
Tiba di kantor, Zio lansung melangkah menuju ruang kerjanya. "Selamat pagi tuan!" sapa ramah para staf yang bekerja di kantor saat berpapasan dengan penerus utama Ziro Company.
Seperti biasa, Zio yang memang terkenal angkuh dan dingin tak pernah menjawab sapaan mereka apalagi untuk tersenyum sebagai balasan. Tidak, itu belumlah pernah terjadi.
Setelah seminggu lebih tidak masuk kantor. Timbul semangat baru untuk kembali memulai pekerjaan. Duduk di kursi kebesarannya, Zio lansung mengambil salah satu berkas yang menumpuk di meja kerjanya.
Tiba-tiba saja bayangan ketika Sarah mencium punggung tangannya sebelum turun dari mobil tadi melintas di kepalanya. Apa lagi saat Sarah meminta uang padanya. Begitu manja dan menggemaskan, itulah yang ada dalam benaknya saat ini.
Zio tersenyum sendiri, lalu segera menggelengkan kepala menepiskan pikiran yang menari-nari di otaknya. "Kenapa aku malah malah memikirkan dia?" gumamnya ambil tersenyum kecil.
Cek lek
Pintu ruangannya terbuka.
"Welcome back boy!" seru Zidan seraya merentangkan kedua tangannya. Rasa rindu membuat suami Salsabila itu mendatangi ruang kerja putranya.
Zio berdiri, menyambut pelukan hangat dari Daddynya. Setelahnya, ia kembali duduk di kursi kebesarannya, membaca kembali berkas yang tadi diambilnya diatas tumpukan berkas lainnya.
Zidan tersenyum melihat semangat kerja putranya, semangat yang sama ketika dirinya masih muda dulu. "Abang, di ruang kerja Daddy ada bekal yang di titipkan Bunda untuk Abang tadi. Nanti Abang ambil lah,"
"Abang tadi sudah sarapan di rumah, Dad. Sarah yang membuatnya. Jadi tolong katakan sama Bunda tidak perlu repot lagi untuk menyiapkan bekal untuk Abang," Zio bicara tanpa melihat Zidan yang masih berdiri memperhatikannya.
"Wah! Beruntung sekali Abang, ya. Sudah dapat istri cantik, bisa juga mengurus keperluan Abang,"
"Pantas saja pagi-pagi sudah semangat kerja," ledek Zidan.
Zio seketika menoleh, melihat senyum Zidan yang seperti sedang meledeknya. "Dad, Abang mau bekerja! Daddy keluarlah,"
Zidan yang tadinya hanya senyum saja, kini tertawa melihat wajah merona putranya.
"Come on boy, Daddy kangen. Bisa kita mengobrol-ngobrol sebentar,"
"Tapi Dad, ini hari pertama Abang bekerja. Daddy lihat kan pekerjaan Abang banyak," Zio menunjuk berkas-berkas diatas meja kerjanya.
"Ok fine, Daddy tidak akan mengganggu Abang," Zidan berbalik badan hendak keluar. Diambang pintu ia menghentikan langkah, melihat Zio yang kembali fokus bekerja.
"Abang, Ong kenapa tidak pernah masuk kerja lagi? Apa dia masih sakit?" tanya Zidan.
Itu lah yang di takutkan Zio, jika Zidan mengetahui apa yang telah di lakukannya, apalagi sampai di telinga bundanya. Tapi, mendengar pertanyaan Daddynya, itu berarti mertuanya sampai sekarang belum menceritakan apa pun pada Daddynya. Paling tidak untuk saat ini Zio bisa bernafas lega.
"Hmm, dia sudah pindah ke perusahaan lain, Dad," jawab Zio kemudian.
Zidan mengernyit. "Why?"
"Hhmm, katanya mau mencari pengalaman baru,"
"Oo, kalian tidak ada masalahkan?"
"Tidak, kami baik-baik saja, Dad,"
"Baguslah. Terus sekarang, apa Abang ingin mencari asisten baru? Atau Abang ingin Daddy yang mencarikan?"
"Terserah Daddy,"
"Oke, Daddy akan mencarikan asisten pribadi yang baru untuk Abang," ujar Zidan sebelum berlalu pergi.
