
Harada sudah mengatur semuanya. Jenazah yang tadi ditemukan sudah dibawa ke
Lab milik farmasi Ozawa. Sebisa mungkin
membawa semua petunjuk untuk mencari tahu yang terjadi.
Potongan kenangan Harada bersama Angel terus berputar dikepalanya. Mulai
awal mereka bertemu hingga tadi pagi sebelum Harada berangkat ke perusahaan.
Senyum manis Angel masih jelas dibenak Harada bahkan wangi parfum Angel pun
masih bisa Harada rasakan ada disekitarnya.
Harada mengenggam erat cincin pertunangannya dengan Angel, seolah ingin
merasakan kehadiran Angel disisinya. Dibelainya Mimi yang sedang duduk
dipangkuan Harada. ”Kamu merindukan mami mu bukan? Aku pun begitu,” Harada
mendesahkan napasnya ke udara.
”Kamu baik – baik saja?” Jason yang sedang mengemudi sesekali memperhatikan
sahabatnya itu.
”Kamu tahu, J kehilangan Sheryl tidak sesakit ini,” Harada mengacak rambut
panjangnya yang sedang tidak terikat. ”Kami baru mulai saling membuka diri,
saling menerima. Aku bahkan belum mengatakan kalau aku mencintainya.” Harada tersenyum getir.
Mereka semua berkumpul di lab milik Ozawa termasuk Andy dan Kiyoshi. Alana
dan Richard menangis disisi bangkar Angel. Alana sudah tidak bisa berpijak
dengan benar karena kakinya lemas. Ia bersandar pada Richard.
Tangis Alana makin pecah ketika kantung jenazah dibuka dan memperlihatkan
kondisi Angel yang mengenaskan.
Madin memeluk pundak Alana mencoba menguatkan keponakannya itu. ”Apa kamu
mau otopsi?”
”Wak, Lana gak tega. Angel sudah seperti ini kalau di otopsi lagi jasadnya akan
–” Alana tidak sanggup menyelesaikn kata – katanya. Ia kembali menumpahkan
tangisnya di pundak Richard.
__ADS_1
”Uwak akan urus pemakanannya,” lirih Madin sambil meremas pundak Alana
berharap bisa memberikan sedikit ketenangan.
Harada yang sejak tadi berdiri dibelakang Alana dan Richard tidak dapat
menyembunyikan kesedihannya. Walaupun dia tidak menangis tapi wajahnya terlihat
lebih dingin dan kaku dari sebelumnya.
Andy yang bersebelahan dengan Harada merangkul pundak sepupunya itu. Ia
tahu Harada sedang sangat terpukul saat ini. Hanya rangkulan yang bisa Andy
berikan untuk menguatkan Harada.
”Aku pasti akan menemukan bajingan ini dan membunuhnya dengan tanganku
sendiri,” ujar Harada geram.
Upacara penghormatan terakhir untuk Angel sudah disiapkan di rumah Madin.
Tamu berdatangan silih berganti mengucapkan bela sungkawa dan memberikan
penghormatan terakhir untuk Angel.
seperti ini,” Gadis menghampiri Alana.
”Kamu ini?” Alana memang belum pernah melihat Gadis sebelumnya.
”Saya Gadis, nyonya. Teman kampus Angel,” Gadis membungkuk memberikan
hormatnya.
Sheryl juga datang. Ia datang menemani Andy dan sebagai perwakilan keluarga
Ozawa. Tidak mengucapkan apapun pada keluarga yang sedang berduka. Ia hanya
tersenyum samar. Sayangnya senyum itu tertangkap oleh mata Harada.
”Tidak bisakah kamu tahan rasa gembira mu hingga pulang nanti?! Tunjukkan sedikit rasa hormatmu!” kata
Harada sinis.
Kedatangan Hiraku menyulut kemarahan Harada. Cukup besar keyakinannya kalau
Hiraku dan putra adalah dalang dari ini semua, tapi sayangnya belum ada bukti
yang cukup.
__ADS_1
Harada tidak akan ragu – ragu menebas kepala ayah dan anak itu jika benar
mereka yang melakukan ini pada Angel.
”Richard, aku ikut berduka cita atas kehilanganmu.” katanya penuh dengan
sopan santun.
”Terima kasih,” Richard membalas pelukan Hiraku.
Hujan turun saat peti jenasah Angel dimasukkan kedalam liang lahat. Tangis
Alana dan Keenan menjadi lagu yang mengantarkan kepergian Angel.
Tanah sudah menutup dengan sempurna, batu nisan pun sudah terpasang.
Richard, Alana dan Keenan sudah memberikan pesan terakhirnya untuk Angel.
Kini hanya tinggal Harada sendiri menatap nanar batu nisan Angel.
Membiarkan hujan membasahinya.
”Hai Sayang, bagaimana keadaan mu disana?” Harada bermonolog. ”Kamu
kesepian? Jangan khawatir aku akan datang setiap hari untuk menemanimu. Aku
akan membawakan teman untuk. Tunggulah. Beri aku waktu untuk menemukan orang
yang melakukan ini padamu.”
”Maafkan aku belum bisa menemanimu, tapi jangan khawatir saat waktunya tiba
kita akan bertemun disana.”
”Aku akan menjaga Mimi dengan baik, jangan khawatir.”
”Aku akan membeli cincin kawin kita besok dan membawakannya untukmu. Jangan
mengeluh kamu tidak menyukainya salahmu sendiri tidak ikut memilih bersamaku. Kamu pasti menyukai piihan ku bukan? Aku
punya selera yang bagus.”
”Istirahatlah, kamu pasti lelah. Aku akan menemani mu lagi besok,” dengan
kaki yang berat, Harada melangkahkan kakinya meninggalkan makam Angel.
IG @bydarl.2021
Terima kasih buat yang udah like, komen kasi gift dan tiket yah...
Semoga kalian menikmati cerita receh emak ini
__ADS_1