
"Abang kok lama benget turunnya?" tanya Sarah ketika Zio sudah berada di dapur.
"Hm, itu, tadi teman Abang menelpon, dia mengajak Abang ketemuan nanti malam,"
Sarah menoleh, menatap suaminya. "Nanti malam ya?"
Lalu, Zio menangkup kedua pipi istrinya. "Iya, tapi, kalau istri Abang tidak mengizinkan, Abang tidak akan pergi,"
Sarah mengulas senyum mendengar jawaban suaminya. "Benar nih, kalau gak Sarah izinkan, Abang gak pergi?"
Zio menaik-turunkan kedua alisnya. "Tentu saja, Abang tidak akan pergi, jika istri Abang tidak mengizinkan,"
Sarah diam sejenak menyelami netra suaminya. "Tapi gak lama kan? Soalnya Sarah takut, kalau malam-malam di rumah sendiri," ucapnya kemudian.
"Kalau begitu, Abang perginya agak sorean saja, biar sebelum maghrib Abang bisa pulang,"
"Ya sudah, Abang boleh pergi," Sarah lalu menepiskan tangan Zio yang berada di pipinya, kemudian melanjutkan kembali aktifitasnya menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak.
"Sarah sudah lapar, Abang mau bantu Sarah masak gak, nih?"
Zio pun kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Sarah, bibirnya menghidu leher jenjang istrinya.
Sarah menggeliat kegelian. "Iiih, Abang ini! Kalau gak mau bantuin, mending Abang duduk saja di sana," protesnya.
Zio terkekeh, lalu melepaskan tangannya yang memeluk pinggang Sarah. "Iya, iya Abang bantu. Memangnya Sayang mau masak apa?" tanyanya yang kini sudah berdiri di samping Sarah.
"Abang mau Sarah masak apa? Sarah bisa semua,"
"Apa saja yang istri Abang masak, pasti Abang suka,"
Sarah menghentikan tangannya yang sedang mengiris perbumbuan. "Kalau begitu, Sarah mau masak ikan asin saja! Abang suka kan?"
Zio cengengesan. "Ya, gak harus ikan asin juga lah, Sayang,"
* *
Jam 4 sore, Zio telah pergi keluar menepati janjinya menemui Carla. Sebelumnya, ia juga sudah memberitahukan pada adik angkatnya itu bahwa ia hanya bisa menemuinya sore hari.
Waktu cepat berlalu. Di rumah, Sarah mulai resah karna langit sudah mau gelap, tapi suaminya belum juga pulang. Padahal tadi Zio mengatakan padanya akan pulang sebelum maghrib.
Sarah yang memang takut berada di dalam rumah sendirian saat malam hari, memutuskan menunggu suaminya di teras rumah setelah melakukan shalat maghrib.
Perasaan cemas sejak tadi menyelimuti hatinya, takut hal buruk menimpa suaminya. Meski dalam hati ia selalu memanjatkan doa, agar suaminya baik-baik saja, tetap saja tak bisa menepiskan rasa khawatir yang kini menyelimuti hatinya.
Tin! Tin! Tin!
__ADS_1
Lamunan Sarah buyar mendengar suara klakson di luar pagar.
"Bunda!"
Sarah bergegas bangkit untuk membukakan pintu pagar ketika melihat mobil yang biasa digunakan mertuanya berhenti di depan rumah.
Dari dalam mobil, ia juga melihat mamanya turun.
"Loh, kok Mama bisa sama-sama Bunda?" tanyanya setelah membuka pintu pagar.
Salsa tak menjawab, matanya mengedar melihat ke dalam garasi. "Sarah, Zio kemana?" tanyanya karna tak melihat mobil Zio di sana.
"Hm, Bunda, Mama, ayo kita masuk dulu," Sarah memeluk lengan kedua wanita itu, lalu membawanya masuk kedalam rumah.
Setelah berada di ruang tamu, Salsa kembali menanyakan keberadaan putranya.
"Hm, tadi Abang bilang, mau bertemu dengan temannya," jawab Sarah jujur.
"Dari kapan?" tanya Salsa menyelidik.
"Hm, dari Sore tadi sih, Bun,"
Salsa menoleh ke Santi, lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. mencoba menghubungi nomor ponsel Zio, namun tak ada jawaban.
"Mama!" Sarah protes.
