
Angel kembali ke rumah sakit
untuk menemui suaminya menjelang malam. ”Kalian sudah kembali?” Harada menyambut Angel dan Andy dari ranjangnya.
“Kemarilah.” Harada merentangkan tangannya, meminta Angel masuk ke dalam
pelukannya.
”Aku juga butuh pelukan,” sahut Andy mendaratkan bokong pada sofa yang
terletak disisi lain kamar.
”Biar aku memeluk Andy, sayang. Dia sedang membutuhkan dukungan,” kata
Angel dalam pelukan Harada.
”Jangan macam – macam sayang!” Harada mengurai
pelukan mereka. Membelai rambut hitam Angel dengan lembut. Ingin sekali ia
mencium istrinya tapi Harada menahan diri. Tidak ingin sepupunya semakin
bersedih.
“Aku akan ke Jepang.” Andy menatap entah
kemana.
“Pergilah. Obati luka hatimu setelah itu
segeralah kembali. Aku tidak
mau berurusan dengan kertas – kertas yang ada di kantor.” Angel memukul lengan
suaminya.
”Pergilah, An. Nikmati waktumu. Jangan dengarkan Harada.” Angel memberikan
tatapan tajamnya ketika melihat Harada yang akan membalas kata – katanya.
”Baiklah. Nyonya besar sudah memberi titah.” Harada mendesahkan napasnya
pasrah. ”Pergilah selama yang kamu inginkan.”
”Jangan lupa transfer gajiku.” Andy bangkit dari duduknya. ”Ingatkan aku
mentraktirmu sake, kakak ipar. Aku masih masih berhutang padamu.” Andy
melangkah keluar kamar Harada.
”Aku akan mandi dulu,” Angel meninggalkan Harada sendirian. Harada tidak
mencegah dan bertanya lebih banyak.
*****
”Sudah lebih baik?” Angel keluar dari kamar mandi dengan wajah lebih segar
walaupun matanya merah karena menangis. ”Kenapa menangis sendirian, hum?”
Mata merah dan bengkak Angel membuat Harada tahu istriya habis menangis.
”Sudah lebih baik?” Angel yang duduk di kursi, membaringkan kepalanya di
ranjang Harada. ”Jadi katakan kenapa kamu menangis?”
”Aku pikir aku sudah berdamai dengan masa lalu ku, Sayang. Ternyata aku masih menangis saat mengingat
__ADS_1
kejadian itu.”
”Apa yang kamu alami tidak mudah dilupakan, sayang. Terlalu menyakitkan. Bahkan aku yang hanya mendengar cerita itu
tidak akan mudah merima itu. Tapi semua sudah berlalu bukan? Alfa sudah
menghukum orang itu. Kamu sudah memiliki hidup yang baik sekarang. Aku akan
selalu berusaha membahagiakan mu.”
Angel tersenyum. Benar apa yang Harada katakan. Kelam hidupnya sudah
berganti dengan kebahagiaan. ”Katakan apa yang Alfa lakukan padanya?” Harada
bahkan tidak mau menyebut nama Hiraku.
”Memasukkannya ke dalam peti bersama serangga beracun dan menguburnya
hidup-hidup.” Angel bergidik ngeri.
”Alfa ingin membunuhnya perlahan.” Harada menggangukkan kepalanya. ”Kamu
tahu beberapa bisa serangga sangat mematikan dan membuatmu meregang nyawa
dengan sangat menyakitkan. Apa Alfa memasukkan black widow?”
”Entahlah sayang, aku tidak melihatnya. Yang pasti teriakannya terdengar
hingga keluar peti.” Angel menggosok lengannya. Bulu roma nya berdiri
membayangkan apa yang terjadi didalam peti mati itu. ”Sudahlah jangan bahas itu
lagi. Bisa-bisa aku tidak bisa tidur.” keluhnya sambil mengelus perut.
