
Angel dan Harada disuguhi foto besar pernikahan mereka di dinding ruang tamu di rumah Richard dan Alana yang ada di Pyeongchang-dong berdampingan dengan foto keluarga Lee.
"Kalian sudah datang?" Alana menyambut anak dan menantunya. Memeluk Angel yang sudah sangat ia rindukan.
"Mana Keenan?" Angel mengedarkan pandangannya mencari adik laki-lakinya.
"Dia sudah di Italia." Richard ikut memeluk kedua wanita yang paling ia cintai dalam hidupnya.
Alana mengurai pelukan mereka, melangkah mendekati Harada hendak memeluk menantunya. Tapi kemudian tangannya ditarik oleh Richard.
"Tidak ada pelukan untuk Harada, sayang." kata dengan posesif memeluk pinggang istrinya.
"Appa dia menantu kita," protes Alana.
"Dia juga laki-lakinya," jawab Richard.
"Ya Tuhan! Bukankah kamu terlalu tua untuk cemburu seperti itu?"
"Justru itu, kamu masih muda dan cantik, bisa meninggalkan ku karena pria muda."
"Astaga! Bisakah kalian melanjutkan pertengkaran ini nanti? Aku lelah. Dan Appa, suamiku tidak akan tertarik pada Eomma!" kata Angel tidak terima. Ia berlalu menarik tangan Harada menunu kamar tidurnya.
"Ada apa dengan Appa?" Ia merebahkan diri di kasur Angel.
Kamar Angel bernuasa biru pastel yang dipadukan dengan warna putih membuat kesan lembut.
"Appa cemburu karena ada seorang rekan bisnisnya yang memuji kecantikan Eomma. Appa terlalu berlebihan." Angel melepaskan pakaiannya.
"Aku juga akan melakukan hal yang sama. Mungkin sekalian mencongkel matanya." guman Harada pelan.
"Apa?!" Angel menoleh kearah suaminya. "Kenapa kalian berlebihan sekali? Bukankah harusnya bangga mempunyai istri yang cantik?" kini Angel ikut kesal.
"Sayang... bukan itu maksudku," Harada memukul-mukul mulutnya. "Siapa yang tidak bangga dan senang punya istri cantik sepertimu." Ia bangkit dari tidurnya, mengikuti langkah Angel yang sedang menyiapkan baju gantinya. "Hanya saja, kami para lelaki tidak rela kalian dilihat oleh pria lain. Kecantikan kalian hanya untuk kami para suami."
"Kalau begitu, kalian kurung saja kami di rumah?! Kenapa tidak kalian balik cara berpikir kalian? Lelaki yang memuji kami, sebenarnya sedang memuji kalian para suami yang pandai memilih istri dan menyenangkan juga merawat istri kalian," sembur Angel.
Tidak ingin memperpanjang masalah, Harada mengiyakan kata-kata Angel. Mengakui kesalahannya dan meminta maaf dengan mata memelas.
"Mandilah. Air hangatmu sudah siap." Angel melunak. Tidak tega melihat suaminya yang terus saja menjadi pelampiasan amarah hormon kehamilannya.
"Baik, sayang." Harada menurut seperti anak kucing.
"Kemarikan," Angel mengambil handuk kecil dari tangan Harada. Membantu suaminya mengeringkan rambutny yang sudah mulai memanjang.
__ADS_1
Harada memeluk Angel yang sedang berdiri dihadapannya. Menempelkan telinganya di perut Angel. "Apa anak Daddy lelah?" Ia memberikan kecupan singkat.
"Tidak appa," Angel menjawab dengan suara anak kecil. "Sudah. Ayo pakai pakaianmu. Aku akan mandi."
*****
Wangi soto me|nyeruak ke seluruh ruang makan membuat perut Angel semakin keroncongan. "Eomma, aku merindukan wangi ini." Angel duduk dikursi yang biasa ia tempati menyusul Harada disebelahnya.
"Kalau begitu, makan yang banyak." Alana mengisi mangkuk Angel yang sudah penuh dengan ayam, telur rebus, bihun dan irisan kubis dengan kuah soto dan keripik kentang buatannya.
"Wah... ini dia soto yang selalu dibicarakan Angel," Harada memandang mangkuknya yang penuh dengan isian soto.
"Kesukaan keluarga Lee," Alana mengeluarkan setoples besar kerupuk udang sebagai teman makan soto mereka.
Angel memakan sotonya dengan lahap seolah belum makan selama beberapa hari. Harada dengan telaten membersihkan bibir istrinya yang terkena kuah soto. Disisi lain, Richard sedang mengisi mangkuk Alana dengan tambahan telur dan suiran daging ayam.
