Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
IUTMK (70)


__ADS_3

Zio berdiri di samping ranjang, lalu mengusap kening istrinya yang masih terlelap dengan lembut. "Sayang, bangun, di bawah ada Mama dan Papa,"


Sarah menggeliat, lalu membuka matanya. Rasa sakit dikepalanya belumlah hilang. Namun ia berusaha menarik sudut bibirnya agar terlihat tersenyum.


"Sayang, bagaimana kepalanya, masih sakit? Abang panggil dokter sekarang ya," Zio berkata demikian karna melihat bibir Sarah yang tampak pucat, lalu ia mengeluarkan ponsel hendak menelpon dokter pribadi orang tuanya.


Sarah menggeleng, lalu bergegas bangkit dari tidurnya, merebut ponsel di tangan Zio. "Kok Mama dan Papa bisa ada di sini? Abang yang menghubungi mereka ya? Terus, Abang kok pakai apron beginian?" tanyanya beruntun, sengaja mengalihkan pembicaraan agar suaminya tidak jadi menelpon dokter.


"Iya, Abang yang mengatakan pada Mama dan Papa supaya membawa kamu kerumah sakit, habisnya kamu bandel," jawab Zio membenarkan ucapan istrinya. Padahal, sebenarnya ia pun kaget melihat mertuanya pagi-pagi  sudah berada di rumah.


"Terus, ini apron kenapa Abang pakai?" tanyanya lagi melihat suaminya yang menggunakan celemek yang biasa digunakannya saat memasak.


"Istri Abang kan lagi sakit, ya, Abang harus menggantikan pekerjaannya lah," jawab Zio dengan bangganya.


"Eelah, palingan nanti gosong lagi,"


"Eh, nanti kamu rasakan sendiri bagaimana rasanya, pasti ketagihan, terus minta Abang masak lagi," ucap Zio sambil mencubit hidung istrinya.


"Iiih, Abang,"


Zio yang gemas melihat ekspresi Sarah, mencondongkan wajah dan lansung mencium bibirnya.


"Emhmp.. "


"Abang, jorok, ih! Sarah kan baru bangun tidur,"


"Biar ada vitaminnya," balas Zio Santai.


"Udah lah, Abang keluar sana. Sarah mau mandi dulu,"


"Kita mandi sama-sama, Abang juga belum mandi," ucap Zio sambil menaik-turunkan alisnya.


"Abang, kasihan Mama dan Papa di bawah, Abang temani mereka dulu,"


"Hm, baiklah. Tapi nanti kamu harus Abang hukum," ucapnya yang kembali mencondongkan wajah hendak mencium Sarah.


"Abang!"


"Iya, iya, Abang keluar,"


Setelah Zio menghilang di balik pintu, Sarah meneguk kembali obat pereda sakit kepala yang beberapa hari lalu di berikan dokter sewaktu diantar Andri ke rumah sakit.


* * *


Beberapa menit kemudian, Sarah turun ke bawah menemui Papa dan Mamanya.

__ADS_1


"Papa dan Mama kesini kok gak ngasih kabar dulu?" ucapnya, lalu memeluk dan mencium kedua orang tuanya secara bergantian.


"Mama sengaja mengajak Papa kamu kesini, mumpung hari minggu,"


"Ooh," Sarah membulatkan mulutnya.


"Sarah, kamu baik-baik saja kan?" Tiba-tiba Santi menangkup kedua pipi Sarah, memperhatikan wajah putrinya yang di polesi make-up sedikit tebal. Bukan hanya wajah, bibirnya pun di polesi lipstik merah.


Sebelumnya Santi tidaklah pernah melihat putrinya menggunakan make-up. Apalagi menggunakan pemerah bibir seperti sekarang ini.


"Ma, Sarah baik-baik saja," Sarah menjauhkan wajahnya dari Santi seketika. "Pa, lihat Mama nih," adunya pada Raka.


Raka hanya menyunggingkan senyum tipis.


Santi menoleh, melihat Zio yang masih terlihat sibuk berada di dapur.


Begitupun Sarah ikut menoleh ke arah pandangan mata Mamanya.


"Sarah, sini duduk dulu, ada yang mau Mama tanyakan sama kamu," Santi mambawa putrinya duduk di sofa.


Tepatnya Sarah duduk diapit kedua orang tuanya saat ini.


"Ada apa sih, Ma? Serius banget?" tanya Sarah heran.


Santi berdiri sejenak, menoleh ke arah Zio yang masih terlihat sibuk di dapur.


