
Membayangkan akan mandi bersama dengan Sarah, jantung Zio seakan mau lepas. Rasanya ia tak akan kuat lagi menahan hasrat lelakinya.
"Tidak tidak tidak. Aku tidak boleh terpedaya olehnya," Zio menghela nafas besar. Lalu, mulai melangkah manapaki anak tangga.
Di depan pintu kamar yang tertutup, ia kembali menghela nafas, sebelum memutar gagang pintu.
Cek lek
Baru saja Zio hendak membuka pintu, Sarah yang berada di dalam kamar lebih dulu membukanya.
"Sarah baru saja mau ke bawah memangggil Abang, tau nya Abang sudah ada di sini,"
"Ayo, kita mandi," ajaknya.
Bagai kerbau di cucuk hidung, Zio hanya menurut patuh mengikuti langkah Sarah yang membawanya ke dalam kamar mandi.
Sepanjang berada di dalam kamar mandi, tubuh Zio panas dingin. Meski posisinya berdiri menghadap tembok, entah kenapa otaknya malah terbayang kejadian saat Sarah memandikannya. Tentu saja membuat sesuatu di dalam celananya memberontak karna sesak.
*
Pukul 19.00. Zio masih berada di dalam kamar, duduk di depan leptop yang menyala yang ia letakkan di atas meja.
Sementara Sarah, berada di lantai bawah, tengah menyiapkan masakan yang di masaknya tadi sore.
Setelah semua masakannya terhidang, Sarah naik ke atas memanggil suaminya.
"Abang sayang, makan malamnya sudah siap," ujarnya manja sembari berjalan mendekati suaminya.
"Ya, sebentar lagi," sahut Zio tanpa menoleh pada istrinya.
Sarah yang sudah berdiri di belakang kursi Zio. Memperhatikan apa yang sedang di lakukan suaminya dari belakang ."Abang ini, siang tadi sudah sibuk kerja. Kalau malam, jangan lah kerja lagi. Mendingan, Abang kerjai Sarah saja," bisiknya di telinga Zio, kemudian meniup pelan tengkuk suaminya, membuat bulu roma Zio seketika berdiri.
"Oke, kita makan sekarang," Zio lansung bangkit dari duduknya. Namun, baru saja ia berdiri ponselnya bergetar.
"Kamu turunlah dulu, saya mau menerima telepon sebentar," katanya.
Sarah menggeleng. "Mau turun sama Abang,"
"Tunggu sebentar," Zio berbalik badan, lalu, menerima panggilan telepon dari adik angkatnya itu.
__ADS_1
"Abang, Adek kangen. Kita makan malam, yuk," rengek Carla di ujung sana.
"Em, Adek makan malam sama Ibu dulu, ya,"
"Nggak mau! Adek maunya sama Abang. Kita kan sudah lama nggak makan malam bareng,"
Zio menghala nafas, "Adek, sekarang ini Abang benar-benar gak bisa. Tolong Adek pahami situasi Abang ya,"
"Hiks.. Hiks.. Abang kan gitu. Gak ada waktu lagi buat Adek. Pasti perempuan itu yang melarang Abang kan?" suara Carla diujung sana sudah terisak.
Zio menyugar rambutnya. Sungguh, dirinya saat ini begitu bingung. Mau keluar menemui Carla, sudah pasti Sarah tidak akan mengizinkan. Membiarkan Carla bersedih seperti ini,dia pun tidak tega.
"Adek, nanti Abang atur waktu buat kita dinner, ya," bujuk Zio sesekali matanya melirik Sarah dari pantulan cermin yang berdiri di belakangnya dengan kedua tangan dilipat di dada.
"Kapan?" tanya Carla memastikan.
"Nanti Abang hubungi Adek. Udah ya, sekarang Adek makanlah dulu sama Ibu," ucap Zio yang tak enak di perhatikan Sarah.
"Sebentar lagi Adek kan ulang tahun, Adek mau merayakannya dengan Abang,"
"Em, iya. Ya sudah, sekarang Adek makanlah dulu," Kemudian sambungan telepon pun Zio putuskan.
"Iya Abang."
"Abang juga makan ya," ledek Sarah menirukan gaya bicara Zio dengan bibir yang maju ke depan.
"Ck! Masalah kau apa!" dengus Zio tak terima.
"Apa? Kau! Coba Abang ulang lagi?" balas Sarah tak kalah sengit.