Baru saja Zidan keluar dari ruang kerjanya. Kini, ponselnya yang berdering. Di lihatnya nomor Carla yang memanggil. Panggilan pertama ia abaikan begitu saja, ponsel pun di silentnya dan di jauhkan dari hadapannya.
Satu jam lamanya Zio hanya sibuk memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya. Setelahnya barulah ia meraih gawai yang tadi ia singkirkan.
Di lihatnya dua belas kali panggilan tak terjawab dari Carla serta beberapa pesan yang masuk.
__ADS_1
Kemudian, Zio menghubungi adik angkatnya itu.
"Abang, kita makan siang yuk?" ajak Carla dengan manjanya.
"Adek, Abang nggak bisa. Abang sangat sibuk hari ini, Adek makan siang sama Ibu saja ya, atau pergilah sama Muklis,"
"Nggak! Adek gak mau! Adek maunya sama Abang!"
"Adek, tolong mengerti! Abang benar-benar lagi sibuk! Apa salahnya Adek makan siang dengan Ibu? Gak ada salahnya, kan? Hanya makan saja pun,"
"Adek benci Abang! Adek mau pulang ke Bandung saja!" Sambungan telepon pun terputus.
Zio menyugar rambutnya, sambil memijat kepala yang sedikit pening, memikirkan pekerjaan kantor di tambah dengan Carla yang merajuk.
Zio kembali melanjutkan pekerjaannya, setelah menyeruput kopi yang diantarkan sekretarisnya.
Beberapa menit berselang ponselnya kembali berdering, masih nama Carla yang tertera di layar gawainya.
"Adek, Abang sibuk! Tolong mengerti!" Suara Zio terdengar tegas.
"Iya, Adek tau Abang sibuk. Abang jangan lupa makan siang, ya? Adek hanya ingin mengingatkan itu saja. Adek gak mau Abang sakit nanti,"
Zio mengernyit. Heran saja, baru tadi Adiknya itu merajuk, kenapa sekarang malah seperti mengerti akan kesibukannya.
"Sudah ya, Abang lanjut kerja," ucap Zio kemudian.
"Iya Abang,"
* * *
Pukul 2 siang, Sarah telah tiba di rumah, diantar tukang ojek yang sering mangkal di sekolahnya. Tadinya ia ingin sekali datang ke kantor suaminya, tapi ia urungkan, karna ingin menyiapkan makan malam.
Setelah mengganti pakaian, Sarah lansung menuju dapur, di bukanya lemari pendingin melihat bahan-bahan apa saja sebelum menentukan menu apa yang akan di masaknya.
Dua jam lamanya Sarah berkutat di dapur, memasak makan malam, sambil bersenandung kecil menyanyikan lagu, sampai menutup mata yang di nyanyikan Acha Septriasa. Lagu yang juga sering ia nyanyikan kala hatinya merindukan Zio, sebelum menikah.
Setelah masakannya matang, Sarah mengambil ponsel, mencoba menghubungi suaminya. Tapi sayangnya nomornya masih saja di blokir.
Berpikir sejenak, akhirnya Sarah mendapatkan ide agar suaminya itu mau menghubungi dan membuka blokiran nomor ponselnya. Segera di carinya nomor ponsel mertuanya dan lansung menekan tombol panggil.
Tidak menunggu lama suara mertuanya terdengar di ponsel yang telah ia dekatkan ke telinga.
"Halo sayang?" suara ramah Salsa terdengar menyapa.
"Halo juga Bunda, Bunda lagi apa?" balasnya berbasa-basi.
"Bunda lagi di butik. Gimana? Sarah betah gak tinggal di rumah baru? Kalau gak betah tinggal lagi saja di rumah Bunda,"
"Eh, Sarah betah kok Bunda. Betah banget malahan,"
"Bunda kira, Sarah gak betah," Memang Salsa berharap menantunya itu tidak betah, dan memilih tinggal bersamanya.
"Bunda, Sarah bisa minta tolong nggak?"
"Katakan, dengan senang hati Bunda akan membantu,"
"Hmmm," Sarah ragu-ragu untuk bicara, takutnya mertuanya itu berpikir hal macam-macam dan memarahi suaminya. Tentu hal itu akan berimbas juga dengan sikap Zio pada dirinya nanti.
