
Zio yang telah selesai menerima telepon Carla, segera masuk kedalam kamar. Dilihat nya Sarah yang sedang duduk bersandar selonjoran diatas ranjang sembari memijat dahinya. Zio mengernyit melihat istri yang biasa nya selalu ceria, kini malah meringis sambil memijat dahi sendiri. Lalu Zio juga melakukan hal yang sama, duduk bersandar selonjoran di atas ranjang sembari memainkan ponsel.
Hening! Keadaan di dalam kamar itu hening beberapa saat. Sarah masih memijat dahi sedangkan Zio yang duduk di sebelah nya terkadang menggerakan bola mata melihat apa yang di lakukan Sarah.
"Ekhem, ekhem," Zio berdehem seperti orang yang sedang kehausan.
"Sarah, saya haus," ucapnya sekedar ingin mengajak Sarah bicara.
Sarah menoleh pada Zio yang berada di sampingnya, lalu bangkit dari ranjang, berjalan sambil memijat dahi.
Semua itu tak lepas dari perhatian Zio, dia pun turun kebawah mengikuti Sarah yang akan mengambil air minum untuknya.
"Abang!" Sarah bergelinjak kaget, hampir saja gelas yang di pegang nya jatuh, saat berbalik badan, Zio sudah berdiri di hadapannya.
"Kenapa Abang ada disini?" Sarah mendengus kesal. "Kalau Abang juga mau turun ngapain menyuruh Sarah mengambil minum," lanjutnya.
"Kapan Saya suruh kamu mengambil minum?" Zio malah bertanya.
Sarah diam, mengingat kembali perkataan yang diucapkan Zio tadi. Zio memang hanya mengatakan dirinya haus, tapi Sarah sebagai istri yang mengerti akan keinginan suami, tentu ia berinisiatif mengambil minum untuk suaminya.
"Kamu kenapa, sakit?" tanya Zio kemudian. Pertanyaan itu sejak tadi ingin di tanyakannya.
Sarah mengangguk kecil disertai bibirnya yang mengerucut.
"Sakit apa? Biar saya belikan obat, dari pada nanti kamu mengadu yang bukan-bukan pada Bunda," alih Zio beralasan.
"Nggak ada orang yang menjual obatnya,"
Jawaban Sarah membuat Zio mengernyit.
Kemudian, Sarah meletakkan gelas yang berisi air minum diatas meja. Lalu mengambil ludo yang tadi sengaja di belinya.
"Abang, kita main ludo yuk," ajaknya sembari berjalan ke meja kecil yang ada di depan TV.
"Cih, permainan apa itu?" Zio berdecih, namun tetap mengikuti Sarah yang sudah duduk bersimpuh di depan meja kecil. Zio pun duduk bersila di depan Sarah yang sudah membentangkan kertas ludo di atas meja.
"Abang mau yang warna merah, kuning, hijau atau yang biru?"
"Terserah, yang jelas apa pun warnanya saya pasti menang,"
"Sombong nya!" Sarah menggeleng melihat wajah angkuh suaminya.
__ADS_1
"Saya bukan sombong, tapi nyatanya saya memang tidak pernah kalah,"
"Hmm, baiklah, kita buktikan! Abang ambil yang merah saja," Sarah menyusun pion diatas kertas ludo.
"Karna Abang yang pegang merah, berarti Abang yang duluan main. Aturannya, kita harus mendapatkan angka enam dulu baru boleh keluar. Ok," ujar Sarah memberikan anak dadu untuk Zio kocok duluan.
"Hmm," Zio mulai mengocok anak dadu dan menuangkannya diatas meja.
Lima menit permainan, Zio belum juga mendapatkan angka enam. Sedangkan Sarah sudah berulang kali mendapatkannya. Bahkan satu pionnya sudah ada yang sampai di titik finis.
Melihat itu membuat Zio semakin merengut. Apalagi melihat Sarah yang kadang tertawa seperti sedang meledeknya.
Sifat Zio yang tidak pernah ingin dikalahkan, tentu tidak menerima semua itu.
"Sarah, itu dibelakangmu ada apa?"
Sarah pun menoleh kebelakang.
Dengan cepat Zio membalikkan anak dadu yang sudah di lempar nya menjadi angka enam dan meletakkan tiga pionnya ke titik finis.
