
"Zio, kamu sudah sadar Nak," Salsa membelai wajah Rain yang baru saja membuka mata.
Rain masih mengumpulkan kesadarannya, menatap heran satu persatu orang-orang asing yang berdiri mengitarinya.
"Abang, nanti main sama adek ya," ucap Zia tersenyum senang.
Namun, saat Rain melihat Zia, seketika ia teringat akan Carla.
"Lepas, lepaskan aku!!" Rain memberontak menepiskan tangan Salsa, ia berusaha bangkit dari ranjang.
"Kamu mau kemana sayang, jangan pergi jangan tinggalin Bunda lagi Nak," Salsa menahan tubuh Rain yang sudah duduk di atas ranjang pasien.
"Lepas!!! Biarkan aku pergi," Rain terus meronta, menepiskan tangan Salsa yang masih berusaha menahan tangan nya. Hingga jarum infus yang menancap di punggung tangan nya terlepas.
"Zio, ini Bunda Nak, ini Daddy mu sayang dan ini Zia saudara kembarmu,"
"Tidak! Aku tidak kenal kalian, biarkan aku pergi," Rain terus mengamuk hingga Salsa tak mampu menahan tubuh nya yang bergerak sangat kuat.
"Biar Mas saja sayang," Zidan menggantikan Salsa memegang tubuh Rain.
"Lepas, biarkan aku pergi!!!" Mata nya menatap tajam Zidan yang memegang tangan nya.
"Hai boy, ini Deddy sayang,"
"Lepas!!!" Rain terus memberontak, membuat Zidan kewalahan menahan tangan Rain yang terus mememberontak minta di lepaskan. Zidan kemudian merangkuh tubuh kecil Rain, mengapit tangan bocah itu yang terus memberontak.
Tapi, Rain malah menggigit tangan Zidan.
"Aaaaaw," Zidan menjerit keras seketika melepaskan tangan nya yang merangkuh tubuh Rain.
Rain menggunakan kesempatan itu bangkit dari ranjang dan berlari pergi keluar.
"Zio, jangan pergi Nak," Salsa dan Maria mengejarnya yang hendak melangkah keluar pintu.
"Tangan Deddy berdarah! Bunda, Oma tangan Deddy berdarah," seru Zia, namun tak di pedulikan Salsa dan Maria.
"Deddy oke sayang," ucap Zidan lalu menggendong Zia menyusul Salsa dan Maria keluar.
Di luar, pengawal menahan Rain yang hendak pergi. Bocah itu terus memberontak meminta untuk di lepaskan.
"Lepas....... Lepas kan aku," teriak Rain yang terus memberontak.
"Lebih baik Zio lansung saja kita bawa pulang sayang," ucap Maria memberi saran.
Salsa mengangguk tanda setuju.
Maria lalu menyuruh para pengawal membopong Zio ke dalam mobil.
***
Di tempat lain. Saat ini Carla memang sudah berhenti menangis. Namun raut wajah nya begitu menyedih kan. Ia duduk bersandar di pintu masuk rumah, yang sudah di kunci oleh Zakir, bibir gadis itu terus menyebut nama Abang nya.
Zakir tak punya cara lagi untuk membujuk gadis kecil itu. Sejak pagi pun gadis itu belum memakan apa pun.
"Carla, makan lah dulu, sebentar lagi Abang mu akan pulang," ucap Zakir.
"Enggak, aku nggak mau makan. Aku mau Abang kembali," Carla kembali terisak sambil tangan nya memukul lantai.
'Semoga Yos berhasil menemukan bocah itu,'
gumam Zakir.
***
Iringan mobil tampak memasuki halaman mension mewah. Salsa dan Maria berada di satu mobil yang sama memegang Rain yang masih meronta minta di lepaskan.
Sedang kan Zidan dan Zia berada di mobil lain, yang tertinggal di belakang.
"Lepas, lepas kan aku, biarkan aku pergi!!" Zio terus meronta saat pengawal membopongnya masuk kedalam mension.