"Bunda, tolong telpon Bang Zio," ucapnya kemudian.
"Loh, kenapa? Kalian bertengkar?" Salsa mulai meintrogasi.
__ADS_1
"Eh, bukan begitu Bunda. Ini, tadi itu kan Sarah habis install ponsel, jadinya semua data dan nomor kontak di ponsel Sarah hilang semua. Untungnya Sarah masih hapal nomor ponsel Bunda," ujarnya beralasan.
"Nomor Bunda hapal, nomor suami sendiri masa gak ingat?" tanya Salsa masih curiga.
"Bunda, Sarah gak bohong, buat apa juga Sarah bohongin Bunda," ucapnya meyakinkan.
"Zio gak ada menyakiti Sarah, kan?"
"Eh, gaklah Bunda. Kalau Bang Zio menyakiti Sarah pasti akan Sarah bilang ke Bunda," Sarah masih berusaha meyakinkan mertuanya yang masih merasa curiga.
"Baiklah, Bunda akan telepon Zio sekarang,"
Sambungan telepon pun berakhir.
Beberapa menit kemudian, ponsel Sarah berdering. Melihat nama My Husband di layar ponselnya, senyumnya seketika mengembang.
"Halo, Abang sayang," sapanya manja.
"Sarah! Untuk apa kamu menyuruh Bunda menghubungimu!"
Sarah menjauhkan ponsel dari telinganya, mendengar bentakan Zio yang memekakkan telinga.
"Salah Abang sendiri, ngapain blokir nomor Sarah? Kan, Sarah jadi susah menghubungi Abang," sahutnya santai.
"Itu karna kamu tidak penting!"
Sarah menghela nafas. "Sarah memang gak penting bagi Abang. Tapi, Abang itu penting buat Sarah," jawabnya.
"Sarah! Saya sibuk! Katakan kamu mau apa?"
"Sarah hanya mau mengatakan. Jam lima nanti, Abang harus sampai di rumah, jangan sampai telat, karna Sarah sudah menyiapkan makan malam yang lezat untuk Abang,"
Tuuuth
Sambungan telepon terputus begitu saja.
* * *
Sebelum jam lima sore, Sarah sudah menunggu Zio duduk di teras rumahnya. Tidak lama mobil yang sejak tadi ia tunggu pun membunyikan klakson di luar pagar. Sarah segera berjalan membukakan pagar rumahnya.
Setelah kembali menutup pagar, Sarah berdiri di samping pintu kemudi, menunggu suaminya turun dari mobil.
"Sarah senang Abang gak telat," Senyum termanis ia sunggingkan ketika Zio baru saja turun dari mobil.
Zio mengalihkan pandangannya cepat. "Nggak usah cerewet!" dengusnya sembari berjalan masuk kedalam rumah.
Baru saja Zio menghempaskan bokongnya disofa. Sarah yang mengikutinya duduk di lantai membukakan sepatu dan kaos kakinya.
"Eh, apa-apaan kamu?" dengusnya.
"Membukakan sepatu Abanglah. Gak mungkin Sarah akan menggigit kaki Abang ini,"
"Sarah, jangan bercanda! Saya bisa melakukannya sendiri!"
"Sarah tau Abang bisa melakukannya. Tapi mulai sekarang ini adalah tugas Sarah," ujarnya tanpa memperdulikan wajah Zio yang kesal.
Setelah membuka dan meletakan sepatu suaminya, Sarah juga meminta Zio membuka Jas kerjanya.
Kali ini tak ada ucapan protes dari Zio, meski dirinya masih merasa heran dengan apa yang di lakukan istrinya, ia tetap membuka jas kerjanya, memberikan pada Sarah.
"Abang, Sarah tunggu di kamar ya, kita mandi sama-sama," Setelahnya Sarah pergi begitu saja.
__ADS_1
Zio menyugar kasar rambutnya, sambil melihat sesuatu di bawah pusarnya yang sudah berdiri tegak semenjak Sarah membuka sepatunya.
"Bisa mati aku kalau dia terus-terusan menggodaku seperti ini,"