
Semua orang sudah berkumpul di kamar rawat Angel saat hari menjelang siang termasuk Alana dan Richard yang memang sudah berada di Indonesia sejak beberapa minggu yang lalu.
Alicia sedang memarahi Harada habis-habisan karena tidak membangunkannya semalam saat Angel mengalami kontraksi.
"Mom, aku sangat panik semalam," Harada masih mencoba membela diri. "Aku bahkan melupakan kunci mobil,"
Alana menghampiri putrinya, memeluk Angel kecilnya. Yah, baginya Angel selalu menjadi putri kecilnya.
Masih sangat jelas di ingatannya saat pertama kali melihat Angel turun dari mobil bersama Richard.
"Selamat, sayang."
"Terima kasih, Eomma," Angel membalas pelukan Alana. Dua insan ini saling jatuh cinta pada pandangan pertama.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian semuanya.
Seorang perawat masuk dengan mendorong box dari akrilik bening dengan bayi mungil di dalamnya.
Semua orang menatap bayi itu dengan penuh kagum dan bahagia. Keturunan pertama keluarga Ozawa juga Lee.
Perawat memindahkan bagi mungil itu ke tangan Angel. Membantu Angel memberikan ASI untuk anaknya. Setelah dirasa mampu, perawat itu undur diri.
"Siapa namanya? Kalian sudah menyiapkan nama?" Alicia dan Alana menatap bayi merah itu dengan gemas.
__ADS_1
"Raiden. Raiden Ozawa." jawab Harada.
"Tambahkan Lee pada namanya," celetuk Richard.
"Appa!" sahut Alana, Angel dan Harada bersama.
"Uu... kamu lapar, ya?" Alana menoel-noel pipi Raiden yang sedang menyusu pada Angel.
"Aku masih tidak percaya anak nakal ini bisa memberiku cucu," ejek Alicia.
"Mom! Jangan bicara seperti itu. Bagaiman jika Raiden mendengarnya." renggek Harada.
"Sayang, Daddy, Da.. Ddy... aku mau di panggil daddy."
"Tidak sayang. Appa lebih manis," tolak Angel.
"Benar, Appa lebih enak di dengar," Richard setuju dengan Angel.
"No sayang, aku mau dipanggil Daddy," Harada masih mencoba merayu Angel.
"Sudah! Sudah! Mau appa, Daddy, otousan semua nya saja." Alicia menghentikan pertengkaran orang tua baru ini. "Lihat, Raiden terganggu,"
__ADS_1
Bayi munggil itu mengerjakan mata sipitnya. Tangan mungilnya menggengam telunjuk Angel.
Perasaan hangat menjalar dihati Angel merasakan tangan anaknya. Merasakan bagaimana bayi ini mencari kenyamanan pada dirinya.
Harada duduk disebelah Angel, memperhatikan putranya yang sangat kuat menyusu pada Angel. "Kali ini Daddy mengalah, boy. Kamu boleh mmenikmatinya sepuasmu." ujar Harada yang dihadiahi pukulan oleh Alicia dan tatapan membunuh oleh Angel.
"Jangan dengarkan Appa mu. Ini milikmu nikmati sepuasnya," balas Angel.
Dengan hati-hati Harada memindahkan Raiden kembali ke box setelah bayi itu tertidur. Menatap bayi itu penuh kebahagiaan.
Harada kembali kesebelah Angel. Memeluk pundak istrinya. Bahagia. Satu kata itu yang mengisi hati Angel dan Harada satu hati ini.
"Aku tidak percaya kita sudah menjadi nenek dan kakek," Alana berbisik pada Richard
Richard mengangguk setuju. Rasanya baru kemarin ia harus merawat Angel yang baru berusia satu tahun karena kematian Rosaline. Baru kemarin rasanya ia jatuh cinta pada Alana. Baru kemarin rasanya ia melihat Angel mulai tumbuh menjadi gadis dewasa.
Tapi hari ini, putri kecilnya sudah menjadi seorang ibu. Mendapatkan suami yang sangat mencintainya hingga tidak melihat kekurangan Angel.
"Terima kasih," Richard mengecup singkat pipi Alana.
Alana menatap suaminya dengan heran. "Kenapa?"
"Hadir dalam hidupku. Merawat anak-anakku. Anak-anak kita." Richard segera meralat kata-katanya karena Alana sudah melotot kearahnya.
__ADS_1
Richard terkekeh. Mengecup pucuk kepala Alana dengan penuh cinta. Hidupnya sudah lengkap. Istri yang mencintainya, anak yang bahagia dengan keluarga barunya, cucu yang lucu. Hanya tinggal menunggu Keenan dewasa dan menikah. Menggantikannya memimpin perusahaan dan menikah.