Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
Pulang


__ADS_3

"Abang, masuklah. Sarah sudah ganti baju," teriaknya dari dalam kamar.


Tadi, saat Zio mendapati nya menggunakan lingerie pemberian Maria. Suaminya itu malah mengamuk dan menutup mata dengan kedua tangan lalu pergi keluar kamar.


Cek lek


Pintu kamar kembali di buka Zio.


"Abang kenapa sih? Sarah kan hanya memakai baju itu di depan Abang saja. Kata Nenek Sarah memenjakan mata suami itu akan dapat pahala,"


"Huh, saya yang mendapat dosa," sahut Zio lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Abang! Sarah ini jelek banget ya di mata Abang?" rengeknya.


"Hah, sadar pun!" ucap Zio dengan mata dan mulut melebar.


Sarah yang merasa gemas mendengar jawaban suaminya, berhambur ke atas ranjang, berbaring di sebelah suaminya dengan menopangkan satu tangan ke pipi, menatap lekat wajah tampan yang selalu membuat nya mabuk kepayang.


Zio yang gelagapan menutup wajahnya dengan selimut.


"Tapi nggak apa-apa, jelek-jelek begini. Sarah kan tetap istri dari Zio Alfahrizi patra Alvero." ucapnya sembari mengerling nakal.


"Terserahmu lah," ucap Zio ketus lalu memiringkan tubuhnya kesamping.


"Abang," Sarah mendesah memanggilnya sembari menoel punggung Zio dengan ujung kuku.


"Sarah! Ingat! Jangan sentuh saya!" peringatnya.


"Abang yakin, nggak mau sarah malam ini?" tanyanya.


Zio kesusahan meneguk saliva. "Hmm, ng-nggak mau. Sudah, tidurlah!" Zio mendengus kesal.


"Hmm, baiklah. Selamat malam Abang. Maaf kan semua kesalahan Sarah hari ini, dari ujung rambut hingga ujung kaki," setelah mengucapkan itu, Sarah lalu menggeser tubuhnya menjauh dari Zio.


* * *


Pagi harinya. Zio mengajak Sarah kerestoran yang ada di resort untuk sarapan.


"Hei! Selamat pagi! Boleh gue ikut gabung," sapa seseorang.


Zio dan Sarah seketika melihat sosok lelaki yang berdiri di hadapan mereka.


Sarah menoleh, melihat Zio yang menatap tajam laki-laki yang pernah mereka temui sewaktu di bandara, terlihat jelas tatapan suaminya tidak menyukai laki-laki itu. "Ya, silahkan!" ujar Sarah sengaja ingin melihat reaksi suaminya.


Zio menoleh pada Sarah dengan mata yang membola di sertai rahangnya yang mengeras.


Laki-laki itu menarik satu kursi di depan Zio dan Sarah lalu duduk di sana.

__ADS_1


"Sorry, gue datang kesini sendiri. Jadi nggak punya teman buat mengobrol," ujar laki-laki itu sembari tertawa kecil.


"Cih!" Zio bangkit dari duduknya, menarik tangan Sarah pindah dari meja itu, memilih meja yang hanya menyediakan dua kursi yang seling berhadapan.


"Abang, kenapa kita harus pindah? Kan bagus kita ada teman,"


"Heis! Kamu tidak lihat, laki-laki brengsek itu mempunyai maksud lain!" Zio mendengus kesal.


"Abang, nggak baik kita berprasangka buruk pada orang?"


"Sarah, cukup! Kalau kamu ingin sekali duduk di sana, pergilah!" Zio lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Abang, nggak marah kan? Kalau Sarah pindah duduk kesana?"


Zio membelalakan matanya. "Sarah! Kamu itu istri saya, jaga sikapmu di depan suami, paham!" Zio semakin meradang.


"Berarti, kalau di belakang Abang, boleh?" tanya Sarah semakin memojokkan suaminya.


Zio menghela nafas besar. "Kamu ingin jadi istri durhaka?" tanyanya kemudian.


Sarah menggeleng. "Justru karna Sarah nggak ingin jadi istri durhaka, mangkanya Sarah menanyakan ke Abang. Jika Abang nggak mengizinkan Sarah nggak akan melakukannya. Tapi jika Abang mengizinkan Sarah akan melakukannya,"


Belum sempat Zio menjawab, ponsel nya berdering. Ia segera pergi menjauh setelah melihat nama Carla tertera di benda pipih miliknya.


* * *


Ranjang yang begitu empuk serta di lengkapi mesin pendingin tentu membuat wanita yang sudah terbiasa tidur di jalanan itu enggan untuk bangun.


