Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
Apa kama menyukainya?


__ADS_3

Tiba di rumah sakit, Carla dan Zakir lansung di tangani dokter di ruang UGD. Sedangkan Zio berada di luar menerima telepon Salsa.


"Iya Bun, besok Abang usahakan pulang," ucap Zio dari sambungan telepon.


"Ya sudah, Abang jaga kesehatan. Ingat 2 hari lagi pertunangan Abang dengan Sarah," ucap Salsa.


Zio tidak meng iyakan, ia mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan Zidan. Kebetulan ia juga ingin menanyakan wanita aneh yang di temui nya di rumah Zakir. "Bun, Daddy mana?"


"Ada nih. Kenapa? Apa Abang ada masalah di sana?"


"Engga Bun, nggak ada masalah apa-apa. Abang hanya mau bicara dengan Daddy saja sebentar," jawab Zio.


"Baiklah," Salsa lalu memberikan ponsel nya pada Zidan.


"Hallo Boy," sapa Zidan terdengar begitu bersemangat.


"Ya Dad, apa Daddy sedang sibuk?" sahut Zio berbasa-basi.


"Tidak sama sekali. Ada apa Nak" tanya Zidan.


"Ada sesuatu yang ingin Abang tanyakan pada Daddy." jawab Zio.


"Ya, tanyakan saja,"


"Apa Bunda mendengar pembicaraan kita ini?" tanya Zio.


"O.. Baik lah, kalau begitu Daddy menjauh dulu,"


Beberapa saat mereka diam.


"Sekarang katakan lah. Apa yang ingin Abang tanyakan?"


"Begini Dad, tadi Abang bertemu dengan seorang wanita. Tapi aneh nya wanita itu ketakutan saat melihat Abang. Sepertinya dia mengira Abang ini Daddy. Bahkan dia menyebut nama Daddy dengan panggilan yang sama seperti Oma memanggil Daddy." tutur Zio.


"Siapa nama nya?" tanya Zidan setelah berpikir sejenak.


"Niken. Apa Daddy kenal?"


Zidan terdiam beberapa saat.


"Hallo Dad. Dad. Apa Daddy masih di sana?" tanya Zio karna cukup lama Zidan tidak bersuara.


"Nak, dengar Daddy baik-baik. Sekarang bersembunyi lah. Tunggu Daddy akan kesana sekarang juga," jawab Zidan yang terdengar begitu mencemas kan putra nya.


"Tidak perlu Dadd. Abang bisa jaga diri sendiri. Abang hanya ingin tau siapa wanita yang bernama Niken itu? Pasti Daddy kenal dengan wanita itu kan? " tanya Zio lagi.


"Iya Nak, dia adalah wanita licik. Dia lah yang menyuruh orang untuk menculik mu dulu. Daddy tidak ingin semua itu terulang lagi. Tunggu Daddy akan kesana sekarang juga dengan helikopter,"


"Daddy nggak perlu datang kesini, Abang bisa jaga diri sendiri kok. Besok Abang juga sudah pulang. Ya sudah ya Dad Abang mau istrahat dulu," ucap Zio lalu memutuskan sambungan telepon nya.


Setelah mengetahui siapa Niken sebenarnya. Zio mendatangi kembali rumah Zakir. Tapi sayang nya rumah itu sudah kosong. Bahkan Bagas pun sudah tidak ada di sana.


Zio mencari foto Niken di dalam rumah itu. Dan tidak sulit baginya karna di dalam kamar yang pintu nya sudah terbuka lebar, Ia mendapatkan foto Niken yang terpajang di bingkai foto. Kemudian Zio kembali lagi ke rumah sakit.


.

__ADS_1


.


Abang dari mana?" tanya Carla yang sudah tersadar dari pingsan nya.


"Hanya di luar saja," jawab Zio seraya melangkah mendekati Carla.


"Abang, adek takut. Tadi ada orang jahat yang bawa Adek," Carla ketakutan sambil memeluk Zio yang berdiri di samping brankar.


"Nggak usah takut, kan disini ada Abang," Zio mengusup punggung Carla berusaha membuat gadis itu tenang.


"Sekarang Adek tidur ya,"


"Tapi Abang nggak pergi kan, Adek takut," lirih Carla yang masih memeluk Zio.


"Nggak Abang nggak akan pergi."


"Janji," Carla mengacungkan jari kelingking nya.


