
"Sarah.... Sarah.... Calon suamimu datang nih," seru Edi begitu antusias memanggil cucunya.
Saat itu Zio baru saja turun dari mobil. Ia melangkah mendekati pria paruh baya yang duduk santai di teras rumah.
"Selamat sore Kek," sapanya, lalu mencium punggung tangan pria paruh baya itu.
"Ayo, masuk dulu," Edi berdiri dari duduk merangkul pundak Zio mengajak masuk.
"Sarah... Santi... Kemana lah mereka ini," Edi menggerutu karna yang mereka panggil tidak menyahut.
"Disini saja Kek nggak pa pa," Zio melangkah mendekati kursi rotan di sebelah Edi duduk tadi.
"Abang..." sapa Sarah yang baru saja keluar, gadis itu sudah rapi dengan gaun coklat susu nya.
Zio menoleh, menatap nya dengan tatapan dingin.
"Sarah, buat kan dulu minuman untuk calon suami mu," ucap Edi menyuruh cucunya.
"Eh iya lupa.... Abang mau minum apa?" tanya Sarah.
"Enggak usah Kek kami pergi sekarang saja," Zio berdiri dari duduk nya.
"Mana bisa begitup, kalau datang kesini harus minum dulu. Sarah, bawa masuk calon suami mu," perintah Edi.
"Ayo Bang masuk dulu,"
Zio mengikuti Sarah masuk ke dalam rumah, dan lansung duduk di ruang tamu.
"Eh, anak Mama yang ganteng sudah datang," Zio berdiri dari duduk nya lalu mencium punggung tangan sahabat Bunda nya itu.
Wati pun ikut ke ruang tamu bergabung dengan mereka.
Sungguh, Zio merasa kikuk sendiri, berada diantara keluarga ini, mereka selalu memperlakukan nya seperti tamu agung, membuat Zio merasa tidak enak hati.
"Om Raka mana, Ma?"
"Ada, lagi mandi, kalau Saka belum pulang main," jawab Santi lengkap.
"Taraaaa...... Ini minuman spesial yang aku buat untuk Abang Zio tersayang,"
Dengan senyum yang mengembang, Sarah membawa minuman itu lalu meletakkan diatas meja. Setelah itu Sarah duduk di sebelah Zio.
"Abang, cobain minuman nya, terus berikan nama yang cocok untuk minuman ini." Sarah mengambil minuman yang ia letak kan diatas meja, memberikan nya pada Zio.
Zio terpaksa mengambil minuman di tangan Sarah seraya tersenyum kikuk. Mungkin jika tidak ada Santi dan wati di sana belum tentu ia akan mau menerima minuman itu.
"Coba di minum Bang," wajah Sarah terlihat begitu berbinar.
Sruuuup.
Zio meneguk minuman dingin di tangan nya.
"Gimana, enak nggak?" tanya Sarah antusias.
Zio mengangguk pelan, tersenyum malu malu.
"Sekarang, Abang berikan nama untuk minuman ini,"
"Nama?" tanya Zio meyakinkan.
"Iya, minuman nya kan belum aku beri nama, aku mau nya Abang yang memberi nama," jawab Sarah.
Zio berpikir sejenak menuruti permintaan Sarah.
"Hem.. Hem.. Minuman manis,"
"Masa minuman manis sih. Yang bagus dong," Sarah merengek, tak puas dengan nama yang di berikan Zio untuk minuman nya.
__ADS_1
"Hem, minuman manis enak,"
Sungguh Zio tidak tau harus memberikan nama apa untuk segelas minuman yang hanya di beri sirup manis dan batu es itu.
"Jangan yang biasa lah Bang. Berikan namanya yang romantis,"
"Ya-yang romantis, apa?" tanya Zio merasa gugup sendiri mendengar kata romantis.
"Iya, romantis seperti kita ini," Sarah memeluk lengan Zio serta menyandarkan kepala nya di sana.
"Gaya mu Sar, romantis romantis makan aja kadang masih minta Mama menyuapkan," sindir Santi menyela.
"Iiiih, Mama. Jangan buka rahasia ku di depan Bang Zio lah," Sarah merengek manja.
.
.
Beberapa menit berlalu mereka masih terlihat saling bercengkrama. Zio yang tidak biasa merasa canggung sendiri.
"Ma, Nek, Zio bawa Sarah dulu ya, takut kemalaman nanti," Zio bangkit dari duduk nya, diikuti Sarah yang masih memeluk lengan Zio.
"Ooo. Ya sudah hati-hati di jalan," ucap Santi setelah Zio mencium punggung tangan nya.