"Bawa lansung ke atas Bang," perintah Salsa pada pengawal.
"Baik Nyonya,"
__ADS_1
Salsa lebih dulu melangkah menaiki tangga, membuka kan pintu kamar mewah yang memang sudah ia sediakan untuk putranya.
Rita yang tadi nya duduk di sofa ruang tengah lansung berdiri dan ikut menaiki tangga.
"Kenapa kalian membawa ku kesini? Apa yang kalian ingin kan?!" tanya Rain yang sudah berada di dalam kamar.
"Kamu putra ku nak, kamu anak ku dan ini rumah mu," jawab Salsa melangkah mendekatinya.
Rain menggeleng sambil melangkah mundur, raut wajah nya menggambarkan kecemasan.
"Tidak!!! Nama ku bukan Zio. Biarkan aku pergi," Rain terus melangkah mundur hingga kaki nya terhalang dinding kamar itu.
Kamu anak ku sayang, kamu Zio," ucap Salsa yang terus melangkah mendekatinya.
"Tidak! Kamu bukan Ibu ku," bentak Zio, sontak membuat air mata Salsa jatuh.
"Zio!" tegur Zidan yang baru saja masuk ke kamar itu. Ia menghampiri Salsa sambil menggendong Zia.
"Abang jahat! kenapa Abang membentak Bunda," teriak Zia dalam gendongan Zidan.
Maria yang juga berada di sana menghela nafas besar. Kemudian ia mengeluarkan dompet dari dalam tasnya. Mengambil sebuah foto yang terselip di sana.
"Zio, lihatlah ini," Maria menyerahkan foto itu pada Rain, foto Zidan kecil yang begitu mirip dengan nya.
Sesaat Rain terdiam memandang foto itu. Ia seperti menatap potretnya sendiri. Tapi ia tau itu bukan lah dirinya karna pakaian yang di gunakan anak kecil di foto itu terlihat sangat bagus. Sedang kan dirinya tidak pernah sama sekali menggunakan pakaian sebagus itu.
"Kamu tau siapa didalam foto itu?" tanya Maria.
Rain hanya menatap wanita paruh baya yang ada di hadapannya.
"Dia adalah Daddy mu, Ayah kandung mu," Maria menunjuk Zidan yang memeluk Salsa.
"Berarti kalian sudah membuang ku. Sekarang biarkan aku pergi!!" teriak Rain dengan wajah merah menahan amarah.
Sungguh, kata-kata yang di lontarkan Rain membuat hati Salsa perih. Selama ini ia sangat menderita karna kehilangan putranya. Tapi, saat bertemu putra nya malah mengatakan mereka membuangnya.
"Tidak Nak. Tidak...... Kami tidak pernah membuang mu. Bahkan selama ini kami selalu berusaha mencari mu. Kamu tau, setiap malam Bunda mu selalu menangis, setiap malam dia selalu berdoa untuk mu.
Dan kamu tau kenapa? Karna kami kehilangan mu sejak bayi," tutur Zidan berusaha menjelaskan.
"Sungguh, Nak. Kami benar-benar kehilangn dirimu. Sehari setelah kamu di lahirkan. Seseorang mengambil mu dari rumah sakit," ujar Salsa yang masih terisak.
Mendengar Salsa yang terus terisak Rain pun memalingkan wajah nya.
"Zio..." Zidan melangkah mendekati nya. Rasa nya ingin sekali ia memeluk tubuh bocah itu.
"Jangan mendekati ku!" teriak Rain dengan sorot mata nyalang menatap Zidan.
"Oke Boy, Deddy tidak akan mendekatimu," Zidan mengangkat kedua tangan nya, melangkah mundur mendekati Salsa.
"Sayang, lebih baik kita keluar dulu, biarkan dia tenang,"
"Nggak Mas, aku mau di sini," tolak Salsa.
"Baiklah, kalau begitu Mas keluar, seperti nya dia begitu marah sama Mas," ucap Zidan lalu melangkah pergi.