"Iya," Zio menautkan jari kelingking nya ke jari kelingking Carla.


Kemudian Carla berbaring di brankar sambil kedua tangan nya mengenggam tangan Zio.


.


.


***


Setelah Carla tidur Zio menyuruh Ong, untuk memanggil dokter yang memeriksa Zakir tadi.


Tidak lama dokter pun masuk ke dalam ruangan itu.


"Pasien mengalami kurang gizi, dan sering mengkonsumsi obat-obatan berbahaya. mangka nya tubuh nya lemah. Sedangkan kedua tungkai kaki nya seperti nya mengalami keretakan, mangkanya pasien tidak bisa berjalan. Tapi untuk memastikan nya besok kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut." terang dokter itu.


"Lalu bagaimana dengan suara nya dok?" tanya Zio lagi.


"Untuk pita suaranya perlu dokter ahli yang memeriksa, sedangkan saya disini hanya dokter umum, yang kebetulan berjaga malam. Harap anda bersabar hingga besok," jawab sang dokter.


"Baik lah, terimakasih dok," ucap Zio.


"Kalau begitu saya permisi dulu," ujar dokter itu


.


.


Zakir melambaikan tangan nya memanggil Zio agar mendekat.


Zio menurut, ia berdiri di samping brangkar tempat Zakir berbaring.


Kemudian Zakir memberikan kode menggunakan telunjuk nya menulis di tapak tangan.


"Tunggu sebentar, aku akan menyuruh orang untuk membelinya," ucap Zio lalu pergi keluar, menyuruh Ong untuk membeli buku dan pena.


Beberapa menit kemudian Ong kembali lagi membawa apa yang di minta Tuan nya.

__ADS_1


Lalu Zio mendekati Zakir memberikan buku dan pena itu padanya.


Dengan lincah jemari Zakir menuliskan sesuatu di kertas itu.


[Kamu bocah jagoan itu kan?] tulis Zakir di kertas itu.


Zio mengangguk seraya tersenyum kacut.


Kemudian Zakir menulis lagi.


[Bawalah Carla pergi, karna aku tidak bisa lagi menjaga nya]


"Kenapa begitu?" tanya Zio.


[Istriku bukan lah orang yang baik] tulis Zakir.


"Apa dia juga yang melakukan ini pada Om?" tanya Zio.


[Iya, semua ini terjadi setelah aku memergokinya tidur dengan Rusdi] tulis Zakir.


"Apa yang mereka lakukan pada Om, dan siapa itu Rusdi?" tanya Zio lagi.


[Mereka, mematahkan kaki ku, dan memaksaku menelan cairan hingga suara ku hilang] tulis Zakir.


[Apa kamu pernah bertemu Bagas] tulis Zakir.


"Ya, aku juga bertemu denga istri Om," jawab Zio.


[Kalau begitu besok tinggalkan lah kota ini. Karna orang-orang Rusdi akan mencarimu] tulis Zakir.


"Siapa Rusdi? Kenapa Om begitu takut dengan nya," tanya Zio.


[Rusdi itu seorang Bandar Narkoba terbesar di kota ini. Apa kamu masih ingat dengan Toni?] Tulis Zakir.


Zio menggeleng.


[Toni adalah orang yang kamu bunuh waktu itu, dan ia adalah Adik nya Rusdi] tulis Zakir.


"Kalau begitu aku yang akan membantu dia menemui Adiknya di neraka," ucap Zio membuat Zakir tersenyum.


[Apa kamu sudah bertemu dengan keluarga mu?] tulis Zakir.


"Om tau?" tanya Zio dengan kedua alis bertaut.


Zakir mengangguk.


"Lalu. Kenapa Om tidak pernah memberitahukan nya padaku?"


[Memang nya kamu akan percaya. Jika aku mengatakan kamu bukan lah saudara kandung Carla] tulis Zakir saraya tersenyum menggodanya.


"Apa Carla juga sudah tau?" tanya Zio.


[Tidak, dia belum tau. Apa kamu ingin memberi tahu kan nya?] tulis Zakir.


Zio menggeleng lemah. "Biarkan dia tau dengan sendiri nya."

__ADS_1


[Apa kamu menyukainya? aku bersedia menjadi wali nya nanti] tulis Zakir sengaja menggoda Zio.


"Ini Sudah malam, tidur lah," ucap Zio sengaja mengalihkan pembicaraan.


__ADS_2