
"Sarah, nanti kamu bilang ke Bunda ya, kalau kita akan pindah rumah," kata Zio, tanpa melihat Sarah yang duduk di sebelah nya.
Sarah menoleh, melihat suaminya yang fokus mengemudi. Pasalnya Zio tidak lah pernah sebelumnya membicarakan akan pindah rumah. "Maksud Abang?" tanya Sarah heran.
Zio sekilas melirik Sarah, lalu kembali melihat jalan di depannya. Berpikir sejenak, sebelum menjawab tanya gadis yang telah menjadi istrinya. "Saya ingin kita tinggal berdua saja. Bukan kah kita sudah menikah? Harus nya kita mulai belajar mandiri mulai sekarang," ujar Zio menjelaskan.
Sarah mengangguk pelan, membenarkan apa yang di ucapkan suaminya. Ia juga tau sebagai seorang istri harus mengikuti kemana suami nya pergi.
"Dan satu lagi, jangan pernah kamu mengadu apa pun yang terjadi, pada orang lain, terutama sama Bunda!" peringat Zio tegas.
"Kalau Abang nggak nyakitin Sarah, ya Sarah nggak akan ngadu lah. Tapi kalau Abang bikin Sarah sedih, bikin Sarah nangis, Sarah akan bilang sama Bunda," jawab nya dengan manja.
Zio memutar bola matanya, melirik Sarah yang duduk di sebelah nya.
* * *
Tiba di mension, Sarah segera keluar dari mobil, berjalan masuk ke dalam hunian mewah mertuanya.
"Bunda..... " panggilnya sembari berlari kecil masuk ke dalam mension.
Salsa, Maria dan Rita yang sedang berkumpul bersama, bangkit dari duduk ketika mendengar suara Sarah yang baru datang.
"Bunda, Oma, Nenek," sapa nya sembari mencium dan memeluk keluarga suami nya satu persatu.
"Pengantin baru, kelihatan nya ceria banget, nih," goda Salsa.
Meski kenyataan yang di katakan mertuanya berbeda. Namun tetap, Sarah merasa tersipu malu, wajah gadis yang telah menyandang status sebagai istri itu, kini merona.
Zio yang baru masuk juga menyalimi semua anggota keluarga nya yang ada di dalam ruangan.
"Ayo, ayo, duduk dulu!" Salsa mengajak anak dan menantu nya duduk di sofa.
"Bun, Abang ke kamar dulu, mau ganti baju," kata Zio.
"Oo, ya sudah." sahut Salsa lalu membawa Sarah duduk di sofa.
Sedangkan Zio berjalan menuju kamar nya.
"Sarah sudah sarapan, belum?" tanya Rita.
"Sudah, Nek," jawab Sarah.
"Bunda, Om Zidan sama Kak Zia mana?" tanya Sarah karna tidak melihat mereka.
"Loh, kok panggil nya Om? Panggil Daddy dong. Kan Sarah sekarang sudah jadi istri Zio," jawab Salsa seraya tersenyum.
__ADS_1
Sarah tersenyum kikuk. "Iya Bunda, Sarah lupa." ujar nya kemudian.
"Pengantin baru memang sering lupa, ya," Salsa tersenyum menggoda menantunya.
"Barusan Daddy mu sudah berangkat ke kantor, Zia pun sudah berangkat ke kampus." sambung istri Zidan.
"Ooo," Sarah mengangguk.
"Sarah sekarang sudah mulai libur sekolah, kan?" tanya Salsa.
"Sudah Bun,"
"Kebetulan sekali, Bunda sudah menyiapkan hadiah untuk kalian berdua," ucap Salsa.
"Hadiah? Hadiah apa Bun?" Kedua mata Sarah menyipit.
"Hadiah atas pernikahan kalian. Bunda sudah menyiapkan tempat untuk anak dan menantu Bunda yang cantik ini." Salsa mengeluarkan ponsel, jarinya sebentar bermain di sana.
"Ini dia!" Salsa menunjukkan foto pemandangan laut serta penginapan di ponsel nya pada Sarah.
"Apa ini Bun?" tanya Sarah.
"Ini tempat untuk kalian Honeymoon nanti," jawab Salsa sembari memperhatikan wajah Sarah yang merah.
"Oma juga punya hadiah untuk Sarah, sebentar Oma ambil dulu," Wanita yang usianya sudah menginjak 70 tahun itu bangkit dari duduk.
