
Seperti rencana Aunty Marlin, kami para wanita pergi ke mall tanpa pria sama sekali. It's girls time. Bahkan Britany pun tidak ketinggalan. Ia duduk manis di stroller menikmati pemandangan di mall.
Eomma dan Aunty Marlin seperti gadis muda, keluar masuk gerai tanpa membeli apapun. Tingkah mereka mengingatkanku saat aku baru tiba di Jakarta.
Harada begitu kesal padaku karena aku hanya keluar masuk tanpa membeli apapun. Ish... kenapa aku jadi memikirkannya??
"Angel, gaun ini bagus kan?" Eomma menepelkan gaun berwarna biru pastel di tubuhku.
"Kita cari ukuranmu." Eomma tidak menunggu persetujuan ku. Aku terlalu sibuk memikirkan Yakuza. Mungkin karena aku sudah terbiasa kemanapun dengannya, hingga terasa berbeda tanpa Harada.
"Ada apa denganmu, sayang?" Aku tidak akan pernah bisa menyembunyikan perasaan ku dari Eomma. Sepandai apapun aku memperlihatkan wajah ceria, Eomma selalu tahu jika aku sedang bersedih atau memikirkan sesuatu.
"Aku tidak apa-apa. Eomma sudah selesai?" Ini sudah gerai kesekian yang kami masuki.
"Kamu terlihat tidak bersemangat. Sepertinya putri Eomma sudah tidak kangen lagi sama Eomma," Eomma berakting.
"Kenapa Eomma bicara seperti itu. Mana mungkin Angel tidak kangen Eomma." Aku memeluk pundak Eomma.
"Lan," Aunty Marlin datang mendekat sambil mendorong stroller Britany. Matanya memberi kode agar Eomma melihat kearah samping.
"Aunty juga menyadarinya?" aku berbisik. "Mereka sudah mengikuti kita sejak kita sampai di mall tadi,"
"Hubungi Appamu," Titah Eomma. "Ck! Siapa yang mencari masalah dengan kita?"
"Appa, ada teman berkunjung, mungkin akan ada pulang terlambat." aku langsung memutus panggilan teleponnya. Kemudian membagikan lokasi kami pada Appa.
"Lin, pergi! Kita berpencar," sepertinya orang - orang yang mengikuti kami sudah sadar bahkan kami menyadari kehadiran mereka. Maka dari itu Eomma meminta Aunty Marlin untuk pergi untuk menyelamatkan baby Britany.
"Ayo Angel," Aku mengikuti Eomma yang setengah berlari. "Eskalator," kata Eomma. sambil terus bergerak.
Eomma meroggoh tasnya, kemudian mengeluarkan mini GPS tracker miliknya menyelipkan pada b*ra tanpa memperdulikan pandangan orang lain.
Aku dan Eomma hampir mencapai pintu utama mall tapi kami sudah dikepung. Mereka muncul dari depan, belakang, kanan dan kiri.
Mereka semakin mendekat, mungkin sekitar sepuluh orang. "Angel, kita akan tertangkap. Pada saatnya nanti kamu harus menguatkan dirimu. Arraseo?" Pesan Eomma sebelum kami benar - benar tertangkap.
Dua orang laki-laki menangkapku juga Eomma. Membawa kami dengan paksa keluar lewat pintu utama mall.
__ADS_1
"Angel, bwa eomma! Dulyeoum-eul igil. dangsin-i haenael su issdaneun geos-eul abnida," Kata Eomma saat kami sudah berada di dalam mobil.
** Angel, lihat Eomma! Lawan rasa takutmu. Eomma tahu kamu bisa melakukannya.
PoV Author
Richard yang mendapat kode bahaya dari Angel langsung mengajak Blue dan Harada untuk menyusul anak dan istrinya.
Blue yang memegang kemudi sambil memperhatikan peta pada ponsel Richard, sedang ponsel Harada digunakan untuk mendengar pembicaraan mereka.
[Kalian siapa? Siapa yang menyuruh kalian menculik kami?!] Suara Alana terdengar dari ponsel Harada.
[Apa kalian tidak tahu sedang berurusan dengan siapa hah?!]
[Kalian anggota Kuroi Kage?!] Richard dan Harada seketika itu saling memandang.
