Istriku Bad Girl 2 (The Story Of Angel Lee)

Istriku Bad Girl 2 (The Story Of Angel Lee)
Apa Seperti Ini?


__ADS_3

Seperti yang sudah direncanakan hari aku akan latihan bertarung. Harada mengajakku ke sebuah sasana Muay Thai. "Kamu latihan disini," Harada berjalan di depanku.


Tapi kemudian dia menghentikan langkahnya, menungguku sejajar dengannya. "Kenapa langkah mu kecil sekali," Keluhnya.


"Ish... kaki mu yang terlalu panjang," aku balas Harada.


"Ganti pakaianmu." Harada mengantarkan ku sampai depan kamar ganti.


Aku duduk di kursi plastik sambil menunggu Harada selesai memakai handwrap pada kedua tanganku.



"Hati-hati. Perhatikan setiap gerakan mu, fokus pada musuh," Harada terus melilitkan kain panjang itu ketanganku. Handwrap sendiri berfungsi untuk melindungi saraf-saraf pada tangan termasuk pergelangan tangan.


"Aku tahu,"


"Ini Berta." Harada mengenalkan pada seorang gadis, sepertinya seumuran denganku. "Hari ini dia lawan tanding mu,"


Aku dan Berta naik kedalam ring. "Bertarung hingga ada yang kalah. Jangan sungkan pada Berta sayang, karena dia juga tidak akan sungkan padamu," Harada menyeringai licik.



Muay Thai merupakan olah raga keras yang berasal dari Thailand. Serangan Muay Thai banyak menggunakan pukulan, tendangan, siku dan serangan lutut.


Aku memasang kuda-kuda. Kaki kiri didepan, kaki kanan dibelakang. Dia tangan sejajar dengan pipi.


Jab, tangan kiriku memukul lurus ke arah wajah Berta. Dia berhasil menghindar. Berta membalasku dengan melakukan uppercut yang berhasil mengenai daguku.


"Fokus, Angel! Baca gerakannya!" Harada berteriak dari luar ring. Dia duduk dikursi sambil menonton pertarungan ku.


Aku menyerang, memberikan tendangan dengan kaki kemudian menarik pundak Berta dan menyerang dengan lutut kearah perutnya.


Berta terhuyung. Tapi dia dengan cepet kembali ke posisi menyerangnya. Wah... dia memang petarung.


Berta menyerang dengan cepat, pukulan-pukulan lurus disambung dengan serangan menggunakan sikunya. Sesekali Berta menendang, menyerang pinggang dan kakiku.

__ADS_1


Aku masih dalam posisi bertahan, menahan rasa sakit. Benar kata Harada Berta tidak sungkan untuk menyerang. Gadis ini serius!


Melihat celah saat Berta gagal saat menyerang menggunakan kaki. Aku memanfaatkannya dengan baik. Aku menghindar, menyerang pipinya dengan siku. Memberikan beberapa tendangan yang membuat Berta mundur.


Aku maju mendekati Berta yang sedang berusaha menyeimbangkan dirinya, memasang kuda-kuda, memutar hipsku dan BUG! Satu spin kick yang berhasil membuat Berta jatuh.



Harada tersenyum melihatku yang berhasil menjatuhkan Berta. Menggerakan tangannya mengatakan bahwa aksiku tidak terlalu buruk.


Dia menyambutku yang turun dari ring. "Sakit?" tanyanya sambil memperhatikan daguku yang tadi terkena pukulan. "Aku akan siapkan kompresnya. Ganti pakaian mu. Besok kita lanjutkan,"


"Besok lawan mu laki-laki," katanya sambil memegangi ice bag yang menempel dibawah dagu. "Perhatikan gerakkan lawanmu. Jangan sampai kamu babak belur," katanya ketus.


"Jangan pakai celana pendek lagi, gunakan celana panjang," lanjutnya.


"Kamu sudah tidak takut lagi dengan ku?" aku menggeleng.


"Seperti sudah tidak," jawabku polos.


"Well, jantung masih bekerja ekstra saat kamu dekat dengan ku, tapi anehnya aku tidak merasa terancam,"


"Berdekatan? Apa seperti ini?" Harada mendekatkan wajahnya dengan wajahnya, sangat dekat, hidungnya menyentuh hidungku.


Waktu terasa berhenti dan telingaku seperti kedap suara. Aku tidak mendengar suara apapun selain detak jantungku yang iramanya sudah kacau.


"Wajahmu memerah," Harada kembali memberikan jarak pada wajah kami, dan aku seolah mendapatkan eksigenku kembali.


Ish... aku bisa kena serangan jantung kalau begini terus.


Memalingkan wajah adalah cara paling jitu untuk menghindari malu, dan itu yang aku lakukan.


"Ayo pulang," Ajaknya, tapi kemudian aku ingat hari ini Gadis sedang berkenan dengan Jason.


Sebenarnya sejak kemarin Gadis memintaku untuk ikut, tapi aku tolak. Ngapain coba menenin orang kencan.

__ADS_1


"Kita nonton ya?" Harada menghentikan langkahnya.


"Tidak!" Jawabnya tegas.


Aku berhenti dibelakangnya sambil cemberut. Dua bulan lebih aku sudah disini, aku belum pernah menikmati kota ini dengan baik.


"Tidak!" Harada lebih serius dari pada sebelumnya. "Aku tidak mau menemani orang yang sedang berkencan," lanjutnya.


Ternyata aku dan Harada satu server. "Tapi kita bisa cari tempat duduk yang jauh dari mereka,"


"Tidak! Kita nonton di rumah saja. Di Netfl*x banyak film bagus. Kalau masih kurang, kamu tinggal install aplikasi lain," Aku ditinggal dibelakang.


Ish... tukang paksa!


Jadilah kami nonton di rumah ditemani segelas red wine dan juga es krim. Ide Harada nonton sambil makan es krim. Saat perjalanan pulang tadi dia membeli satu ember es krim ukuran 1 liter.


Besok sepertinya aku harus menendang samsak lebih lama untuk membakar lemak dari es krim. Jangan sampai baju pengantin ku tidak cukup.


"Lebih enak di rumah kan?" Harada sedang mengelus Mimi yang tidur di pangkuannya.



"Jangan cemburu sama mimi," katanya lagu sambil terkekeh.


"Siapa juga yang cemburu,"


"Sini," Harada menarik tanganku lembut, membuatku bergeser menempel pada nya. Dia mengarahkan kepalaku agar bersandar di pundaknya.


Satu tangannya mengelus mimi, satu lagi menyilang diatas pahami seolah tidak memperbolehkan ku untuk bergerak dan menjauh.


"Percayalah padaku. Aku tidak akan melakukan hal buruk padamu. Biarkan seperti ini," Bagaimana aku bisa menolak kalau dia Harada berkata dengan sangat lembut.


Ditempat lain, Matsu menemani Sheryl seharian ini melampiaskan emosinya.


"Yakinkan Andy untuk menikahimu sebelum Harada menikah. Kemudian kita bisa melancarkan rencana kita untuk menggagalkan pernikahan Harada," Matsu merangkak turun dari atas tubuh Sheryl.

__ADS_1


"Akan aku lakukan," Jawab Sheryl singkat dengan mata terpejam, menikmati sisa-sisa pertempurannya dengan Matsu.


__ADS_2