"Sssttt," Santi membekap mulut putrinya. "Pelan kan suaramu," desisnya.


Sarah mengangguk tanda mengerti.


"Sekarang, jawab Mama jujur, apa kamu bahagia dengan pernikahan ini?" tanya Santi setengah berbisik.


Mata Sarah menyipit, lalu menoleh pada Raka yang duduk di sebelahnya.


"Mama kok jadi aneh gini sih, Pa?" tanya Sarah pada Raka.


Raka mengangkat bahu.


"Sarah, jawab saja tanya Mama!" desak Santi.


"Coba Mama perhatikan wajah Sarah, ada gak tertulis Sarah gak bahagia," Sarah melengkungkan sudut bibirnya ke atas.


"Iih, kamu ini!" Santi lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Kamu lihat siapa wanita itu?" Santi memberikan selembar foto Carla bersama Zio yang di berikan Andri pada Raka kemarin. "Mama gak suka ya, punya menantu tukang selingkuh!" Santi meruncingkan bibirnya tajam.

__ADS_1


Sarah sedikit kaget melihat foto suaminya bersama Carla. Namun, ia berusaha bersikap biasa saja. "Mama dapat foto ini dari mana?"


"Gak penting kamu tau dari siapa Mama mendapatkan foto itu!"


"Tapi Ma, dia itu hanya adik angkatnya Abang Zio saja,"


Santi mendengus. "Jadi, kamu sudah taulah wanita itu? Pantas Zio bilang kamu sering sakit kepala kemarin, pasti kamu kepikiran kan?"


"Ma!"


"Mama gak nyangka, Zio memperlakukanmu seperti ini. Wajah terlihat polos, tapi kelakuan begitu," Santi meggerutu kesal dengan suara pelan.


Sarah hanya tersenyum sembari melihat Raka yang duduk di sebelahnya. "Pa, Mama lagi datang bulan ya? Kok dari tadi ngomel mulu,"


"Papa juga tidak tau?" sahut Raka.


"Iiih, masa Papa gak tau sih?"


"Nanti biar Mama adukan, perlakuan suamimu itu pada Salsa,"


"Ma-"


"Sayang, ayo kita sarapan dulu. Ajak Mama dan Papa sekalian," ucap Zio sambil meletakkan nasi goreng di atas meja makan yang baru selesai di masaknya.


Sarah menegakkan kepalanya menoleh ke belakang, sembari tersenyum melihat suaminya yang begitu bersemangat membuatkannya sarapan. "Iya, Sayang," sahutnya mesra. Lalu, menoleh pada Santi. "Ma, gak lihat kami itu pasangan romantis,"


"Palingan hanya pencitraan saja, karna ada Mama dan Papa di sini," sahut Santi ketus.


"Eh, gak kok, Abang Zio memang selalu romatis sama Sarah. Udahlah, dari pada Mama mengomel gak jelas, mending kita sarapan," Sarah lalu berdiri dari duduknya. Tapi, tiba-tiba kepalanya kembali dihantam batu besar.


Sarah berusaha tetap tegak berdiri dengan kepala yang semakin terasa berdenyut. Ruangan tempatnya berdiri saat ini serasa berputar-putar. Sekuat tenaga ia menahan sakit di kepalanya, hingga keringat dingin keluar di pori-pori kulitnya.


"Sayang, ayo sarapan dulu," ulang Zio dari ujung sana.


"Hm, iya, tapi sepertinya Sarah sakit perut, Sarah ke kamar mandi dulu ya," Tanpa menunggu jawaban, Sarah segera melangkah pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang masih duduk di ruang tamu.


Di dalam kamar Sarah duduk di tepi ranjang setelah menelan kembali 2 butir obat penghilang rasa sakit.


Setelah sakit di kepalanya sedikit reda, Sarah berdiri di depan cermin memperhatikan make-up di wajahnya yang mulai hilang karna berkeringat. Ia kembali memoleskan bedak ke wajahnya agar terlihat lebih segar. Setelahnya ia turun kebawah untuk sarapan.


* * *


Santi dan Raka pamit pulang, setelah terpaksa menyantap nasi goreng buatan menantunya yang rasanya begitu aneh.


"Sayang, bagaimana rasa nasi goreng buatan Abang? Enak kan?" tanya Zio setelah mertuanya pergi dari rumah.

__ADS_1


Sarah tersenyum. "Iya enak banget, terimakasih Abang sudah mau membuatkan sarapan untuk Sarah," Sarah lalu mencubit kedua pipi suaminya dengan gemas.


__ADS_2