
Angel meninggalkan Andy di ruang bawah tanah. Ia menuju ke lantai atas, tempat yang lebih 'normal' untuk menemui seseorang.
Dia sungguh penasaran sekali dengan Ratna yang dibicarakan Harada tadi. Langkahnya berhenti melihat Madin yang ada di ruang utama. "Kakek? Kakek kesini?"
"Kakek akan menemani mu." Madin berjalan ke lantai dua, menuju kamar tamu dimana Ratna beristirahat.
Ratna berdiri melihat dua orang masuk ke kamar. Berdiri sambil meremas kain bajunya karena takut. Selama ini ia selalu menghindari bertemu dengan banyak orang. Ia takut masa lalunya akan kembali.
"Si... Siapa anda? Kenapa membawa saya kemari," tanyanya dengan gugup.
"Aku Madin. Apa kamu pernah mendengar namaku?"
Ratna tentu tahu siapa Madin. Penguasa kota, tidak ada satu pun yang mau berurusan dengannya. "Apa salah saya? Saya tidak berbuat kesalahan apapun,"
Madin menarik kursi dan mendudukinya. Tak lama Angel masuk dan berdiri dibelakang Madin. "Tidak, kamu tidak melakukan apapun. Aku hanya ingin bertanya sesuatu."
Ratna tidak menjawab, menunggu pertanyaan yang Madin maksud.
"14 tahun yang lalu, penyerangan di rumah wong. Kamu ingat?" Ratna mengumpulkan kepingan ingatannya.
"Waktu itu seorang anak di lecehkan oleh seseorang," sambung Angel dengan suara bergetar. Seketika ingatannya tentang kejadian itu muncul kembali.
"Apa kalian suruhan bajingan itu? Hah?!" Ratna melangkah mundur, hingga menabrak dinding.
"Bukan." Sahut Madin tenang. "Wanita dibelakang ku adalah gadis kecil itu."
Ratna menatap Angel menyelidik, melihat raut wajah sendu Angel, Ratna yakin dengan apa yang Madin katakan. Lagipula untuk apa Madin berbohong padanya.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi waktu itu. Setelah itu aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada orang itu."
Ratna menatap Madin dengan lekat. Pandangan Madin begitu dingin dan menakutkan membuat Ratna menundukkan pandangannya.
__ADS_1
"Benarkah anda akan menghukum orang itu?" tanyanya dengan pandangan tertunduk.
"Aku bukan hanya akan membalas yang apa yang ia lakukan pada cucuku tetapi juga atas perbuatannya pada mu." kata Madin tegas.
Ratna mendesahkan napasnya. Merangkai kata untuk memulai memulai ceritanya. "Aku adalah salah satu koleksi wanita Wong. Yang terbaik." katanya.
"Orang ini yang disebut ketua oleh Wong selalu memilihku dari sekian banyak wanita Wong. Hingga hari itu ---"
"Aku menemani ketua ini sejak sehari sebelumnya. Pagi itu ia menerima telepon dari Wong dan membicarakan tentang membalas seseorang yang bernama Richard karena sudah menghacurkan organisasinya. Sesuatu dalam bahasa Jepang. Aku tidak bisa mengingat namanya."
"Kuroi Kage," jawab Angel.
"Lalu?" Madin menimpali.
"Dia membawaku kembali ke rumah lama Wong. Penjaganya mengantarkan kami ke sebuah kamar dimana ada seorang anak kecil yang sedang menangis mencari ibunya." Ratna menatap Angel. Membayangkan Angel kecil yang menangis memohon untuk membawa nya pada ibunya.
Angel mengingat kejadian itu. Saat Alana meminta seorang pelayan membawanya ke kamar yange berbeda.
"Dia menarikku, memintaku melayaninya di depan anak ini. Awalnya aku menolak, bukan hanya karena ada seorang gadis kecil tetapi aku juga tidak bisa melakukannya di depan orang lain."
"Ia menodongkan pistonya padaku. Mau tidak mau aku memancing gairahnya, aku pikir dia akan menyelesaikannya dengan ku didepan gadis ini, tapi ternyata tidak."
"Dia menuntaskan pada gadis itu, bukan hanya dari tempat yang harusnya tapi juga dari belakang."
Tes...
Air mata Angel mengalir begitu saja, meremas pundak Madin yang sedari tadi digunakan Angel untuk menumpunya, karena mengingat kejadian itu membuat seluruh tenangnya hilang.
"Gadis itu menangis kesakitan dan memohon agar ketua melepaskannya tetapi dia terus melakukannya dengan buas."
"Setelah itu ketua membuat ku nyaris seperti orang gila. Menyiksa ku setiap hari karena menurutnya rasaku berbeda dengan gadis itu. Dia menyuntikkan obat setiap hari membuatku tidak sadar dengan keadaanku sendiri."
__ADS_1
"Aku tersadar di sebuah rumah sakit jiwa, melupakan semua yang aku lihat dan alami. Hingga suatu hari aku mendapatkan ingatanku kembali. Aku melarikan diri dari rumah sakit jiwa setelah satu keadaanku."
Ratna mengangkat bajunya. Banyak bekas luka di sekunut tubuhnya. "Dia mengambil sebelah ginjalku dan juga rahimku."
"Mulai sekarang jangan khawatir karena aku yang menjamin hidupmu. Hiduplah dengan baik."
"Orang itu apa kamu tahu siapa dia?" Madin mencondongkan tubuhnya kedepan, menunggu jawaban Ratna.
"Tentu. Orang Jepang. Salah satu anggota keluarga Ozawa yang terkenal itu. Hiraku." Jawabnya dengan penuh kemarahan.
"Jika kamu melihatnya lagi, apa kamu masih bisa mengenalinya? Aku ingin pastikan memberi hukuman pada orang yang benar." Ratna mengangguk.
Madin bangkit dari duduknya, memeluk pundak Angel dan menuntun cucunya ke ruang bawah tanah tempat Pandawa mengeksekusi musuh-musuhnya.
Ratna bergidik takut memasuki lorong pengap dan lembab. Penjara kecil dan gelap berada disisi kiri dan kanan lorong. Rantai dan senjata aneh bergelantungan di tembok. Orang yang sudah masuk kesini, tidak akan bisa keluar lagi dengan keadaan utuh.
Madin berhenti di depan sebuah penjara. Bau anyir darah masih menyengat karena jasad Matsu baru saja dibawa keluar.
Dari penjara di depan mereka ada seorang laki - laki terduduk lesu dengan keadaan yang berantakan. Sebelah tangannya hilang dan hanya dibungkus oleh perban seadanya.
"Angkat kepalanya!" titah Madin pada anak buahnya. "Apa dia orangnya?"
Ratna menatap pria di depannya. "Tu... tuan Ozawa? Ketua Himura?" Ratna memanggilnya dengan gugup.
Hiraku mengisi pandangannya dengan wajah Ratna. Tidak ada orang yang memanggilnya dengan ketua Himura sejak Richard menghancurkan Kuroi Kagem Hanya Wong dan anak buahnya yang memanggilnya begitu.
"Ratna. Kalian menemukannya? Jadi kalian sudah tahu siapa aku?" Hiraku tertawa. "Aku rasa hidupku tidak akan lama lagi." katanya santai.
"Bahkan dewa kematian pun tidak akan berani mencabut nyawamu sebelum aku mengijinkannya," Guman Madin dingin. Angel merinding mendengar suara Madin.
Madin memerintahkan anak buahnya membawa Ratna pergi. Karena dia akan memberi hukuman yang menyakitkan pada Hiraku.
__ADS_1