
Zio mendekati Raka yang terduduk lemas usai bicara dengan dokter, sementara Santi yang duduk di sebelah Raka masih menangis sesugukan memeluk lengan suaminya. Mereka sama sekali tidak menyangka selama ini Sarah menyumbunyikan penyakitnya dari mereka.
"Pa, bagaimana keadaan Sarah?" tanya Zio takut-takut.
Raka menoleh, kemudian menatap lagi ke depan.
"Sarah-"
"Buat apa lagi kamu menanyakannya? Belum puas kamu selama ini menyiksa perasaannya!" amuk Santi momotong ucapan suaminya. "Apa selama ini kamu tidak pernah menyadari jika Sarah begitu mencintaimu. Tapi apa? Kamu tega meninggalkannya sendirian dirumah. Tidak tahukah kamu jika Sarah itu fobia jika malam sendirian di rumah. Saya tidak menyangka kamu setega itu sama Sarah! Lebih baik kamu pergi dari sini! Jangan pernah lagi temui anak saya!"
"Sudah, Ma," Raka mengusap punggung Santi, mencoba meredakan amarahnya.
Zio hanya menunduk diam. Karna mungkin fobia yang dialami Sarah dia lah penyebabnya, karna waktu kecil dulu dia pernah mengurung Sarah di ruang bioskop yang gelap di lantai 3 rumahnya, hingga Sarah di temukan dalam ke adaan pinsan.
"Zio," Raka memanggilnya tanpa menoleh melihatnya.
Zio menegakkan kepala menatap mertuanya.
"Kata Dokter, Sarah mengalami kanker otak stadium akhir, kanker ini sudah menjalar keseluruh tubuhnya," Dada Raka terasa sesak menyampaikan apa yang di katakan dokter tadi padanya. Tak terasa cairan bening pun keluar di sudut matanya, yang dengan cepat ia menyeka cairan itu.
Zio menggeleng, tidak percaya dengan perkataan yang di sampaikan mertuanya barusan. "Tidak! Dokter pasti salah, Pa! Itu tidak mungkin, Pa!" sanggahnya dengan suara parau.
Lagi-lagi raka menghela nafas dalam-dalam meredakan dadanya yang semakin membuncah. "Sebenarnya Sarah sudah lama merasakan gejalanya, tapi dia sembunyikan dari kita semua,"
Zio seketika terisak disertai tubuh yang bergetar hebat. "Tidak, itu tidak mungkin,"
Salsa yang masih berada di sana menuntun Zio duduk di kursi. "Bunda," Dengan masih terisak Zio memeluk Salsa.
Salsa tidak membalas pelukan putranya itu, ia membiarkan Zio menangis menyesali perbuatannya sendiri. Salsa masih kecewa dengan apa yang di lakukan putranya terhadap Sarah. Apalagi saat ia tau dari Zia jika Zio ada wanita lain.
.
.
.
.
Di tempat lain.
__ADS_1
Carla tampak masih ketakutan, setelah beberapa orang yang tidak ia kenali tadi, lansung menerobos masuk ke dalam rumahnya dan membawa Zio pergi.
"Carla, minum dulu Sayang," Maya menyodorkan segelas air putih pada putrinya, lalu duduk di sebelahnya.
Carla mengambil gelas itu lalu meneguknya hingga tandas.
Maya merangkul dan mengusap bahu Carla, ia tau saat ini putrinya masih ketakutan.
"Bu, yang datang tadi itu siapa? Carla takut jika mereka datang lagi,"
"Ibu juga gak tau, Sayang. Sudahlah jangan terlalu di pikirkan siapa mereka. Labih baik kita pikirkan bagaimana cara agar orang tua Abangmu tau, jika Abangmu sudah tidur denganmu,"
"Tapi Bu, Carla takut, nanti Abang marah,"
"Gak akan, Sayang, Abangmu gak akan marah. Percaya sama Ibu!"
"Kalau Abang marah gimana?"
"Ya, kalau Abangmu marah, kamu nangis saja, pasti Abangmu gak akan tega memarahimu,"
"Iiih, Ibu, Carla takut. Nanti Abang marah dan benci Carla,"
"Tapi, Carla juga gak tau siapa orang tua Abang Rain, bagaimana nanti kalau orangnya galak?"