"Appa, nikmati soto mu. Aku bisa sendiri," Tolak Alana ketika Richard akan menambahkan keripik kentang.
"Sayang, makanlah. Kamu belum menyentuh sotomu," seru Angel yang melihat suaminya sibuk dengan dirinya.
"Sepertinya kita salah memilih suami." Alana menggeleng.
"Hei... apa maksudmu sayang?" protes Richard.
"Cih! Suami takut istri," Ejek Harada.
"Memangnya kamu tidak?" balas Richard. Angel menoleh kearah suaminya menunggu jawaban Harada.
"Aku suami yang mengabulkan setiap keinginan istriku," jawab Harada bangga.
"Sama saja, sialan! Aku pikir kamu akan menjawab tidak," umpat Richard.
Alana dan Angel tergelak bersamaan. Angel memeluk pundak Harada dan memberikan kecupan di pipi suaminya. "Terima kasih sudah mengabulkan setiap keinginanku."
Harada tersenyum bangga. Memandang Richard dengan tatapan penuh ejekan.
"Sayang?"
"Jangan macam-macam Appa. Kita sudah terlalu tua. Oh Tuhan aku suka melihat kemesraan kalian. Semakin Appp terbakar, aku semakin suka," goda Alana.
"Sayang..." Richard yang tidak Terima membuat Harada tersenyum penuh kemenangan.
Mereka berempat bersantai di ruang keluarga setelah makan siang. Tidak adanya Keenan membuat mereka bebas seperti dia pasang kekasih yang sedang double date.
__ADS_1
Alana dan Angel merencanakan liburan mereka, sedang Harada dan Richard sibuk mencari perhatian pada istri mereka masing-masing karena merasa diabaikan.
Harada tidak segan mengigit pundak Angel untuk mencari perhatian istrinya.
Sedang Richard yang tidak tahan diabaikan, bangkit dari duduknya, menggendong Alana seperti membawa karung beras. Membawa istrinya masuk ke dalam kamar.
"Jangan macam-macam." Angel melihat kilatan gairah dimata suaminya.
"Aku hanya satu macam sayang." Harada mengendong Angel, membenamkan ciuman di bibir Angel. Ciuman lembut berubah menjadi ciuman penuh napsu.
Dengan perlahan Harada membaringkan Angel diranjang. Membuka kaosnya dipakainya dengan tergesa.
Selesain dengan dirinya, Harada membuka dress yang menutupi tubuh istrinya. Memandang langsung payu**dara Angel yang lebih berisi membuatnya gemas.
Ia membuka kaitan penutup dada Angel, membiarkan bukit kembar itu menampakkan dirinya.
Mengulum dan mengigit puncak dengan lembut sementara jarinya bermain diantara dua paha Angel.
Desahan yang meluncur dari bibir istrinya selalu membuat gairah Harada semakin tinggi, apalagi saat Angel menekan kepala Harada seolah tidak ingin Harada menghentikan kegiatannya.
Harada mencicipi setiap inci tubuh istrinya. Tidak ada yang terlewat hingga berhenti diantara kaki paha Angel.
Ia memainkan lidahnya didalam sana, memberikan kenikmatan untuk istrinya. Angel yang sudah terbang ke awan, terus mendesah memanggil nama suaminya.
"Lebih cepat, sayang... " Harada dengan senang hati mengabulkan permintaan istrinya, sampai Angel mendapatkan pelepasan pertamanya.
Harada merangkak naik keatas tubuh Angel dengan hati-hati agar tidak menindih perut Angel. "Kamu mau lagi?"
Angel mengigit bibir bawahnya, memberikan anggukan samar pada suaminya. Ia suka sentuhan Harada.
Harada mengarahkan samurainya masuk kedalam sarungnya. Memberikan hentakan kecil agar Angel bisa menyesuaikan diri. Dilihat istrinya mulai menikmati samurainya, Harada mempercepat gerakannya.
Menaikkan kaki Angel ke pundak nya, memberikan hentakan yang membuat dirinya dan Angel meraup kenikmatan.
"Aku mencintaimu, sayang," Harada memberikan hentakan terakhirnya sebelum menjatuhkan tubuhnya kesebelah Angel. Menutup tubuh istrinya dengan selimut.
"Terima kasih, sayang." Ia membawa Angel masuk dalam pelukannya.
"Aku lelah,"
"Tidurlah." Harada membelai punggung Angel hingga tertidur.
***Selamat Hari Raya Idul Adha bagi yang merayakan. Mohon maaf dari emak. Semoga dengan kita jadi lebih baik kedepannya.
maaf hari ini masih satu bab dulu yah...
__ADS_1
angel tinggal penyelesaian aja. Mungkin akan diisi cerita Jason sedikit.
follow ig emak @bydarl.2021***