"Dadd, Adek mau di sini saja menemani Bunda,"
"Baiklah," Zidan pun menurun kan Zia dari gendongannya, setelah itu ia melangkah keluar di ikuti Maria dan Rita.
Kini di dalam kamar itu hanya ada Zia, Zio dan Salsa.
Perlahan Salsa melangkah mendekati putranya.
Rain masih berdiri diam disudut kamar dengan wajah tertunduk.
"Zio sayang, apa kamu meragukan Bunda?"
Rain masih berdiri diam menunduk.
"Katakan sayang, apa kamu meragukan Bunda sebagai Ibu kandungmu," Salsa terus melangkah mendekatinya.
Tepat di depan Rain, Salsa berlutut. Menatap Nanar wajah putranya yang tertunduk diam.
__ADS_1
Salsa kemudian menoleh kebelakang.
"Adek, sini sayang,"
Zia menggeleng, ia merasa takut dengan Rain yang sudah menggigit tangan Daddy serta membentak Bunda nya.
"Adek, sini," ulang Salsa memanggil Zia.
Zia perlahan melangkah mendekati Bunda nya.
"Zio, lihat lah tanda lahir ini," Salsa memperlihat kan tanda lahir di belakang telinga Zia pada Rain.
"Apa kamu percaya jika kamu memiliki tanda lahir yang sama dengan Zia?" tanya Salsa terdengar begitu lembut.
Rain menggeleng, karna ia memang tidak tau jika mempunyai tanda lahir.
"Baiklah, Bunda akan menunjukkan nya," kemudian Salsa berdiri mengeluarkan ponsel nya, setelah itu mengambil gambar tanda lahir itu.
"Lihat lah Nak, tanda lahir kalian sama kan,"
Salsa menunjukkan foto yang ada di ponsel nya.
"Dan, coba kamu lihat wajah Zia," Salsa menarik tangan Zia dan Rain ke depan cermin, lalu mengenggam rambut panjang Zia yang tergerai.
"Bukan kah kalian terlihat sama?"
Rain mengangguk pelan.
"Apa Zio sudah percaya jika Bunda Ibu mu,"
Lagi, Rain hanya tertunduk diam.
Salsa kembali berlutut, men sejajarkan tinggi tubuh nya dengan kedua anak nya.
"Apa Bunda boleh memeluk mu? sayang,"
Anak itu hanya diam, dengan wajah yang masih menunduk.
Zia segera memeluk Salsa.
"Biar Adek saja yang peluk Bunda," ucap gadis itu tak ingin melihat Bunda nya bersedih.
Kruuuk..... kruuuuk..... Kruuuuuuk.
Bunyi perut keroncongan Rain yang terdengar nyaring.
Tanpa bertanya, Salsa lalu berdiri. Menekan tombol merah yang ada di dalam kamar itu.
Tidak berselang lama seorang pelayan mengetuk pintu kamar yang tidak tertutup itu.
"Bi, tolong bawakan makanan ya," ucap Salsa.
"Baik Nyonya," pelayan pun melangkah pergi.
Tidak lama dua orang pelayan datang membawa makanan ke dalam kamar. Menghidangkan diatas meja yang ada di kamar itu.
"Sayang, ayo makan dulu Nak,"
Rain masih tidak bergeming dari tempatnya berdiri.
Kemudian Salsa menyendok makanan itu ke piring.
"Biar bunda suapkan ya," ucap Salsa sambil mengaduk makanan di dalam piring.
Rain mengangkat wajah nya, menatap piring yang di pegang Salsa.
"Aku bisa sendiri," ucap Rain pelan.
Salsa tersenyum lalu memberikan piring itu pada Rain.
Rain mengambil piring itu dan lansung duduk di lantai kamar, menyantap makanan dengan lahap nya.
Baru beberapa suap makanan di piring itu masuk kedalam melutnya. Rain teringat Carla, seketika ia meletakkan sendok menghentikan suapan nya. Wajah nya pun berubah sedih.
__ADS_1
Salsa yang melihat itu mengernyitkan dahinya.