
"Sayang, kenapa? Pusing lagi?" tanya Zio khawatir melihat istrinya meringis sambil memegang kepala.
Sarah menggeleng. "Sarah tadi malam susah tidur, mangkanya sekrang kepala Sarah agak pusing,"
Zio mengernyit keheranan.
Lantas Sarah menangkup kedua pipi suaminya. "Abang gak usah khawatir, Sarah baik-baik saja kok, Sarah hanya butuh istrahat. Setelah istrahat Sarah pasti baikan lagi. Sekarang Sarah mau istirahat di kamar dulu,"
Zio masih terpaku di tempat, menatap punggung istrinya yang telah berjalan menaiki anak tangga sambil memegang pegangan tangga.
* * *
Ikatan batin seorang Ibu pada anak memang begitu kuat, setelah pagi tadi mendatangi Sarah, Santi jadi kepikiran terus dengan putrinya itu, ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Sarah darinya. Apalagi Santi teringat kata-kata Sarah sebelum menikah dengan Zio, jika ia tidak yakin Zio bisa mencintainya.
Raka yang Sejak tadi memperhatikan istrinya yang asyik termenung sendiri di ruang keluarga berjalan mendekatinya. "Mama kenapa lagi?" tanyanya, lalu duduk di sebelah Santi.
Memang benar, dari semalam perasaan Santi tidak tenang, setelah Raka bercerita tentang seseorang yang memberikannya photo Zio bersama dengan Carla.
Mangkanya pagi tadi Raka pergi mengantarkannya menemui Sarah, karna perasaan istrinya dari semalam tak pernah tenang.
"Mama kepikiran Putri kita, Pa," ucap Santi lirih.
Raka mengusap bahu istrinya. "Bukannya tadi sudah ketemu? Mama juga lihat sendiri kan, hubungan Sarah dengan Zio baik-baik saja. Papa lihat Zio juga baik melayani Sarah,"
"Tapi Pa, Mama lihat ada yang berbeda dari Sarah. Apa Papa gak sadar badannya sekarang agak kurusan? Jika dia bahagia, gak mungkin tubuhnya kurusan seperti itu,"
Raka terdiam mencoba membanding-bandingkan bentuk tubuh Sarah dahulu dengan yang sekarang.
"Mama rasa, apa yang di katakan orang yang memberikan photo Zio bersama seorang wanita itu pada Papa ada benarnya. Bagaimana kalau kita coba menanyakan pada orang itu, Pa? Sepertinya orang itu mengetahui banyak hal tentang rumah tangga Putri kita. Kemarin Papa juga bilang kan. Orang itu juga mengatakan pada Papa bagaimana perlakuan Zio terhadap Sarah selama ini,"
Raka masih diam, mengingat kembali kata-kata yang pernah di ucapkan Andri padanya kemarin agar ia tidak menutup mata dengan perlakuan Zio terhadap Putrinya.
"Papa tau kan dimana orang itu tinggal?"
Raka menggeleng, lalu mengehala nafas panjang. "Papa tidak tau, Ma, karna waktu itu Papa tidak begitu merespon apa yang di katakannya. Papa mengira dia hanya ingin mengadu domba Papa dengan menantu kita. Mangkanya Papa tidak begitu memperdulikan apa yang di ucapkannya,"
"Iiih, Papa ini!" Santi meremas gemas bahu suaminya. "Terus sekarang gimana? Gak mungkin kan, kita mendiamkan saja putri kita di sana menderita terus. Mama harus katakan semua ini pada Salsa,"
"Jangan dulu, Ma. Sebaiknya kita cari tau dulu kebenarannya, takutnya kita akan menjadi orang ketiga yang menghancurkan hubungan pernikahan mereka,"
__ADS_1
"Tapi sampai kapan, Pa! Sampai kapan kita akan membiarkan Putri kita menderita di sana! Papa tau sendiri kan, Sarah itu terlalu pandai berahasia! Papa masih ingat, dulu? Saat dia jadi korban buli di sekolah, Sarah gak pernah menceritakan pada kita sama sekali! Jika saja sahabatnya tidak memberitahukan kita, mungkin sampai sekarang kita gak akan pernah tau!" ucap Santi menggebu-gebu.
Raka hanya diam, karna apa yang di katakan istrinya adalah kebenaran yang tak bisa ia bantah.
.
.
.