Carla membuka tirai jendela hingga cahaya matahari yang baru saja terbit manyilaukan mata wanita yang tengah terlelap itu.


"Ehm, sudah pagi rupanya," gumam Maya sembari duduk dan merentangkan tangannya ke atas.


"Maaf ya, Bu. Carla membangunkan Ibu. Habis Ibu lama sekali bangunnya," ucap Carla yang sudah duduk di samping ranjang.


"Harusnya Ibu yang minta maaf karna tidur terlalu nyenyak," ucap Maya merasa sungkan.


"Bagus lah kalau Ibu tidur nyenyak,"


Maya mengedarkan pandangan melihat kamar yang cukup luas, di lengkapi perabotan yang lengkap.


"Carla, kamu tinggal di sini dengan siapa?" tanya Maya kemudian.


"Sendiri, mangkanya Carla ajak Ibu tinggal disini. Tadi Carla juga sudah telepon Abang. Abang malah senang saat Carla beritahukan kabar ini. Kata Abang biar Carla nggak kesepian juga tinggal sendiri kalau dia pergi keluar kota,"


Maya mengernyit. "Abang? Maksud Carla suami?" tanya Maya heran.


Carla terkekeh. "Ibu ini ada-ada saja, kapan pula Carla menikah,"

__ADS_1


"Terus, Abang yang Carla maksud siapa?" tanya Maya semakin penasaran.


"Abang Rain lah, anak Ibu!"


"Rain?" Maya kaget mendengar nama itu. Dulu Boby-suaminya, sebelum masuk penjara memang pernah mengatakan jika anak yang di titipkannya itu adalah anak orang kaya. Hanya saja Maya tidak percaya.


"Iya, Abang Rain. Emangnya anak Ibu siapa lagi?"


Memori Maya berputar, mengingat kembali perlakuan buruk yang pernah ia lakukan sewaktu Rain tinggal bersamanya.


"Se-sekarang dimana Abangmu?"


"Abang lagi diluar kota, minggu depan baru balik. Ibu tau nggak? Abang bilang, dia bekerja sama orang kaya. Carla juga pernah diajaknya naik helikopter, rumah ini pun dibelikan Abang untuk Carla. Terus Carla juga diberi kartu credit. Mangkanya buruan Ibu bangun, setelah sarapan kita pergi belanja,"


"Benarkah?"


* * *


Sudah seminggu lamanya, Zio dan Sarah berada di resort. Besok mereka akan kembali lagi ke Jakarta.


Hari ini, terakhir mereka menikmati suasana pantai yang begitu indah dan romantis. Tapi tidak dengan hubungan mereka yang masih dingin dan kaku.


Meski demikian, Sarah bertekad akan berusaha meluluhkan hati suaminya. Meski Zio masih saja bersifat dingin padanya.


"Abang, ayo kita jalan-jalan kepantai. Kan, besok kita sudah kembali ke Jakarta," ajak Sarah pada Zio yang tengah rebahan sambil bermain ponsel.


"Malas lah," jawab Zio singkat.


"Abang, ayolah! Masa selama seminggu di sini kita hanya berada di kamar saja," Sarah merengek.


"Heis! Merepotkan sekali," Zio menggerutu, lalu bangkit dari ranjang berjalan ke balkon.


"Lihat, di luar masih panas. Kamu mau, kulit kamu yang hitam itu bertambah gosong?"


Sarah seketika melihat kulit lengannya. Lalu mendekatkan ke kulit lengan Zio. "Nggak jauh beda pun. Iya sih Abang putihan dikit," ujar Sarah kemudian.


"Saya memang putih, jadi kalau berjemur pun tidak akan hitam. Tapi kamu, kalau sudah kena matahari pasti lansung gosong," ucap Zio sinis.


Sarah tersenyum. "Abang, bagaimana kalau kita berendam di bathtub, pasti sejukkan?" ujarnya seraya mengerling nakal.


"Uhuk.. uhuk... uhuk," Zio tersedak, wajahnya kian memerah.


"Ayo, kita berandam," Sarah mengulurkan tangannya sembari mengerling menggoda suaminya.


"No! Ayo..... ? Eh, maksud saya ayo kita jalan-jalan di pantai," ucap Zio terbata-bata, lalu pergi keluar meninggalkan Sarah yang masih berdiri di balkon kamar.


"Tadi katanya panas, sekarang malah dia yang mengajak," gumam Sarah tertawa kecil.

__ADS_1


"Abang, tunggu!" teriaknya kemudian menyusul langkah Zio.


__ADS_2