Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
Mandi bareng


__ADS_3

Hingga sore hari, Zio dan Sarah masih berada di rumah Santi. Pasalnya Santi dan Wati memaksa mereka agar menginap semalam saja, sebelum mereka tinggal di rumah baru. Zio mati-matian menjelaskan pada mertuanya bahwa mereka tidak bisa menginap karna harus membeli beberapa perabot untuk rumah baru yang akan mereka tempati.


Zio habis kata, melawan Wati dan Santi yang bersikukuh agar mereka menginap malam ini. Sedangkan Sarah hanya diam saja, tanpa memihak pada siapapun, membuat Zio semakin kesal padanya.


Kalah debat, selesai makan siang Zio mengurung diri di dalam kamar Sarah. Sesekali ia melihat jam, memperkirakan kepulangan Raka dari kantor. Ada sedikit cemas dihatinya membayangkan akan bertemu Raka nanti. Itulah salah satu alasannya tidak ingin menginap di rumah mertuanya ini.


Kamar Sarah yang tidak dilengkapi kamar mandi membuat Zio harus menahan sesuatu yang harus ia keluarkan. Entahlah, dirinya terlalu sungkan berada di rumah mertuanya ini.


"Abaaaang," sapa manja dari Sarah yang baru masuk kedalam kamar. Meski saat ini wajah Zio terlihat tidak bersahabat, Sarah tetap berjalan mendekati suaminya itu.


"Abang kenapa? Masih kesal karna Mama meminta kita menginap disini?"


Zio yang tadinya hanya duduk diam. Kemudian mengeluarkan ponsel, menyibukkan dirinya menatap layar ponsel ditangan, mengabaikan adanya Sarah yang berdiri di depannya saat ini.


"Abaaaang! Abang kan tau, Sarah akan ikut kemana Abang membawa Sarah pergi. Seandainya sekarang Abang membawa Sarah pergi dari sini. Sarah juga akan ikut, Mama juga ngga bisa berbuat apa-apa atau melarang, karna Sarah ini istri Abang. Abang bebas membawa Sarah kemana pun,"


"Banyak sekali ceritamu!" dengus Zio tanpa melihat Sarah yang berdiri di depannya.


Sarah menghela nafas panjang. "Jelas lah Sarah banyak cerita. Nih, misalkan? Abang diam, Sarah juga diam, terus kita saling diam-diaman. Kan nggak seru Abang,"


Zio masih diam, menatap ponselnya. Menurutnya, percuma berdebat dengan istrinya yang cerewet ini.


"Abaaang. Ini sudah sore lho? Memangnya Abang ngga mau mandi?"


"Kamu kalau mau mandi, mandi saja sana!" dengus Zio.


"Tapi Bang, tradisi dirumah ini kalau mandi sore wajib sama pasangan. Kalau ngga, nanti akan ditanya macam-macam sama Nenek. Abang nggak mau kan, di tanya macam-macam sama Nenek?"


Zio menatap Sarah dengan wajah yang tegang. "Ka-kamu tidak usah ber-bercanda,"


"Sarah ngga bercanda. Nenek dan Kakek saja sampai sekarang masih mandi berdua,"


Wajah Zio makin memucat, jakunnya pun bergerak naik-turun begitu cepat entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.


"Sarah! Ajak suamimu mandi. Sebentar lagi Papamu pulang, jangan sampai kalian rebutan nanti mandinya," teriak Wati dari luar kamar.

__ADS_1


"Tuh, Abang dengar sendiri kan!" Sarah tersenyum-senyum sendiri melihat wajah tampan suaminya yang semakin pucat, di sertai keluarnya keringat dingin di dahinya.


"Ayo, Bang," Sarah yang berdiri di depan Zio mengulurkan tangannya sembari meliuk-liukkan tubuh ke kiri dan kanan.


"Me-memang nya ti-tidak boleh mandi sendiri-sendiri saja?" tanya Zio terbata-bata.


"Boleh saja, tapi nanti Nenek pasti akan menanyakan hal macam-macam pada Abang. Kalau Abang mau, ya Abang mandilah sendiri. Nanti jangan salahkan Sarah kalau Sarah bilang Abang yang ngga mau mandi dengan Sarah,"


Zio akhirnya berdiri.


"Bagaimana? Abang mau mandi sendiri, atau mandi sama Sarah?"


"Hmm," Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Zio, kemudian dia berjalan keluar kamar.


