
Angel menggendong senjatanya di pundak, mengambil beberapa pistol lagi dari
dalam tas hitam yang ia bawa dari apartemen. Ponselnya berbunyi tepat ketika ia
akan membuka pintu rumah. ”Iya, Uwak?” ternyata Blue yang melakukan panggilan
video. Tapi bukan wajah Blue yang
terlihat dilayar Angel, melainkan wajah suaminya.
Langkah Angel terhenti, menatap layar ponselnya dengan haru. ”Sayang...”
lirihnya.
”Cepat kembali. Bawa bajingan itu kemarkas.” Titahnya. ”Segera kembali dan
beri aku ciuman. Aku merindukanmu.” kata Harada lemah.
”Jangan harap. Kamu harus terima hukuman karena membuatku menangis.” Angel
tersenyum.
”Aku menunggu hukuman dari mu Nyonya Ozawa.” goda Harada.
”Baiklah. Aku segera kembali.” Angel menutup teleponnya. Seolah mendapatkan
semangat baru, Angel keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Jason.
Menyusun strategi untuk untuk membebaskan Alicia dan yang lainnya. Mereka
memutuskan untuk masuk lewat belakang selagi Andy menganggu konsentrasi Matsu
karena saat ini Andy baru saja masuk ke dalam mansion.
”Berapa banyak peluru yang kamu punya?” tanya Angel pada Jason. Jason
mengeluarkan dua magazen yang belum terpakai. Kemudian melihat magazen yang
terpasang di pistol semi otomatis miliknya.
”Sekitar 50” jawabnya memasukkan kembali tempat penyimpana amunisi itu
kedalam pistolnya.
Angel menggengam pistol di kedua tanganya, berjalan memutar dengan awas
menuju bagian belakang mansion dimana biasanya para pelayan beristirahat.
Ada enam penjaga dipintu belakang yang menghubungkan paviliun pelayan
__ADS_1
dengan dapur mansion. Salah satu dari mereka melihat kedatangan Angel dan
Jason, membuat mereka berenam siaga.
Satu tembakan melesat kearah Jason, untungnya Jason masih sempat menghindar
dan bersembunyi di balik pohon. Begitu juga dengan Angel.
Keenamnya menyebar setelah memanggil bantuan dari dalam. Selangkah demi
selangkah mereka mendekati dua pohon tempat Angel dan Jason bersembunyi. Jason
memberikan kode pada Angel dengan tangannya. Ia yang akan menyerang terlebih
dahulu untuk memberikan kesempatan pada Angel menembak musuh mereka.
Jason mengintip dari balik pohon, menandai musuh yang akan ia tembak. Ia
mengangkat pistolnya dan
DOR! DOR! DOR! Ia berlari keluar dari persembunyiannya dan mulai menembaki
musuh yang ada di depannya. Angel menyusul dibelakang Jason, membelakangi Jason
menembaki musuh yang ada dibelakang.
Jason yang terlalu konsentrasi dengan musuh berjalan maju tanpa
ada beberapa yang berhasil memangkas jaraknya dengan Angel.
Angel sekarang bukan hanya menembak tapi juga harus melakukan kontak fisik
dengan musuh yang mendekat.
BRUGH! Angel memukul musuh yang ada didepannya dengan pistol yang ia
pegang. Memeluk laki-laki itu dijadikan sebagai tameng dan menembak musuh yang
ada didepannya.
Mengarahkan orang yang didepannya menghadap kekiri hingga orang itu harus
menerima peluru dari rekannya sendiri. Angel membidik musuhnya dari sisi lengan
tameng manusianya. DOR! DOR! Dia peluru bersarang pada dada musuhnya.
Angel menjaga agar tidak harus melakukan banyak tendangan dan pukulan. Ia
juga menjaga jaraknya dengan musuh agar terhidar dari kontak fisik langsung
__ADS_1
mengingat ada calon bayi yang harus ia jaga.
DOR! Musuh terakhir yang berhasil Angel tembak.
Pakain Angel sudah dihiasi oleh percikan darah tidak membuat Angel jijik.
Tanganya juga sudah merah oleh darah tamengnya yang sudah tidak bernyawa.
Ketika Angel melangkah ternyata ada yang memegang kakinya, menahan langkah
Angel. DOR! Tanpa ragu Angel menembak kepala orang itu. Pria itu meregang nyawa
seketika.
”Hey... Baby Oz, bertahan didalam sana okeh? Kita akan bertemu Appa
sebentar lagi.” Angel memegangi perutnya.
Angel yang berhasil masuk ke rumah utama melalui pintu dapur berjalan mengendap
– endap menuju ruang tengah tempat Matsu menahan keluarganya.
Angel mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, mencari tempat yang pas
untuk dirinya.
Di ruang keluarga, sedang memprovokasi Matsu agar bertarung dengannya satu
lawan satu.
Angel memesang peredam suara pada pistolnya, mendekati musuh yang paling
dekat dengannya. Melingkarkan tangan dileher pria itu, DOR! Peluru dari pistol
yang dipegang Angel menembus punggung orang itu hingga mengenai hatinya tanpa
suara.
Dibantu oleh Jason, Angel menarik pria yang sudah tidak bernyawa itu ke
dapur.
Angel menaiki tangga dengan hati-hati tidak ingin menimbulkan suara yang
akan menarik perhatian Matsu. Mencari tempat yang pas untuk membidik Matsu.
Angel tiarap disela-sela pilar anak tangga. Mengarahkan laras panjangnya ke
arah Matsu menunggu waktu yang tepat untuk menembakan peluru pada musuh dalam
__ADS_1
selimut keluarga Ozawa.