"Tidak mungkin! Aku menghancurkan organisasi itu sebelum ke Indo 15 tahun yang lalu," ucap Richard.
"Shit! Harusnya aku memeriksa lebih teliti!" Richard memukul - mukul dashboard mobil.
"Bagaimana mereka bisa masuk ke Indo? Ozawa mengawasi seluruh organisasi Hitam dengan ketat, bahkan keluarga mereka tidak lolos dari pantauan kami," Kini Harada bersuara.
Richard menyelipkan pistol dibalik jaketnya, begitu juga dengan Harada dan Blue hanya saja Harada juga membawa Katananya sedang Blue membawa beberapa pisau lipat.
"Kita gak bisa lihat keadaan didalam?" tanya Richard. Blue menggeleng.
Blue membagi anak buahnya untuk menyerang dari beberapa arah yang berbeda. Richard dan Harada masing - masing memimpin satu regu.
Harada yang sudah diselimuti rasa khawatir langsung menyerang masuk dari bagian depan. Dia mengeluarkan Katana dari sarungnya, menebas orang yang ia lewati di pintu depan.
Ia tidak bisa membayangkan keadaan Angel yang sedang ketakutan saat ini. Yang ia pikirkan hanya harus segera menemukan Angel.
Katananya bersimbah darah hasil menebas penjaga di pintu depan. Dengan perlahan dia menggosok pedang pada lengan kirinya sebelum akhirnya memasukkan pedang itu kembali ke sarungnya.
Aura membunuh Harada begitu terasa, hanya tatapannya saja sudah bisa dilihat dia tidak ragu untuk menghabisi musuhnya.
Harada meminta anggotanya untuk menyebar, memeriksa setiap ruangan, melumpuhkan setiap musuh. Seperti perintah Blue, sisakan satu yang bernyawa.
__ADS_1
"Hadara-san!" seseorang berteriak dari depan sebuah pintu. Harada berlari menghampiri pintu itu. "Terkunci," ujarnya.
Harada mengambil pistol yang terselip di tali pinggang, menebak pada pintu beberapa kali hingga gagang pintu itu rusak.
Benar saja Angel dan Alana ada didalam ruang itu. Alana sedang memeluk Angel yang sedang ketakutan.
Harada menekuk lututnya, menyerahkan dua pistol pada Alana kemudian menggendong Angel.
"Harada," Lirihnya sambil gemetar. Seluruh tubuh Angel gemetar. Rambut panjangnya basah karena meringat begitupun pakaiannya.
"Jangan takut, ada aku," Harada memenangkan Angel, memberinya senyuman menyakinkan gadis itu kalau semuanya akan baik-baik saja.
"Ayo Aunty," Harada mengikuti anak buahnya yang sudah jalan terlebih dahulu untuk melindungi dan Angel. Alana menyusul dibagian belakang.
Angel memeluk leher kekar Harada dan membenamkan wajahnya di ceruk leher laki - laki itu. Rasa aman dan nyaman menghinggapi Angel. Rasa takutnya sirnah begitu saja.
Harada membawa Angel ke mobil Blue membantu gadis itu mendapatkan posisi ternyamannya. Meyakini Angel aman bersama Alana, Harada kembali ke dalam gudang untuk membantu Blue dan Richard.
Harada dan yang lainnya kembali tiga puluh menit kemudian. Richard mencium pucuk kepala Alana dan Angel bergantian. Bersyukur keduanya baik - baik saja.
"Terima kasih," katanya pada Harada.
"Kalian pulanglah, gue ke markas sama anak - anak. Susul gue setelah mengantar mereka," Titahnya pada Harada. Harada membalas dengan membungkukan badan.
"Mari Uncle, tempat ini akan di eksekusi sebentar lagi," Harada membukakan pintu mobil untuk Richard.
Ditempat lain Hiraku sedang gusar karena belum mendapatkan kabar dari anak buahnya yang bertugas untuk menculik Angel.
***Mudah-mudahan tegangnya nyampe ya...
Part ini nulisnya putus - putus. Nulis delete, nulis delete.
Like, komen dan gift jangan putus dong...
vote kalau berkenan.
makasi 😘😘😘***
__ADS_1