Zio mengacak kasar rambutnya sendiri. Melupakan emosinya. "Arrrgh! Ini semua gara-gara kamu. Jika kamu tidak hadir dalam kehidupan saya semua ini tak akan pernah terjadi! Saya dan Carla tidak akan pernah bertengkar seperti ini!" Zio yang kesal semakin meradang.
Sarah tertawa meledeknya. "Gara-gara Sarah? Ha ha ha. Coba Abang katakan apa salah Sarah?"
Zio terdiam, dirinya sadar di situasi ini dia tak bisa menyalahkan Sarah, karna dalam pernikahan ini dia sendirlahi yang menginginkan.
"Kenapa Abang diam? Katakan! Apa salah Sarah?" Sarah menuntut penjelasan suaminya yang selalu menyalahkan dirinya.
Zio kembali duduk di kursinya tadi, menenangkan hati dan pikirannya.
__ADS_1
"Adek! Adek....!" Sarah menghela nafas sebelum melanjutkan kembali kalimatnya. "Jika Abang menganggap dia sebagai Adik angkat. Harusnya dia juga menganggap Abang sebagai Abangnya, harusnya dia juga menghormati Sarah sebagai istri Abang! Atau jangan-jangan dia menyukai Abang. Mangkanya dia seperti benci sangat pada Sarah. Atau kalau gak Abang yang...?"
"Cukup Sarah, jaga mulut mu itu!" sentak Zio yang begitu murka. Terlihat dari satu tangannya bergetar menunjuk Sarah di sertai kilat mata yang tajam menghujam.
Tubuh Sarah yang mendengar pun begetar hatinya terasa perih. Sejenak tubuh nya membeku dalam kesakitan. Bentakan Zio tadi benar-benar bagai petir yang menyambar tubuhnya.
Kini, kaki nya mengayun pelan keluar kamar,ia tak mampu lagi menahan air mata yang sudah menganak.
Baru saja berada di luar kamar, Sarah segera menutup mulut dan hidungnya kuat-kuat dengan kedua tangan. Menahan suaranya agar tidak keluar, tubuh nya bergetar hebat menahan tangis. Kemudian kakinya menapak pelan menuruni anak tangga, kedua tangan tak lepas menutup mulut meski kini telah basah oleh cairan yang keluar dari hidung.
Di dalam kamar tamu, Sarah meluapkan tangisnya. Saat ini bukan hanya hatinya yang sakit. Namun, kepalanya terasa seperti di hujami ribuan jarum. Ia menghentak-hentakkan tangan ke kepala, berharap bisa mengurangi rasa sakitnya saat ini.
* * *
Sudah satu jam lamanya Zio berada di dalam kamar. Setelah pikirannya tenang, ia keluar kamar mencar Sarah. Ia sadar tak seharusnya tadi ia marah seperti itu.
Baru saja keluar dari kamar, matanya menangkap sesuatu yang aneh di lantai. Lantai keramik putih, tentu dengan jelas dapat melihat noda apa pun diatasnya. Apalagi yang ia lihat noda merah di lantai tersebut. Zio lantas berjongkok, menyentuh cairan merah itu dengan ujung jarinya.
"Darah," Dia bergumam setelah memastikan noda merah itu, lalu ia bergegas menuruni tangga mencari keberadaan Sarah.
Dapur adalah tujuan utama Zio, tapi ia tak menemukan Sarah di sana, makanan diatas meja makan yang telah Sarah siapkan untuknya masih tertata rapi di sana.
"Sarah.. Sarah.. Kamu dimana,"
Sambil memanggil-manggil nama istrinya, Zio terus menjelajahi seluruh ruangan yang ada di rumahnya, hingga ke teras depan. Menyadari ada satu ruangan yang belum di periksanya, lantas Zio segera berjalan kesana.
Tapi kamar tamu terkunci dari dalam, menandakan pasti Sarah juga berada di dalam.
BRAAK! BRAAK! BRAAK!
"Sarah.. Buka pintunya..." teriaknya yang begitu kepanikan saat ini.
Beberapa kali Zio berteriak. Namun pintu masih tertutup rapat.
BRAAK! BRAAK! BRAAK!
"Buka pintunya Sarah atau saya dobrak paksa!"
Tak ada respon juga dari dalam, Zio pun melangkah mundur, mengambil ancang-ancang, hendak mendobrak pintu tersebut.
__ADS_1