"Apa? Kamu masih mau membela suamimu itu? Jangan-jangan setiap malam dia selalu meninggalkan kamu di rumah sendiri,"
"Sa, Kamu lihat sendiri kan? Tadi Sarah duduk di luar menunggu Zio pulang. Itu karna dari dulu dia takut berada di dalam rumah sendirian," ucap Santi menggebu-gebu.
"Udah lah, Ma! Tadi Bang Zio sudah izin Sarah kok. Sarah juga gak masalah, palingan sebentar lagi Bang Zio akan pulang. Lagian, baru sekali ini aja kok Bang Zio telat pulang, biasanya gak pernah telat," Sarah menyanggah ucapan mamanya.
Santi mendengus, membuang nafas kasar. Ia juga kesal dengan putrinya yang selalu saja membela suaminya.
Salsa benar-benar tak enak hati dengan sahabat yang juga sudah menjadi besannya. "San, atas nama Zio aku minta maaf,"
Ting!
Sarah mengeluarkan ponsel, dan, senyumnya merekah melihat notifikasi pesan yang ternyata dari Zio.
Namun, senyum di wajahnya seketika lenyap saat melihat foto Zio bersama Carla yang tengah tidur bersama. Tubuh Zio yang di tutupi selimut putih sedangkan Carla menyandarkan pipinya di dada Zio.
Sarah seketika mematikan layar ponselnya, dadanya bergemuruh, setelah melihat foto tersebut. Kepalanya pun seketika berdenyut hebat bagai di hantam bongkahan batu besar.
"Sayang, ada apa?" tanya Salsa khawatir, melihat perubahan wajah menantunya.
__ADS_1
Sarah menoleh, memaksa menarik sudut bibirnya keatas. "Gak ada apa-apa kok Bun,"
"Bunda, Sarah ke toilet dulu ya," Tanpa menunggu jawaban mertuanya, Sarah lansung bangkit dari duduknya, berjalan ke arah kamarnya yang berada di lantai dua. Sekuat tenaga ia berusaha berjalan santai, meski pandangannya saat ini berputar-putar.
Santi dan Salsa tak melepaskan matanya menatap punggung Sarah hingga menghilang diatas tangga.
"San, Sarah kenapa, ya? Kok wajahnya berubah pucat gitu?" tanya Salsa yang masih khawatir.
"Aku juga gak tau, Sa," jawab Santi yang juga merasa khawatir.
Salsa lalu menghubungi Zidan melalui ponselnya, meminta suaminya mencari keberadaan Zio.
* * *
Jam yang terpaku di dinding sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Namun, Zio masih juga belum pulang.
Sementara Santi dan Salsa masih mengobrol di ruang tamu. Mereka juga berniat, akan bermalam di rumah anak dan menantunya ini, jika Zio tak juga pulang.
Tanpa mereka sadari sudah hampir setengah jam Sarah belum Juga kembali dari kamarnya.
"San, kok Sarah lama sekali ya di toiletnya?" tanya Salsa yang baru tersadar.
Seketika Santi tersentak. "Eh, iya, kenapa ya?"
"Biar aku panggil dulu," Santi pun bergegas naik ke lantai atas menuju kamar putrinya, di ikuti Salsa di belakang.
Tok. Tok. Tok.
"Sarah, kamu ngapain di dalam? Ayo kita ngobrol-ngobrol di luar," Berkali-kali Santi mengetuk dan memanggil putrinya, namun tak ada sahutan dari dalam.
Rasa cemas dan khawatir tiba-tiba mendera hatinya. Ia dan Salsa saling pandang.
Kemudian, tangannya memutar gagang pintu, mencoba untuk membuka pintu tersebut. Tapi sayangnya pintu itu terkunci dari dalam.
Bruk! Bruk! Bruk!
Kini Santi dan Salsa dengan keras menggedor pintu tersebut.
"Sa, bagaimana ini?" tanyanya yang semakin merasa khawatir.
Salsa berpikir sejenak. "Kamu tunggu di sini, aku mau panggil Bang Jefri dulu, untuk membuka paksa pintu ini," Salsa segera berlari kebawah, memanggil supir pribadinya.
Tidak lama Salsa kembali lagi dengan Jefri yang membawa beberapa peralatan untuk membuka pintu tersebut
Beberapa menit berselang, akhirnya Jefri berhasil membuka pintu kamar tersebut dengan cara merusak bagian kunci pintu.
__ADS_1