Istriku Bad Girl 2 (The Story Of Angel Lee)

Istriku Bad Girl 2 (The Story Of Angel Lee)
Apa Pria Itu Ojisan?


__ADS_3

Aku melihat Harada sedang tidur disofa. Kakinya naik keatas karena sofa nya terlalu ke kecil untuknya.


Aku memilih untuk mandi terlebih dahulu, aku ingat semalam Eomma datang dan membawakan pakaian ku.


Agak lama aku di kamar mandi, aku berendam untuk menenangkan saraf-saraf ku yang menengang, menjernikan pikiranku lagi. Ake menenggelamkan kepalaku kedalam air.


BRUGH!!


Harada mendobrak pintu kamar mandi.


"Berhenti disana!" Aku yakin kalau maju beberapa langkah lagi, dia bisa melihat tubuhku. "KELUAR!"


"Apa yang kamu lakukan?" dia bertanya tanpa rasa bersalah sama sekali. Aish inikah orang yang kemarin melamarku dengan kata-kata yang sangat menyentuh?


"Memangnya apa lagi? Aku sedang berendam,"


Harada tertegun, sepertinya menyadari sesuatu. "Aku... aku memanggilmu berkali-kali tapi tidak ada jawaban, jadi aku khawatir," Katanya gugup.


"Alasan! Keluar sana!" Aku memercikan air kepada Harada untuk mengusirnya.


"Sudah tanggung, aku ikut berendam," Ah? "Aku ikut berendam sayang," dia membuka jasnya.


"Jangan macam-macam!" ancamku.


"Dua bulan lagi kita menikah, hanya berendam tidak apa-apa kan?" Dia mulai membuka kancing kemejanya. Oh Shit! Sekarang aku panik.


"Harada keluar! Kamu mau membunuhku! Aku bisa pingsan," aku memercikan air lagi agar dia pergi.


Bukannya pergi, Harada tambah mendekat, jongkok disebelah bath tub. Aku menyilangkan tangan untuk menutupi da*a ku, menyilangkan kaki untuk menutupi yang lain. Aku menahan napas karena takut bercampur gugup.


"Lain kali jangan membuatku khawatir, atau aku akan menghukum mu lebih berat dari sekedar pingsan," Harada menyelipkan rambut basah yang menutupi wajahku.


"Jangan berendam terlalu lama, sarapannya sudah datang," Aku jadi ingat tadi sudah memesan sarapan.


Harada bangkit dan keluar kamar mandi, menutup pintu yang sudah rusak engselnya. Yakin Harada tidak melihat, aku keluar bathtub. Dengan cepat melilit tubuh dengan handuk karena khawatir Harada akan masuk lagi.


Harada sedang asik dengan ponselnya saat aku selesai. Dia mendongak menatap sejenak, meletakkan ponselnya. Kemudian bangkit. "Makanlah duluan, aku mandi dulu," katanya datar. Ekspresi khawatir dan sedih yang tadi ia perlihatkan sudah menghilang entah kemana.

__ADS_1



"Aku akan menunggumu,"


Aku dan Harada sarapan dengan tenang, tidak ada pembicaraan sama sekali. Aku begitu malu mengingat kejadian kemarin ditambah lagi soal kamar mandi tadi pagi. Aku tidak yakin Harada tidak melihat tubuhku.


"Aku ingin bertanya," katanya sambil menyilangkan pisau dan garpu di piring kosong miliknya.


"Ojisan Hiraku, apa dia orang yang melecehkan mu dulu?" tanyanya dengan hati-hati. Walaupun aku sedang menunduk, aku tahu dia sedang menatapku dengan tajam, menunggu jawabanku.


Aku mengambil napas panjang, membuangnya perlahan.


"Aku tidak tahu," jawabku jujur. "Kejadian itu sudah empat belas tahun yang lalu, wajah orang itu pasti sudah berubah. Tapi --"


"Tapi apa?"


"Suara dan tatapan matanya mengingatkan ku pada orang itu," Aku kembali menunduk. Jika benar Hiraku, paman Harada yang melakukannya padaku dulu, bukankan ini akan menjadi rumit? Bisa-bisa terjadi pertempuran besar antara Gustav-Lee dan Ozawa.


"Apa saat pertunangan Andy kamu juga takut karena Ojisan?" aku mengangguk. "Ada yang tahu tentang ini?" Aku menggeleng.


Aku memberanikan diri menatap Harada. Dia seperti orang lain. Tatapannya dingin, siap menerkam orang.


"Dan bila benar orang itu adalah Ojisan, apa yang akan kita lakukan?" Aku ingin tahu pendapat Harada. "Bukankah ini mempengaruhi hubungan keluarga kita?"


"Jika memang bajingan itu Ojisan, maka dia akan menerima hukuman yang lebih berat. Kamu juga harus mempersiapkan dirimu. Ojisan orang yang berbahaya, ditambah lagi dengan Matsu yang ambisius."


Aku menangguk paham. "Ozawa tidak akan mengampuni orang bejad seperti itu, lagipula aku tidak yakin Ojisan keturunan Ozawa,"


Harada menceritakan sedikit sejarah keluarga mereka juga kecurigaannya terhadap Hiraku juga anaknya Matsu.


"Ish keluarga kalian rumit sekali," keluh ku.


"Dan kamu akan menjadi ratunya nanti, sayang," goda nya. Kini aura dingin Harada menghilang digantikan wajah konyol. Aku rasa Harada punya dua sisi karakter yang berbeda.


"Aku tidak mau," Elakku.


"Mana bisa?!" Harada tidak terima. "Kamu sudah menerima cincin dariku, seluruh keluarga sudah setuju dan mengucapkan selamat mana bisa kamu mundur lagi,"

__ADS_1



Aku tergelak melihat Harada yang seperti anak kecil.


"Apa kita akan pulang hari ini?" Harada mengangguk.


"Elisabeth menunggu kita," candanya. Iya, aku hampir saja melupakan misi itu gara-gara dua hari ini tenggelam dalam ketakutan.


"Aku akan minta orang mengantarkan Mimi, jadi kita tidak perlu ke rumah Alfa dulu,"


"Kenapa kamu masih memanggil kelak dengan Alfa? Bukankan sekarang uwak yang memimpin?"


"Serigala hanya setia pada satu pemimpin, sayang. Selama Alfa belum kalah, dia masih memimpin, bahkan Blue masih menganggap Alfa adalah pimpinannya."


"Ish filosofi kakek sangat mendarah daging rupanya," Harada mengangkat bahunya mereka jawab pertanyaan ku.


*****


Elisabeth sedang menguji narkotika yang sedang ia buat pada seseorang. Gelandangan yang menjual dirinya untuk biaya berobat anaknya.


Gelandangan itu dikurung dan kamar berukuran 3x3 meter, hanya dilengkapi dengan ranjang dan sebuah meja kecil.


Pria itu duduk di tepi ranjang, sedang Elisabeth duduk di hadapannya sambil memegang jarum suntik.


Elisabeth mencari pembuluh darah, setelah dapat, tanpa ragu dokter Elisabeth menyuntikkan cairan buatannya pada kelinci percobaannya.


"Bagaimana?" tanya bos besar Elisabeth.


"Kita lihat reaksinya dalam 2x24 jam, setelah itu kita akan cek darahnya," lapor nya.


"Aku harap kali ini berhasil,"


"Aku jamin kali ini tidak akan gagal, tuan." Elisabeth membungkuk melihat kepergian bos besarnya itu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2