
Serah dan Zio baru saja mendarat di bandara yang ada di jakarta. Semenjak di dalam pesawat tadi, Sarah tak henti merasakan mual dan pusing, hingga Zio harus menuntunnya berjalan turun dari pesawat sampai ke loby.
"Mangkanya kalau tidak biasa bepergian jauh, tidak usah ngotot ingin pergi!" Zio mendengus kesal sambil terus berjalan menuntun bahu Sarah.
"Abang ini dari tadi ngomel terus, memangnya nggak capek ya? Sarah saja yang mendengar udah capek," ucap Sarah membuat Zio semakin merasa kesal.
"Kamu itu merepotkan saja, tau!" Zio semakin meradang.
"Biar merepotkan, tapi Abang sayang kan sama Sarah?" Seketika Zio melepaskan kedua tangannya yang memegang bahu istrinya.
"Saya tinggal kamu disini!" ancam Zio lalu melangkah pergi.
"Tinggal saja, Sarah telepon Bunda paling Abang yang dimarahi nanti,"
Mendengar itu, Zio menghentikan langkahnya. Kembali berjalan mendekati Sarah.
"Diam saja, boleh? Nggak usah cerewet!" peringat Zio kembali menuntun Sarah berjalan.
"Bukannya Abang yang sejak tadi ngomel terus?"
* * *
Tiba di mension, Salsa beserta yang lainnya menyambut kedatangan anak dan menantunya dengan hangat.
"Bagaimana honeymoon kalian, sayang? Menyenangkan nggak?" tanya Salsa yang sudah membawa mereka duduk diruang keluarga.
Sarah tersenyum kecil sembari merangkul lengan Zio yang duduk di sebelahnya.
"Senang banget Bunda. Iya kan, Bang?"
"Eh? Ehm, iya iya senang," sahut Zio sambil menyengir, tapi membelalak kan matanya menatap Sarah.
"Wah! Bunda senang banget melihat kalian bisa romantis begini!" seru Salsa begitu bersemangat.
"Aaalah..... Paling juga settingan," timpal Zia.
Tiba-tiba, Sarah merasakan mual lagi.
"Hoek,"
"Bunda, Oma, Nenek, Kak Zia. Sarah izin kekamar dulu ya," ucapnya yang tak tahan ingin muntah, lalu bergegas meninggalkan semua yang ada di ruangan itu.
"Abang, Sarah kenapa? Hamil ya?" tanya Salsa.
"Eh? Hamil anak siapa?" Zio pun ikut bertanya.
"Ya hamil anak Abang lah! Nggak mungkin hamil anak kucing! Ada-ada saja Abang ini," jawab Salsa membuat semua wanita yang duduk bersama Zio terkekeh.
"Yes! Berarti sebentar lagi Adek punya keponakan dong," celetuk Zia menyela.
__ADS_1
Maria dan Rita pun saling pandang sembari tersenyum kecil mendengar akan mendapat cicit pertama mereka.
"Ya nggak mungkin lah, Bun. Kan kami baru menikah seminggu. Lagian kita juga belum...." Zio tidak melanjutkan ucapannya melihat tatapan Salsa yang tajam.
"Belum apa?" tanya Salsa menuntut Zio melanjutkan kalimatnya.
"Oke, sekarang begini ya, Bun. Misalkan nih, Oma atau Bunda muntah-muntah. Apa Oma dan Bunda juga hamil?"
Maria dan Salsa saling pandang. "Ada ada saja Abang ini," Salsa dan Maria terkikik.
"Iya masa Omanya juga di bawa-bawa. Emang Oma masih bisa hamil?" timpal Maria yang ikut bersuara karna namanya juga di sebut Zio.
"Tau nih Abang, aneh? Dia yang sudah menikah malah menuduh Oma yang hamil," Zia pun ikut menyela.
"Eh, anak kecil diam saja, boleh!" dengus Zio.
"Awas ya! Kalau anak Abang lahir, nanti Adek culik! Tau rasa Abang kehilangan!" ancam Zia.
"Udah lah! Abang capek mau ke atas dulu," ucap Zio kemudian pergi menuju kamarnya.
"Abang.. Abang..." Salsa dan Maria masih tertawa cekikikan.
"Putramu semakin aneh saja, sayang," imbuh Maria yang masih tertawa hingga wajah nya memerah.
Didalam kamar, Zio melihat Sarah yang baru keluar dari kamar mandi.
"Ekhem!" Zio berdehem sembari berjalan kemeja kerjanya, lalu duduk di sana.
