
"Ini Sudah malam, tidur lah," ucap Zio sengaja mengalihkan pembicaraan lalu menyelimuti Zakir.
Traaaang.....
Sebuah kaca jendela di ruang UGD itu pecah.
Dor. Dor.
Disusul suara letusan senjata api terdengar di luar. Zio segera berlari hendak melihat keluar.
"Abang...... Adek takut,"
Langkah Zio terhenti ketika mendengar suara Carla yang ketakutan. Ia menoleh, di lihat nya Carla sudah duduk diatas brangkar menekuk ke dua lutut nya.
Zio berbalik arah, mendekati Carla, lalu mendekap tubuh nya erat.
"Tenang lah, Abang disini, ," ucap Zio sambil memeluk erat Carla, kedua mata nya tak berkedip menatap lekat pintu ruang UGD yang tertutup
Zakir yang berbaring tidak jauh dari mereka pun tampak ketakutan.
Tidak berapa lama pintu ruang UGD itu terbuka.
Terlihat Ong masuk ke ruangan itu di papah oleh Heru dan beberapa orang perawat serta dokter juga ikut masuk ke ruangan itu.
Suasana malam di ruangan itu terasa mencekam.
"Ong?!" Panggil Zio lalu melepaskan tangan nya yang memeluk Carla.
Zio mendekati asisten nya itu, yang satu tangan nya masih bergayut di pundak Heru.
"Apa yang terjadi, Ong?!" tanya Zio, ia melihat darah segar menetes di lantai.
"Baringkan dia di sini," ucap seorang perawat setelah menarik brangkar kosong kedekat mereka.
Tanpa bertanya lagi, Zio membantu Ong berbaring di brangkar. Setelah itu perawat menarik brangkar itu sejajar dengan brangkar tempat Zakir berbaring, lalu menarik kain hijau pembatas.
Zio menatap Heru lalu menarik tangan pemuda itu keluar.
Di luar Zio lansung mencengkram baju kaos Heru lalu menyandarkan nya ke dinding.
"Apa yang terjadi?! Siapa yang melakukan nya," tanya Zio menekan.
"A-aku nggak tau Bang. Aku baru saja datang, Tiba-tiba melihat dia meringkuk di sana," jawab Heru sembari menunjuk lantai yang berlumuran darah.
Zio melepaskan tangan nya yang mencengkram baju Heru. Lalu memperhatikan lantai keramik putih, yang kini berubah menjadi merah sebagian, bahkan darah itu masih terlihat sangat segar. Ia mengedarkan pandangan nya ke sekitar. Tidak ada yang mencuriigakan. Namun, diatas nya ada sebuah kamera CCTV yang sudah pecah.
Siapa yang melakukan ini?
pikir nya.
Zio teringat ucapan Zakir tadi yang menyuruhnya segera pergi meninggalkan kota ini. Pikiran Zio lansung mengarah pada Rusdi.
Tapi kenapa Rusdi? Bahkan aku tidak kenal dengan dia. Atau mungkin, dia sudah tau aku yang membunuh adiknya dulu.
Pikir Zio lagi, saat ini Ia memang hanya bisa berpikir sendiri dan menerka.
"Kau tau siapa Rusdi?" Zio kini mengalihkan tatapan nya pada Heru.
"Tau, memangnya kenapa dengan Rusdi? Apa Abang mengenal dia?" Heru juga bertanya.
"Kau tau dimana markas nya?"
"Bu-buat apa Bang? Di sana banyak para preman yang menjaga," terang Heru.
"Bisa kau mengantarkan ku kesana." ucap Zio.
"Tidak, jangan kesana Bang bahaya," cegah Heru.
__ADS_1
"Antar kan aku kesana sekarang!" ucap Zio memaksa.
"Ba-baiklah. Tapi, bagaimana dengan Carla?siapa yang menjaganya disini?"
Zio diam, membenarkan apa yang diucapkan Heru. Tak mungkin ia akan meninggalkan Carla sendirian di rumah sakit ini. Meski ada Ong tapi, keadaan asisten nya itu sedang terluka parah.
Zio mengusap wajah nya kasar, lalu masuk kembali ke ruang UGD.
"Abang, apa yang terjadi? Kenapa dengan teman Abang itu?" tanya Carla setelah Zio di dekatnya.
"Tenang lah semua baik-baik saja," ucap Zio tidak ingin Carla khawatir.
"Hai Ra," sapa Heru seraya melangkah pelan mendekati Carla. Ada rasa takut di hati pemuda berkulit sawo matang itu saat matanya melihat tatapan tajam Zio.
"Heru, Kok kamu ada di sini?" tanya Carla.
"Iya, tadi aku kerumah mu, tapi keadaan rumah kosong. Kebetulan ada yang melihat ada ambulans berhenti di depan rumah mu tadi. Mangkanya aku datang kesini," jawab Heru yang kini sudah berada di sisi brangkar.
"Maaf, keluarga pasien luka tembak mana?" tanya dokter.
"Saya," Zio mendekati dokter itu
"Peluru nya sudah kami keluarkan, beruntung pelurunya hanya mengenai betis pasien, jadi tidak terlalu parah," ujar dokter itu.