"Dadaaaaah Ma." Sarah melambaikan tangan menoleh kebelakang, sambil mengikuti langkah Zio.
"Sarah, sampaikan salam Mama sama Bunda mu," teriak Santi.
"Iya," sahut Sarah.
.
.
Di dalam mobil, Zio hanya fokus menatap jalan di depan, tanpa memperdulikan Sarah yang terus bercerita sendiri. Pemuda berwajah dingin itu sesekali menjawab singkat jika Sarah meminta pendapatnya.
Tak terasa mobil sudah memasuki halaman mension. Padahal Zio masih menimbang nimbang rencana untuk mengajak Sarah menikah.
"Ya," Sarah menyahut di sertai seutas senyum yang selalu menghiasi wajah nya.
"Heeem....... Ka-kamu....... "
Tanpa Sadar mulut Sarah sampai menganga menunggu kalimat lanjutan yang akan diucapkan Zio.
Dreeeet..... Dreeeeet....... Dreeeeeet
Ponsel Zio tiba-tiba bergetar.
"Sudah lupakan lah," ucap Zio dingin lalu meraih ponsel dalam saku celananya.
Tentu itu membuat Sarah merasa kesal sendiri, hingga gadis itu menggigit tas jinjing nya.
"Arrgh,"
.
.
"Bunda....." Sarah berlari kecil mendekati Salsa yang memang menunggunya di depan pintu utama.
"Wah...anak Bunda cantik sekali," puji Salsa, mematut sarah dari ujung kaki hingga kepala.
"Bunda bisa aja," Sarah tersipu, wajah nya pun ikut merona.
"Hai Sarah," sapa Zia mendekati mereka.
"Kak Zia," Sarah memeluk Zia di sertai cupika cipiki.
__ADS_1
"Abang Zio mana?" tanya Zia.
"Tuh, lagi menerima telepon," Sarah menoleh melihat Zio.
"Menelpon siapa?" tanya Zia lagi.
Gadis ceria itu memang selalu ingin tau kalau menyangkut masalah saudara kembar nya.
"Nggak tau," jawab Sarah.
"Ya sudah, ayo kita masuk," Salsa membawa masuk kedua gadis itu.
Sedangkan Zio masih berada di luar menerima telepon dari seseorang.
.
.
.
Malam pun datang.
Di meja makan itu semua sudah berkumpul, kecuali Zio. Memang mereka sudah biasa, jika akan makan malam, pasti akan memanggil pemuda itu di kamarnya.
"Biar Zia aja Bun," Zia menawarkan diri untuk menjemput saudara nya ke kamar. Dengan cepat ia bangkit dari duduk nya pergi ke lantai 2.
Ceklek
Setelah mengetuk, Zia lansung membuka pintu kamar itu.
Didalam kamar Zia melihat Abang nya yang masih duduk di depan komputer.
"Adek, sudah berapa kali Abang bilang, kalau mau masuk kamar itu ketuk dulu pintu nya," ucap Zio.
"Dari tadi sudah Adek ketuk kok, Abang saja yang nggak dengar," sungut Zia.
Zia terus melangkah mendekati Zio.
"Abang," panggil Zia yang sudah berdiri di samping Zio.
"Apa,"
"Adek boleh nanya nggak?"
"Tanya apa?"
"Sebenarnya Abang cinta nggak sih sama Sarah?" tanya Zia.
"Heis.. Anak kecil nggak usah banyak nanya," Zio mengusap wajah Zia dengan tapak tangan nya.
"Iiiiiih...... Anak kecil, anak kecil. Abang tu yang anak kecil, kata Bunda jarak lahir kita itu hanya sepuluh menit saja. Dasar sok tua," gerutu Zia.
"Tetap saja Adek itu masih kecil," Zio mematikan perangkat komputer nya, lalu berdiri.
"Iya Pak tua. Pak tua di panggil Bunda tuh di bawah, di suruh makan malam," sungut Zia membuat Zio tersenyum lebar.
"Ya sudah, ayo turun," ucap Zio melangkah pergi.
Zia yang mangikutinya di belakang, tersenyum lebar ketika melihat punggung Zio.
Dengan cepat ia berlari mendekati saudara kembar nya itu dan???
seketika ia sudah bergayut di punggung Zio.
"Adek, lepas. berat nih,"
"Biarin, kan tadi Abang sendiri yang bilang Adek ini anak kecil,"
__ADS_1
"Apa salah nya Adek minta di gendong, kan Adek masih kecil," ucap Zia penuh kemenangan.
"Jalan," perintah Zia menepuk bahu Zio.