"Engga, Sarah cuma mual saja,"
"Kalau sakit bilang! Biar saya antar kerumah sakit. Nanti di sangka Bunda saya yang tidak peduli," ucap Zio ketus.
Sarah menatap punggung suaminya.
"Kalau Abang nggak peduli, ya sudah cuekin saja. Sarah juga nggak apa-apa kok,"
Zio berbalik badan menghadap pada istrinya. "Tapi Bunda mengira kamu mengandung, sebab kamu muntah tadi,"
Sarah tersenyum.
Zio mengernyit, "Eh, kenapa kamu senyum-senyum sendiri?"
"Abang, Abang sayang nggak sama Bunda?" tanya Sarah kemudian.
"Tidak perlu kamu menanyakan itu!" dengus Zio menatapnya tajam.
Sarah menunduk sembari memainkan jemarinya. "Abang," panggilnya lembut dengan tubuh yang meliuk kiri dan kanan. "Bagaimana kalau kita kasih saja Bunda cucu,"
"Uhuk, uhuk," Zio tersedak.
__ADS_1
Tok. Tok. Tok.
Mereka serantak menoleh ke arah pintu yang di ketuk. "Biar saya saja yang buka. Ingat! Kamu jangan bicara apa-pun sama Bunda!" peringat Zio sebelum berjalan membuka pintu.
Sarah mengangguk paham.
Ceklek
Pintu kamar di buka Zio. Diambang pintu kamarnya, berdiri Salsa memegang sebuah gelas. Kemudian, Salsa berjalan mendekati Sarah yang berdiri mematung.
"Sayang, ini Bunda buatkan minuman penguat kandungan. Diminum ya? Setelah ini istrahat, jangan capek-capek," Salsa memberikan gelas yang di bawanya pada Sarah.
Sarah yang di peringatkan Zio tidak boleh bicara apa pun, hanya mengambil gelas yang di berikan Salsa, tanpa berkata apa-apa.
"Ya sudah Bunda keluar dulu," ucap Salsa sembari berjalan mendekati Zio yang masih berdiri memegang gagang pintu.
"Abang, jaga istri Abang baik-baik. Jangan biarkan dia kelelahan!" peringat Salsa.
Zio menghela nafas besar. "Iya Bun," sahutnya kemudian.
"Awas Abang, kalau macam-macam!" ancam Salsa sebelum pergi.
Setelah menutup pintu kamar, Zio melayangkan tatapan tajam pada Sarah, lalu berjalan mendekati istrinya yang masih berdiri memegang gelas yang di berikan mertuanya.
Zio berdiri di depan Sarah dengan otot rahang yang mengeras, nafas nya pun terdengar memburu di telinga Sarah.
"Abang kenapa lagi? Sarah kan nggak ada ngomong apa-apa sama Bunda tadi,"
"Harusnya tadi kamu katakan kalau kamu itu tidak hamil!" dengus Zio.
"Abang ini serba salah lah! Tadi menyuruh Sarah agar diam saja. Sekarang malah marah-marah. Abang tau nggak? Marah-marah itu nggak baik buat kesehatan. Apa Abang nggak capek marah-marah terus?"
Zio menghela nafas panjang, hingga dadanya yang bidang membusung di penuhi udara.
"Sekarang tidurlah. Besok kita pindah kerumah yang baru," ucapnya yang mulai melemah.
"Tapi sebelumnya, kita kerumah Mama dulu ya. Kan pakaian Sarah semua ada di sana,"
"Tidak usah bawa pakaianmu, beli saja nanti,"
"Abang, tidak baik mubazir tau. Pakaian Sarah itu masih banyak di rumah, lagian Sarah juga harus pamit sama Mama, Papa, Nenek, Kakek serta Saka,"
Sebenarnya Zio merasa canggung jika harus bertemu dengan Raka. Sebab mertuanya itu sedikit banyak sudah mengetahui siapa dirinya. Apa lagi semenjak kasusnya dengan Ong. Pasti mertuanya itu sudah melakukan sesuatu hingga kasusnya tidak mencuat kepermukaan. Atau mungkin mertuanya itu juga sudah menceritakan apa yang ia lakukan pada Daddynya.
"Tapi sebentar saja ya, nggak usah menginap," ucap Zio kemudian.
"Yang itu Sarah nggak bisa jamin? Kalau Mama memaksa bagaimana?" tanya Sarah.
"Kamu cari alasan lah!"
__ADS_1
"Nggak, Abang saja yang cari alasan," elak Sarah membuat Zio semakin mendengus kesal.