”Ada apa? Kamu lapar?” Harada sangat memperhatikan Angel. Gerak sekecil
”Eemm...” Angel mengerucutkan bibirnya. ”Aku ingin sesuatu yang segar dan
asam.”
Harada mengerutkan alisnya. ”Bukankah kamu lebih suka yang manis?”
Angel menggeleng. ”Tidak, kali ini aku ingin
yang asam. Ricotta mousse
dengan krim strawberi.”
”Kamu yakin? Tidak
ingin memesan yang lain?” Angel menggeleng. ”Hubungi Jason. Minta dia
mencarikannya untukmu.”
Angel melakukan apa yang Harada perintahkan
dengan menambahkan beberapa perintah lagi untuk memberi kejutan pada suaminya.
Jason datang dua jam kemudian membawa satu
kardus ricotta mousse dengan berbagai rasa. ”Ini pesananmu,” ia menyerahkan
kotak yang berisi enam macam rasa ricotta mousse.
”Sayang, kamu akan makan sebanyak itu?” Harada terkejut Angel membeli
banyak dessert dari keju.
__ADS_1
”Tidak. Kita yang akan makan ini semua.” Angel mengeluarkan satu toples kecil dan
memberikannya pada Harada.
”Baiklah silahkan nikmati keju kalian.” Jason hendak berpamitan. ”Selamat,
bos.” katanya sembari menepuk pelan pundak Harada.
”Selamat untuk apa?”
”Selamat menikmati dessertmu,” dustanya.
Angel duduk disebelah Harada. Membantu suaminya membuka tutup toples yang
sebenarnya sangat mudah untuk dibuka. ”Ayo makan,” Angel memasukkan suapan
pertamannya begitu juga Harada.
Disuapan kelima Harada merasa ada yang aneh. Dia melihat sesuatu yang aneh
disendoknya. Dengan tangan yang lain ia menarik keluar benda yang tersembunyi
di dalam kejunya. ”Sayang hentikan makanmu. Toko kue ini tidak higienis. Lihat
apa yang ada di dalam mousse ku.” sebuah sedotan kecil,
Harada mengintip lubang sedotan dan melihat ada sesuatu di dalamnya. Dengan
ujung kukunya ia mendorong kertas yang ada didalam sedotan itu kemudian membuka
gulungan kertas.
”Bayi?” Harada menatap Angel sejenak. Pandangannya beralih pada tangan
Angel yang sedang meraba perutnya. ”Sayang?”
Angel tersenyum sambil menaik – naikkan alisnya. ”Kemarilah!” Harada
menarik tangan Angel hingga istrinya berpindah tempat keatas ranjang. ”Katakan!”
Angel mendekatkan bibirnya pada telinga Harada dan berbisik, ”Hi... Daddy.”
kemudian mengecup pipi Harada.
”Kamu hamil? Kamu benar hamil?” Harada tidak bisa menyembunyikan
kebahagiannya. Jika saja dia tidak sedang berbaring, ia pasti sudah melompat
kegirangan.
Harada menarik tengkuk Angel dan membenamkan ciuman pada istrinya. Harada
meraba perut Angel, ”Hai...” sapanya pada calon anaknya.
”Tunggu, kamu menyerang mansion saat sedang hamil?!” Kini tatapannya
beralih pada Angel. ”Sayang kenapa kamu lakukan itu? Bagaimana bila terjadi
sesuatu pada anak kita?” renggeknya. ”Besok lakukan pemeriksaan. Aku mau
pastikan anak kita baik-baik saja.”
Angel memeluk lengan suaminya. ”Keluarga yang utama. Biarkan anak kita
belajar untuk melindungi keluarganya.”
”Jangan lakukan lagi. Aku tidak mengijinkannya. Jika sesuatu terjadui
__ADS_1
padamu atau pada anak kita, aku tidak akan sanggup bertahan.” katanya sembari mengecup pucuk kepala Angel yang sedang bersandar dipundaknya.