Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
IUTMK (66)


__ADS_3

Zio mendekap cepat tubuh istrinya. "Sayang, Sayang kamu kenapa?"


"Gak tau, tiba-tiba kepala Sarah pusing,"


"Kita kerumah sakit sekarang," Zio menuntun Sarah berjalan keluar dari toko tersebut.


"Abang, kita duduk di sana dulu, Sarah hanya pusing saja, mungkin kecapean karna kurang tidur tadi malam. Nanti setelah minum obat juga akan sembuh,"


"Tidak bisa, kita harus kerumah sakit sekarang,"


"Abang, Sarah gak mau! Sarah hanya butuh istrahat saja, tadi Sarah juga lupa minum obat,"


Zio menghembuskan nafas kasar dan akhirnya menuruti kemauan istrinya, membawanya duduk di bangku pengunjung yang ada di dalam Mall. Sarah duduk menyandarkan kepalanya di bahu Zio, sedangkan Zio membantu memijat kepala Sarah yang bersandar di bahunya.


"Abang kita pulang sekarang, Sarah udah gak apa-apa," ucapnya lirih.


"Iya, tapi kita harus pergi ke rumah sakit dulu,"


"Sarah gak mau ke rumah sakit, Sarah mau pulang,"


"Sayang, kita kerumah sakit dulu, setelah itu baru pulang, ya,"


Sarah menggeleng lemah, "Sarah mau pulang,"


Zio menghela nafas panjang. "Baiklah, kita pulang sekarang," ucapnya pasrah.


.


.


Tiba di rumah, mereka tak lagi melihat keberadaan Santi dan Salsa. Tanpa membuang waktu Zio segera membawa Sarah masuk ke dalam kamarnya.


"Abang, tolong ambilkan obat di dalam laci meja," pinta Sarah setelah berbaring di ranjang.


Zio pun segera mengambilkan obat yang di minta istrinya, lalu berlari mengambil air putih ke bawah.


Setelah Sarah meminum obat, Zio menyelimutinya dan berbaring di sebelahnya.


Sarah meraih tangan Zio, mengusap-usapkan ke pipinya."Abang, gak usah khawatir, Sarah baik-baik saja kok," ucapnya dengan mata yang semakin sayu.


Zio tak berkata apa-apa, ia hanya memandang wajah Sarah yang terlihat semakin pucat.


Beberapa menit berselang, ia menarik tangannya yang berada di pipi Sarah. Perlahan turun dari atas ranjang, lalu pergi keluar kamar untuk menelpon mertuanya. Entah kenapa, hatinya tak tenang semenjak melihat istrinya merasakan pusing di Mall tadi.


"Ya, ada apa Zio?" tanya Santi di ujung sana.


"Mama sekarang di mana?" Zio berbasa-basi.


"Mama sudah di rumah, Salsa dan Zia tadi katanya mau ke cafe dulu. Emang ada apa Zio?"


"Ma, Zio boleh bertanya sesuatu?"

__ADS_1


"Tentu boleh, tanyakanlah, apa yang ingin Zio tanyakan?"


"Ma, tadi Sarah tiba-tiba sakit kepala. Apa sebelum ini dia pernah mengalami hal seperti itu?"


"Ooh, sakit kepala, Sarah dulu memang pernah mengeluhkan itu. Tapi itu sudah lama sih. Memangnya sekarang Sarah sakit kepala lagi?"


"Iya, Ma, tadi waktu di Mall dia tiba-tiba pusing, sampai-sampai tubuhnya berkeringat, Ma. Apa dulu Mama pernah memeriksanya ke rumah sakit?"


"Gak pernah sih, karna Sarah itu takut banget bertemu dokter, katanya takut di suntik," Santi bicara sambil terkekeh kecil di ujung sana.


"Jadi selama ini, sakit kepala Sarah belum pernah di periksa?"


"Belum, memangnya kenapa Zio? Apa sekarang sakit kepala Sarah parah?" Santi mulai khawatir dengan  pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan Zio.


"Zio juga tidak tau pasti, Ma. Tapi yang Zio lihat dia begitu kesakitan sekali tadi,"


"Duh, gimana dong Zio. Coba lah Zio bujuk-bujuk dia agar mau di periksa dokter. Sarah itu memang keras kepala, tapi semoga saja kalau Zio yang membujuk dia mau di periksa,"


"Baik, Ma, Zio akan coba membujuknya nanti,"


"Terimakasih ya, Zio. Beruntungnya Sarah memiliki suami yang perhatian seperti Nak Zio ini,"


"Hm, iya Ma, kalau begitu Zio tutup dulu teleponnya ya,"


Setelah memutuskan sambungan telepon, Zio kembali ke kamar, berbaring di sebelah Sarah yang masih terlelap, hingga ia pun ikut tertidur.