* * *
Bangun tidur, Sarah merasa sakit di kepalanya sedikit berkurang. Apalagi ketika baru membuka mata, ia melihat Zio tengah berbaring di sebelahnya, sambil mengusap lembut rambutnya.
"Eh, Sayang, Abang membuatmu bangun ya?"
Sarah menggeleng sambil mengulas senyum, lalu mengulurkan sebelah tangan membelai pipi suaminya. "Gak kok,"
"Sekarang bagaimana? Kepalanya masih sakit?"
"Udah sembuh,"
"Iya, selama Abang berada di samping Sarah, pasti Sarah akan sembuh,"
Zio mengulas senyum tipis, lalu mencubit gemas hidungnya. "Bisa-bisanya kamu gombalin Abang ya,"
"Itu bukan gombal Abang, tapi kenyataan! Coba tadi Abang gak tidur di sebelah Sarah, pasti kepala Sarah masih sakit!"
"Kalau sudah sembuh, berarti Abang sudah bisa lagi?" Zio menaik-turunkan kedua alisnya.
"Iiih, dasar mesum!" Sarah meraup wajah Zio.
Zio lansung memeluk tubuh ringkih istrinya. "Tapi Abang sudah pengen banget, Sayang," bisiknya, lalu menggigit daun telinga Sarah.
"Iya, iya, tapi nanti malam saja ya,"
"Maunya sekarang, masa Abang lapar sekarang makannya nanti malam," Zio merengek seperti anak kecil yang meminta sesuatu.
"Abang, tapi Sarah sekarang lapar, nanti saja setelah makan siang ya,"
__ADS_1
"Baiklah, sekarang kamu mau makan apa? Kita pesan makanan di luar saja," Lalu, Zio mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana.
Sarah memegang tangan suaminya. "Sarah ingin makan masakan Abang lagi," ucapnya dengan manja.
Zio memicingkan mata. "Tapi Sayang, masakan Abang kan tak seenak kamu,"
"Gak apa-apa, kita masak sama-sama, sekalian Sarah mau ajarkan Abang bagaimana cara memasak. Biar nanti kalau Sarah gak ada, Abang bisa memasak sendiri, gak perlu makan diluar,"
Ekspresi wajah Zio seketika berubah. "Gak ada maksud kamu?"
"Eh gak adalah, maksud Sarah nanti kalau Sarah sakit, kan Abang bisa masakin Sarah lagi. Sudah ayo kita ke bawah," Sarah segera bangkit dari ranjang, berjalan keluar kamar.
Sementara Zio masih terpaku di tempat, kepikiran dengan kata-kata yang diucapkan istrinya barusan.
Baru saja Zio bergerak turun dari ranjang, tiba-tiba ponselnya bergetar. Di layar tertera nama Carla.
Zio menghembuskan nafas kasar, sebelum menjawab telepon dari Adik angkatnya tersebut.
"Adek, Abang sibuk! Tolong mengerti!"
Di ujung sana Carla lansung sesugukan mendengar bentakan Zio.
"Sudah, Adek mau ngomong apa? Katakan cepat, Abang gak ada waktu!"
"Abang benar-benar sudah gak peduli lagi sama Adek," lirih Carla di ujung sana.
Zio meraup wajahnya, lalu menghembuskan nafas besar. "Oke, Abang minta maaf, tapi, Abang minta tolong, Adek jangan seperti ini lagi. Adek itu sudah dewasa, bukan anak kecil lagi yang harus Abang jaga 24 jam,"
Sejak tadi, Zio bicara menahan suaranya agar tidak terdengar oleh Sarah yang sudah berada di bawah.
"Adek mau pindah ke Bandung saja sama Ibu," lirih Carla di ujung sana.
Zio menghela nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia tidaklah ingin Carla pergi. Namun, ia juga memikirkan perasaan istrinya. Ia tak ingin hadirnya Carla akan membuat hubungannya dengan sang istri renggang. "Ya, baiklah, Abang izinkan," ucap Zio kemudian.
"Tapi Adek ingin untuk terakhir kali makan malam bersama Abang. Kita bisa kan malam ini makan malam, setelah itu Adek gak akan mengganggu Abang lagi,"
"Tapi-"
"Please! Adek mohon sekali ini saja," potong Carla.
__ADS_1
Beberapa saat Zio diam. "Ya, baiklah, Abang akan datang malam ini," ucapnya kemudian.