Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
Mencurigai Raka


__ADS_3

"Abang, kucing itu pasti hadiah untuk Adek kan,"


Carla lalu mendekati mobil dan lansung membuka pintu nya.


Rain melihat Carla berbalik arah ke mobil nya. Sungguh, bukan kucing itu lah yang ingin ia berikan sebagai hadiah untuk Carla.


"Wah, Kucing nya cantik sekali, terimakasih ya bang. Adek suka banget," Carla menenteng keranjang kucing itu dengan riang nya.


"Tapi Dek, itu kucing orang, nanti Abang beliin buat Adek ya," ucap Zio.


"Nggak mau, Adek mau nya yang ini. Lagian buat siapa sih Abang beliin kucing kalau bukan buat Adek." Carla merajuk, bibirnya mengerucut kedepan.


Zio yang melihat nya merasa tidak enak hati. "Ya, sudah ayo kita masuk,"


Di dalam rumah, Zio mendekati Zakir yang duduk di depan TV diatas kursi roda nya.


"Bagaimana keadaan Om?" tanya Zio sambil memijat pelan pundak lelaki paruh baya itu.


Zakir memegang satu tangan Zio yang ada di pundak nya, lalu mengambil buku dan pena yang tersedia disana.


[Sangat lebih baik, terimakasih ya Nak, jika tidak ada kamu mungkin saya akan terus di kurung di tempat tertutup itu] tulis Zakir.


"Tidak usah di pikirkan Om." balas Zio.


"Abang...... Makanan nya sudah siap, Abang makan dulu ya," Carla mendekati mereka.


"Abang sudah makan Dek, sekarang masih kenyang," tolak Zio sambil memegang perutnya.


Mendengar jawaban Zio, Carla merajuk. Ia menghentak kan kaki nya ke kamar.


[Makan lah dulu Rain, walaupun sedikit, kasihan dia dari semalam menanyakan mu terus. Tadi saat mendengar kamu mau datang, dia begitu semangat sekali memasak] Zakir memperlihatkan tulisan nya pada Zio.


Zio mengangguk lalu mendekati pintu kamar Carla dan mengetuk nya.


"Adek, ayo kita makan," panggil Zio dari depan pintu kamar.


"Nggak mau, Abang pulang saja, bawa sekalian itu kucing nya," teriak Carla dari balik kamar.


"Adek, keluarlah dulu," ucap Zio sambil terus mengetuk pintu itu.


Setelah berapa lama akhirnya Carla membuka juga pintu kamar itu. Ia keluar dengan wajah di tekuk membuat Zio merasa gemas sendiri.


"Sejak kapan Adek suka merajuk begini ha," Zio mencubit kedua pipi Carla saking gemes nya.


"Iiih, Abang. Sakit," protes Carla mengusap pipi nya.


"Ayo kita makan," ajak Zio lalu beranjak ke meja makan.


Selesai makan, Zio menyuruh Carla membeli sesuatu ke swalayan, yang tidak jauh dari rumah, karna ada suatu hal yang ingin ia tanyakan pada Zakir tanpa ingin di dengar Carla.


"Om, apa om tau sesuatu tentang masa lalu  ku? Maksud aku waktu Ibu dan Ayah angkat ku dulu, mereka menemukan ku atau mengadopsi aku?" tanya Zio.


[Saya tidak tau Rain, saat itu saya masih berada di kota ini. Saya menetap di kota B setelah kamu berumur satu tahun. Tapi, memang benar ketika saya masih berada di kota ini, berita kehilangan seorang bayi keluarga konglomerat begitu heboh di beritakan kala itu] tulis Zakir.


[ Dan apakah keluarga konglomerat itu keluargamu?]


"Mungkin Om." jawab Zio.

__ADS_1


"Dan, maaf sebelum nya Om, Niken istri Om lah otak penculikan ku waktu itu. Aku tidak tau apa motif nya melakukan hal itu. Dan, aku juga tidak tau kenapa Om bisa menikahi nya."


Zakir tersentak mata nya membola sempurna, mengetahui kebenaran itu, kemudian ia tertawa sendiri.


[Kamu tau Rain, Bagas pun bukan lah anak saya] setelah menulis itu Zakir kembali tertawa, menertawai kebodohan nya.


[Dia menunjukkan bukti hasil tes DNA nya,  sewaktu saya hanya terbaring di ranjang] tawa Zakir kini berubah menjadi tangisan.