Sarah pun mengikutinya setelah menyambar handuk yang tergantung.


"Begitu dong! Suami istri itu memang harus mandi sama-sama. Agar rumah tangga tetap langgeng," ujar Wati saat melihat pasutri itu berjalan ke kamar mandi.


Zio tetap berjalan lurus kedepan dengan wajah tegang, masuk kedalam kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur.


"Abaaang. Mau Sarah mandikan ngga?" desisnya di telinga Zio membuat bulu roma di tengkuk suaminya seketika berdiri.


Susah payah Zio meneguk salivanya yang seperti tercekat di tenggorokan.


"Ja-jangan macam-macam Sarah!"


"Macam-macam apa pula? Sarah kan hanya mau membantu Abang saja," goda Sarah semakin berani.


"Ka-kamu mandi duluan saja," Zio lantas berbalik badan menghadap tembok.


"Baiklah, Sarah mandi duluan, ya?" Merasa belum puas mengerjai suaminya. Sarah lalu membuka pakaian luarnya, menyisakan pakaian dalam saja. Kemudian, dengan sengaja ia mengguyurkan air shower ke tubuh Zio yang masih berpakaian lengkap.


Tubuh Zio bagaikan patung yang berdiri, meski pakaian dan tubuhnya sudah basah kuyup ia masih tidak bergeming.


Puas menyiramkan air ke tubuh suaminya. Sarah kembali membisikkan sesuatu ketelinga Zio. "Abaaang. Sarah bantu buka pakaian Abang ya?"

__ADS_1


"Ja-jangan,"


Meski di larang, Sarah tetap mengulurkan kedua tangannya kedepan, membuka satu-persatu kancing kemeja suaminya, tanpa ada bersentuhan kulit.


Tubuh Zio masih mematung, hanya bola matanya yang bergerak turun, melihat jemari Sarah membuka kancing kemejanya.


"Abaaang, menghadap sini,"


Bagai terhipnotis, Zio perlahan berbalik badan menghadap ke Sarah.


Sungguh, nafasnya saat ini seakan berhenti ketika kedua bola matanya melihat tubuh indah Sarah yang hanya di tutupi pakaian dalam saja. Tenggorokannya semakin terasa kering disertai jakun yang semakin naik turun.


Meski tubuh Zio hanya diam saja, tapi sesuatu dibawah sana, sudah membesar dengan sendirinya. Hal yang wajar sih, karna dirinya adalah lelaki normal. Apalagi melihat bentuk indah tubuh Sarah yang bersih tanpa cela, berdiri tepat di depannya.


Kemeja yang digunakan Zio kini telah terlepas dari tubuhnya. Menyisakan kaos dalam saja yang menutupi bagian atasnya.


"Ja-jangan Sarah!" Meski mulutnya mengatakan jangan, tapi tubuhnya hanya berdiri diam saat jemari Sarah membuka ikat pinggang beserta kancing celananya.


Perlahan Sarah melorotkan celana panjang yang di gunakan Zio. Ia sempat kaget saat melihat isi didalam calana dalam suaminya yang mengembung, terlihat sesak dan penuh.


Sarah kini berjongkok untuk meloloskan celana panjang suaminya. Bola matanya sesekali naik keatas melihat gundukan di dalam celana suaminya yang terkadang bergerak sendiri.


"Abaaang, angkat kakinya," Lagi, Zio hanya menurut, mengangkat sebelah kakinya.


Sarah dengan cekatan segera meloloskan celana panjang itu hingga terlepas dari mata kaki Zio.


Kini, tubuh dua insan yang berada dalam kamar mandi, sama-sama hanya menggunakan dalaman saja. Zio masih tidak bisa bergeming, hanya diam dan menurut saja, saat Sarah melepas kan kaos dalam yang menutupi tubuh bagian atasnya.


Dingin air shower yang di guyurkan Sarah ketubuhnya pun seperti tidak Zio rasakan.


"Katanya tadi ngga mau di mandiiin," ledek Sarah menggodanya.


Zio hanya diam saja, saat Sarah sudah mulai mengusapkan spons ke tubuhnya. Sekuat tenaga ia menahan hasrat lelakinya yang semakin menjalar hingga ke ubun-ubun. Apalagi saat ini jemari Sarah yang nakal sedang mengusapkan Spons ke perutnya.


"To-tolong hentikan, Sa-Sarah," Suara Zio semakin melemah.

__ADS_1


__ADS_2