
Harada menghentikan mobil di lobi hotel mewah. Aku rasa ini tempat acara pertunangan sepupu Harada berlangsung.
Harada bersikap sopan dengan membukakan pintu untuk ku. Awalnya Harada berjalan mensejajariku, tapi aku berhenti sejenak dan membiarkan Harada beberapa langkah didepanku.
Hal yang terberat pun tiba, naik lift. Berada di lift berduaan dengan lawan jenis adalah siksaan terberat buat ku. "Naiklah. Aku akan naik lift yang lain."
"Kita naik bersama." Harada menggengam tanganku dan menarikku masuk ke dalam kotak besi itu.
Keringat mulai membasahi dahi yang sudah pasti akan merusak dandanan ku. Dadaku serasa sesak hingga susah menarik napas. Aku mundur selangkah, mencoba memberi jarak sejauh mungkin dengan Harada.
"Hei... kamu tidak apa-apa?"
Aku mencoba mengendalikan diriku agar tidak meracau. Menutup kedua telingaku, karena kata-kata om itu mulai terdengar lagi.
Aku benar - benar berharap lift ini segera berhenti dan mengakhiri penderitaan ini. Aku benci hidupku.
Aku bernapas lega saat mendengar denting suara lift berhenti. "Antar aku ke Kakek. Sekarang!"
Harada mungkin memperhatikan perubahan sikapku hingga i?a tidak membantah perintahku. Ia mengeluarkan ponsel dan menghubungi Kakek Madin.
"Ayo." Harada berjalan didepanku. Melihat Kakek sedang duduk bersama uwak Blue seketika itu aku merasa aman.
"Kek." Pandangan Kakek mengikuti gerakan ku yang duduk di sebelah Kakek dan memeluk tangannya.
"Ada apa?" Kakek membelai rambutku seperti yang sering Eomma lakukan membuatku semakin tenang.
"Tadi naik lift berdua sama Harada." Aku menyandar dipundak kakek.
"Harada bisa dipercaya, kamu tidak perlu takut."
"Harada juga laki-laki." Aku lebih tenang sekarang. Setelah berhasil mengendalikan rasa takutku, aku mulai memperhatikan sekitar. "Kakek dimana Harada? Angel pasti membuatnya panik." Aku jadi merasa tidak enak.
"Dia sudah bergabung dengan keluarganya. Kamu sudah lebih baik?" Kakek menatapku penuh kekhawatiran, membawaku masuk ke pelukannya.
"Kejadian itu sudah lama sekali. Angel gak perlu takut lagi sekarang." pelukan Kakek membuatku merasa aman. "Lagian sekarang kan Angel udah bisa bela diri."
Benar kata Kakek, seharusnya aku tidak perlu takut lagi tapi entah kenapa setiap kali berdekatan dengan lawan jenis tubuhku seakan bereaksi dengan sendirinya.
__ADS_1
"Sudah tidak apa-apa. Ada Kakek disini, Angel pasti aman." Kakek mengerling jenaka membuatku tersenyum geli.
Aku kembali menikmati pesta walaupun tetap duduk bersama Kakek. Lebih aman dan nyaman. Anak buah Kakek berubah fungsi menjadi pelayan pribadi. Dia mengambil makanan dan minuman untuk ku.
"Madin-san"
Garpu yang aku pegang jatuh ke lantai. Tanganku kehilangan tenaga saat mendengar suara itu.
"Gadis cantik, lihat ya... belajar yang benar dari tante ini." Suara itu muncul lagi ditelingaku setelah sekian lama.
"Sini kamu! Sekarang giliranmu memuaskan om!" Ku tutup kedua telingaku dengan tangan, tidak ingin mendengarkan
"Jangan takut, sakitnya hanya sebentar."
"Aarrgghh!!" aku melorot dari tempat duduk ku. "Eomma tolong Angel hiks... hiks... hiks... Sakit Eomma."
Aku melihat satu per satu orang - orang yang mengelilingi. Kakek. Uwak. Harada. Bajingan itu. Aku tidak akan pernah bisa melupakan sorot matanya. Sorot mata yang memandangku dengan penuh napsu.