"Ma, biar Salsa saja yang mengambil nya." ucap Salsa menawarkan diri.
"Sayang, jangan perlakukan Mama seperti orang tua yang tidak bisa melakukan apa-apa. Mama ini masih kuat!" ucap Maria sembari melangkah pergi. Wanita sepuh itu sekarang ini memang sudah pensiun dari semua bisnis yang di kelolanya, kini ia meminta menantunya satu-satu nya untuk melanjutkan. Ia pun sudah mengajarkan ilmu bisnis pada istri putra semata wayang nya.
Setelah Maria pergi, terlihat Zio yang sudah rapi dengan stelan jas nya, berjalan mendekati Salsa, Rita dan Sarah yang masih duduk di sofa ruang utama.
"Loh, Abang mau kemana?" tanya Salsa, mewakili pertanyaan yang juga akan di lontarkan Sarah.
"Mau ke kantor, Bun," jawab Zio yang sudah berdiri di hadapan mereka.
"Ke kantor? Abang kan baru nikah malam tadi, masa udah mau ke kantor,"
"Tapi Abang harus ke kantor, Bun! Pekerjaan Abang banyak yang menumpuk,"
"Nggak ada, nggak ada! Pokok nya selama seminggu ini Abang belum boleh ke kantor! Abang tenang saja, Daddy sudah menangani semua pekerjaan Abang,"
"Tapi, Bun." Zio masih berusaha protes.
"Abang, Bunda sudah boking tempat untuk Abang dan Sarah pergi Honeymoon nanti, jadi Abang dan Sarah akan bebas menikmati waktu berdua selama seminggu ini. Nggak usah pikirin kantor dulu," ujar Salsa.
__ADS_1
"Honeymoon?" Zio tersentak mendengar kata itu. Entah apa yang ada dalam pikiran nya tentang kata itu.
"Iya, Honeymoon! Mumpung Sarah lagi libur sekolah. Tapi jangan kebablasan dulu, ya, kan istri Abang masih sekolah,"
"Bunda apaan sih." sungut Zio, melirik Sarah dengan sorot mata tajam.
Dreet.. Dreeet... Dreeet....
Ponsel Zio tiba-tiba berrgetar.
"Bun, Abang angkat telepon dulu ya," ujar Zio setelah melihat nama Muklis yang tertera di layar ponsel nya.
Tidak lama terlihat Maria berjalan membawa dua paper bag.
"Sarah, ini untuk mu," Maria menyerahkan paper bag yang di ambil nya tadi pada Sarah.
"Ini apa, Oma?" tanya Sarah yang sudah mengambil paper bag itu.
"Hmm. Lihat saja sendiri," ujar Maria sembari duduk.
Mata Sarah melebar setelah mengeluarkan isi di dalam paper bag tersebut.
Ketiga wanita yang duduk bersama nya hanya tersenyum saja melihat ekspresi menantu baru mereka.
"Oma, apaan ini. Sarah kan malu," rengek nya seraya memasukkan kembali benda itu kedalam paper bag.
"Loh, kenapa malu? Justru kalau Sarah menggunakan pakaian itu, suami pasti betah di rumah," canda Rita, di susul kekehan kecil Salsa, dan Maria.
Membuat istri Zio itu semakin malu bukan main.
Sebenarnya, Sarah sangsi, Zio akan suka melihat nya menggunakan lingerie yang di berikan Maria. Entah-entah nasib nya akan sama dengan tadi malam. Tidur terpisah.
* * *
Ke empat wanita berbeda generasi itu terus saja mengobrol, bercanda tertawa bersama. Hingga tak terasa sudah 1 jam lebih waktu yang mereka habis kan.
"Lah, Zio tadi kemana ya?" Salsa baru ngeh, putra nya itu belum juga kembali setelah meminta izin untuk mengangkat telepon tadi.
"Mungkin ada di luar, Bunda. Biar sarah lihat dulu," Sarah berdiri, berjalan keluar menyusul suaminya.
Di luar, Sarah tidak menemukan Zio. Mobil yang di gunakan nya pun masih ada terparkir. Kemudian Sarah mendekati Deri--sopir Zio yang duduk santai dengan segelas kopi di atas meja.
"Bang, lihat Bang Zio ngga?" tanya Sarah.
Deri segera bangkit dari duduk nya. Wajah nya terlihat panik melihat Sarah. "Hmmm... Anu Non, tu-tuan muda pergi keluar, menggunakan motor saya," jawab Deri ketakutan.
__ADS_1