"Ada apa sih Bang? Sarah nggak melihat apa-apa," ucapnya setelah melihat kebelakang.
"Ada cicak tadi," jawab Zio enteng sembari mengeluarkan satu pionnya karna sudah membalikkan anak dadunya menjadi angka enam.
"Abang! Itu, kenapa punya Abang sudah ada di dalam? Kan dari tadi Abang belum pernah mendapatkan angka enam?" protes Sarah.
"Kamu buta, itu sejak tadi memang sudah ada di sana!" sentak Zio tidak terima protes istrinya.
"Nggak! Punya Abang tadi semuanya masih disini! Abang jangan curang lah!" Sarah merengek sembari meletakkan kembali pion Zio ke tempat semula.
"Heis! Apa-apaan kamu? Itu memang sudah ada disana dari tadi. Kamu lihat ini, saya sudah mendapatkan angka enam," Zio yang tidak terima, meletakkan kembali pionnya kedalam titik finis.
"Kamu kalau takut kalah, tidak usah mengajak main!" Zio mendengus.
"Hah!" Sarah membuang nafas besar.
"Udah lah nggak usah main lagi! Sarah mau tidur saja, Abang curang!" Sarah lalu berdiri, menghentakkan kakinya menuju kamar.
"Kamu mengaku kalah kan?" teriak Zio tertawa penuh kemenangan.
Di dalam kamar. Sarah yang masih kesal dengan kecurangan yang dilakukan Zio dalam permainan ludo tadi, mengganti pakaiannya dengan lingerie yang pernah diberikan Maria.
__ADS_1
Sarah berdiri di depan cermin, memperhatikan bentuk tubuhnya yang sudah menggunakan lingerie.
Ceklek
Pintu kamar dibuka Zio dari luar.
* * *
Di tempat lain, Carla yang di temani Muklis berada di pusat perbelanjaan barang-barang brended. Dua hari ini dirinya begitu menikmati belanja barang-barang serta pakaian mahal, tentu nya dengan kartu sakti yang diberikan Zio padanya, membuat Carla tidak perlu berfikir untuk membeli sesuatu. Penampilan Carla saat ini juga lebih modis dari biasanya.
Setelah mendapatkan sebuah tas unlimited edition Sarah melanjutkan belanja barang-barang lain. Puas belanja, Sarah keluar dari gedung itu, semua barang yang di belinya ia suruh Muklis yang membawa. Carla berjalan melenggang menuju parkiran.
Dari remang-remangnya cahaya lampu di luar bangunan, Mata Carla terfokus melihat seorang wanita berpakaian lusuh melintas di depannya.
"Ibu," gumamnya memperhatikan wanita itu.
"Ibu.. Tunggu!" panggilnya seraya berlari mengejar wanita itu.
Wanita itu menghentikan langkahnya, memperhatikan Carla yang kini sudah berada di depannya.
"Carla, benarkah ini kamu, Nak?" gumam wanita itu tak percaya melihat keberadaan putrinya.
"Ibu," Carla berjalan mendekati wanita itu.
Ya, wanita itu adalah Maya, yang bertahun-tahun mendekam di jeruji besi atas tuduhan pembunuhan yang dilakukan Zio.
Carla dan Maya saling berpelukan melepaskan rasa rindu.
"Ibu sangat merindukan kamu, Nak. Maafkan kesalahan yang pernah Ibu lakukan dulu," ucap Maya lirih.
Carla hanya menangis sesegukan di dalam pelukan wanita itu. Dirinya memang merindukan sosok wanita yang telah melahirkannya.
"Kamu sekarang tumbuh menjadi wanita cantik, Nak," Maya memegang bahu Carla, mengagumi penampilan putrinya saat ini.
Carla sedikit tersenyum mendengar pujian Ibunya itu.
"Ibu mau kemana?" tanya Carla.
Maya terdiam, semenjak keluar dari penjara dirinya memang tidak lagi mempunyai tempat tinggal. Dari bandung ke Jakarta hanya berjalan kaki saja. Makan dari meminta-minta pada orang.
"Ibu mau kan tinggal sama Carla?"
__ADS_1
Maya mengangguk pelan.