"Pergi! PERGI KAMU BAJINGAN!" aku sudah tidak bisa mengendalikan reaksi tubuhku lagi. Terapi yang aku jalani selama ini tidak berguna sama sekali.
Gelap. Entah siapa yang tiba-tiba menutup kepalaku tapi bisa membuatku merasa lebih aman.
Pov Author
"Cepat bawa dia." perintah Madin setelah Harada menutupi kepala Angel dengan jasnya.
Entah apa yang membuat Angel tiba-tiba histeris seperti itu yang pasti Madin yakin ini berhubungan dengan trauma masa kecilnya.
Harada memeluk pundak Angel, menuntun gadis yang sedang ketakutan menuju lift. Madin dan Blue terlebih dahulu berpamitan pada Kiyoshi Ozawa sebelum mengikuti langkah Harada.
Harada membawa Angel ke rumah Madin. Angel duduk dibangku belakang bersama Madin yang terus memeluknya.
Madin membuka jas yang menutupi kepala Angel ketika dirasa Angel lebih tenang. "Angel?"
Wajah cucunya itu masih pucat, masih ada sisa-sisa ketakutan dimata Angel. "Jangan takut, ada Kakek disini."
Marlin membantu Angel untuk meminum air putih yang ia bawa. "Malam ini Angel tidur disini, ya."
Angel diam tidak memberikan reaksi apapun. Ia masih diam layaknya patung. "Aunty bantu ganti baju."
__ADS_1
Angel sudah duduk di ranjang kamar lama Alana. Alana yang mendapat kabar tentang Angel langsung memutuskan untuk terbang ke Jakarta besok.
Di ruang kerja, Madin dan Blue sedang berdiskusi dengan serius. "Carikan gue rekaman CCTV kejadian waktu itu, Blue. Gue yakin ada sesuatu."
"Iya. Gue yakin Ecco masih punya rekamannya. Gue hubungin dia sekarang," Blue mengambil ponselnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Nona Angel, Alfa?" Tanya Harada langsung pada intinya. "Awalnya saya pikir Nona tidak tertarik pada laki-laki. Tapi setelah kejadian di lift saya cukup yakin ada alasan lain."
"Lu pikir cucu gue suka sesama semangka?" Madin melempar asbak yang ada diatas meja kearah Harada, dengan gesit Harada menghindar.
"Maaf," jawab Harada tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
Madin membuang napasnya ke udara. "Angel itu-" akhirnya Madin menceritakan tentang trauma Angel pada orang kepercayaannya ini.
"Jadi menurut Alfa, Nona menginggat kejadian itu saat dipesta tadi?"
Madin mengangguk. Madin belum bisa memastikan apa pemicunya. Terakhir kali Angel histeris seperti itu saat dia berumur sepuluh tahun. Karena waktu itu Angel berada di ruang kesehatan bersama seorang guru laki-laki.
Sekarang Harada mengerti mengapa Angel sangat menjaga jarak darinya. Rupanya trauma masa kecil sangat mempengaruhinya.
Madin menghampiri kamar Angel saat hendak pergi tidur. Angel berbaring terlentang tanpa menutup mata. Tatapan matanya masih kosong.
Madin merangkak naik dan duduk disebelah Angel. Merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik Angel.
"Angel dengerin Kakek, ya? Angel percaya sama Kakek kan?" ujarnya.
"Selama masih ada Kakek, Angel gak usah takut. Walaupun Kakek udah tua gini, Kakek masih sangat sanggup melindungi, Angel," Madin memberi jeda.
"Tapi Angel harus berusaha buat lawan rasa takut Angel, oke? Supaya Angel bisa kayak temen-temen Angel yang lainnya. Supaya Angel bisa cari kebahagiaan Angel sendiri."
Madin memberikan kecupan dikening Angel. "Angel tidur ya. Angel aman disini. Uwak akan minta Aunty Marlin buat nemenin Angel."
Angel dan Harada dimasukin list Favorit, ya
like dan komen biar aku masih semangat nulis ya.
kasi hadiah mawar juga buat mereka, okeh...
makasii
__ADS_1