juga.
"Wait.... Wait....." Zia mengeluarkan ponsel nya.
"Sarah... Eh, kak sarah, ulang lagi dong, aku mau mengabadikan nya," pinta Zia yang sudah membuka menu kamera di ponsel.
Sarah menatap Zio malu malu, seolah meminta persetujuan dari laki laki yang baru saja menjadi suaminya. Zio mengulurkan tangan nya lagi, yang lansung di sambut Sarah.
"Abang, bisa senyum dikit nggak sih," sungut Zia melihat wajah datar saudara kembar nya itu.
Zio pun menarik sudut bibir nya ke atas.
"Nah gitu dong," ucap Zia yang masih membidik kan kamera ponsel nya.
"Udah, sekarang AbangĀ cium Sarah,"
Deg
Zio menjadi salah tingkah. Pandangnya mengedar ke sekitar. Malu saja rasa nya ia menuruti permintaan saudara kembarnya itu.
"Abang, cepatlah. Orang orang sudah lapar nih," desak Zia. seperti nya saudara nya itu memang sengaja ingin memojok kan nya.
Setelah menghela nafas besar, baru lah Zio mencium kening sarah secara kilat.
__ADS_1
"Abang apaan sih, kaya bukan mencium istrinya saja."
"Ulang lagi. ulang," sungut Zia sambil tersenyum.