
Hari berganti hari, bulan berganti bulan tidak terasa kehamilan Angel sudah masuk bulan kesembilan. Menurut perkiraan dokter Angel akan melahirkan dua minggu lagi.
Angel sedang berdiri dihadapan lemari, memilah-milah pakaian mana yang akan ia bawa untuk putranya.
Ya, menurut hasil USG, anak pertama Angel dan Harada berjenis kelamin laki-laki. Tentu itu disambut gembira keluarga besar Ozawa. Cucu pertama mereka adalah laki-laki.
"Sayang, apa yang sedang kamu lakukan?" Harada baru masuk, memeluk Angel dari belakang. Harada mengelus-elus perut Angel yang sudah sangat besar, membuat istrinya kesulitan untuk melakukan aktifitas.
Seperti tahu sedang disapa oleh ayahnya, Baby Oz bergerak untuk menyapa ayahnya.
"Aku iri." Angel mengerucutkan bibirnya. "Dia lebih aktif saat ada kamu, sayang."
Harada tergelak. Istrinya selalu mengeluhkan hal yang sama setiap hari. "Jangan cemburu sayang. Anak kita pasti menyayangimu." Harada mengecup pipi Angel dengan mesra.
"Terima kasih, Terima kasih sudah bersedia mengandung anakku."
"Dia anakku juga." Angel tidak terima.
"Benar, Terima kasih sudah menjaga anak kita selama sembilan bulan."
"Aku senang melakukannya." Angel berbalik. Mengalungkan tangannya pada leher Harada.
Harada yang mengerti keinginan istrinya segera memberikan kecupan pada Angel. Makhluk kecil didalam sana seakan ikut senang, ia memberikan gerakan terbaiknya.
"I love you, sayang" Harada mengecup pucuknl kepala Angel. "I love you too, Baby Oz." sambungnya saat merasakan gerakan dari perut Angel.
*****
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Harada yang sejak tadi melihat Angel sangat gelisah. Berkali-kali Angel seperti sedang mengatur napasnya.
"Aku ti... tidak apa-apa, sa... yang." Angel membuang napasnya. Meraba-raba perutnya yang terasa mulai menegang.
Ia berjalan menuju walking closet sambil terus mengatur napasnya. Menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.
"Sayang ada apa? Kenapa menyiapkan pakaian ganti?" tanya Harada dengan heran pasalnya ini sudah pukul sebelas malam.
"Ganti bajumu, sayang," pintanya.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja?" Harada menurut karena melihat Angel seperti kesakitan.
Angel hanya menggerakan tangannya untuk mengatakan ia tidak apa-apa. Angel mengambil tas yang memang sudah ia siapkan untuk dibawa ke rumah sakit saat melahirkan.
Dan itulah yang sedang Angel rasakan. Dia menghitung jarak kontraksinya semakin pendek. Ia sengaja belum mengatakan apapun pada suaminya karena dia tahu pasti Harada pasti akan panik.
"Sa... Sayang, bawa tas itu?" Angel menunjuk dua tas yang ada di ranjang setelah Harada siap.
Harada mengerutkan keningnya, "Kamu kontraksi?" Ia terkejut buru-buru menghampiri istrinya yang sejak tadi terus berjalan mundar-mandir.
Angel hanya mengangguk.
"Ya Tuhan! Apa sakit?" Harada menggandeng tangan Angel. Berjalan disini nya dengan wajah khawatir. "Kita ke rumah sakit sekarang."
"Ada apa?" Tiba-tiba Angel mengeratkan cengkraman tangannya.
"Sakit," lirih Angel.
Satu kata keramat yang membuat Harada lupa segalanya. Dengan cepat ia menggendong Angel. Membawa istrinya ke mobil. Tapi sayang ia tidak bisa membawa Angel masuk ke dalam. mobil karena lupa membawa kunci mobil.
Harada meninggalkan Angel di luar sementara dirinya berlari masuk ke dalam mansion untuk mengambil kunci mobil.
"Ah iya, tas." Harada melupakan barang itu. Ia kembali masuk ke dalam mansion, berlari menuju kamarnya dan mengambil dua tas jinjing yang sudah Angel siapkan.
TIT! TIT!
"Maaf, sayang." Harada membukakan pintu untuk Angel. Ia lupa tidak membantu Angel masuk ke mobil saat mengambil tas.
"Sayang, tenanglah." Harada menggegam tangan Harada. "Ingat jalur yang kita pelajari untuk ke rumah sakit? Kita lewat sama. Ok?"
Harada membuang napasnya. Memberikan anggukan pasa istrinya. Mengelus perut buncit Angel sambil berkata, "Jangan buat Mommy kesakitan terlalu lama, boy."
Harada mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bibirnya terus berusaha memberi dukungan pada Angel yang terlihat sangat kesakitan.
"Sebentar lagi sayang... " katanya.
Ia memarkir mobilnya sembarangan, bergegas turun dan menggendong istrinya. "Tolong istri saya mau melahirkan," ucapnya begitu tiba di pintu UGD.
__ADS_1
Angel yang sudah berbaring diatas bangkar didorong menuju ruang bersalin ditemani oleh Harada dibelakangnya.
Istrinya diminta memposisikan diri setelah duduk, menekuk kedua kakinya setelah bagian bawah Angel ditutup oleh kain hijau.
Angel masih terus mencoba mengatur napasnya, saat sakit yang teramat datang. "Sayang... " liriknya mencari pegangan hidupnya.
Harada menciumi pucuk kepala istrinya bertubi-tubi. Memberikan kekuatan untuk istrinya.
"Bu sudah bukaan lengkap, ikuti aba-aba saya yah?" kata seseorang. Entah bidan entah dokter.
"Sayang, sakit..." kata Angel lagi. Ia mencengkram tangan Harada dengan kuat, menyalurkan rasa sakitnya.
"Sabar sayang, sebentar lagi kita akan ketemu Baby Oz."
"Tarik napas panjang bu," titah bidan yang ada di kaki Angel. "Mengejan bu," katanya lagi.
"Eeeeggghhhh!!!" Angel mengejan sekuat tenaga.
"Bagus, bu. Kepalanya sudah terlihat. Ambil napas ya bu. Sekali lagi dorong yang kuat."
"Ayo sayang, kamu bisa, kamu kuat. Kita akan segera bertemu Baby Oz," kata Harada yg ada disebelah Angel sambil menyeka keringat istrinya.
"Tarik napas panjang bu," Angel menuruti instruksi bidan, "Mengejan yg kuat, bu. Dorong!"
"Eeeegggghhhh!!!!"
OEK! OEK! OEK!
Suara tangis bayi menggema di ruang bersalin, membuat harus semua orang yang ada didalamnya.
"Selamat, ya bu bayi nya laki-laki. Tampan sekali." ucap bidan itu.
"Anak kita, sayang." ucap Harada penuh haru. Angeh hanya mengangguk lemah. Lebih dari dua belas jam ia merasakan mulas tetapi memilih untuk mengabaikannya. Hingga tengah malam tadi ia benar-benar tidak tahan lagi.
Suster meletakkan bayi mungil yang masih berwarna kemerahan didada Angel. Kepalanya bergerak-gerak mencari pucuk dada Angel.
Dengan penuh hati-hati Harada memeluk keduanya. Memberikan banyak ciuman untuk istrinya yang sudah berjuang untuk melahirkan buah hati mereka.
__ADS_1
"I love you sayang."