Zio menatap ke arah brankar Ong yang masih di batasi kain hijau.
"Kalau begitu kami permisi dulu. Dan untuk semua pasien akan kami pindahkan ke ruang inap besok pagi," ujar sang dokter lalu pergi.
Setelah itu Zio mendekati Ong, yang terbaring di brangkar.
"Apa yang telah terjadi Ong?" Pertanyaan yang sejak tadi ingin ia lontarkan.
Zio juga memperhatikan sebelah betis asistennya yang sudah di balut perban.
"Saya tidak tau Rain, mereka hanya mengatakan. Tinggal kan kota ini. Kemudian mereka pergi setelah menembak saya," jawab Ong.
"Berapa orang mereka?" tanya Zio.
Zio menyipitkan mata nya lalu melangkah hendak keluar memeriksa CCTV.
Baru saja hendak membuka pintu, langkah Zio terhenti mendengar suara Carla memanggilnya.
"Abang!!"
"Abang mau kemana?"
"Mau keluar sebentar, Adek disini dulu ya," sahut Zio yang masih berdiri di depan pintu.
"Abang disini aja, Adek takut," rengek Carla.
Zio menghela nafas besar.
"Ya, baiklah," lalu Zio mendekati Carla. Ia menatap tajam Heru yang duduk di kursi samping brangkar yang tadi menjadi tempat duduk nya.
"Abang duduk di sini aja," Carla menepuk sisi brankar disebelah nya duduk. Zio menurut duduk di sana.
.
.
**
Beberapa menit kemudian. Empat orang polisi masuk keruangan itu.
"Selamat malam semuanya, maaf mengganggu." ucap salah satu polisi.
"Ya, selamat malam Pak." jawab Zio lalu bangkit dari duduk nya mendekati polisi itu.
__ADS_1
"Maaf Pak, apa bapak mengetahui kejadian penembakan tadi?" tanya polisi.
"Saya mendengar nya dengan jelas. Awal nya kaca jendela itu pecah," Zio menunjuk kaca yang pecah di dekat pintu.
"Tidak lama berselang, dari arah luar saya mendengar letusan senjata api. Tapi saya tidak melihat kejadian itu sama sekali," terang Zio apa ada nya.
"Maaf Pak, apa korban nya ada di sini?" tanya polisi lagi.
"Iya, dia teman saya. Itu dia disana." Zio menunjuk brankar tempat Ong terbaring.
Polisi itu kemudian mendekati Ong.
.
.
Setelah menginterogasi Ong, polisi kemudian keluar.
.
.
"Adek, tunggu disini sebentar ya?" tanpa persetujuan Carla, Zio lansung melangkah keluar dari ruangan itu.
"Pak, tunggu!" panggil Zio mendekati polisi yang masih menyisir tempat kejadian.
"Apa kalian sudah menemukan petunjuknya?" tanya Zio.
"Belum, kami belum menemukan petunjuk apa pun. Bahkan kami sudah memeriksa rekaman CCTV. Tapi, kami tidak ada melihat orang yang mencurigakan keluar masuk rumah sakit ini. Setelah penembakan pun tidak ada terlihat orang keluar dari rumah sakit." terang polisi itu.
"Ada berapa gerbang, di rumah sakit ini yang bisa mengakses orang keluar masuk?" tanya Zio.
"Ada 2 gerbang, gerbang utama di depan sana," polisi menunjuk pagar yang terlihat dari tempat mereka berdiri.
"Dan gerbang kedua, ada di belakang, itu hanya di gunakan oleh juru masuk rumah sakit." terang polisi.
"Apa CCTV di sana sudah di periksa?" tanya Zio lagi.
"Sudah, dan tidak ada hal mencurigakan kami temukan di sana," jawab polisi itu.
"Bagaimana dengan CCTV yang ini?" Zio menunjuk CCTV yang sudah pecah diatas nya.
"Sebelum kejadian penembakkan, tidak ada yang mencurigakan hanya terlihat beberapa orang yang berjalan setelah itu gambar nya hilang," jawab polisi itu.
"Berarti pelaku nya masih berada di sekitar sini." ujar Zio.
"Mohon kerjasama nya Pak. Hubungi kami jika ada informasi penting yang bapak ketahui." imbuh polisi itu.
"Baiklah," ucap Zio lalu kembali masuk ke ruang UGD.
.
.
***
Pagi hari nya.
Diatas brankar sempit itu Zio tersentak dari tidur nya ketika merasakan getar ponsel di saku celana. Di samping nya ada Carla yang masih tidur memeluknya.
Perlahan Zio memindahkan tangan Carla dari tubuh nya lalu bangkit. Sambil merogoh saku celana Zio terus melangkah keluar.
"Hallo Bun," Sapa Zio dengan suara serak nya.
"Abang, sudah sarapan?" tanya Salsa dari sebrang telepon.
"Ini Abang mau sarapan Bun," jawab Zio.
__ADS_1
"O. Ya sudah. Sarapan lah dulu nanti Bunda telepon lagi. "
"Ya Bun."