"Mangkanya mulai sekarang, kamu harus pikirkan bagaimana bisa dekat dengan mereka,"
"Gimana caranya? Carla saja gak tau orang tua Abang tinggal dimana,"
Maya tampak berpikir sejenak. "Hmm, coba tanyakan sama Muklis, mungkin saja dia tau,"
"Carla sudah coba tanya-tanya dari kemarin, tapi Bang Muklis juga gak tau dimana rumah orang tua Bang Rain,"
"Ya sudah, besok kamu datangi saja rumah Abangmu," Maya memberi usul.
Carla meringis. "Ibu ini! Carla takutlah, kan Carla sudah janji sama Abang, Carla akan pulang ke Bandung," rengeknya.
"Sayang, di Bandung kita mau tinggal dimana? Kita kan gak punya rumah di sana," ucap Maya mengiba sambil mengusap puncak kepala Carla.
"Ibu, Carla kan punya uang yang di kasih Abang, kita kan juga bisa ngontrak rumah. Lagian, di sana juga ada restoran Abang, Ibu bisa bisa kerja di sana, nanti Carla bilangin ke Abang. Carla gak enak kalau masih tinggal disini, karna kemarin Carla sudah bilang mau pindah ke Bandung,"
__ADS_1
"Sayang, Ibu kan sudah tua, masa kamu tega membiarkan Ibu bekerja,"
"Ya sudah, Ibu dirumah saja, biar Carla yang kerja,"
Maya menghela nafas panjang. Sungguh, ia tak mengerti dengan pikiran putrinya. "Carla Sayang, memangnya kamu gak mau menjadi istri Abangmu. Masa kamu mau kalah dengan wanita yang baru Abangmu kenal, sedikit langkah lagi, kamu pasti bisa menjadi istri Abangmu," Maya terus berusaha membujuknya.
__________
Di rumah sakit.
Sarah yang belum sadarkan diri, kini sudah di pindahkan ke ruang perawatan kusus. Di dalam ruang perawatan itu hanya ada Zio yang menunggunya. Meski tadi harus bertengkar dengan Santi, karna mertuanya itu tak ingin Zio yang menjaga Sarah. Namun, setelah di bujuk Raka, akhirnya Santi mengalah, dan mau pulang bersama suaminya.
Sejak tadi mata Zio tak henti mengeluarkan cairan bening. Pikirannya seperti sebuah kaset yang terus berputar, semua perlakuannya selama ini pada Sarah, tergambar jelas di ingatannya saat ini.
Satu hal yang membuat Zio semakin merasa bersalah, kala teringat masa kecilnya dulu, ketika itu Sarah mengajaknya bermain, namun Zio malah mendorongnya dengan kasar hingga kepala Sarah terbentur ke dinding. Saat itu Sarah tidak sedikitpun menangis, ia hanya terduduk lemas sambil memegang kepalanya.
Maaf kan Abang, Sayang.
Tiba-tiba jemari tangan Sarah yang di genggamnya bergerak, di sertai kelopak matanya yang perlahan terbuka.
Sarah seperti orang linglung, mendapati dirinya berada di ruangan yang asing.
"Sayang," Zio lansung berdiri dari duduknya, lalu mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut.
"Abang, Sarah di mana?"
Zio tak menjawab, ia hanya mengusap kepala istrinya dengan lembut.
"Abang, Sarah dimana?" ulangnya bertanya.
"Sayang, jangan banyak pikiran dulu, kata dokter Sayang harus banyak istrahat," ujar Zio yang masih terisak.
Sarah seketika tersentak, melihat pergelangan tangan serta peralatan medis lainnya di ruangan itu. "Abang, Sarah mau pulang, Sarah gak sakit," ucapnya berusaha bangun.
"Sayang, jangan banyak bergerak dulu," Zio berusaha menahan tubuh Sarah yang terus bergerak ingin bangkit dari ranjang pasien.
"Abang, Sarah mau pulang, sarah gak sakit!"
Zio sedikit kewalahan menahan tubuh Sarah yang terus meronta ingin bangun dari ranjang. Hingga Akhirnya Zio menekan tombol di dekatnya meminta bantuan suster.
__ADS_1
Tidak lama suster pun datang dan menyuntikkan obat penenang ke botol infus.