.


.


Baru saja bangun tidur, Zio  lansung turun kebawah ketika tak mendapati keberadaan Sarah di sampingnya.


Langkahnya semakin cepat kala melihat Sarah yang sedang memasak di dapur.


"Sayang, apa yang kamu lakukan?" tanyanya khawatir.


Sarah menoleh pada suaminya yang berdiri di belakang sembari mengulas senyum. "Abang sudah lapar?" Bukannya menjawab Sarah malah balik bertanya.


Zio membuang nafas kasar, lalu mematikan api kompor.


"Abang, kenapa di matikan?" Sarah mengerucutkan bibir.


"Sayang, kamu itu kan lagi sakit, kenapa tidak istrahat?" Zio melingkarkan tangan di pinggang istrinya dari belakang.


Sarah berbalik badan menghadap ke suaminya. "Mana ada Sarah sakit! Kan Sarah sudah bilang, Sarah hanya pusing karna kurang tidur saja. Itu juga salah Abang karna mainnya kelamaan hinga Sarah gak bisa tidur,"


"Eh?" Zio cengengesan sambil menggaruk tengkuknya, teringat keganasannya tadi malam yang menggempur istrinya habis-habisan.


"Sudahlah, dari pada Abang disini mengomel gak jelas, mending Abang bantu Sarah memasak, kalau Abang gak mau bantu, lebih baik Abang duduk manis saja di sana," Sarah menunjuk kursi yang ada di meja makan, lalu menyalakan kembali api kompor.


"Sayang, Abang mau bantu," Zio merebut sendok penggorengan dari tangan Sarah.

__ADS_1


"Memangnya Abang bisa?"


"Ya bisalah, ini mah kecil, kalau hanya untuk menggoreng ayam ini saja,"


Sarah mencebikkan bibir mendengar perkataan sombong suaminya.


"Kalau begitu Abang bantu menggoreng ayamnya saja. Sarah mau potong-potong sayur dulu. Tapi awas! Jangan sampai gosong!" peringat Sarah.


"Hm, iya, kamu tenang saja gak akan gosong ko," sahut Zio.


Sarah mengambil sayuran dari dalam lemari pendingin yang akan di masaknya, lalu membawa ke meja makan untuk memotong-motongnya.


Selesai memotong sayuran Sarah mencuci sayuran itu di di wetafel, setelahnya ia melihat ke penggorengan. "Astaghfirullahalazim. Abang! Itu ayamnya kenapa jadi gosong!"


Sarah segera mematikan api kompor, lalu mengambil sendok penggorengan dari tangan Zio meniriskan ayam yang telah gosong itu.


"Abang lihat, ayamnya jadi gosong kan!" Sarah mendengus kesal.


"Itu bukan gosong lah Sayang. Abang tadi memang sengaja menggoreng ayamnya biar garing. Soalnya Abang lebih suka yang garing, " kilah Zio beralasan.


"Awas saja kalau nanti Abang bilang gak enak!"


.


.


* * *


Keesokan harinya, Zio tak dapat mencegah keinginan Sarah yang kekeh ingin berangkat kesekolah.


"Ingat! Nanti pulang sekolah Abang jemput, jadi jangan pulang dulu sebelum Abang datang," pesan Zio sebelum Sarah turun dari mobil. Entah sudah ke berapa kali kata-kata itu ia ucapkan sejak di rumah tadi.


"Iya, Abang  bawel," sahut Sarah meledeknya.


"Bilang apa? Kamu bilang apa tadi?" Zio mencondongkan wajahnya hendak mencium Sarah.


"Abang, udah ah, Sarah mau masuk kelas, sebentar lagi bel bunyi,"


"Awas kamu nanti malam akan Abang hukum!" Zio mengancam disertai menggertakkan gigi gerahamnya.


Sarah memutar bola matanya malas. "Palingan hukuman enak-enak. Udah ah, Sarah turun dulu, da.....dah....... Abang," ucapnya sembari melambaikan tangan pada Zio.


* * *


Sebelum jam sekolah berakhir, Zio telah pergi kesekolah Sarah untuk menjemputnya.


Tidak lama Zio meninggalkan kantor, Raka keluar dari ruangannya menuju lobi,  setelah mendapatkan telpon dari resepsionis jika dibawah ada tamu yang ingin berjumpa dengannya.


Tiba di loby, Raka mendekati tamu yang ingin berjumpa dengannya.


"Selamat siang, Om,"

__ADS_1


__ADS_2