[Dulu saya menikahi nya karna kasihan, serta mungkin dengan ada nya dia bisa membantu saya menjaga Carla, tapi setelah dia melahirkan sifat nya berubah. Terakhir kali saya mendapati dia tidur di kamar saya dengan Rusdi, dan sejak itu lah saya seperti ini] tulis Zakir lagi.


"Aku akan menemu kan mereka Om," ucap Zio sambil mengusap bahu Zakir.


[Saya percaya itu] tulis Zakir.


Sebelum Carla kembali, Zio pamit pada Zakir.


[Kenapa kamu tidak menunggu Carla pulang?] tulis Zakir.


"Tidak Om, pasti nya dia tidak akan membiarkan ku pergi," ucap Zio seraya berdiri dari duduk nya.


Melihat Zakir masih menulis, Zio berdiri disamping nya menunggu.


[Sebaik nya kamu katakan yang sebenarnya pada dia] tulis Zakir.


"Aku tidak ingin membuat nya bersedih Om," ucap Zio.


[Itu semua tersera mu] tulis Zakir, Zio tersenyum getir lalu melangkah pergi.


Saat dijalan yang sepi, tiba tiba sebuah tembakan terdengar cukup nyaring di telinga Zio.


Door.


Bersamaaan dengan itu Deri menginjak rem mendadak membuat mobil berputar.


Ciiiit


"Sial, siapa lagi yang ingin bermain main dengan ku," umpat Zio kesal.


"Tu-tuan bagaimana ini?" Deri ketakutan.


Mata Zio mengedar liar, melihat kiri dan kanan, dari kaca spion ia juga bisa melihat kebelakang. Tangan nya mengambil ponsel dalam saku, lalu menelpon Muklis memberi sinyal.


"Menunduk!!!" teriak Zio.


Bersamaan dengan itu sebuah tembakan melesat tepat mengenai kaca mobil.


Door


Prang


"Aku melihat nya,"


Zio mengambil pistol yang ia sembunyikan di bawah kursi, sedangkan ponsel kembali ia masukkan kedalam saku.


Zio membidik kan senjatanya ke arah seseorang yang menembak nya tadi dari balik pohon.


Door

__ADS_1


Door


Peluru itu nyaris mengenai musuhnya.


"Kau tunggulah di sini," ucap Zio lalu keluar dari mobil, mengejar musuh nya yang sudah kabur.


Zio berlari mengejar musuh nya itu, yang seperti sedang menelpon seseorang.


"Mau kemana kau,' Zio membidik kan senjatanya.


Door


Peluru itu tepat mengenai punggung musuh nya, hingga orang itu jatuh tersungkur.


Dengan cepat Zio menghampiri nya.


Sampai di sana Zio menginjak kepala nya.


"Siapa yang menyuruh kau?!" tanya Zio yang semakin menekan kuat kaki nya di kepala orang itu.


"Aww, lepas kan aku," rintih orang itu memberontak.


"Katakan!!! Siapa yang menyuruh kau," Zio semakin kuat menginjak kepala orang itu.


"Ampun, aku tidak bisa mengatakan nya, karna dia akan membunuh keluargaku," lirih orang itu.


Zio melepaskan kaki nya, berjongkok tepat di depan orang itu.


"Sekali lagi ku tanyakan!!! Siapa orang yang menyuruh kau?!" Zio menarik rambut orang itu, mengarahkan moncong senjata nya  kemulutnya.


Orang itu menggeleng hebat, meminta Zio agar tidak membunuh nya.


"Aku tidak bisa mengatakan nya,"


Door


Door


Dua puluru menembus ke kepala orang itu. Zio lalu menggeledah tubuh nya.


Muklis dan beberapa orang anak buah nya yang baru tiba di sana berlari ke arah suara tembakan.


"Maaf Rain, kami telat datang," ucap muklis yang sudah berada di belakang Zio.


"Muklis lihat tato ini." Zio menunjukkan tato yang ada di pangkal lengan orang yang di tembak nya tadi.


Muklis mendekati Zio


"Iya Rain, tato ini sama dengan tato yang saya lihat kemarin. Tapi, ini tato seperti baru di buat Rain" ucap Muklis.


"Apa kau sudah menyelidiki nya?" tanya Zio.


"Sudah Rain, tapi saya tidak yakin mereka yang melakukan nya, karna selama ini kita tidak ada punya masalah dengan mereka," jawab Muklis.


"Tuan kami menemukan ini," seorang anak buah nya menemukan ponsel yang masih menyala tidak jauh dari mayat orang itu.


Zio lansung mengambil ponsel itu, melihat kontak nama terakhir yang di telepon orang tadi.

__ADS_1


Ini kan nomor Om Raka. 


__ADS_2